Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Sabtu, Oktober 03, 2026

Yuk, Biasakan Berkata Baik Saat Bertemu Hal Tak Terduga

Pelan-pelan belajar menjaga lisan di tengah situasi tak terduga.

Pernah nggak sih, ketika bertemu sesuatu yang tidak terduga, respons pertama kita justru sebuah umpatan?

Kaget sedikit:

“Anjir!”

Lihat sesuatu yang bikin kesal:

“Sial!”

Barang jatuh, sesuatu rusak, atau tiba-tiba ada kejadian yang bikin panik, mulut kadang lebih cepat daripada otak. 😭

Padahal, sebagai seorang Muslim, sebenarnya kita punya banyak pilihan ucapan yang jauh lebih baik.

Astaghfirullah — bisa dibiasakan ketika kaget atau terkejut.

MasyaAllah — ketika melihat sesuatu yang mengagumkan atau sedang merasa takjub.

Subhanallah — ketika melihat sesuatu yang tidak baik atau tidak menyenangkan.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn — ketika mendapat musibah.

Bukan berarti setiap kondisi tersebut memiliki satu ucapan wajib yang harus selalu digunakan. Namun, membiasakan lisan kita untuk merespons kejadian dengan kalimat yang baik tentu jauh lebih indah daripada spontan mengeluarkan umpatan.

Dan ternyata, hal seperti ini juga merupakan bagian dari akhlak Rasulullah ﷺ.

Latihan menjaga lisan dan tutur kata baik

Rasulullah ﷺ Tidak Terbiasa Berkata Kasar

Ada hadis tentang akhlak Rasulullah ﷺ yang membuat aku takjub. Sampai terkesan kalau Rasulullah ﷺ memang ter-paling the best dan super baik. 😂

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang suka berkata keji, berkata kasar, ataupun melaknat.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga disebut tidak pernah berkata buruk, dan beliau bersabda bahwa orang-orang terbaik adalah mereka yang paling baik akhlaknya.

Kalau dipikir-pikir, ini menarik.

Karena manusia tentu mengalami berbagai macam situasi.

Ada hal yang menyenangkan.

Ada hal yang mengejutkan.

Ada hal yang menyebalkan.

Ada juga hal yang benar-benar bikin emosi.

Tapi ternyata, reaksi spontan pun bisa dilatih.

Dan salah satu bagian dari akhlak yang baik adalah menjaga lisan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

(HR. Bukhari)

Sederhana, tapi praktiknya...

Tidak sesederhana itu. 😂

Dulu Aku Juga Sering Mengumpat

Jujur saja, waktu masih sekolah, aku lebih sering berbicara buruk ketika bertemu sesuatu yang tidak terduga.

Efek teman-teman remaja gaul dan sedikit pemberontak, mungkin. Wkwkwk.

Maklum, masih imut kinyis-kinyis dan butuh validasi. 😂

Saat itu, umpatan terasa seperti respons yang biasa saja.

Teman-teman melakukannya.

Aku ikut melakukannya.

Lama-lama menjadi kebiasaan.

Sampai suatu ketika, aku mendengarkan sebuah kajian dari guru ketika bulan Ramadan.

Aku lupa persis bagaimana penjelasan lengkapnya, tetapi ada satu pemikiran yang akhirnya menempel di kepala:

“Iya juga, ya...”

Kalau dipikir-pikir, mengumpat sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.

Barang yang jatuh tetap jatuh.

Barang yang rusak tetap rusak.

Kejadian yang sudah terjadi juga tidak akan berubah hanya karena kita mengeluarkan kata-kata kasar.

Malah, kadang umpatan bisa membuat orang lain tersinggung.

Belum lagi kalau ucapan tersebut ditujukan kepada seseorang.

Bisa jadi masalah yang awalnya kecil malah menjadi lebih besar.

Dari situ aku mulai berpikir untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Ternyata Mengubah Kebiasaan Tidak Mudah

Dan faktanya...

Definitely sama sekali tidak mudah. 😂

Ada pepatah yang kurang lebih mengatakan bahwa mengobati watak tidak semudah mengobati watuk.

(Bahasa Jawa: watak = kebiasaan, watuk = batuk.)

Kalau watuk, tinggal minum obat.

Kalau watak?

Nah...

Minum obat apa? 😭

Karena kebiasaan sudah menjadi sesuatu yang otomatis.

Otak seperti sudah membuat jalur sendiri.

Ada kejadian → kaget → mulut bereaksi.

