Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Sabtu, Oktober 03, 2026

Yuk, Biasakan Berkata Baik Saat Bertemu Hal Tak Terduga

Pelan-pelan belajar menjaga lisan di tengah situasi tak terduga.

Pernah nggak sih, ketika bertemu sesuatu yang tidak terduga, respons pertama kita justru sebuah umpatan?

Kaget sedikit:

“Anjir!”

Lihat sesuatu yang bikin kesal:

“Sial!”

Barang jatuh, sesuatu rusak, atau tiba-tiba ada kejadian yang bikin panik, mulut kadang lebih cepat daripada otak. 😭

Padahal, sebagai seorang Muslim, sebenarnya kita punya banyak pilihan ucapan yang jauh lebih baik.

Astaghfirullah — bisa dibiasakan ketika kaget atau terkejut.

MasyaAllah — ketika melihat sesuatu yang mengagumkan atau sedang merasa takjub.

Subhanallah — ketika melihat sesuatu yang tidak baik atau tidak menyenangkan.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn — ketika mendapat musibah.

Bukan berarti setiap kondisi tersebut memiliki satu ucapan wajib yang harus selalu digunakan. Namun, membiasakan lisan kita untuk merespons kejadian dengan kalimat yang baik tentu jauh lebih indah daripada spontan mengeluarkan umpatan.

Dan ternyata, hal seperti ini juga merupakan bagian dari akhlak Rasulullah ﷺ.

Latihan menjaga lisan dan tutur kata baik

Rasulullah ﷺ Tidak Terbiasa Berkata Kasar

Ada hadis tentang akhlak Rasulullah ﷺ yang membuat aku takjub. Sampai terkesan kalau Rasulullah ﷺ memang ter-paling the best dan super baik. 😂

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang suka berkata keji, berkata kasar, ataupun melaknat.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga disebut tidak pernah berkata buruk, dan beliau bersabda bahwa orang-orang terbaik adalah mereka yang paling baik akhlaknya.

Kalau dipikir-pikir, ini menarik.

Karena manusia tentu mengalami berbagai macam situasi.

Ada hal yang menyenangkan.

Ada hal yang mengejutkan.

Ada hal yang menyebalkan.

Ada juga hal yang benar-benar bikin emosi.

Tapi ternyata, reaksi spontan pun bisa dilatih.

Dan salah satu bagian dari akhlak yang baik adalah menjaga lisan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

(HR. Bukhari)

Sederhana, tapi praktiknya...

Tidak sesederhana itu. 😂

Dulu Aku Juga Sering Mengumpat

Jujur saja, waktu masih sekolah, aku lebih sering berbicara buruk ketika bertemu sesuatu yang tidak terduga.

Efek teman-teman remaja gaul dan sedikit pemberontak, mungkin. Wkwkwk.

Maklum, masih imut kinyis-kinyis dan butuh validasi. 😂

Saat itu, umpatan terasa seperti respons yang biasa saja.

Teman-teman melakukannya.

Aku ikut melakukannya.

Lama-lama menjadi kebiasaan.

Sampai suatu ketika, aku mendengarkan sebuah kajian dari guru ketika bulan Ramadan.

Aku lupa persis bagaimana penjelasan lengkapnya, tetapi ada satu pemikiran yang akhirnya menempel di kepala:

“Iya juga, ya...”

Kalau dipikir-pikir, mengumpat sebenarnya tidak menyelesaikan masalah.

Barang yang jatuh tetap jatuh.

Barang yang rusak tetap rusak.

Kejadian yang sudah terjadi juga tidak akan berubah hanya karena kita mengeluarkan kata-kata kasar.

Malah, kadang umpatan bisa membuat orang lain tersinggung.

Belum lagi kalau ucapan tersebut ditujukan kepada seseorang.

Bisa jadi masalah yang awalnya kecil malah menjadi lebih besar.

Dari situ aku mulai berpikir untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Ternyata Mengubah Kebiasaan Tidak Mudah

Dan faktanya...

Definitely sama sekali tidak mudah. 😂

Ada pepatah yang kurang lebih mengatakan bahwa mengobati watak tidak semudah mengobati watuk.

(Bahasa Jawa: watak = kebiasaan, watuk = batuk.)

Kalau watuk, tinggal minum obat.

Kalau watak?

Nah...

Minum obat apa? 😭

Karena kebiasaan sudah menjadi sesuatu yang otomatis.

Otak seperti sudah membuat jalur sendiri.

Ada kejadian → kaget → mulut bereaksi.

Tanpa sempat berpikir.

Jadi ketika aku mulai berusaha mengganti kebiasaan mengumpat dengan ucapan yang lebih baik, prosesnya tidak berlangsung hanya beberapa minggu. Bukan juga cuma beberapa bulan.

Tapi bertahun-tahun.

Dan ternyata, lingkungan juga punya pengaruh yang besar.

Kalau kita berada di lingkungan yang terbiasa mengumpat, tentu jauh lebih sulit untuk menjaga lisan.

Sebaliknya, kalau kita berada di lingkungan yang terbiasa berbicara dengan baik, kita pun akan lebih mudah terbawa kebiasaan tersebut.

Itulah kenapa lingkungan sebenarnya punya pengaruh besar terhadap pembentukan kebiasaan.

