Tentang Memaafkan, Menata Hati, dan Kembali kepada Allah SWT
Akhirnya kita sampai di part terakhir dari sesi pertama Fatherless Healing.
Di part ini, kita akan membahas tentang bagaimana arahan Al-Qur’an terhadap orang tua ketika kita sedang terluka secara emosional karena father wound.
Karena realitanya, tidak semua orang memiliki kondisi keluarga yang sama.
Ada yang orang tuanya sama-sama Muslim, ada juga yang berbeda keyakinan.
Dan ternyata, pendekatannya pun bisa berbeda.
Tentang “Ihsan”
Dalam Islam ada istilah bernama ihsan.
Secara sederhana, ihsan berarti berbuat baik dengan kesadaran, ketulusan, dan kualitas terbaik karena Allah SWT.
Jadi bukan sekadar bersikap baik biasa, tetapi benar-benar menghadirkan kebaikan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
Misalnya:
- tetap berbicara dengan lembut,
- menjaga adab,
- membantu dengan tulus,
- atau berusaha tidak membalas luka dengan kebencian.
Karena itu, ihsan bukan hanya tentang tindakan besar, tetapi juga tentang bagaimana hati menghadirkan kebaikan dalam setiap sikap.
Jika Orang Tua Sama-sama Muslim atau Seiman
Ketika orang tua masih seiman, maka Islam mengajarkan untuk tetap berusaha menghadirkan ihsan kepada mereka.
Bentuknya bisa berupa:
- usaha aktif untuk menjaga komunikasi,
- mencoba memahami,
- membantu ketika mampu,
- tetap mendoakan,
- atau perlahan memperbaiki hubungan jika memungkinkan.
Kadang memang tidak mudah, apalagi jika hati masih terluka.
Tetapi selama hubungan itu masih memungkinkan untuk diperbaiki secara sehat, Islam mengajarkan untuk tetap membuka ruang kebaikan.
Tentang Kesengajaan dalam Berbuat Baik
Di sini juga dibahas tentang “kesengajaan”.
Artinya, berbuat baik kepada orang tua bukan dilakukan asal lewat atau sekadar formalitas, tetapi dilakukan dengan niat sadar dan kesungguhan hati.
Karena makna ihsan bukan hanya sekadar baik, tetapi menghadirkan kualitas terbaik dalam sikap, perkataan, dan perlakuan.
Jika Orang Tua Non-Muslim atau Berbeda Keyakinan
Namun bagaimana jika hubungan dengan orang tua sangat sulit, atau bahkan berbeda keyakinan?
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin belum mampu memberikan ihsan dalam bentuk kedekatan emosional.
Tetapi setidaknya tetap menjaga husn, yaitu:
- tetap sopan,
- tidak kasar,
- dan tidak menyakiti.
Karena kadang menjaga hubungan tetap tenang saja sudah menjadi perjuangan besar bagi seseorang yang sedang terluka.
Dan itu tidak apa-apa.
Tentang Memaafkan
Maka belajarlah memaafkan.
Bukan karena semua luka terasa ringan, tetapi karena hati tidak perlu terus hidup membawa beban yang sama sepanjang hidupnya.
Memaafkan bukan berarti melupakan semuanya.
Melainkan memberi ruang bagi jiwa untuk perlahan pulih.
Karena hati yang mulai berdamai akan lebih mudah:
- menumbuhkan bakti,
- menerima kasih sayang,
- dan lebih dekat kepada Rahmat Allah SWT.
Semoga dengan memaafkan, Allah SWT menyembuhkan lelah yang selama ini diam-diam disimpan, melembutkan hati, dan menuntun hidup menuju keberkahan.
Perbaiki Sholat untuk Memperbaiki Jiwa
Di kelas ini juga diingatkan:
“Perbaiki sholat supaya bisa memperbaiki jiwa.”
Karena sering kali hati yang lelah sebenarnya sedang jauh dari tempat bersandar terbaiknya.
Perbanyak curhat kepada Allah SWT.
Karena Allah Maha Mendengar, bahkan suara hati yang tidak pernah bisa diucapkan kepada siapa pun.
Ketika Lelah, Tidak Apa-apa Mengambil Break
Kadang seseorang memang perlu mengambil jarak sementara dalam hubungan agar emosinya tidak semakin terluka.
Namun selama masa break, jangan hanya memendam semuanya sendirian.
Cobalah:
- menulis perasaan setiap hari,
- mencatat emosi yang dirasakan,
- memperhatikan kebiasaan yang muncul,
- pikiran apa saja yang sering datang,
- dan menyadari apa yang terjadi pada tubuh.
