Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Sabtu, Agustus 22, 2026

Berdamai dengan Masa Lalu, Melangkah Maju Lewat Self Acceptance

Self Acceptance: Belajar Menerima Diri, Termasuk Masa Lalu

Hai semua! ๐Ÿ‘‹

Kali ini Hyull mau sharing. Bisa dibilang ini tips juga, sih. Hehehe.

Belakangan ini kita masih sering banget mendengar tentang mental health. Bahkan, entah kenapa, akhir-akhir ini FYP TikTok, Reels Instagram, sampai YouTube Shorts-ku malah sering berseliweran promo psikolog, psikiater, bahkan rumah sakit jiwa. Wkwkwk… entah algoritma lagi mau ngasih kode apa ke aku. ๐Ÿ˜ญ

Nah, beberapa waktu lalu aku menemukan sebuah kajian yang membahas tentang trauma masa lalu. Dari kajian tersebut, salah satu langkah yang dibahas untuk membantu mengatasi luka atau trauma masa lalu adalah self acceptance, atau penerimaan diri.

Ternyata menerima diri sendiri itu nggak sesederhana bilang, “Ya udah, aku terima.”

Karena yang perlu kita terima bukan cuma diri kita yang sekarang, tetapi juga berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup kita, termasuk masa lalu.

Dan menurutku, bagian ini memang susah.

Tapi kalau kita terus menolak sesuatu yang memang sudah terjadi, bukankah kita justru akan semakin capek?

Seperti quotes yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya:

“Masa lalu memang tidak bisa diubah, namun kita bisa memperbaharui maknanya.”

Tentang hal ini, sebelumnya aku juga sudah pernah membahasnya di artikel:

  1. Masa Lalu Tak Bisa Diubah, Tapi Kita Punya Kesempatan Untuk Menjadi Lebih Baik
  2. Fatherless dan Father Wound Part 2
  3. Kalau Kamu Lagi Nggak Baik-Baik Saja, Ini Buat Kamu

Nah, kali ini aku mau lebih fokus membahas tentang self acceptance.

Sebenarnya, bagaimana sih langkah untuk mulai belajar menerima diri sendiri?

Dari kajian yang aku dengarkan, ada tiga hal yang menurutku menarik untuk direnungkan.

1. Sadar Diri

Langkah pertama adalah mengenal dan menyadari diri sendiri.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan, kesalahan, atau penilaian orang lain sampai lupa bertanya:

“Sebenarnya aku ini siapa, sih?”

Untuk mulai mengenal diri sendiri, kita bisa mencoba menjawab beberapa pertanyaan sederhana:

  • Bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu sendiri?
  • Apa potensi baik yang kamu miliki?
  • Apa passion-mu?
  • Apa jalan manfaatmu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin kelihatannya sederhana, tetapi ternyata bisa membuat kita berhenti sejenak dan melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Bukan hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga menyadari bahwa ada hal-hal baik dalam diri kita yang mungkin selama ini luput kita hargai.

Karena menerima diri bukan berarti kita harus menganggap diri kita sempurna.

Justru sebaliknya, kita perlu mengenal diri kita secara utuh dengan kelebihan, kekurangan, kesalahan, potensi, impian, dan segala proses yang sedang kita jalani.

2. Ramah pada Diri Sendiri

Setelah mulai mengenal diri sendiri, langkah berikutnya adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih ramah.

Kadang kita bisa begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi ketika giliran diri sendiri yang melakukan kesalahan, kita malah terus menghukum diri.

Padahal, kita juga manusia.

Memaafkan diri sendiri

Menurutku, inilah salah satu bentuk penerimaan yang paling penting.

Memaafkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Bukan berarti membenarkan kesalahan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Tetapi mengakui:

“Iya, itu memang sudah terjadi. Aku tidak bisa mengubahnya lagi.”

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dari kejadian tersebut, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, lalu melanjutkan hidup.

Karena kalau kita terus-menerus menghukum diri atas kesalahan di masa lalu, kita hanya akan terus tinggal di tempat yang sebenarnya sudah kita lewati.

Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan hari ini dan ke depannya.

Sadari bahwa manusia memang tidak sempurna

As human beings, we are not perfect.

Salah itu wajar.

Gagal juga wajar.

Jatuh pun wajar.

Yang penting, jangan sampai kita terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa mau belajar. ๐Ÿ˜ญ

Karena menerima diri bukan berarti, “Ya udah, aku memang begini.”

Bukan.

Self acceptance bukan alasan untuk berhenti berkembang.

Justru setelah menerima diri, kita bisa melihat kekurangan dengan lebih jernih dan berkata,

“Oke, ini bagian dari diriku yang perlu diperbaiki.”

Jadi, kita boleh memaafkan diri sendiri tanpa berhenti belajar.