Sedikit Demi Sedikit, Lisan Juga Bisa Dilatih

Alhamdulillah, lingkungan tempatku berada tidak terlalu buruk.

Memang masih ada yang mengumpat, tetapi masih cukup banyak juga orang yang terbiasa berkata baik.

Jadi, pertahanan diriku lumayan oke lah. 😆

Walaupun sesekali masih ada juga kata buruk yang keluar.

Namanya juga manusia. Kadang khilaf.

Tapi sekarang setidaknya aku sudah lebih sadar.

Kalau keceplosan, segera beristighfar dan mengingatkan diri sendiri supaya tidak menjadikannya kebiasaan lagi.

Karena menurutku, yang penting bukan merasa bahwa kita harus langsung sempurna.

Yang penting adalah ada kemajuan.

Hari ini masih keceplosan sekali.

Besok mungkin sudah lebih jarang.

Lalu semakin lama, kita mulai bisa menahan diri.

Sampai akhirnya, sesuatu yang dulu otomatis keluar dari mulut justru perlahan tergantikan dengan ucapan yang lebih baik.

Bukankah itu juga bagian dari proses memperbaiki diri?

Belajar Menjaga Lisan

Allah juga berfirman yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

QS. Al-Ahzab: 70

Ayat ini mengingatkan bahwa berkata baik bukan sekadar tentang bagaimana kita berbicara kepada orang lain dalam percakapan serius.

Menurutku, ini juga bisa menjadi pengingat untuk memperhatikan respons kecil yang keluar secara spontan.

Apa yang keluar dari mulut kita ketika kaget?

Apa yang keluar ketika kesal?

Apa yang keluar ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?

Karena justru dalam kondisi spontan seperti itulah kebiasaan kita sering terlihat.

Dan kalau kita ingin mengubah kebiasaan buruk, mungkin kita bisa mulai dari sana.

Bukan dengan memaksa diri menjadi manusia yang langsung sempurna.

Tapi dengan mengganti satu respons buruk dengan satu respons yang lebih baik.

Kaget?

Daripada langsung mengumpat, coba biasakan mengucapkan Astaghfirullah, Ya Allah, atau dzikir lain yang baik.

Takjub?

Biasakan mengingat Allah dan mengucapkan MasyaAllah.

Melihat sesuatu yang tidak baik?

Kita bisa mengingat Allah dan mengucapkan Subhanallah.

Mendapat musibah?

Allah mengajarkan kepada kita ucapan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Dan ketika tidak tahu harus berkata apa?

Diam juga lebih baik daripada mengeluarkan sesuatu yang buruk.

Karena sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

Tidak Harus Langsung Sempurna

Menurutku, memperbaiki lisan juga merupakan bentuk self-upgrade.

Kita mungkin masih akan khilaf.

Masih mungkin keceplosan.

Masih mungkin sesekali mengeluarkan kata yang seharusnya tidak perlu diucapkan.

Tidak apa-apa.

Istighfar. Sadari. Perbaiki. Lanjutkan.

Tapi jangan sampai kalimat “namanya juga manusia” malah dijadikan alasan untuk terus mengulang kesalahan yang sama tanpa usaha memperbaikinya.

Karena manusia memang bisa khilaf.

Tapi manusia juga diberi kemampuan untuk belajar.

Jadi, yuk mulai membiasakan diri berkata baik ketika bertemu hal-hal yang tidak terduga.

Pelan-pelan saja.

Tidak perlu langsung sempurna.

Yang penting, hari ini lisan kita sedikit lebih baik daripada kemarin.

Buang kebiasaan buruk, ganti dengan kebiasaan yang lebih baik.

Karena memperbaiki diri memang tidak selalu mudah.

Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Semangat upgrade diri. 💙✨


Rabu, September 30, 2026

Bikin Sei Sapi Rumahan Super Gampang Ala Hyull

Kenapa bikin sei sapi?

Aku lagi beresin stok daging sapi dari Idul Adha beberapa bulan lalu yang masih nongkrong di kulkas. Daripada cuma jadi penghuni tetap freezer, akhirnya dibikinlah sei sapi.

Dan ternyata...

Gitu doang. 🤣

Bahan

Daging Sapi

  • Daging sapi tanpa lemak, secukupnya. Ada sedikit lemak nggak apa-apa.
  • Kecap asin
  • Saus tiram
  • Lada
  • Garam

Daging sapi dipotong tipis-tipis, lalu dimarinasi minimal 1 jam dengan kecap asin, saus tiram, lada, dan garam.

*) Menurutku makin tipis makin enak.

Sambal

  • 7–10 buah cabai rawit
  • 10–12 buah cabai merah
  • 3 siung bawang merah
  • 1 siung bawang putih
  • 1 batang serai, ambil bagian putihnya
  • Sedikit daun jeruk, buang tulang daunnya
  • Garam secukupnya
  • Minyak goreng secukupnya
  • Perasan jeruk limau sedikit (kalau ada)

Cara Membuat

1. Panggang daging sapi

Panggang daging sapi yang sudah dimarinasi sampai matang.

Iya.

Emang gitu doang caranya. 😂

Kalau mau smokey, panggang pakai api besar. Sebentar aja tapi, jangan sampai terlalu gosong.