Tanpa sempat berpikir.

Jadi ketika aku mulai berusaha mengganti kebiasaan mengumpat dengan ucapan yang lebih baik, prosesnya tidak berlangsung hanya beberapa minggu. Bukan juga cuma beberapa bulan.

Tapi bertahun-tahun.

Dan ternyata, lingkungan juga punya pengaruh yang besar.

Kalau kita berada di lingkungan yang terbiasa mengumpat, tentu jauh lebih sulit untuk menjaga lisan.

Sebaliknya, kalau kita berada di lingkungan yang terbiasa berbicara dengan baik, kita pun akan lebih mudah terbawa kebiasaan tersebut.

Itulah kenapa lingkungan sebenarnya punya pengaruh besar terhadap pembentukan kebiasaan.

Sedikit Demi Sedikit, Lisan Juga Bisa Dilatih

Alhamdulillah, lingkungan tempatku berada tidak terlalu buruk.

Memang masih ada yang mengumpat, tetapi masih cukup banyak juga orang yang terbiasa berkata baik.

Jadi, pertahanan diriku lumayan oke lah. 😆

Walaupun sesekali masih ada juga kata buruk yang keluar.

Namanya juga manusia. Kadang khilaf.

Tapi sekarang setidaknya aku sudah lebih sadar.

Kalau keceplosan, segera beristighfar dan mengingatkan diri sendiri supaya tidak menjadikannya kebiasaan lagi.

Karena menurutku, yang penting bukan merasa bahwa kita harus langsung sempurna.

Yang penting adalah ada kemajuan.

Hari ini masih keceplosan sekali.

Besok mungkin sudah lebih jarang.

Lalu semakin lama, kita mulai bisa menahan diri.

Sampai akhirnya, sesuatu yang dulu otomatis keluar dari mulut justru perlahan tergantikan dengan ucapan yang lebih baik.

Bukankah itu juga bagian dari proses memperbaiki diri?

Belajar Menjaga Lisan

Allah juga berfirman yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

QS. Al-Ahzab: 70

Ayat ini mengingatkan bahwa berkata baik bukan sekadar tentang bagaimana kita berbicara kepada orang lain dalam percakapan serius.

Menurutku, ini juga bisa menjadi pengingat untuk memperhatikan respons kecil yang keluar secara spontan.

Apa yang keluar dari mulut kita ketika kaget?

Apa yang keluar ketika kesal?

Apa yang keluar ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?

Karena justru dalam kondisi spontan seperti itulah kebiasaan kita sering terlihat.

Dan kalau kita ingin mengubah kebiasaan buruk, mungkin kita bisa mulai dari sana.

Bukan dengan memaksa diri menjadi manusia yang langsung sempurna.

Tapi dengan mengganti satu respons buruk dengan satu respons yang lebih baik.

Kaget?

Daripada langsung mengumpat, coba biasakan mengucapkan Astaghfirullah, Ya Allah, atau dzikir lain yang baik.

Takjub?

Biasakan mengingat Allah dan mengucapkan MasyaAllah.

Melihat sesuatu yang tidak baik?

Kita bisa mengingat Allah dan mengucapkan Subhanallah.

Mendapat musibah?

Allah mengajarkan kepada kita ucapan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Dan ketika tidak tahu harus berkata apa?

Diam juga lebih baik daripada mengeluarkan sesuatu yang buruk.

Karena sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

Tidak Harus Langsung Sempurna

Menurutku, memperbaiki lisan juga merupakan bentuk self-upgrade.

Kita mungkin masih akan khilaf.

Masih mungkin keceplosan.

Masih mungkin sesekali mengeluarkan kata yang seharusnya tidak perlu diucapkan.

Tidak apa-apa.

Istighfar. Sadari. Perbaiki. Lanjutkan.

Tapi jangan sampai kalimat “namanya juga manusia” malah dijadikan alasan untuk terus mengulang kesalahan yang sama tanpa usaha memperbaikinya.

Karena manusia memang bisa khilaf.

Tapi manusia juga diberi kemampuan untuk belajar.

Jadi, yuk mulai membiasakan diri berkata baik ketika bertemu hal-hal yang tidak terduga.

Pelan-pelan saja.

Tidak perlu langsung sempurna.

Yang penting, hari ini lisan kita sedikit lebih baik daripada kemarin.

Buang kebiasaan buruk, ganti dengan kebiasaan yang lebih baik.

Karena memperbaiki diri memang tidak selalu mudah.

Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Semangat upgrade diri. 💙✨