Dulu Aku Ingin Cepat Dewasa
Semakin bertambah usia, aku mulai sadar...
Ternyata menjadi dewasa tidak seperti yang dulu kubayangkan.
Waktu kecil, aku ingin sekali cepat besar.
Menurutku, menjadi orang dewasa itu pasti menyenangkan.
Bisa punya uang sendiri. Bisa membeli apa pun yang diinginkan. Bisa pergi ke mana saja tanpa harus meminta izin. Bisa melakukan banyak hal tanpa bergantung pada orang lain.
Kelihatannya bebas sekali, ya?
Mungkin karena dulu aku terlalu sering melihat kehidupan yang indah di anime, drama Korea, atau cerita-cerita novel yang kubaca.
Tokoh utamanya memang sering mengalami masalah. Kadang hidupnya berat. Kadang harus melewati banyak kesulitan.
Tapi selalu ada seseorang yang datang menolong.
Selalu ada keluarga yang hangat.
Selalu ada sahabat yang menemani.
Selalu ada seseorang yang berkata, "Tidak apa-apa, kamu tidak sendiri."
Dan pada akhirnya...
Semua akan baik-baik saja.
Happy ending.
Waktu kecil, aku pikir kehidupan nyata juga akan seperti itu.
Aku pikir nanti ketika dewasa, aku akan menjadi seseorang yang bebas, bahagia, dan hidup tanpa terlalu banyak beban.
Ternyata...
Tidak sesederhana itu.
Ternyata Dewasa Tidak Hanya Tentang Kebebasan
Semakin dewasa, aku justru semakin sering bertanya dalam hati,
"Kenapa hidup capek, ya?"
Ternyata menjadi dewasa bukan hanya tentang mendapatkan kebebasan.
Ada tanggung jawab yang ikut datang bersamanya.
Mulai memikirkan pekerjaan.
Memikirkan uang.
Memikirkan masa depan.
Memikirkan keluarga.
Belajar menjaga ucapan supaya tidak menyakiti orang lain.
Belajar memahami orang lain meskipun terkadang diri sendiri juga ingin dipahami.
Kadang aku bertanya...
Kalau aku terus berusaha menjaga perasaan semua orang, siapa yang akan menjaga perasaanku?
Kalau semua orang ingin dimengerti, kapan aku dimengerti?
Ada kalanya aku juga ingin menjadi seseorang yang boleh merasa lelah.
Aku juga ingin sesekali ada yang berkata,
"Sudah... hari ini istirahat saja. Kamu tidak perlu kuat terus."
Karena ternyata...
Capek juga ya, harus selalu terlihat baik-baik saja.
Capek harus tersenyum ketika hati sedang penuh.
Capek harus meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal sebenarnya ingin menangis sebentar.
Ketika Aku Mulai Melihat Kembali Hidupku
Tapi beberapa hari yang lalu, aku mencoba berhenti sebentar.
Aku bertanya kepada diriku sendiri...
"Benarkah hidupku hanya berisi hal-hal yang tidak sesuai harapan?"
Lalu aku mencoba melihat ke belakang.
Dan ternyata...
Tidak juga.
Mungkin aku terlalu sibuk melihat apa yang belum aku punya sampai lupa melihat apa yang sudah berhasil aku dapatkan.
Ternyata Ada Mimpi Kecil yang Diam-Diam Sudah Terwujud
Dulu waktu kecil, aku pernah ingin sekali makan es krim sebanyak yang aku mau.
Dulu rasanya melihat orang membeli es krim besar itu seperti melihat sesuatu yang mewah sekali.
Sekarang?
Aku pernah membeli satu ember es krim dan memakannya sendiri.
Walaupun akhirnya eneg juga karena kebanyakan, haha.
Tapi lucunya, aku ingat ada rasa bahagia kecil waktu membelinya.
Seperti ada bagian kecil dari diriku yang berkata,
"Akhirnya kita bisa beli sendiri."