Iya, emang gitu doang. 😭

Kunci sei sapi versi rumahan ini justru ada di sambalnya.

2. Bikin sambal

Masukkan semua bahan sambal ke blender atau ulek, terserah mau pilih cara yang mana. Aku mah nggak akan menghakimi. 🤣

Setelah sambalnya jadi, kasih garam secukupnya, lalu siram dengan minyak panas.

Aduk rata.

Tambahkan sedikit perasan jeruk limau.

Sambalnya sudah jadi.

3. Sajikan

Susun daging sapi panggang, lalu sajikan bersama sambal.

Udah.

Sesimpel itu. 😭

Catatan Ala Hyull

Kalau nggak mau sambal versi ini, sebenarnya sambal bawang atau sambal terasi juga enak banget buat teman makan sei sapi.

Kalau mau sambal yang lebih simple ada resepnya di link ini: Sambal Mentah Siram Minyak Ala Hyull

Jadi jangan terlalu terpaku sama resepnya. Daging sapi gurih yang dipanggang + sambal pedas itu memang kombinasi yang susah gagal.

Dan kalau dipikir-pikir...

Dulu aku pernah beli sei sapi sampai Rp200 ribuan lebih, dapat daging sapi 400gr sama sambal cuma gara-gara lagi viral. 🤣

Sekarang setelah bikin sendiri, reaksiku cuma:

“Lah... ternyata begini doang?” 😂

Tapi ya, justru itu enaknya bikin sendiri. Bisa pakai stok daging yang ada, sambalnya bisa dibanyakin sesuka hati, dan nggak perlu keluar Rp200 ribuan cuma buat makan sei sapi.

Selamat menghabiskan stok daging Idul Adha. 🥩🌶️


Minggu, September 27, 2026

Aku Manusia

Hanya Sebagai Pengingat

Hei, Aku Manusia.

Aku memang bisa kuat.

Aku bisa mandiri.
Aku bisa tersenyum walau hati sedang sekarat.
Aku bisa berpikir walau kepala rasanya amburadul.
Aku masih bisa bekerja walau badan terasa remuk.

Aku bisa mengurus banyak hal sendiri.
Mencari jawaban sendiri.
Mengambil keputusan sendiri.
Menyelesaikan masalah sendiri.

Tapi…

aku manusia.

Ada kalanya aku ingin menangis.
Ada kalanya aku ingin manja.
Ada kalanya aku ingin menjadi lemah.
Ada kalanya aku ingin dibujuk.

Ada kalanya aku hanya ingin seseorang berkata,

"Sudah. Sini. Kamu nggak perlu mikirin semuanya sekarang."

Bukan karena aku tidak mampu.

Aku hanya sedang lelah.


Mungkin karena aku terbiasa mandiri, orang-orang akhirnya menganggap aku selalu tahu.

Selalu punya jawaban.

Selalu bisa mencari jalan keluar.

Selalu bisa diandalkan.

Sampai kadang aku ingin bertanya,

“Kenapa semuanya harus ditanyakan kepadaku?”

Aku tidak selalu tahu.

Aku tidak selalu berhubungan dengan apa yang sedang terjadi.

Aku tidak selalu punya jawabannya.

Dan terkadang, aku bahkan tidak tahu harus bertanya kepada siapa.

Yang lebih melelahkan adalah ketika aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu, tetapi rasanya tetap seperti aku yang harus mencari tahu.

Seolah-olah karena selama ini aku mampu menyelesaikan banyak hal sendiri, maka aku harus selalu mampu.

Padahal tidak.

Aku juga punya batas.


Aku juga bisa marah.

Tentu saja aku bisa.

Aku bisa kesal.
Aku bisa kecewa.
Aku bisa jengkel.

Tapi sering kali aku memilih diam.

Bukan karena aku tidak punya perasaan.

Aku hanya tahu bahwa kalau kemarahanku dikeluarkan, mungkin akan muncul masalah lain.

Jadi aku telan.

Amarah kutelan.
Kesal kutelan.
Kecewa kutelan.

Lalu aku kembali bersikap seperti biasa.

Tersenyum.

Menjawab.

Mengurus.

Melanjutkan hidup.

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Padahal sebenarnya aku sedang kelelahan.


Dan aku tidak selalu punya jawaban atas setiap masalah.

Aku manusia.

Aku bisa bingung.

Aku bisa buntu.

Aku bisa tidak tahu harus bagaimana.

Ada masalah yang belum bisa kuselesaikan hari ini.

Ada pertanyaan yang belum bisa kujawab.

Ada keadaan yang bahkan belum mampu kupahami sepenuhnya.

Dan itu tidak membuatku bodoh.

Tidak membuatku gagal.

Tidak membuatku lemah.

Aku hanya manusia yang punya keterbatasan.

Aku tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

Aku tidak harus selalu menjadi orang yang punya solusi.

Aku tidak harus selalu menjadi orang yang menyelesaikan semuanya.


Ada kalanya aku ingin dipeluk.

Bukan untuk diberi nasihat.

Bukan untuk ditanya, “Terus sekarang harus bagaimana?”

Aku cuma ingin dipeluk.

Ditepuk-tepuk pelan.

Tanpa harus melakukan apa pun.

Tanpa harus memikirkan apa pun.

