Cerita jujur trial and error bertahun-tahun demi merawat kulit rewel tanpa bikin boncos.
Aku bukan tipe orang yang kalau ada produk skincare viral langsung ikut beli. Bukan karena nggak penasaran, tapi aku lebih suka lihat dulu, pelajari kandungan utamanya, cek sekilas kira-kira cocok atau nggak dengan kondisi kulitku, memastikan produknya aman dan terdaftar BPOM, lalu yang nggak kalah penting: lihat harganya masuk budget atau nggak. 😂
Perjalananku menemukan basic skincare yang cocok juga ternyata nggak sebentar. Bahkan bisa dibilang sudah bertahun-tahun.
Semuanya berawal setelah aku mulai sering melihat edukasi dari dokter estetika di YouTube dan TikTok tentang pentingnya basic skincare. Dari situ aku mulai berpikir, “Oh iya juga ya, kayaknya aku memang butuh skincare yang basic dulu.”
Apalagi kondisi kulitku cukup unik: wajahku cenderung berminyak, tapi kulit badanku justru kering.
Kondisi ini sebelumnya sudah pernah aku ceritakan juga di artikel “Kulit Badan Kering Tapi Wajah Berminyak? Ternyata Solusiku Sesimpel Ini!”
Nah, dari situlah perjalananku mencari tiga basic skincare ini dimulai.
Dari EVOO, Sabun Mandi, Sampai Akhirnya Punya Face Wash
Kalau dipikir-pikir, dulu aku cukup sederhana soal skincare.
Sejak kecil, aku terbiasa memakai EVOO (extra virgin olive oil) untuk seluruh badan. Kemudian makin besar, mungkin sekitar SMP atau SMA, aku mulai sadar kalau wajah sepertinya butuh perlakuan yang berbeda.
Aku mulai menggunakan face wash, karena ternyata sekadar pakai EVOO saja nggak cukup untuk wajah. Apalagi setelah makin sering beraktivitas di luar rumah, jadi wajah terasa kotor. Ditambah matahari terasa makin terik, aku akhirnya sadar kalau sunscreen juga penting.
Tapi untuk sampai ke tahap punya tiga basic skincare yang sekarang kupakai, jalannya lumayan panjang. 😂
1. Face Wash: Dari Sabun Mandi Sampai Ketemu Pigeon
Dulu waktu sekolah, aku menganggap face wash bukan sesuatu yang penting.
Maklum, aku terbiasa pakai sabun mandi untuk cuci muka. Wkwkwk.
Masalahnya, setelah pakai sabun mandi, wajahku malah terasa semakin berminyak. Jadi aku sesekali memakai pembersih dan penyegar Viva bengkoang punya Ibu karena wajah berminyak dan kotor itu nggak enak. 😂
Sampai akhirnya aku mulai hunting face wash.
Face wash pertama yang kupilih adalah Clean & Clear yang kemasannya warna cokelat, tekstur cair, dan memang ditujukan untuk remaja. Waktu itu aku masih SMA, jadi rasanya cocoklah dengan target produknya.
Aku beli ukuran kecil dulu karena baru mencoba.
Ternyata setelah beberapa kali dipakai, wajahku malah terasa kering.
Tapi karena saat itu aku sudah punya “senjata andalan”, aku tinggal mengoleskan EVOO setelahnya. Wkwkwk.
Setelah produk itu habis, aku nggak beli lagi. Aku malah balik lagi ke sabun mandi, sesekali pembersih dan penyegar Viva punya Ibu, dan tentunya EVOO.
Kemudian aku pernah mencoba Pond’s punya sepupu.
Baru sekali pakai, wajah langsung terasa kering dan gradakan. 😂
Lagi-lagi, solusinya adalah EVOO.
Setelah itu aku mulai hunting lagi. Aku sempat mencoba beberapa produk dari berbagai merek seperti Hada Labo, Biore, Wardah, Hanasui, Emina, Skintific, dan beberapa merek lain yang sekarang sudah lupa.
Tapi karena aku juga tipe yang nggak mau buang-buang uang cuma untuk coba-coba, modal utamaku adalah tester gratis dari teman. Wkwkwk.
Tenang, aku nggak asal ambil banyak. Aku cuma coba sekali dan sedikit banget, paling seukuran biji jagung. Takut nggak cocok, kan?
Dan ternyata...