Dulu aku juga pernah ingin makan kue ulang tahun sesuka hati.
Sekarang aku bisa membelinya sendiri.
Memang bukan sesuatu yang besar.
Tapi ternyata ada kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada diri sendiri.
Aku juga ingat dulu sering melihat jajanan di minimarket.
Kadang ingin membeli, tapi harus berpikir dulu.
"Uangnya cukup tidak, ya?"
Sekarang memang aku belum bisa membeli semua yang aku mau.
Masih harus berpikir juga.
Tapi sesekali aku bisa mengambil camilan yang aku suka tanpa merasa terlalu bersalah.
Dan ternyata...
Hal kecil seperti itu dulu adalah sesuatu yang pernah aku inginkan.
Benda-Benda Sederhana yang Dulu Hanya Ada di Bayangan
Dulu aku pernah menggambar HP di kertas, di kayu, dan seringkali di pecahan genteng yang dibentuk kotak untuk dijadikan mainan.
Ketika zamannya Android mulai ramai, aku bahkan pernah memakai kaca bekas bedak yang bentuknya kotak memanjang, lalu membayangkan itu adalah HP layar sentuh.
Kalau diingat sekarang...
Lucu juga.
Anak kecil itu hanya punya imajinasi sederhana.
Tapi sekarang HP benar-benar ada di tanganku.
Sesuatu yang dulu hanya bisa kubayangkan, sekarang menjadi benda biasa yang setiap hari kugunakan.
Aku juga pernah bermimpi punya laptop sendiri.
Waktu akhirnya bisa membeli laptop, memang bukan laptop baru yang mahal.
Laptop bekas.
Dan sekarang malah sedang rusak.
Tapi aku masih ingat perasaan ketika pertama kali memilikinya.
Ada rasa bangga.
Karena untuk pertama kalinya aku punya sesuatu yang kubeli dari hasil usahaku sendiri.
Begitu juga dengan tablet yang sekarang aku punya.
Bukan tablet mahal.
Aku membelinya saat diskon.
Tapi tetap saja...
Aku punya tablet yang sekarang sering kupakai untuk belajar, menulis, dan menunjang karierku.
Dulu, itu adalah salah satu hal yang ingin kumiliki.
Aku pernah membeli cincin emas pertamaku.
Memang kecil.
Tidak sampai dua gram.
Tapi rasanya berbeda ketika memakai sesuatu yang kubeli sendiri.
Bukan karena barangnya mahal.
Tapi karena ada cerita di baliknya.
Belajar Memberikan Hal Baik untuk Diri Sendiri
Pelan-pelan, aku juga mulai belajar merawat diri.
Dulu skincare terasa seperti sesuatu yang jauh.
Sekarang aku punya skincare sederhana.
Facial wash, moisturizer, sunscreen, bedak, dan lipstick yang juga sering kupakai sebagai blush on atau eyeshadow supaya lebih praktis.
Tidak mahal.
Sebagian besar bahkan harganya di bawah lima puluh ribu.
Tapi ternyata...
Merawat diri sendiri juga termasuk bentuk sayang kepada diri sendiri.
Aku juga punya motor.
Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja.
Tapi buatku, motor berarti kemandirian.
Jadi kalau belanja bulanan, aku tidak perlu lagi merepotkan orang lain untuk mengantar.
Aku bisa pergi sendiri.
Aku membeli kasur busa untuk diriku sendiri.
Aku juga akhirnya punya mesin cuci.
Mungkin terdengar sederhana.
Tapi buatku, itu adalah bentuk kecil bahwa hidupku perlahan menjadi lebih mudah.
Tanganku tidak perlu merasakan alergi akibat deterjen.
Hal-hal kecil seperti itu ternyata dulu adalah doa-doa kecil yang diam-diam sudah dijawab.
Perpustakaan Kecil yang Masih Dalam Perjalanan
Ada satu mimpi yang sampai sekarang masih berjalan.
Aku ingin punya perpustakaan pribadi.
