Antara dunia fiksi, kehidupan nyata, dan alasan untuk terus berjalan.
Pernah nggak sih kalian ngebayangin, “Seandainya kita bisa transmigrasi alias pindah dunia?” Atau mungkin regresi alias mengulang waktu?
Belakangan ini rasanya banyak banget cerita dengan tema begitu. Mulai dari komik, manhwa, manga, manhua, anime, donghua, sampai drama-drama pendek terutama drachin. Bahkan Webtoon Indonesia pun kayaknya ikut terserang wabah tema regresi dan transmigrasi. 😂
Dan kalau cuma di dalam imajinasi...
Memang indah.
Bayangin bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki keputusan yang dulu kita sesali. Atau tiba-tiba terlempar ke dunia lain, memulai kehidupan baru, punya kesempatan kedua, lalu menjalani hidup dengan pengetahuan yang sudah kita punya.
Seru, kan?
Tapi...
Life must go on, bro.
Kita nggak bisa selamanya meratapi masa lalu.
Fiksi Itu Indah, Tapi Jangan Lupa Realita
Sebagai hiburan, nggak ada salahnya menikmati cerita tentang dunia lain, regresi, transmigrasi, reinkarnasi, atau karakter yang mendapatkan kesempatan kedua.
Aku sendiri juga paham kenapa tema seperti ini menarik.
Siapa sih yang nggak pernah berpikir:
“Kalau waktu bisa diputar ulang, aku pasti akan memilih berbeda.”
Tapi kita juga harus bisa membedakan fiksi dan kenyataan.
Karena di dalam cerita, karakter bisa mati lalu hidup kembali.
Bisa kecelakaan lalu bangun di dunia lain.
Bisa kembali ke masa lalu.
Bisa mendapatkan kehidupan kedua.
Bahkan kadang-kadang ada "truk legendaris" yang tugasnya cuma satu: mengirim manusia ke dunia lain. 😭
Tapi di dunia nyata?
Ya jangan dicoba. 😂🤌
Jangan sampai karena terlalu larut membaca cerita atau menonton drama bertema seperti itu, kita malah mulai berpikir bahwa kematian adalah jalan untuk mendapatkan kehidupan baru.
Jangan sampai ada yang berharap bertemu “truk transmigrasi”, kemudian sengaja melakukan sesuatu yang membahayakan diri dengan harapan bisa bangun di dunia lain.
Naudzubillahi min dzalik.
Karena hidup bukan cerita fiksi.
Kita nggak tahu apa yang menunggu setelah kematian.
Dan kita nggak punya tombol restart.
Jadi...
Terima kenyataan, bro sist.
Perjalanan kita masih panjang.
Dunia Lain Itu Memang Ada
Menariknya, kalau dipikir-pikir, konsep “dunia lain” sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya asing dalam Islam.
Kita memang meyakini bahwa kehidupan manusia tidak berhenti begitu saja setelah dunia.
Dunia ini sementara.
Dan setelah kehidupan dunia, ada kehidupan berikutnya yang jauh lebih panjang dan kekal.
Dalam pemahaman yang aku dapat, perjalanan manusia melewati beberapa fase kehidupan dan alam, mulai dari kehidupan sebelum kita lahir, kehidupan di dunia, kemudian kematian dan kehidupan setelahnya, hingga akhirnya manusia dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan amalnya.
Dalam kajian yang pernah aku dengar, kehidupan manusia juga dibahas melalui beberapa fase sebelum kehidupan dunia.
Kita mengenal pembahasan tentang alam roh dan fase kehidupan dalam kandungan sebelum akhirnya berada di alam dunia. Ada bagian yang memang tidak kita ingat, dan detail tentangnya tentu kembali kepada ilmu Allah.
Setelahnya barulah kita di sini, yaitu alam dunia. Kemudian setelah kematian akan melewati alam perjalanan selanjutnya.
Ada alam barzakh atau alam kubur.
Ada hari kiamat.
Ada kebangkitan.
Ada padang Mahsyar.
Ada hisab dan penimbangan amal.
Ada shirath.
Dan pada akhirnya ada kehidupan akhirat: surga atau neraka.
Jadi kalau ada yang bertanya,
“Memangnya dunia lain itu ada?”
Jawabannya:
Ada.
Tapi mungkin bukan dunia lain seperti yang sering kita lihat di anime, manhwa, manga, manhua, atau drachin. 😂
Bukan tiba-tiba bangun sebagai putri kerajaan.
Bukan tiba-tiba mendapatkan sistem.
Bukan juga tiba-tiba menjadi karakter utama yang punya cheat ability.
Dan kalau bicara tentang alam gaib seperti alam jin dan hal-hal lainnya, itu juga merupakan bagian dari perkara yang keberadaannya kita imani berdasarkan ajaran agama, meskipun bagaimana hakikatnya tentu berada di luar jangkauan pengetahuan kita.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Ini sebatas pemahaman yang aku tahu dan aku pelajari. Jadi kalau ada bagian yang kurang tepat, tentu perlu dikembalikan lagi kepada Al-Qur'an, hadits, dan penjelasan ulama yang terpercaya.