Menerima seluruh takdir diri

Ini juga bagian yang menurutku cukup menenangkan.

Sebagai manusia, tugas kita adalah berusaha dan berdoa.

Soal hasil?

Serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Kita sudah melakukan bagian yang menjadi jatah kita: berusaha sebaik mungkin, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan:

“Nanti berhasil nggak, ya?”

“Kalau gagal gimana?”

“Kalau ternyata bukan ini jalannya bagaimana?”

Padahal, hasil bukan sepenuhnya ranah kita.

Itu ranah Sang Pemilik hidup kita.

Jadi, lakukan saja bagian kita sebaik mungkin.

Kalau berhasil, alhamdulillah.

Kalau belum berhasil, ya coba lagi dengan cara lain.

Karena bisa jadi, kegagalan itu justru cara Tuhan menunjukkan bahwa masih ada jalan lain yang belum kita lihat.

Dan mungkin, jalan yang kita pikir sebagai kegagalan ternyata sedang mengarahkan kita ke sesuatu yang lebih baik.

3. Fokus pada Diri Sendiri

Setelah belajar menerima diri, kita juga perlu belajar untuk fokus pada apa yang memang bisa kita kendalikan.

Karena ternyata banyak hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali kita.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:

Release luka batin

Luka yang terus kita bawa ke mana-mana bisa membuat kita sulit menjalani kehidupan saat ini.

Jadi, perlahan-lahan kita perlu belajar melepaskannya.

Bukan berarti melupakan.

Bukan berarti kejadian tersebut tidak penting.

Tetapi belajar berdamai dengan apa yang sudah terjadi sehingga masa lalu tidak terus mengendalikan kehidupan kita hari ini.

Syukuri segala kebaikan

Kadang kita merasa hidup kita terlalu banyak masalah sampai lupa bahwa sebenarnya kebaikan juga tetap ada.

Dan kebaikan itu tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar.

Kita masih hidup sampai hari ini saja sudah merupakan sebuah kebaikan.

Kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri juga merupakan kebaikan.

Kita masih punya kesempatan untuk belajar, mencoba lagi, mencari jalan keluar, dan memperbaiki kehidupan kita juga merupakan sebuah kebaikan.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus menghitung apa yang hilang sampai lupa menghitung apa yang masih kita miliki.

Jadi, sesekali berhentilah.

Lihat lagi kehidupan kita.

Apa saja kebaikan yang masih Tuhan titipkan kepada kita sampai hari ini?

Fokus memperbaiki diri sendiri

Ini juga penting.

Kita hanya bisa mengontrol hal-hal yang memang berhubungan dengan diri kita sendiri.

Kita bisa mengontrol tindakan kita.

Kita bisa mengontrol bagaimana kita merespons sesuatu.

Kita bisa terus berusaha dan berdoa.

Tapi kita tidak bisa memaksa bagaimana orang lain harus merespons kita.

Kita juga tidak bisa mengontrol hasil dari setiap usaha yang kita lakukan.

Jadi, fokuslah pada bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Perbaiki apa yang bisa kita perbaiki.

Usahakan apa yang bisa kita usahakan.

Doakan apa yang ingin kita perjuangkan.

Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Kalau ternyata gagal?

Ya sudah.

Coba lagi.

Kalau cara pertama tidak berhasil, mungkin kita bisa mencari cara kedua.

Kalau cara kedua belum berhasil, mungkin masih ada cara ketiga.

Karena bisa jadi, kegagalan bukan berarti jalannya sudah habis.

Bisa jadi Tuhan sedang membuat kita melihat bahwa ternyata ada banyak jalan yang belum kita coba.

Jadi, Self Acceptance Itu Bukan Berarti Pasrah

Dari tiga langkah di atas, menurutku self acceptance bukan berarti kita menerima semuanya lalu berhenti berusaha.

Bukan juga berarti kita membenarkan semua kesalahan yang pernah kita lakukan.

Self acceptance adalah tentang berdamai dengan diri sendiri.

Mengenali diri.

Menerima bahwa kita pernah salah.

Memaafkan diri sendiri.

Menerima bahwa kita tidak sempurna.

Berdamai dengan masa lalu.

Mensyukuri apa yang masih kita punya.

Lalu tetap berusaha menjadi versi diri kita yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.

Tetapi kita masih punya kesempatan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan setelahnya.

Jadi, kalau hari ini kamu masih punya sesuatu dari masa lalu yang belum bisa kamu terima, mungkin nggak perlu memaksakan diri untuk langsung “move on”.

Pelan-pelan saja.

Kenali.

Pahami.

Maafkan.

Terima.

Lalu lanjutkan hidup.

Karena kamu juga pantas mendapatkan kedamaian dari dirimu sendiri. ๐Ÿ’™


Yaps, itu dia 3 langkah self acceptance yang aku dapat dari kajian yang aku dengarkan.