Memang banyak yang nggak cocok. 😂
Ada yang bikin wajah kering, makin berminyak, terasa panas, gradakan, bahkan ada yang bikin kulit terasa ketarik.
Solusinya?
EVOO lagi.
Wkwkwkwk.
Jadi selama bertahun-tahun, skincare wajahku itu bisa dibilang cukup random: sabun mandi, sesekali pembersih dan penyegar Viva, EVOO, dan Emina Bright Stuff yang akhirnya menjadi moisturizer pertamaku yang cocok.
Sampai akhirnya ketika kuliah, tepatnya sekitar semester akhir, aku sudah agak menyerah dengan face wash untuk remaja-dewasa.
Aku malah browsing dan searching face wash untuk anak-anak.
Pikirku waktu itu, mungkin produk untuk anak-anak formulanya lebih skin-friendly dan lembut. 😂
Dari pencarian itu aku menemukan Pigeon Facial Foam for All Skin Types. Di keterangannya, produk ini memang ditujukan untuk semua jenis kulit. Aku akhirnya beli ukuran kecil dulu.
Dan ternyata...
Cocok!
Nggak panas, nggak terasa ketarik, nggak bikin gradakan, dan nyaman dipakai.
Ukuran kecilnya habis tanpa drama.
Akhirnya aku beli ukuran besarnya. 😂
Finally! Aku menemukan satu produk basic skincare yang cocok: Pigeon Facial Foam for All Skin Types.
2. Moisturizer: Dari Emina, Muter-Muter, Sampai Hanasui
Kalau moisturizer, produk pertamaku adalah Emina Bright Stuff Moisturizing Cream SPF 15 yang kemasannya pink.
Aku sudah berkali-kali membeli produk ini sejak SMA karena memang cocok di kulitku.
Sampai kemudian ketika kuliah, kalau nggak salah sekitar semester pertengahan, Emina melakukan perubahan pada kemasan sekaligus formulanya. Kemasan masih sama-sama pink, tapi formulanya sudah berbeda.
Aku pun beli seperti biasa.
Eh, ternyata...
Nggak cocok lagi.
Wajahku jadi terasa lebih berminyak dan nggak nyaman.
Akhirnya aku stop pakai dan kembali lagi ke mode hunting moisturizer.
Dan tentu saja, selama masa pencarian itu...
EVOO dulu. Wkwkwkwk.
Produk pertama yang kucoba adalah yang murah dan kebetulan sudah ada di rumah: Viva punya Ibu.
Aku sempat mencoba beberapa variannya, mulai dari Viva Pelembab Bengkuang, Mulberry, sampai Skin Food.
Hasilnya kurang lebih sama.
Wajahku jadi lebih gampang berkeringat dan menurutku kelembapannya masih kurang. Untuk yang Skin Food, wajahku malah terasa lebih berminyak.
Aku juga pernah mencoba Viva Moist Cream dalam jar, bahkan night cream-nya.
Tapi tetap saja, wajahku gampang berkeringat setelah memakainya.
Entah memang karakter produknya begitu atau ada kandungan tertentu yang kurang cocok di kulitku. 🤔
Terus waktu aku ke toko kosmetik, aku disaranin pakai moisturizer yang teksturnya gel biar lebih ringan dan cepat meresap. Aku pun dikasih saran La Tulipe Active Moisturizer Gel for Normal to Dry Skin.
Aku akhirnya mencoba produk tersebut.
Tapi ternyata, produk ini juga belum menjadi moisturizer yang benar-benar cocok di kulitku karena menurutku kurang lembap. 😭
Kemudian aku mencoba Metoo Probiotik Water-Oil Balance Essence Cream.
Sebenarnya produk ini lumayan cocok. Nggak bikin wajah kering, hanya saja menurutku kelembapannya kurang tahan lama.
Beberapa jam kemudian rasanya harus re-apply lagi.
Dan jujur...
Males. Wkwkwk.
Selain itu, menurutku produk ini juga kurang cepat meresap.
Sampai suatu hari ketika sedang belanja di supermarket, aku melihat pelembap untuk bayi.
Tiba-tiba muncul ide:
“Hmm... mungkin pakai yang buat bayi aja kali ya? Harusnya skin-friendly.” 😂
Akhirnya aku membeli My Baby Face & Body Cream yang warna pink, dengan kandungan ceramide, oat, dan milk.
