Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Senin, Agustus 10, 2026

Kulit Badan Kering Tapi Wajah Berminyak? Ternyata Solusiku Sesimpel Ini!

Awalnya aku bingung, kenapa badan gampang kering tapi wajah malah berminyak. Setelah coba berbagai cara, ternyata solusi yang paling cocok buatku justru sesimpel ini.

Punya kulit badan yang super kering, tapi wajah malah berminyak? Tenang... kamu bukan satu-satunya. 😆

Dulu aku sempat mikir, "Ini kulitku maunya apa sih?" Badan minta dilembapin terus, tapi muka malah kayak kilang minyak. 

Case-ku tuh agak unik.

  • Tangan gampang kering.
  • Kaki juga gampang kering.
  • Badan kalau telat pakai lotion langsung berasa ketarik.
  • Tapi... wajah? Berminyak banget.

Dulu aku juga bingung. Masa iya badan kering tapi muka malah kayak kilang minyak? 😂

Akhirnya setelah coba-coba berbagai produk, aku nemuin rutinitas yang sampai sekarang masih jadi penyelamat.

Rutinitasku Setelah Mandi

Aku selalu pakai extra virgin olive oil (EVOO) setelah mandi, pas kulit masih setengah kering alias masih lembap.

Oiya, yang aku maksud di sini extra virgin olive oil (EVOO) ya, bukan olive oil biasa, apalagi minyak zaitun yang memang dijual khusus untuk pijat.

Kenapa?

Karena dari pengalamanku, hasilnya beda.

Waktu pernah coba minyak zaitun untuk pijat, rasanya memang tetap melembapkan, tapi daya tahan lembapnya nggak seawet EVOO. Di kulitku, rasanya jadi lebih mirip pakai body lotion biasa, jadi lebih cepat terasa kering lagi. Kemungkinan karena beberapa produk minyak pijat memang sudah dicampur dengan minyak atau bahan lain.

Kalau olive oil biasa, menurut hidungku aromanya juga agak tengik.

Sedangkan extra virgin olive oil aromanya lebih segar, nggak tengik sama sekali, dan yang paling aku suka, efek lembapnya di kulitku jauh lebih awet.

Makanya, sampai sekarang aku selalu pilih pakai extra virgin olive oil.

Takarnya juga nggak banyak kok.

  • Tangan sekitar 3–4 tetes.
  • Kaki sekitar 3–4 tetes.
  • Wajah cukup 1 tetes.

Setelah itu baru lanjut skincare seperti biasa.

Kalau wajah:

  • moisturizer,
  • sunscreen (kalau pagi).

Kalau badan:

  • lanjut body lotion atau handbody.

Udah. Sesimpel itu.

Yang penting jangan nunggu kulit terasa kering dulu baru pakai pelembap.

Buat yang Kerja di Ruangan Ber-AC, EVOO Jadi Penyelamatku

Oiya, ada satu lagi yang pengen aku bagiin.

Kalau kalian kerja di ruangan ber-AC seharian... ya ampun, itu musuh besar buat kulit kering. 🥲

Sebenarnya body lotion tetap bagus dipakai. Tapi di kulitku, kalau cuma pakai body lotion, biasanya harus reapply sekitar 2–3 jam sekali supaya kulit tetap nyaman.

Masalahnya, kalau kerjaan lagi banyak, mana sempat reapply sesering itu? 😆

Nah, di situ aku lebih mengandalkan EVOO.

Kalau habis mandi aku sudah pakai EVOO, terus di tengah hari kulit mulai terasa kering, aku tinggal reapply sedikit EVOO lagi di bagian yang terasa kering, misalnya tangan atau kaki. Nggak perlu banyak, secukupnya aja.

Di kulitku, efek lembapnya jauh lebih awet. Bahkan sekitar 6 jam pun masih terasa nyaman. Jadi buat yang sehari-harinya kerja di ruangan ber-AC, menurutku EVOO ini benar-benar penyelamat.

Pengalaman yang Bikin Aku Berubah Pikiran

Nah ini yang menurutku menarik.

Dulu karena wajahku berminyak, otomatis aku beli skincare yang memang khusus untuk kulit berminyak.

Eh... bukannya berkurang, minyaknya malah tetap banyak. Bahkan kulitku terasa agak kering.