Jangan Sampai Fiksi Jadi Pelarian
Menurutku, nggak masalah kok membaca atau menonton cerita dengan tema seperti itu.
Kita boleh menikmati imajinasi.
Boleh berandai-andai.
Boleh ikut kesal ketika karakter utama salah mengambil keputusan.
Boleh juga sambil ngomel,
“WOI, KALAU AKU JADI KAMU, AKU NGGAK AKAN PILIH DIA!” 😭
Namanya juga hiburan. Wkwkwk.
Yang penting, kita tahu batas antara cerita dan kehidupan nyata.
Jangan sampai imajinasi memengaruhi cara kita memandang kehidupan.
Apalagi ketika kita sedang berada dalam kondisi mental yang nggak baik.
Karena manusia itu memang kadang ada di atas, kadang di bawah.
Hari ini bisa semangat.
Besok bisa kehilangan motivasi.
Hari ini merasa hidup baik-baik saja.
Besok tiba-tiba rasanya semua berat.
Dan ketika sedang berada di titik rendah, cerita tentang “mendapatkan kehidupan kedua setelah mati” bisa menjadi sesuatu yang berbahaya kalau kita mulai menganggapnya sebagai kemungkinan nyata atau jalan keluar.
Jangan.
Jangan mengambil keputusan permanen hanya karena sedang menghadapi masalah yang mungkin sebenarnya masih bisa berubah.
Kita nggak tahu seperti apa akhir perjalanan kita.
Yang kita tahu, selama masih hidup, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki sesuatu.
Kalau Lagi Down, Hidup Dulu Aja
Kalau lagi down, ingat saja satu hal:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 286.
Dan ketika kita sedang menghadapi masalah, bukan berarti masalah itu akan selamanya seperti itu.
Kadang jalan keluarnya belum kelihatan.
Kadang kita harus melewati proses yang panjang.
Kadang kita bahkan belum tahu harus mulai dari mana.
Tapi selama kita masih hidup, masih ada kemungkinan bahwa keadaan bisa berubah.
Jadi kalau lagi kehilangan motivasi...
Nggak usah muluk-muluk dulu.
Nggak harus langsung punya life purpose.
Nggak harus langsung tahu lima tahun lagi mau jadi apa.
Nggak harus langsung menyelesaikan semua masalah dalam satu hari.
Kadang...
hidup aja dulu.
Besok mau ngapain?
Nanti pikirin.
Sekarang makan dulu.
Terus kalau bingung mau makan apa...
“Hmm... besok pengen makan apa ya?”
Nah.
Itu aja dulu. 😂
Sesederhana itu.
Karena terkadang ketika hidup terasa terlalu berat, kita memang nggak perlu memikirkan seluruh perjalanan sekaligus.
Cukup pikirkan langkah berikutnya.
Urusan yang Nggak Bisa Kita Handle, Serahkan kepada Allah
Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali kita.
Masa lalu?
Nggak bisa diulang.
Keputusan yang sudah dibuat?
Nggak bisa dihapus.
Perkataan orang lain?
Nggak selalu bisa kita kendalikan.
Masa depan?
Belum tentu sesuai rencana.
Jadi untuk hal-hal yang memang nggak bisa kita handle...
Serahkan kepada Allah.
Bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Kita tetap berusaha.
Tetap mencari jalan keluar.
Tetap melakukan apa yang memang bisa kita lakukan.
Tapi setelah itu, untuk hal-hal yang berada di luar kuasa kita...
ya sudah.
Serahkan kepada Allah.
Beres.
Wkwkwk. 😂
Aku tahu kok.
Pasti ada yang bilang:
“Tak semudah itu, Ferguso.” 🤣🤌
Iya.
Aku tahu.
Hidup memang nggak sesederhana tulisan di artikel.
Ada masalah yang benar-benar berat.
Ada hari ketika bangun dari tempat tidur saja rasanya susah.
Ada masa ketika kita kehilangan arah.
Ada saat ketika kita merasa nggak punya tenaga untuk melakukan apa-apa.
Tapi kalau hari ini kita masih bisa bertahan...
berarti perjalanan belum selesai.
Selama masih ada usaha yang bisa dilakukan, sekecil apa pun itu, berarti masih ada jalan untuk melanjutkan hidup.
Nggak perlu langsung berlari.
Jalan pelan-pelan juga nggak apa-apa.
Istirahat sebentar juga nggak apa-apa.
Yang penting...
jangan menyerah pada hidup hanya karena hari ini terasa berat.
Karena siapa tahu...
besok kita bangun dan ternyata hidup nggak seburuk yang kita kira.
Dan kalau besok masih berat juga?
Ya sudah.
Kita jalan lagi.
Pelan-pelan.
Satu hari.
Satu langkah.
Satu napas.
Life must go on, bro sist. 😂🤌
~Hyull 💙