Dan ternyata...
Cocok! Wkwkwk.
Walaupun masih ada kekurangannya, yaitu menurutku agak lama meresap, tapi sedikit lebih cepat dibanding Metoo.
Dari sini aku jadi penasaran dengan ceramide.
Aku lihat kandungannya, kemudian mulai mencari moisturizer lain yang juga mengandung ceramide.
Salah satu yang menarik perhatianku adalah Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel. Produk ini bertekstur gel dan klaimnya ringan serta mudah meresap, jadi cukup menarik untuk kulitku yang gampang berkeringat.
Aku pun nggak langsung beli yang besar.
Aku coba ukuran kecil 30 gram dulu.
Dan ternyata...
Enak banget dipakai!
Cepat meresap, cepat set, terasa adem di kulit, nggak bikin berminyak, dan nyaman.
Sampai habis pun nggak ada drama.
Ya sudah.
Gas beli ukuran besarnya. 😂
Sampai sekarang, Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel masih menjadi moisturizer yang kupakai, baik pagi maupun malam.
Kalau ada yang bertanya, “Terus krim malamnya apa?”
Nggak ada. Wkwkwk.
Bukan apa-apa, aku tuh kalau skincare terlalu banyak malah takutnya malas pakai dan akhirnya produknya keburu expired.
Jadi daripada punya banyak produk tapi nggak konsisten, mending pakai yang memang sudah cocok dan sering dipakai.
Simple. 😎
3. Sunscreen: Yang Paling Belakangan Kusadari Penting
Kalau dibandingkan face wash dan moisturizer, sunscreen justru menjadi basic skincare yang paling telat kusadari pentingnya.
Aku baru benar-benar mulai memperhatikan sunscreen sekitar tahun 2025.
Waktu itu aku mulai merasa matahari makin ke sini makin terik. Keluar siang sedikit saja rasanya menyengat dan panas.
Belum lagi aku mulai memperhatikan perubahan warna kulit di tangan.
Ada garis pembatas antara bagian tangan yang terkena sinar matahari dengan bagian pergelangan yang tertutup lengan baju.
Alias...
Belang. Wkwkwk
Akhirnya aku mulai hunting sunscreen.
Sunscreen pertama yang kucoba adalah Hanasui.
Ternyata di kulitku rasanya panas dan butuh waktu cukup lama untuk meresap.
Akhirnya aku downgrade produk ini untuk dipakai di badan saja.
Kemudian aku mencoba Wardah.
Sebenarnya oke, hanya ada satu masalah: menurutku cukup lama meresap di kulit.
Kalau sudah keburu berkeringat, rasanya sunscreen jadi kurang nyaman dan seperti nggak menempel dengan baik.
Akhirnya...
Downgrade lagi untuk badan. 😂
Karena pengalaman sebelumnya cukup mirip, aku kembali berpikir:
“Coba yang buat anak-anak aja kali ya. Siapa tahu lebih skin-friendly.”
Ketemulah BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+.
Produk ini menarik buatku karena ukurannya 100 ml, praktis, bisa digunakan untuk wajah sekaligus badan, dan harganya juga relatif ramah di kantong. Produk ini memang dipasarkan sebagai sunscreen lotion anak dengan SPF 30+.
Di wajah memang agak lama meresap, tapi untuk badan menurutku oke.
Akhirnya BFREE ini tetap kupakai sebagai sunscreen badan sekaligus sunscreen yang praktis untuk dibawa ke mana-mana.
Tapi aku masih mencari alternatif untuk wajah.
Aku sadar satu hal: Wajahku gampang berkeringat.
Jadi aku mulai mencari sunscreen yang ketika dioleskan bisa lebih cepat set di kulit.
Sampai akhirnya aku menemukan Seger Snow Sunscreen SPF 30 PA+++.
Aku melihat beberapa video review dan memperhatikan bagaimana orang-orang terlihat cukup effort saat meratakannya.
Akhirnya aku penasaran dan coba beli.
Dan ternyata...
Cocok di kulitku! 😭
Cepat meresap, cepat set, harganya murah, dan isinya 42 gram yang menurutku awet banget.
Tapi tentu saja ada minusnya.
Whitecast.
Kalau nggak hati-hati saat meratakannya, wajah bisa terlihat abu-abu.