Akhirnya iseng ganti moisturizer yang formulanya untuk kulit normal.

Lho...

Malah jauh lebih enak di kulitku.

Sejak rutin menjaga kelembapan wajah, termasuk pakai sedikit EVOO setelah mandi, produksi minyak di wajahku justru terasa lebih normal.

Dari situ aku mulai punya dugaan kalau di kasusku, wajah yang sangat berminyak mungkin memang sedang berusaha melindungi kulit yang sebenarnya kekurangan kelembapan.

Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya Juga

Setelah baca beberapa referensi, ternyata memang ada penjelasannya.

Kulit yang kehilangan kelembapan atau mengalami gangguan skin barrier bisa terasa lebih kering sekaligus memicu produksi sebum lebih banyak pada sebagian orang. Tujuannya adalah membantu melindungi permukaan kulit agar tidak semakin kehilangan air.

Makanya, tidak semua wajah berminyak berarti kulitnya sudah cukup lembap.

Kadang justru yang dibutuhkan adalah menjaga skin barrier tetap sehat dengan pelembap yang cocok.

Tapi tentu saja, penyebab wajah berminyak itu banyak. Bisa karena hormon, genetik, cuaca, atau pemakaian skincare yang kurang cocok. Jadi pengalaman ini murni berdasarkan apa yang terjadi di kulitku sendiri.

Jangan Sampai Skip Pelembap

Ini yang paling kerasa buatku.

Kalau aku skip moisturizer atau body lotion sekitar dua hari aja...

Wah, selesai. 🤣

Kulit badan langsung kering banget.

Wajah juga biasanya jadi jauh lebih berminyak daripada biasanya.

Yang bikin sebel, mengembalikannya nggak bisa instan.

Butuh waktu sekitar seminggu atau bahkan lebih sampai kondisi kulitku balik normal lagi.

Makanya sekarang aku lebih milih rajin pakai pelembap daripada harus memperbaiki kulit yang sudah telanjur kering.

Apalagi Pas Musim Pancaroba

Kalau lagi musim pancaroba atau cuaca berubah-ubah, kulitku jauh lebih gampang kehilangan kelembapan.

Jadi biasanya aku lebih sering reapply EVOO atau body lotion kalau mulai terasa kering.

Nggak harus nunggu habis mandi lagi.

Begitu terasa ketarik, langsung kasih pelembap.

Menurutku, lebih enak mencegah kulit jadi super kering daripada harus mengembalikan kelembapannya dari nol.

Jangan Cuma Fokus Mengurangi Minyaknya

Jadi, kalau ada yang case-nya mirip kayak aku yang kulit badan (terutama tangan dan kaki) gampang kering tapi wajah malah cenderung berminyak, coba deh jangan cuma fokus mengurangi minyaknya.

Coba juga perhatikan apakah kulitmu sebenarnya sedang kekurangan kelembapan.

Siapa tahu, yang dibutuhkan bukan skincare yang semakin "mengeringkan", tapi justru pelembap yang cocok untuk menjaga skin barrier tetap sehat.

Kalau di aku sendiri, kombinasi ini yang paling nyaman:

  • Setelah mandi pakai sedikit extra virgin olive oil (EVOO) saat kulit masih lembap.
  • Wajah lanjut moisturizer + sunscreen.
  • Badan lanjut body lotion.
  • Kalau mulai terasa kering, tinggal reapply EVOO atau body lotion sesuai kebutuhan.

Sejak rutin seperti ini, kondisi kulitku jauh lebih nyaman dibanding dulu.

Semoga pengalamanku ini bisa membantu teman-teman yang mungkin punya kondisi kulit yang mirip denganku. 😊

Disclaimer: Artikel ini murni berdasarkan pengalaman pribadiku. Kondisi kulit setiap orang bisa berbeda-beda. Kalau kamu punya masalah kulit yang berat atau tidak kunjung membaik, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

Ada yang punya masalah kulit unik kayak gini juga, atau tim yang suka skip pelembap? Coba share cerita kalian di kolom komentar ya! ^^


Jumat, Agustus 07, 2026

Resep Bubur Jagung Ala Hyull: No Gula-Gula, Manisnya dari Jagung, SKM, dan Madu

Resep Ala Hyull 🍀

Minggu kemarin pas lagi jalan-jalan di Car Free Day, mataku langsung tertuju sama jagung manis yang kuningnya cantik banget. 🌽

Ya ampun... cakep-cakep semua! Akhirnya ngidam bubur jagung deh. Langsung gas beli satu bungkus isi tiga biji. Sampai rumah, tanpa pikir panjang langsung pipil semua jagungnya.