Dulu aku membayangkannya ruangan khusus dengan rak-rak buku memenuhi dinding.
Ada kursi nyaman.
Ada sudut kecil untuk membaca.
Tempat yang tenang untuk melarikan diri sebentar dari dunia.
Sekarang?
Perpustakaan itu belum ada.
Buku-bukuku masih berada di rak sederhana di kamar.
Sebagian besar rak itu masih berisi buku sekolah dan buku lama yang sudah menemaniku bertahun-tahun.
Kalau buku yang benar-benar kubeli sendiri?
Masih sedikit.
Mungkin baru mengisi setengah bagian bawah rak.
Belasan buku.
Bahkan beberapa masih rapi karena belum sempat kubaca.
Tapi setiap melihat rak itu, aku tetap tersenyum.
Karena aku sadar...
Aku tidak lagi hanya bermimpi.
Aku sedang membangun mimpi itu.
Sedikit demi sedikit.
Masih Ada Mimpi yang Belum Sampai
Tentu saja masih banyak mimpi yang belum tercapai.
Aku masih ingin punya rumah yang benar-benar kubeli sendiri.
Bukan hadiah.
Bukan warisan.
Bukan sekadar tempat tinggal.
Tapi rumah yang suatu hari nanti bisa membuatku berkata,
"Rumah ini hasil perjuanganku."
Aku juga ingin umrah.
Pernah mulai menabung, tapi ternyata uangnya harus dipakai untuk kebutuhan lain.
Ya... Begitulah hidup, haha.
Kadang kita sudah membuat rencana, tapi Allah punya jalan yang berbeda.
Aku juga punya keinginan untuk merasakan umrah sendirian.
Bukan karena tidak ingin ditemani.
Tapi karena aku ingin merasakan perjalanan itu sebagai perjalanan antara aku dan Allah.
Mungkin belum sekarang.
Mungkin memang belum waktunya.
Melihat Hidup dari Sudut Pandang yang Berbeda
Saat ini, aku mencoba melihat hidupku dari sudut pandang yang berbeda.
Aku memang belum menjadi orang yang benar-benar mapan.
Masih banyak hal yang ingin aku capai.
Masih ada doa-doa yang belum terjawab.
Masih ada hari-hari ketika aku merasa lelah dan bertanya, "Kapan ya?"
Tapi ternyata...
Aku sudah berjalan cukup jauh.
Mungkin Hyull kecil tidak akan kecewa melihatku sekarang.
Mungkin dia tidak akan bertanya,
"Kenapa kita belum punya rumah?"
Mungkin dia justru akan tersenyum dan berkata,
"Ternyata kita berhasil ya."
"Pelan-pelan, tapi kita berhasil."
Dan mungkin...
Itu sudah cukup.
Untuk Hyull Kecil yang Masih Berani Bermimpi
Tulisan ini bukan tentang seseorang yang sudah berhasil mencapai semua impiannya.
Karena aku masih berjuang.
Masih belajar.
Masih sering merasa lelah.
Masih sering kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapan.
Tapi aku tidak ingin terus melihat semua hal yang belum kumiliki.
Aku juga ingin mengingat semua hal kecil yang dulu hanya menjadi mimpi.
Karena mungkin...
Kita sering terlalu sibuk mengejar mimpi berikutnya sampai lupa bahwa beberapa doa kecil kita sebenarnya sudah dijawab.
Kalau hari ini kamu juga sedang merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana...
Coba berhenti sebentar.
Lihat ke belakang.
Mungkin ada versi kecil dari dirimu yang sedang tersenyum karena melihat sejauh apa kamu sudah bertahan.
Untuk Hyull kecil...
Terima kasih sudah berani bermimpi.
Memang belum bisa mewujudkan semuanya.
Tapi tenang ya...
Kita masih mengusahakannya.
Satu per satu.
Karena yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi kita tidak berhenti berjalan. - Hyull 💙