Jadi sunscreen ini kurang praktis untuk dipakai di badan karena whitecast-nya cukup terlihat. Sebenarnya masih bisa diakali dengan bedak, tapi ya...
Nambah effort lagi. Wkwkwk.
Akhirnya untuk sementara kombo sunscreen-ku menjadi:
- Wajah → Seger Snow Sunscreen SPF 30 PA+++
- Badan → BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+
Sampai akhirnya Seger Snow-ku habis dan aku kembali hunting sunscreen wajah.
Setelah itu aku sempat mencoba Glow & Lovely Bright UV Duo SPF 35 PA+++ ukuran kecil, yang mengandung Niacinamide dan Vitamin C.
Awalnya sih oke-oke saja.
Tapi setelah dipakai beberapa kali, lama-lama wajahku malah terasa gradakan dan kasar.
Ya sudah...
Downgrade lagi jadi sunscreen badan. 😂
Aku mulai curiga jangan-jangan aku kurang cocok dengan kandungan Niacinamide dan Vitamin C. Kebetulan temanku juga pernah bilang kalau beberapa orang memang bisa mengalami kulit terasa kasar atau muncul tekstur kalau nggak cocok dengan bahan tertentu.
Tapi tentu saja, aku juga nggak bisa langsung menyimpulkan kalau penyebabnya pasti dua kandungan tersebut. Bisa saja memang ada faktor lain dari produknya yang kurang cocok di kulitku.
Yang jelas, daripada dipaksakan ke wajah, lebih aman menurutku turunkan levelnya jadi sunscreen badan. Wkwkwk.
Karena sebelumnya aku sudah menemukan moisturizer yang cocok dengan kandungan ceramide, aku pun penasaran mencoba sunscreen yang mengandung ceramide juga.
Akhirnya aku menemukan Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++.
Produk ini punya tekstur yang ringan dan mengandung 5X Ceramide, Cica, serta Squalane.
Aku memang sengaja mencari sunscreen dengan tekstur yang menurutku cocok untuk kondisi kulitku yang gampang berkeringat. Dan ternyata Azarine ini memang terasa lebih mudah meresap di kulitku.
Akhirnya sekarang kombo sunscreen-ku berubah lagi:
- Wajah → Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++
- Badan → BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+
Azarine biasanya kupakai pagi hari atau ketika dari rumah mau keluar.
Sedangkan kalau sudah berada di luar dan perlu re-apply, aku lebih suka menggunakan BFREE karena praktis dan bisa digunakan untuk wajah sekaligus badan.
Satu produk, dua fungsi.
Hemat, praktis, dan nggak ribet. 😂
Jadi, Ini Basic Skincare-ku Sekarang
Setelah perjalanan panjang dari sabun mandi, EVOO, coba punya teman, coba produk murah, coba produk anak-anak, sampai berkali-kali downgrade produk dari wajah ke badan, akhirnya aku punya basic skincare yang menurutku cocok dan nyaman dipakai.
Saat ini kombo-ku adalah:
- Face wash: Pigeon Facial Foam for All Skin Types
- Moisturizer: Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel
- Sunscreen:
- Wajah: Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++
- Wajah/badan & re-apply saat di luar: BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+
Dan dari semua perjalanan ini aku jadi makin sadar kalau ternyata mencari skincare yang cocok itu memang nggak selalu soal ikut produk yang sedang viral.
Kadang kita memang perlu mengenali kondisi kulit sendiri, membaca kandungan utama, mencari tahu apakah produknya kira-kira sesuai, mengecek legalitasnya, mempertimbangkan budget, dan yang paling penting...
coba dulu pelan-pelan.
Karena skincare yang cocok buat orang lain belum tentu cocok di kulit kita.
Aku sendiri bahkan harus melewati perjalanan bertahun-tahun dan berkali-kali mengalami kulit kering, berminyak, panas, gradakan, terasa ketarik, sampai gampang berkeringat sebelum akhirnya menemukan tiga basic skincare yang sekarang.
Dan lucunya, beberapa produk yang akhirnya cocok justru datang dari pemikiran:
“Coba yang buat anak-anak aja kali ya?” 😂
Ternyata strategi skincare-ku malah:
skin-friendly + budget-friendly + nggak ribet.
Kalau kalian sendiri, kombo basic skincare-nya sekarang pakai apa aja?
Face wash, moisturizer, dan sunscreen andalan kalian apa?
Komen yaa! :)