Dan... mari kita bikin Bubur Jagung Ala Hyull versi suka-suka. 😆

Resep ini benar-benar memanfaatkan bahan yang ada di rumah. Nggak pakai gula pasir, tapi tetap manis karena jagungnya memang sudah manis, ditambah susu kental manis dan madu.

Bahan

  • 3 buah jagung manis, pipil
  • Air secukupnya
  • 2–4 lembar daun pandan
  • 3 sdm tepung pati garut (bisa diganti tepung maizena atau tepung tapioka)
  • Susu kental manis putih secukupnya
  • Madu secukupnya

Cara Membuat

  1. Siapkan Jagung: Jagung bisa diblender kalau ingin teksturnya lebih lembut. Kalau suka masih ada sensasi jagungnya, cukup ditumbuk kasar atau bahkan dibiarkan utuh juga boleh. Pokoknya sesuai selera kalian.
  2. Rebus: Masukkan jagung ke panci, lalu tambahkan air hingga kira-kira setinggi permukaan jagung. Tambahkan 2–4 lembar daun pandan supaya lebih harum. Rebus sekitar 15 menit atau sampai jagung mencapai tingkat kematangan yang kalian suka.
  3. Buat Pengental: Sambil menunggu, campurkan tepung pati garut, susu kental manis, madu, dan sedikit air di mangkuk. Aduk sampai tidak ada yang menggumpal.
  4. Campurkan: Tuang larutan pengental ke rebusan jagung sambil terus diaduk dengan api kecil. Masak hingga mengental dan mendidih.
  5. Sajikan: Matikan api, lalu sajikan hangat.

Yeay... selesai! Sat set banget, kan? 😂

Kenapa Aku Nggak Pakai Gula?

Sebenarnya bukan karena sedang bikin resep sehat-sehatan juga sih. 😆

Menurutku, jagung manis sudah cukup memberikan rasa manis alami. Ditambah susu kental manis dan madu, rasanya sudah pas banget. Jadi aku merasa nggak perlu lagi menambahkan gula pasir.

Aku juga nggak berani bilang ini resep sehat ya. Yang jelas, versi ini memang tanpa tambahan gula pasir.

Kenapa Pakai Tepung Pati Garut?

Nah, ini yang mungkin agak berbeda dari resep bubur jagung kebanyakan.

Aku pakainya tepung pati garut karena kebetulan stoknya ada di rumah. Selain itu, tepung ini juga terkenal lebih ramah di lambung dibanding beberapa jenis tepung lainnya. Jadi sekalian saja dipakai. Hehe.

Kalau nggak punya, tenang... tetap bisa diganti pakai tepung maizena atau tepung tapioka kok.

Yang penting, sesuaikan saja kekentalannya dengan selera. Mau lebih kental? Tambah sedikit lagi tepungnya. Mau lebih encer? Tambah air.

Namanya juga versi suka-suka. 😁

Selamat mencoba resep Bubur Jagung Ala Hyull ini ya!

Kalau kalian lebih suka bubur jagung yang lembut atau yang masih ada sensasi jagung buat dikunyah? 🌽


Selasa, Agustus 04, 2026

Sambal Mentah Siram Minyak, Versi Mager Tanpa Uleg. Simpel, Tapi Bikin Nambah Nasi! (Terinspirasi dari Sambal Matah)

Ketika Lidah Pengen Sambal, tapi Tangan Mager Ngulek

Pernah nggak sih lagi pengen makan sambal, tapi malas ngeluarin ulekan?

Aku sering. 😂

Akhirnya, lahirlah resep sambal andalan yang super simpel. Tinggal cincang semua bahan, siram minyak panas, jadi deh! Nggak perlu ulek, nggak perlu ditumis, tapi rasanya tetap pedas, gurih, dan segar.

Bahan-Bahan Modal Minimalis, Cukup Ambil Ini di Kulkas

  • 1 buah tomat, cincang kasar
  • Cabai sesuai selera, potong kecil-kecil
  • 1 siung bawang merah, cincang
  • 1 siung bawang putih, cincang
  • Garam secukupnya
  • Minyak goreng panas

Opsional (tapi menurutku wajib kalau lagi ada):

  • Perasan jeruk limau

Langkah Sat-Set: Cincang, Siram, Jadi!