Untuk beberapa saat, aku ingin berhenti menjadi orang yang harus mengurus semuanya.

Aku ingin menangis tanpa harus menjelaskan kenapa.

Aku ingin diam tanpa dianggap sedang bermasalah.

Aku ingin manja tanpa merasa bersalah.

Aku ingin dibujuk.

Aku ingin ada seseorang yang berkata,

“Sudah… kamu capek, ya?”

Lalu tidak meminta apa-apa lagi dariku.


Mungkin selama ini orang melihatku sebagai seseorang yang kuat.

Dan mungkin memang benar.

Aku kuat.

Aku mandiri.

Aku bisa melewati banyak hal.

Tapi tolong, jangan jadikan kemampuanku untuk bertahan sebagai alasan untuk menganggapku tidak membutuhkan siapa-siapa.

Karena aku tetap manusia.

Aku bisa lelah.
Aku bisa menangis.
Aku bisa marah.
Aku bisa cerewet.
Aku bisa bingung.
Aku bisa tidak punya jawaban.
Aku bisa ingin dimanja.
Aku bisa ingin dibujuk.
Aku bisa ingin dipeluk.

Aku bisa kuat sekaligus ingin ditolong.

Aku bisa mandiri sekaligus ingin memiliki seseorang yang bisa kujadikan tempat bersandar.

Dua hal itu tidak bertentangan.

Karena menjadi kuat tidak menghapus kebutuhanku untuk disayangi.


Hei, aku manusia.

Aku bukan mesin pemecah masalah.

Aku bukan pusat informasi.

Aku bukan seseorang yang harus selalu tahu harus berbuat apa.

Aku bukan orang yang harus selalu baik-baik saja hanya karena selama ini aku terlihat mampu.

Aku manusia.

Dan sebagai manusia, ada waktunya aku kuat.

Ada waktunya aku jatuh.

Ada waktunya aku berpikir.

Ada waktunya aku tidak tahu.

Ada waktunya aku tertawa.

Ada waktunya aku menangis.

Dan ada waktunya…

aku hanya ingin dipeluk.

Tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Tanpa harus menyelesaikan apa-apa.

Tanpa harus menjadi kuat.

Karena aku manusia.

Dan mungkin, untuk sekali ini, itu sudah cukup.

💙

Kamis, September 24, 2026

Hijab: Bukan Sekadar Pakaian, tetapi Sebuah Perjalanan Ketaatan

Ketika membicarakan hijab, pembahasannya sering kali berhenti pada satu pertanyaan: “Wajib atau tidak?”

Padahal, mungkin ada hal yang lebih luas untuk direnungkan.

Hijab memang berkaitan dengan aturan tentang aurat dan cara berpakaian. Tetapi bagi seorang Muslimah, hijab juga bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam: tentang ibadah, penjagaan diri, identitas, ketakwaan, proses belajar, hingga hubungan antara seorang hamba dengan Allah.

Karena itu, hijab mungkin tidak cukup dilihat hanya sebagai selembar kain yang menutup kepala.

Ia bisa menjadi bagian dari perjalanan seorang perempuan dalam belajar mengenal, mencintai, dan menaati Rabb-nya.

Ini adalah 7 refleksi tentang hijab menurutku, yang aku ambil dari beberapa referensi dalam Al-Qur'an dan Hadits.

1. Hijab sebagai Kewajiban

Pertama, kita perlu mengakui bahwa hijab berkaitan dengan perintah Allah untuk menutup aurat.

Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31 tentang perintah kepada perempuan beriman untuk menjaga pandangan, memelihara kehormatan, dan menutupkan kain kerudung ke dadanya. Perintah mengenai jilbab juga disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.

Maka, dasar mengenakan hijab bukan semata-mata karena tren, lingkungan, atau tuntutan sosial. Ada keyakinan bahwa di balik aturan tersebut terdapat perintah dari Allah yang perlu ditaati.

Namun memahami hijab sebagai kewajiban bukan berarti pembahasannya harus berhenti pada kata “wajib”.

Justru dari kewajiban itulah perjalanan memahami maknanya bisa dimulai.

2. Hijab sebagai Ibadah

Ketika seorang perempuan mengenakan hijab karena Allah, maka aktivitas yang terlihat sederhana, seperti memilih pakaian, mengenakan kerudung, dan menutup aurat dapat menjadi bagian dari ibadah.

Sebab nilai ketaatan tidak hanya terletak pada apa yang terlihat, tetapi juga pada untuk siapa sesuatu itu dilakukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya...”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, hijab akhirnya bukan sekadar pakaian yang dikenakan di depan manusia.

Ia menjadi salah satu bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah.

3. Hijab sebagai Penjagaan

Hijab juga dapat dipahami sebagai salah satu bentuk penjagaan.

Menjaga aurat.
Menjaga kehormatan.
Menjaga privasi tubuh.

Al-Qur'an memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menjaga pandangan dan kehormatan mereka (QS. An-Nur 24:30–31).

Dalam QS. Al-Ahzab ayat 59, Allah juga menyebutkan perintah mengulurkan jilbab agar mereka (perempuan) lebih mudah dikenali dan tidak diganggu.

Tubuh seorang perempuan bukan sesuatu yang harus selalu tersedia untuk dilihat semua orang.