Semoga sharing kali ini bermanfaat buat kamu yang mungkin sedang belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. ๐Ÿซถ๐Ÿป

Dan jangan lupa…

Selalu sayangi diri sendiri. 

With love,
- Hyull ๐Ÿ’™


Rabu, Agustus 19, 2026

Dapat Langganan Google Gemini AI Plus dari Paket Internet? Lumayan Banget!

Dapat Google AI Plus Gratis dari Paket Internet? Pengalamanku Bikin Video AI untuk Reels

Belakangan ini aku baru sadar kalau paket internet yang selama ini kupakai ternyata punya bonus yang lumayan berguna.

Bahkan, bonusnya bukan sekadar kuota tambahan atau akses aplikasi tertentu.

Tapi Google Gemini AI Plus.

Wkwkwk.

Jadi ceritanya, sekarang aku sedang mengikuti Career Development Program (CDP) dari SGB VA, tempat aku dulu mengikuti course Virtual Assistant sampai akhirnya berhasil mendapatkan sertifikasi sebagai Certified VA.

Program ini semacam magang untuk mengembangkan skill dan menambah pengalaman kerja. Walaupun tidak dibayar, menurutku tetap menarik karena bisa dijadikan tempat belajar sekaligus mengisi portofolio.

Nah, salah satu tugas yang sedang kukerjakan adalah membuat konten untuk sebuah brand skincare dari Hong Kong.

Dan salah satu jenis kontennya adalah...

Instagram Reels.

Reels + AI = Lumayan Membantu

Karena sekarang AI semakin banyak digunakan dalam pembuatan konten, aku pun diminta membuat beberapa video menggunakan AI.

Akhirnya aku mencoba menggunakan Gemini untuk generate video.

Lucunya, prompt-nya sendiri juga bisa dibuat pakai AI.

Aku bisa minta bantuan ChatGPT menyusun prompt, lalu prompt tersebut dimasukkan ke Gemini untuk menghasilkan video.

Atau langsung minta Gemini membuat prompt sekaligus videonya.

Kurang lebih alurnya seperti ini:

Cari ide → Buat prompt → Generate video AI → Edit → Upload jadi Reels.

Menurutku cara ini lumayan membantu, apalagi kalau kita tidak punya footage sendiri atau ingin membuat visual yang sulit direkam secara langsung.

Walaupun tentu saja hasil AI masih belum selalu sempurna.

Kadang ada detail yang aneh.

Kadang gerakannya agak ajaib.

Ya namanya juga AI. ๐Ÿ˜‚

Kenapa Aku Memilih Gemini?

Sebenarnya sekarang sudah banyak AI yang bisa digunakan untuk membantu membuat konten.

ChatGPT bisa membantu menyusun prompt.

Ada juga berbagai AI video generator lainnya.

Tapi aku memilih Gemini karena satu alasan sederhana.

Aku sudah mendapat akses Google AI Plus dari paket internet yang kupakai. ๐Ÿ˜†

Aku menggunakan paket internet dari Indosat Ooredoo, dan ternyata paket tersebut memberikan bonus langganan Google AI Plus.

Bahkan tidak hanya itu.

Aku juga mendapatkan bonus Adobe Express Premium.

Sebagai orang yang sedang belajar content creation dan social media management, menurutku bonus seperti ini lumayan banget.

Daripada sudah punya akses tapi tidak dimanfaatkan.

Wkwkwk.

Satu hal lagi yang membuat bonus ini terasa semakin worth it adalah karena sampai sekarang aku masih belum menemukan banyak AI pembuat video yang benar-benar gratis.

Kalau untuk AI pembuat gambar, pilihannya sudah banyak. Mau bikin ilustrasi, foto produk, wallpaper, atau konsep visual lainnya, cukup mudah menemukan tools gratis yang hasilnya bagus.

Tapi beda cerita kalau sudah masuk ke AI pembuat video.

Dari beberapa tools yang sempat kucoba atau kutemukan, kebanyakan memang mengharuskan kita berlangganan kalau ingin mengunduh hasil videonya, membuat video dengan kualitas yang lebih baik, atau menghilangkan watermark.

Jadi waktu tahu paket internet yang kupakai sudah termasuk akses Google AI Plus, aku merasa ini benar-benar benefit yang kepakai.

Apalagi pas banget sedang ada tugas membuat Reels selama mengikuti Career Development Program.

Rasanya seperti...

"Wah, ternyata bonus paket internet ini benar-benar berguna."

Memang Ada Batasannya

Namanya juga bonus, tentu ada batasnya.

Saat ini aku hanya bisa menghasilkan maksimal 2 video AI per hari.

Selain itu, setiap video yang dihasilkan juga memiliki durasi maksimal sekitar 10 detik.