  1. Masukkan cincangan tomat, cabai, bawang merah, bawang putih, dan garam ke dalam mangkuk.
  2. Panaskan beberapa sendok makan minyak hingga benar-benar panas.
  3. Siramkan minyak panas ke atas semua bahan.
  4. Aduk hingga rata.
  5. Tambahkan perasan jeruk limau, lalu aduk kembali.

Selesai! Sambal siap disantap.

Kenapa Ditambah Jeruk Limau?

Kalau kebetulan di rumah ada jeruk limau, jangan dilewatkan.

Menurutku, jeruk limau bikin rasa sambal jadi jauh lebih segar. Pedasnya terasa lebih hidup, ada sedikit rasa asam yang bikin nagih, dan aromanya juga semakin menggugah selera.

Kalau lagi nggak ada, ya tetap enak kok. Tapi kalau ada... wah, rasanya naik level!

Eksperimen Rasa: Tim Serai vs Tim Daun Jeruk

Awalnya, resep ini terinspirasi dari sambal matah khas Bali.

Aku pernah mencoba menambahkan irisan serai yang tipis-tipis, dan ternyata enak juga. Wanginya segar tanpa terlalu mendominasi.

Sebaliknya, aku juga pernah mencoba menambahkan daun jeruk. Banyak orang suka, tapi ternyata bukan seleraku. Buat lidahku pribadi, aroma daun jeruk justru terlalu kuat, jadi akhirnya aku kembali ke versi yang paling sederhana.

Dan ternyata, versi sederhana inilah yang paling sering kubuat di rumah.

Sederhana tapi Juara, Yakin Nggak Mau Coba?

Yang aku suka dari sambal ini adalah bahannya hampir selalu tersedia di dapur.

Nggak perlu ulekan, nggak perlu blender, nggak perlu menumis lama. Cukup lima menit, sambal sudah siap menemani nasi hangat, telur dadar, telur ceplok, ayam goreng, tahu, tempe, bahkan kerupuk pun rasanya jadi lebih nikmat.

Kadang, resep yang paling sederhana justru yang paling sering kita buat. Karena selain praktis, rasanya juga nggak pernah gagal bikin nambah nasi.

Kalau kamu termasuk tim "malas ngulek" seperti aku, wajib coba resep sambal mentah siram minyak ini. Siapa tahu malah jadi sambal favorit di rumah. 😉


Sabtu, Agustus 01, 2026

Masih Bingung Bedanya Marketing Strategy, Social Media Strategy, dan Content Strategy? Ini Penjelasan yang Anak SD Pun Bisa Paham!

Jangan sampai tertukar lagi saat bikin laporan kerja! Yuk, bedah perbedaan ketiganya lewat analogi simpel yang dijamin langsung nyangkut di kepala.

Sebagai Virtual Assistant (VA) yang pernah mengerjakan bagian strategy, aku sering banget bingung, bahkan sampai ketuker antara tiga istilah ini:

  • Marketing Strategy
  • Social Media Strategy
  • Content Strategy

Ternyata bukan cuma aku, lho. Banyak juga yang masih suka mencampuradukkan ketiganya.

Memang, di beberapa perusahaan satu orang bisa mengerjakan semuanya. Tapi di perusahaan lain, ketiga posisi ini dipisah karena fokus pekerjaannya berbeda.

Nah, supaya nggak keliru lagi saat membaca atau membuat laporan, yuk kita bahas satu per satu dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Bahkan anak SD pun semoga bisa langsung paham. 😄

🥤 Bayangkan Kita Jualan Es Teh

Misalnya kita punya usaha jualan es teh.

Tujuan kita sederhana: es tehnya laku dan menghasilkan keuntungan.

Nah, untuk mencapai tujuan itu, ada tiga "cara berpikir" yang berbeda.

1. Marketing Strategy (Strategi Pemasaran)

Marketing Strategy menjawab pertanyaan besar:

"Gimana caranya supaya produk ini laku?"

Ini adalah rencana besar sebuah bisnis.