Hal ini penting untuk membantu tracking kondisi diri sendiri, memahami pola luka yang muncul, serta memonitor proses pemulihan secara perlahan.
Karena luka batin ternyata juga bisa memengaruhi kondisi fisik.
Luka Emosional Bisa Mempengaruhi 4 Hal (E-B-B-M)
1. Emotion (Emosi)
Luka emosional bisa membuat seseorang:
- mudah sedih,
- cepat marah,
- sensitif,
- mudah tersinggung,
- merasa kosong,
- cemas berlebihan,
- atau merasa tidak berharga.
Kadang emosi terasa naik turun tanpa benar-benar tahu penyebabnya.
2. Behaviour (Perilaku atau Kebiasaan)
Luka batin juga bisa memengaruhi perilaku sehari-hari, misalnya:
- malas mandi,
- malas keluar rumah,
- menarik diri dari lingkungan,
- kehilangan semangat,
- sulit produktif,
- tidur berantakan,
- atau mengisolasi diri terlalu lama.
Dalam istilah Jepang, kondisi menarik diri ekstrem ini sering disebut seperti NEET atau hikikomori.
3. Body (Tubuh)
Tubuh juga bisa ikut “berbicara” saat hati terlalu lelah.
Beberapa orang mengalami:
- sakit kepala,
- gangguan tidur,
- GERD atau asam lambung,
- tubuh mudah lelah,
- jantung berdebar,
- nyeri otot,
- gatal-gatal karena stres,
- atau gangguan makan.
Karena stres emosional memang dapat memengaruhi kondisi tubuh secara nyata.
4. Mind (Pikiran)
Luka emosional juga memengaruhi cara berpikir seseorang.
Misalnya:
- overthinking,
- merasa diri tidak cukup baik,
- sulit fokus,
- terus menyalahkan diri sendiri,
- berpikir negatif tentang masa depan,
- atau merasa hidup tidak punya arah.
Karena itu, healing bukan hanya soal hati, tetapi juga pikiran, tubuh, kebiasaan, dan spiritualitas.
Tips Saat Emosi Ingin Meledak
Miliki “peredam emosi” yang bisa dilakukan saat itu juga.
Hal-hal kecil yang membantu tubuh dan pikiran lebih tenang, misalnya:
- minum air putih,
- makan coklat atau es krim,
- mendengar lagu,
- menulis,
- berjalan sebentar,
- menarik napas perlahan,
- atau melakukan hal kecil yang membuat diri lebih rileks.
Kadang yang dibutuhkan bukan solusi besar, tetapi jeda kecil agar emosi tidak langsung meledak.
Tips Saat Marah Berdasarkan Contoh Rasulullah SAW
Rasulullah SAW mengajarkan:
“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum hilang, maka hendaklah ia berbaring.”
(HR. Abu Dawud)
Dan dalam hadis lain dijelaskan bahwa marah berasal dari setan, sementara setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air, maka dianjurkan berwudhu ketika marah.
Karena itu:
- jika marah saat berdiri → duduklah,
- jika masih marah → berbaring,
- jika masih marah → berwudhu,
- lalu sholat dan mendekat kepada Allah SWT.
Kadang ketenangan bukan datang dari meluapkan emosi, tetapi dari menenangkan hati terlebih dahulu.
Tips Ruqyah Mandiri untuk Menenangkan Hati
Beberapa amalan yang dibagikan di kelas:
- membaca Al-Fatihah 7 kali lalu meniupkannya ke air dan meminumnya,
atau membaca dzikir berikut 100 kali:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Latin:
Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.
Artinya:
"Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Hal yang Perlu Diingat
Hidup ini milik Allah SWT.
Dan hidup juga sudah ada yang mengatur.
Karena itu, dekatlah kepada Allah SWT supaya segala badai dan ujian hidup terasa lebih bermakna dan lebih mudah dilalui.
Kadang luka memang tidak langsung hilang.
Tetapi bersama Allah, hati bisa belajar menjadi lebih kuat, lebih lembut, dan lebih tenang.
“Mungkin tidak semua orang mengerti seberapa berat luka yang pernah kamu bawa.
Tapi Allah SWT tahu setiap air mata yang tidak jadi jatuh, setiap lelah yang disembunyikan, dan setiap usaha kecilmu untuk tetap bertahan.
Semoga langkah kecilmu menuju pulih hari ini menjadi jalan menuju hati yang lebih tenang, hidup yang lebih berkah, dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah SWT.”
— by Hyull 🌷💙