Ada bagian dari dirinya yang memang memiliki batas. Dan menjaga batas tersebut bukan berarti tubuh perempuan adalah sesuatu yang memalukan.

Justru sebaliknya, ia adalah bagian dari kehormatan yang dijaga.

4. Hijab sebagai Identitas

Hijab juga dapat menjadi bagian dari identitas seorang Muslimah.

Bukan dalam arti bahwa perempuan berhijab otomatis lebih baik daripada perempuan yang belum berhijab.

Bukan pula sebagai alasan untuk merasa lebih suci.

Tetapi hijab dapat menjadi pengingat:

“Aku seorang Muslimah. Ada nilai dan aturan yang ingin aku perjuangkan dalam hidupku.”

QS. Al-Ahzab ayat 59 menyebutkan bahwa salah satu tujuan dari jilbab adalah agar perempuan mukmin lebih mudah dikenali.

Namun identitas sebagai seorang Muslimah tidak boleh berubah menjadi alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.

Allah justru mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi-Nya adalah ketakwaan (QS. Al-Hujurat 49:13).

Ia menjadi identitas yang membawa seseorang kembali mengingat siapa dirinya dan kepada siapa ia ingin bertanggung jawab.

5. Hijab sebagai Pakaian Takwa

Ada sesuatu yang juga penting untuk diingat: pakaian lahir seharusnya tidak berjalan sendirian.

Allah menyebut pakaian sebagai sesuatu yang berfungsi untuk menutup aurat dan menjadi perhiasan. 

Kemudian Allah juga mengingatkan bahwa pakaian takwa adalah yang terbaik (QS. Al-A'raf 7:26).

Menutup aurat adalah bagian dari ketaatan, tetapi ketakwaan tidak berhenti pada apa yang terlihat.

Kerudung yang panjang tidak otomatis membuat hati menjadi lembut.

Pakaian yang syar'i tidak otomatis membuat seseorang bebas dari kesalahan.

Karena itu, hijab seharusnya tidak hanya menjadi perubahan pada penampilan, tetapi juga menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri.

Pakaian lahir dan ketakwaan batin semestinya berjalan beriringan.

6. Hijab sebagai Perjalanan

Dan mungkin inilah bagian yang sering terlupakan:

tidak semua orang memulai perjalanan dari tempat yang sama.

Ada yang sejak kecil sudah terbiasa berhijab.

Ada yang baru belajar menutup aurat ketika dewasa.

Ada yang ingin berpakaian lebih syar'i tetapi masih memiliki keterbatasan ekonomi.

Ada yang sudah berusaha, tetapi masih belajar memperbaiki cara berpakaian.

Ada yang pernah istiqamah, kemudian goyah, lalu mencoba kembali.

Ada pula yang saat ini bahkan masih berusaha memahami mengapa ia harus berhijab.

Semua manusia sedang berada dalam perjalanan masing-masing.

Islam sendiri mengajarkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan ketika seseorang telah melakukan kesalahan, pintu untuk kembali kepada-Nya tetap terbuka (QS. Az-Zumar 39:53).

Allah juga berfirman bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya akan diberi petunjuk kepada jalan-jalan-Nya (QS. Al-'Ankabut 29:69).

Maka, berbicara tentang hijab seharusnya tidak hanya menjadi ajang untuk menunjuk siapa yang sudah benar dan siapa yang belum.

Bisa jadi, yang lebih penting adalah saling mengingatkan tanpa merendahkan dan saling membantu tanpa merasa lebih tinggi.

Sebab istiqamah bukan berarti seseorang tidak pernah kesulitan.

Istiqamah juga bisa berarti terus kembali ketika kita menyadari telah jauh.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.

(HR. Bukhari dan Muslim)

7. Hijab sebagai Bentuk Cinta dan Ketundukan kepada Allah

Pada akhirnya, mungkin ada satu titik dalam perjalanan beragama ketika kita menyadari bahwa tidak semua hal harus terlebih dahulu kita pahami seluruh hikmahnya sebelum kita taat.

Kita boleh bertanya.

Kita boleh belajar.

Kita boleh mencari tahu.

Kita boleh berusaha memahami mengapa Allah menetapkan suatu aturan.

Tetapi setelah semua proses itu, ada sebuah sikap yang sangat sederhana:

percaya kepada Allah.

Allah mengingatkan bahwa manusia bisa saja tidak menyukai sesuatu padahal sesuatu itu baik baginya, dan menyukai sesuatu padahal itu buruk baginya. Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah 2:216).

Karena itu, ada sebuah sikap yang mungkin bisa menjadi refleksi:

“Aku mungkin belum memahami seluruh hikmahnya, tetapi aku percaya kepada-Mu. Dan karena aku percaya kepada-Mu, aku memilih untuk taat.”

Cinta kepada Allah juga tidak hanya berhenti pada perasaan. Allah berfirman:

“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.”

(QS. Ali 'Imran 3:31)

Di titik itu, hijab tidak lagi hanya berbicara tentang kain yang menutup kepala.

Ia berbicara tentang hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Tentang percaya.

Tentang tunduk.

Tentang mencintai Allah dengan cara yang diwujudkan melalui ketaatan.

Dan mungkin, pada akhirnya, hijab bukan hanya tentang bagaimana seorang perempuan terlihat di hadapan manusia.