Hal-hal yang dipikirkan biasanya seperti:

  • Siapa target pembelinya?
  • Berapa harga yang cocok?
  • Dijual di mana?
  • Promosinya bagaimana?
  • Ada bonus atau tidak?
  • Kenapa orang harus membeli produk kita dibanding kompetitor?

Contoh

Misalnya target pembelinya adalah anak sekolah.

Maka strategi yang dibuat bisa seperti ini:

  • Harga Rp5.000
  • Beli 5 gratis 1
  • Jualan dekat gerbang sekolah
  • Buka saat jam pulang sekolah

Semua keputusan tadi termasuk ke dalam Marketing Strategy.

Goal Marketing Strategy

Tujuan utamanya adalah:

  • Penjualan meningkat.
  • Mendapat lebih banyak pelanggan.
  • Bisnis berkembang.
  • Mendapat keuntungan.

2. Social Media Strategy (Strategi Sosial Media)

Setelah strategi pemasaran selesai dibuat, muncul pertanyaan berikutnya.

Misalnya diputuskan bahwa promosi akan dilakukan melalui Instagram.

Nah, sekarang pertanyaannya berubah menjadi:

"Instagram ini mau dipakai untuk tujuan apa?"

Apakah untuk:

  • Mengenalkan brand?
  • Menambah followers?
  • Mendapat banyak komentar?
  • Mengarahkan orang ke WhatsApp?
  • Membangun kepercayaan pelanggan?

Inilah yang disebut Social Media Strategy.

Jadi fokusnya bukan lagi soal produk, tetapi bagaimana media sosial digunakan untuk membantu mencapai tujuan bisnis.

Contoh

Instagram digunakan untuk membangun kepercayaan.

TikTok digunakan agar konten mudah viral.

Facebook digunakan untuk menjalankan iklan.

Setiap platform punya tugas yang berbeda.

Goal Social Media Strategy

Biasanya bertujuan untuk:

  • Meningkatkan brand awareness.
  • Menambah followers.
  • Meningkatkan engagement.
  • Membangun kepercayaan.
  • Mendatangkan traffic ke website atau WhatsApp.
  • Membangun komunitas.

Belum tentu langsung menghasilkan penjualan, tetapi membantu calon pelanggan semakin mengenal bisnis kita.

3. Content Strategy (Strategi Konten)

Kalau tujuan media sosial sudah ditentukan, sekarang muncul pertanyaan terakhir.

"Konten apa yang harus dibuat supaya tujuan tadi tercapai?"

Nah, inilah tugas Content Strategy.

Contohnya:

Hari Senin: Tips membuat es teh yang segar.

Hari Selasa: Testimoni pelanggan.

Hari Rabu: Behind the scene proses pembuatan es teh.

Hari Kamis: Fakta unik tentang teh.

Hari Jumat: Promo akhir pekan.

Semua perencanaan isi konten tersebut disebut Content Strategy.

Goal Content Strategy

Tujuannya adalah:

  • Membuat orang betah melihat konten.
  • Memberikan edukasi.
  • Membangun kepercayaan.
  • Menghibur audiens.
  • Mengajak orang melakukan tindakan, misalnya membeli atau menghubungi penjual.

🏠 Biar Lebih Gampang, Bayangkan Membangun Rumah

Masih bingung?

Coba gunakan analogi membangun rumah.

Marketing Strategy

Menentukan:

  • Mau membangun rumah untuk siapa?
  • Berapa anggarannya?
  • Dibangun di mana?
  • Berapa lantai?
  • Target selesai kapan?

Ini adalah gambaran besarnya.

Social Media Strategy

Setelah rumah mau dibangun, kita memilih jalannya.

Misalnya:

  • Pakai Instagram?
  • TikTok?
  • Facebook?
  • LinkedIn?

Lalu setiap platform dipakai untuk tujuan yang berbeda.

Content Strategy

Kalau sudah memilih Instagram, sekarang pertanyaannya menjadi:

  • Mau posting apa hari Senin?
  • Video atau foto?
  • Caption seperti apa?
  • Edukasi atau promo?

Nah, itulah Content Strategy.

Hubungan Ketiganya

Ketiga strategi ini sebenarnya saling berhubungan.