Tetapi tentang bagaimana ia ingin berdiri di hadapan Allah.

Refleksi Akhir

Hijab memang memiliki aturan.

Tetapi di balik aturan itu ada ibadah.

Di balik ibadah ada penjagaan.

Di balik penjagaan ada identitas.

Di balik identitas ada usaha menuju takwa.

Dan di balik semuanya, ada sebuah perjalanan panjang seorang hamba untuk belajar mencintai dan menaati Allah.

Maka, mungkin kita tidak perlu memandang hijab hanya sebagai “seharusnya seperti apa seorang perempuan berpakaian.”

Kita juga bisa melihatnya sebagai sebuah pertanyaan yang lebih dalam:

“Sejauh mana aku ingin belajar mengenal Allah, mempercayai-Nya, dan mewujudkan kepercayaanku itu dalam ketaatan?”

~Hyull 💙


Referensi Utama

  • Al-Qur'an: QS. An-Nur 24:30–31
  • Al-Qur'an: QS. Al-Ahzab 33:59
  • Al-Qur'an: QS. Al-A'raf 7:26
  • Al-Qur'an: QS. Adz-Dzariyat 51:56
  • Al-Qur'an: QS. Az-Zumar 39:53
  • Al-Qur'an: QS. Al-'Ankabut 29:69
  • Al-Qur'an: QS. Al-Hujurat 49:13
  • Al-Qur'an: QS. Al-Baqarah 2:216
  • Al-Qur'an: QS. Ali 'Imran 3:31
  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis tentang niat
  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis tentang amalan yang paling dicintai Allah

Senin, September 21, 2026

Hijab Harus Model Apa? Pashmina, Jilbab, Khimar, Niqab, dan Berbagai Tren Hijab

Kalau ngomongin hijab, rasanya modelnya sekarang semakin banyak.

Ada hijab segi empat, pashmina, bergo, khimar, jilbab panjang, niqab, turban, hijab instan, sampai berbagai model lilit yang terus berganti mengikuti tren.

Belum lagi istilahnya.

Ada yang menyebut semuanya hijab, padahal sebenarnya ada perbedaan istilah antara hijab, jilbab, khimar, dan niqab.

Lalu muncul pertanyaan:

“Sebenarnya hijab yang benar itu yang seperti apa?”

Haruskah memakai model tertentu?

Haruskah selalu memakai khimar?

Apakah pashmina boleh?

Kalau cuma memakai hijab yang menutup kepala dan leher, tetapi tidak sampai dada, bagaimana?

Kalau ingin berpakaian syar'i tetapi belum mampu membeli pakaian yang mahal, bagaimana?

Dan kalau model hijab terus berubah mengikuti zaman, apakah berarti model-model baru tersebut otomatis tidak Islami?

Menurutku, justru kita perlu kembali melihat apa yang sebenarnya diperintahkan dalam syariat.

Karena jangan sampai kita terlalu sibuk memperdebatkan modelnya, tetapi lupa memahami batasannya.

Hijab, Jilbab, Khimar, dan Niqab Itu Apa?

Sebelum membahas model, kita perlu mengenal istilahnya terlebih dahulu.

Hijab secara bahasa berkaitan dengan makna penutup atau penghalang. Dalam penggunaan sehari-hari sekarang, kata hijab sering digunakan sebagai istilah umum untuk penutup kepala perempuan Muslim.

Khimar adalah penutup kepala. Al-Qur'an menggunakan kata khumur dalam QS. An-Nur ayat 31 ketika Allah memerintahkan perempuan beriman untuk menutupkan kerudung mereka sampai ke bagian dada.

Jilbab disebut dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 dengan kata jalābīb, bentuk jamak dari jilbāb. Ayat tersebut memerintahkan perempuan beriman untuk mengulurkan pakaian luar mereka.

Sedangkan niqab adalah penutup wajah. Mengenai hukum menutup wajah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu, tidak tepat jika seseorang langsung dianggap tidak berhijab hanya karena tidak memakai niqab.

Sementara pashmina, segi empat, bergo, dan berbagai model hijab lainnya lebih berkaitan dengan bentuk atau jenis pakaian yang digunakan.

Artinya, sejak awal kita sudah bisa melihat bahwa bentuk pakaian bisa bermacam-macam.

Lalu, apa yang perlu diperhatikan?

Jadi, Apa Saja Batasannya?

Kalau kita ingin membahas hijab dengan lebih adil, menurutku lebih tepat melihatnya melalui beberapa prinsip berikut.

1. Menutup Aurat

Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 26:

“Wahai anak cucu Adam! Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan...”

Dari ayat ini terlihat bahwa pakaian memiliki fungsi untuk menutup aurat, sekaligus boleh menjadi perhiasan.

Jadi Islam tidak mengatakan bahwa perempuan harus berpakaian jelek, tidak boleh rapi, atau tidak boleh tampil cantik.

Pakaian boleh bagus.

Boleh punya warna yang disukai.

Boleh mengikuti perkembangan fashion.

Boleh memiliki model yang berbeda-beda.

Tetapi tetap ada batas yang harus dijaga.

Karena fungsi pakaian bukan sekadar mempercantik penampilan, tetapi juga menutup bagian tubuh yang harus ditutup.