Urutannya seperti ini:

  • Marketing Strategy ⬇️
  • Social Media Strategy ⬇️
  • Content Strategy ⬇️
  • Pembuatan Konten ⬇️
  • Posting Konten

Jadi, Content Strategy tidak bisa berdiri sendiri tanpa mengetahui tujuan dari Social Media Strategy. Begitu juga Social Media Strategy sebaiknya mengikuti arah besar dari Marketing Strategy.

Ringkasan Perbedaannya

Aspek Marketing Strategy Social Media Strategy Content Strategy
Fokus Bisnis Media sosial Isi konten
Pertanyaan Bagaimana produk bisa laku? Media sosial dipakai untuk apa? Konten apa yang harus dibuat?
Goal Penjualan & keuntungan Awareness, engagement, trust Konten yang menarik dan sesuai tujuan
Hasil Akhir Strategi pemasaran Strategi penggunaan media sosial Rencana isi konten


Cara Paling Mudah Mengingatnya

Kalau suatu hari kamu lupa lagi, cukup ingat tiga pertanyaan ini.

Marketing Strategy

"Gimana caranya supaya produk ini laku?"

Social Media Strategy

"Media sosial ini dipakai untuk mencapai tujuan apa?"

Content Strategy

"Konten apa yang harus dibuat supaya tujuan tadi tercapai?"


Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

Banyak orang mengira ketiga istilah ini sama, padahal sebenarnya berbeda.

Kesalahan yang sering terjadi antara lain:

  • Menganggap membuat kalender konten sudah termasuk Marketing Strategy.
  • Mengira memilih platform Instagram atau TikTok adalah Content Strategy.
  • Fokus membuat konten tanpa mengetahui tujuan bisnisnya.

Padahal urutannya adalah:

Marketing Strategy → Social Media Strategy → Content Strategy → Content Creation → Posting.


Kalau sudah paham tiga pertanyaan ini, biasanya kamu tidak akan lagi tertukar saat membaca job desk, membuat laporan, atau berdiskusi dengan tim marketing.

Semoga setelah membaca artikel ini, istilah Marketing Strategy, Social Media Strategy, dan Content Strategy tidak lagi terdengar membingungkan. Ketiganya memang saling berkaitan, tetapi masing-masing punya fokus dan tujuan yang berbeda. Dengan memahami perbedaannya, kita bisa bekerja lebih terarah dan komunikasi dengan tim pun menjadi lebih mudah.

Kalau kamu sendiri, pernah nggak salah membedakan Marketing Strategy, Social Media Strategy, dan Content Strategy? Atau justru baru tahu bedanya setelah membaca artikel ini? Ceritakan di kolom komentar, ya! 😊


Rabu, Juli 29, 2026

Cara Bikin Yoghurt Ala Hyull: Cuma 2 Bahan, Anti Ribet, Tanpa Alat Khusus!

3 Cara Bikin Yoghurt Anti Gagal

Hai semua! 👋

Kali ini aku mau berbagi tips bikin yoghurt homemade ala Hyull. Buat yang pengen makan yoghurt tiap hari tapi pengen lebih hemat, wajib coba deh. Bahannya cuma 2, alatnya juga bisa disesuaikan. Bahkan ada versi super mager yang sampai sekarang masih aku pakai. 

Bahan

  • 1 liter susu UHT plain (merk bebas)
  • 1 yoghurt plain sebagai starter

Susu yang pernah aku coba

  • Greenfields
  • Ultra Milk
  • Indomilk

Greenfields dan Ultra Milk menggunakan 100% susu segar, sedangkan Indomilk merupakan campuran 50% susu segar dan 50% susu rekombinasi.

Kalau ditanya favoritku? Jujur aku pilih Indomilk. Selain harganya lebih ramah di kantong, sering banget ada promo. Jadi lebih hemat buat bikin yoghurt rutin. Menurut pengalamanku, komposisi 50:50 pada Indomilk justru menghasilkan yoghurt yang lebih creamy dengan whey yang lebih sedikit dibanding beberapa merek yang pernah aku coba.

Starter yoghurt yang pernah aku coba

  • Cimory Plain
  • Kin Plain
  • Biokul Plain

Dari semuanya, favoritku tetap Biokul Plain (yang biasa, bukan Greek Yogurt).

Kenapa?

Karena hasilnya beda banget. Waktu pakai Cimory dan Kin, yoghurt yang jadi menghasilkan whey (cairan bening kekuningan) cukup banyak. Sementara saat pakai Biokul Plain, hasilnya lebih creamy, bahkan hampir tidak menghasilkan whey sama sekali. Buatku hasilnya paling memuaskan.