2. Menutup Dada

Ini salah satu hal yang secara jelas disebutkan dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31:

“...dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...”

Ayat tersebut menggunakan kata khumur, yaitu bentuk jamak dari khimar, yang berkaitan dengan penutup kepala.

Jadi, ketika memakai kerudung, persoalannya bukan sekadar:

“Rambut sudah tertutup belum?”

Tetapi juga perlu memperhatikan leher dan dada.

Karena itulah cara memakai hijab juga penting.

Sebuah kain mungkin secara nama disebut hijab, tetapi kalau cara memakainya membuat leher atau dada masih terbuka, tentu perlu diperbaiki.

Dan ini juga menunjukkan bahwa model hijab tidak harus selalu sama.

Pashmina bisa menutup dada.

Hijab segi empat bisa menutup dada.

Bergo bisa menutup dada.

Khimar juga bisa.

Yang penting adalah bagaimana pakaian tersebut digunakan.

3. Tidak Transparan atau Menerawang

Pakaian yang digunakan untuk menutup aurat hendaknya merupakan pakaian yang benar-benar menutup, bukan sekadar ada kainnya tetapi masih memperlihatkan kulit atau bagian tubuh yang seharusnya tertutup.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang perempuan yang kasiyāt ‘āriyāt, yaitu perempuan yang “berpakaian tetapi telanjang.”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:

“...dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga...”

(HR. Muslim no. 2128)

Maka, pakaian yang tipis atau menerawang hingga memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup tentu tidak sesuai dengan tujuan menutup aurat.

Jadi, bukan sekadar “pakai kain”, tetapi benar-benar menutup.

4. Tidak Menonjolkan Bentuk Tubuh

Menutup tubuh juga bukan hanya tentang apakah kulit terlihat atau tidak.

Pakaian yang sangat ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuh tentu berbeda dengan pakaian yang longgar dan jatuh menutupi tubuh.

Karena itu, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pakaian adalah tidak membuat bentuk tubuh menjadi sesuatu yang ditonjolkan.

Dengan begitu, tujuan menutup aurat bukan sekadar “kulit tidak kelihatan”, tetapi juga menjaga kesopanan dan kehormatan dalam berpakaian.

5. Tidak Membuat Bentuk Kepala seperti “Punuk Unta”

Ada pula ketentuan mengenai bentuk kepala yang dibuat tinggi sehingga menyerupai punuk unta.

Hal ini disebutkan Rasulullah ﷺ dalam hadis:

“...kepala mereka seperti punuk unta yang miring...”

(HR. Muslim no. 2128)

Jadi, ketika menata rambut atau menggunakan hijab, bukan berarti kita tidak boleh berkreasi sama sekali.

Tetapi tetap ada batasan agar bentuknya tidak dibuat dengan cara yang termasuk dalam gambaran yang diperingatkan dalam hadis tersebut.

6. Tidak Sengaja Menampakkan Perhiasan Secara Berlebihan

Masih dalam QS. An-Nur ayat 31, Allah juga memerintahkan perempuan beriman untuk tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak.

Bahkan ayat tersebut menyebut larangan menghentakkan kaki agar perhiasan yang tersembunyi diketahui.

Ini menarik.

Karena berarti pembahasan pakaian dalam Islam bukan cuma tentang:

“Rambut tertutup atau tidak?”

Tetapi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menampilkan dirinya dan apakah sesuatu yang seharusnya tersembunyi justru sengaja ditonjolkan.

Jadi, lagi-lagi persoalannya bukan hanya model kain.

Ada cara pemakaian, tujuan, dan batasan yang perlu diperhatikan.

7. Mengenakan Pakaian Luar yang Menutup dengan Baik

Selain perintah menutupkan khumur ke dada dalam QS. An-Nur ayat 31, Allah juga menyebut jalābīb dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.

Allah memerintahkan perempuan-perempuan mukmin untuk mengulurkan pakaian luar mereka.

Ayat ini menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai jilbab sebagai pakaian luar.

Karena itu, pembahasan tentang hijab juga tidak berhenti pada kain yang menutup kepala, tetapi mencakup bagaimana keseluruhan pakaian menutup tubuh dengan baik.

Jadi, jangan terlalu cepat mengatakan:

“Kalau bukan model tertentu, berarti bukan jilbab.”

Istilah dan bentuk pakaian bisa berbeda antara satu tempat dan zaman.

Yang lebih penting adalah memahami fungsi dan ketentuan yang terkandung di dalamnya.

Lalu, Haruskah Mengikuti Satu Model Hijab Tertentu?

Nah, setelah melihat poin-poin tersebut, menurutku pertanyaannya jadi berubah.

Bukan:

“Pashmina itu boleh nggak?”

Bukan:

“Hijab segi empat itu Islami nggak?”

Bukan:

“Khimar lebih Islami daripada pashmina?”

Tetapi:

“Apakah cara memakainya sudah memenuhi batasan yang ditetapkan dalam syariat?”

Karena pashmina bisa dipakai dengan baik.

Segi empat juga bisa.

Bergo bisa.

Khimar bisa.

Jilbab panjang bisa.

Model lainnya juga bisa saja memenuhi ketentuan.

Sebaliknya, sebuah produk yang diberi label “hijab syar'i” juga tidak otomatis membuat semua cara pemakaiannya menjadi benar.

Kalau ternyata transparan, terlalu ketat, atau bagian yang seharusnya tertutup masih terbuka, tetap perlu diperhatikan.

Jadi, nama produknya bukan jaminan.

Begitu juga model yang sedang tren tidak otomatis salah hanya karena modelnya baru.

Bagaimana Kalau Ingin Syar'i tetapi Tidak Punya Banyak Uang?

Ini juga menurutku penting banget dibicarakan.

Karena kadang pembahasan hijab syar'i terasa seperti:

“Kalau mau syar'i, harus punya khimar sekian meter.”

“Harus punya gamis.”

“Harus punya banyak set pakaian.”

“Harus beli hijab yang harganya puluhan sampai ratusan ribu.”

Padahal kemampuan ekonomi setiap orang berbeda.

Ada yang bisa membeli pakaian baru setiap bulan.

Ada yang hanya bisa membeli satu ketika memang sudah sangat membutuhkan.

Ada yang memakai pakaian lama yang masih layak.

Ada yang harus menyesuaikan semuanya dengan uang yang tersedia.

Dan menurutku, jangan sampai orang yang sedang belajar menutup aurat justru merasa:

“Kalau aku belum mampu membeli pakaian syar'i yang mahal, berarti aku tidak bisa mulai.”

Tidak begitu.

Kalau ada yang mampu membeli pakaian baru, silakan.

Kalau ada yang mampu membeli khimar, silakan.

Kalau adanya hanya pashmina yang sudah dimiliki, ya gunakan dengan sebaik mungkin.

Kalau punya pakaian lama yang masih layak dan bisa dipadukan agar lebih menutup, ya manfaatkan.

Karena berusaha taat tidak harus menunggu punya uang banyak.

Jadi, Mau Pakai Model Hijab Apa?

Nah, kalau begitu...

Ya gapapa. Gas aja. 😂

Mau pakai pashmina?

Gas.

Mau pakai segi empat?

Gas.

Mau pakai bergo?

Gas.

Mau pakai khimar?

Gas.

Mau pakai jilbab panjang?

Gas.

Mau pakai niqab?

Silakan, bagi yang memilihnya.

Yang penting, jangan berhenti pada nama modelnya.

Perhatikan apakah sudah:

  1. Menutup aurat.
  2. Menutup dada, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 31.
  3. Tidak transparan atau menerawang.
  4. Tidak terlalu ketat hingga memperlihatkan bentuk tubuh secara berlebihan.
  5. Tidak membuat bentuk kepala seperti "punuk unta" yang disebut dalam hadis.
  6. Tidak sengaja menampakkan perhiasan secara berlebihan.
  7. Memperhatikan ketentuan pakaian luar sebagaimana dibahas dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.

Dan tentu masih ada pembahasan lain dalam adab berpakaian Islam, tetapi poin-poin di atas sudah cukup untuk memahami inti pembahasan kita.

Hijab Bukan Kompetisi Fashion

Pada akhirnya, tren hijab akan terus berubah.

Hari ini pashmina sedang populer.

Besok mungkin model lain.

Hari ini orang ramai memakai model tertentu.

Beberapa tahun kemudian mungkin sudah dianggap kuno.

Fashion memang seperti itu.

Tetapi batasan syariat tidak berubah hanya karena tren fashion berubah.

Jadi, daripada sibuk mencari:

“Model hijab mana yang paling Islami?”

mungkin lebih baik kita bertanya:

“Apa yang sebenarnya Allah perintahkan, lalu bagaimana aku menerapkannya dengan kemampuan yang aku punya?”

Karena model adalah sarana. Ketaatanlah yang menjadi tujuan.

Dan menurutku, kita juga tidak perlu menjadikan hijab sebagai ajang untuk saling mengukur kesalehan.

Ada orang yang baru mulai belajar.

Ada yang sudah lama berhijab tetapi masih terus memperbaiki cara berpakaian.

Ada yang mampu membeli pakaian syar'i.

Ada yang harus berhemat.

Ada yang memilih pashmina.

Ada yang nyaman dengan khimar.

Ada yang memilih niqab.

Selama kita sedang berusaha menjalankan syariat, rasanya tidak perlu saling menjatuhkan hanya karena model kain yang berbeda.

Karena pada akhirnya, Allah-lah yang mengetahui usaha masing-masing.

Jadi...

Mau pashmina? Gas.

Mau segi empat? Gas.

Mau khimar? Gas.

Mau bergo? Gas.

Mau jilbab panjang? Gas.

Model boleh berkembang.

Fashion boleh berubah.

Cara orang memadupadankan pakaian juga boleh berbeda.

Tapi ada batas yang tetap perlu dijaga.

Karena yang perlu kita kejar bukan:

“Bagaimana supaya kelihatan paling syar'i?”

Melainkan:

“Bagaimana supaya aku bisa terus belajar taat kepada Allah dengan kemampuan yang aku punya?”

Sebab hijab bukan sekadar soal model kain yang ada di kepala.

Hijab adalah bagian dari perjalanan seseorang untuk belajar menjalankan ketaatan. Sedikit demi sedikit, sesuai ilmu dan kemampuannya.

~Hyull 💙