Cara 1 (Versi klasik)

  1. Panaskan susu sampai muncul busa tipis di pinggir panci. Jangan sampai mendidih.
  2. Dinginkan sampai hangat kuku.
  3. Campurkan sedikit susu hangat dengan starter yoghurt, aduk sampai rata.
  4. Tuang kembali ke seluruh susu.
  5. Pindahkan ke wadah steril.
  6. Fermentasikan sekitar 8–12 jam.

Cara ini berhasil, tapi lumayan ribet karena harus pindah-pindah wadah. 🤣

Cara 2 (Lebih praktis)

Langkahnya sama seperti cara pertama.

Bedanya, setelah starter tercampur rata, susu dikembalikan ke kemasan UHT yang sudah steril, jadi tidak perlu mencari wadah fermentasi lagi.

Masih perlu mencuci panci bekas memanaskan susu sih... jadi tetap ada PR sedikit. 😂

Cara 3 (Versi Hyull: Anti Ribet, Anti Cuci-Cuci)

Nah... ini dia cara favoritku.

  • Buka kemasan susu UHT.
  • Tuang starter yoghurt langsung ke dalam kemasan.
  • Tutup kembali.
  • Kocok atau aduk perlahan sampai rata.
  • Fermentasikan sekitar 8–12 jam.

Iya, tanpa dipanaskan sama sekali.

Awalnya aku coba cara ini cuma karena lagi mager. Eh... ternyata hasilnya sama persis dengan versi dipanaskan. 😭

Teksturnya tetap bagus, rasa tetap enak, bahkan daya simpannya juga sama saja selama penyimpanannya benar.

Sejak saat itu aku selalu pakai cara ketiga. Tinggal tuang starter ke susu UHT, fermentasi, selesai. Praktis banget!

💡FYI, cara tanpa dipanaskan ini khusus untuk susu UHT saja ya, teman-teman. Susu UHT sudah melalui proses sterilisasi suhu tinggi, jadi wadah dan susunya sudah bebas dari bakteri lain. Kalau kamu pakai jenis susu segar (raw milk) atau susu pasteurisasi, kamu tetap wajib memanaskannya dulu (pakai Cara 1 atau 2) agar steril. Kalau langsung dicampur tanpa dipanaskan, bakteri baik di starter bakal kalah saing dan proses fermentasinya bisa gagal total!

Tips fermentasi

  • Simpan di tempat yang hangat dan jangan sering dipindah-pindah selama fermentasi.
  • Lama fermentasi sekitar 8–12 jam. Semakin lama difermentasi, rasa yoghurt biasanya akan semakin asam.
  • Setelah jadi, langsung simpan di kulkas agar proses fermentasi berhenti dan yoghurt lebih awet.
  • Jangan mengaduk atau mengguncang yoghurt selama proses fermentasi karena dapat mengganggu pembentukan teksturnya.

⚠️ Jangan lupa sisakan starter

Sebelum yoghurtnya habis dimakan, sisakan sekitar 150–200 ml untuk dijadikan starter batch berikutnya.

Aku biasanya menyimpannya di bagian paling dingin kulkas (bukan freezer), lalu dipakai lagi saat bikin yoghurt berikutnya. Dengan begitu tidak perlu beli starter baru setiap kali membuat yoghurt.

Manfaat yang paling aku rasakan

Kalau soal manfaat kesehatan tentu bisa berbeda pada setiap orang. Tapi buatku pribadi, yoghurt benar-benar membantu melancarkan pencernaan.

Lucunya, kalau beberapa hari nggak minum yoghurt, aku jadi lebih susah BAB. 🤣 Jadi sekarang yoghurt hampir selalu ada di kulkas.

Selain mengandung probiotik yang baik untuk saluran pencernaan, yoghurt juga merupakan sumber protein, kalsium, dan vitamin B yang baik untuk tubuh.


Nah, itu dia tips bikin yoghurt ala Hyull. Semoga bisa membantu teman-teman yang pengen mulai bikin yoghurt sendiri di rumah tanpa ribet.

Kalau kalian punya cara lain atau punya starter favorit selain Biokul, boleh banget cerita di kolom komentar ya!

Ciao~ 👋