Kalau baru mendengar angka itu mungkin terdengar sedikit.

Tapi menurutku...

Masih sangat bisa dimanfaatkan.

Karena toh tujuan akhirnya adalah membuat Instagram Reels, bukan mengunggah video mentah dari Gemini.

Setelah video selesai dibuat, kita tinggal mengeditnya menggunakan aplikasi editing video seperti:

  • CapCut
  • Canva
  • InShot
  • atau editor video lainnya.

Video 10 detik tadi bisa dipotong, disusun ulang, digabung dengan beberapa klip lain, ditambahkan teks, transisi, musik, voice over, B-roll, atau efek tambahan sehingga durasinya menjadi lebih panjang dan lebih menarik.

Jadi jangan terpaku dengan batasan 10 detik.

Yang penting adalah bagaimana kita mengolah hasil AI tersebut menjadi konten yang enak ditonton.

Pokoknya mah yang penting...

Jadi Reels.

WKWKWK.

Ternyata Paket Data Bisa Dapat Bonus AI

Yang membuatku cukup senang sebenarnya bukan cuma karena bisa generate video AI.

Tapi karena aku baru sadar kalau sekarang paket internet juga bisa memberikan benefit seperti ini.

Awalnya aku cuma berpikir,

"Ya paket internet ya buat internetan."

Eh ternyata dapat bonus AI juga.

Lumayan banget.

Kalau tidak salah, paket dengan benefit serupa juga tersedia untuk pengguna 3 (Tri), karena sekarang Tri dan Indosat sama-sama berada di bawah Indosat Ooredoo Hutchison.

Jadi kalau kalian memang sering menggunakan AI untuk bekerja, belajar, atau membuat konten, coba deh cek benefit dari paket internet yang kalian gunakan.

Siapa tahu ternyata kalian juga sudah punya akses, hanya saja belum pernah menyadarinya.

Pernah Hampir Punya ChatGPT Go Seharga Rp1 ๐Ÿ˜ญ

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku mendapat kesempatan mencoba layanan AI.

Beberapa waktu lalu aku juga pernah mendapatkan voucher ChatGPT Go dari Shopee.

Harganya?

Rp1.

Iya.

Satu rupiah.

Murah banget, kan?

Sayangnya tetap harus melakukan pembayaran menggunakan e-wallet.

Dan waktu itu...

Saldo seluruh e-wallet-ku kosong.

๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Akhirnya voucher tersebut tidak jadi kupakai sampai hangus.

Sedihnya bukan karena harus bayar.

Rp1 doang, lho.

Tapi karena bahkan uang Rp1 itu saja tidak ada di saldo e-wallet.

WKWKWK.

AI Itu Alat, Bukan Pengganti Kreativitas

Dari pengalaman ini aku jadi merasa kalau sekarang semakin banyak tools AI yang bisa dimanfaatkan untuk belajar dan bekerja.

Apalagi buat orang yang sedang membangun skill di bidang digital, social media, content creation, atau Virtual Assistant seperti aku.

Menurutku kita tidak harus langsung berlangganan semua tools AI yang ada.

Kalau kebetulan ada promo, voucher, masa trial, atau bonus dari layanan yang memang sudah kita gunakan, ya manfaatkan saja.

Seperti pengalamanku kali ini.

Aku mengikuti Career Development Program.

Mendapat tugas membuat Reels.

Butuh AI untuk membuat video.

Eh ternyata paket internet yang kupakai sudah menyediakan akses Google AI Plus.

Ya sudah.

Dipakai.

Wkwkwk.

Walaupun hanya bisa membuat dua video per hari dengan durasi maksimal 10 detik per video, nyatanya tetap sangat membantu.

Karena setelah itu semua hasilnya masih bisa diedit lagi menjadi konten yang lebih menarik.

Bahkan siapa tahu, dari proses belajar kecil seperti ini justru lahir skill baru yang nantinya bisa masuk ke portofolio.

Pada akhirnya, belajar AI bukan hanya soal punya akses ke teknologinya.

Tapi bagaimana kita memanfaatkan teknologi itu untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Dan untuk sekarang...

Aku cukup senang karena ternyata paket internetku bukan cuma memberi kuota.

Tapi juga membuka kesempatan untuk belajar AI lebih dalam.

Lumayan banget, kan? ๐Ÿ˜„

Kalau Kalian Gimana?

Nah, sekarang aku penasaran.

Kalian biasanya pakai AI apa buat membantu pekerjaan, belajar, atau bikin konten?

Masih pakai yang gratis, atau sudah berlangganan?

Kalau ada AI favorit yang menurut kalian bagus (terutama untuk generate video) boleh banget sharing di kolom komentar.

Siapa tahu aku jadi menemukan tools baru yang belum pernah kucoba.

Atau mungkin ada AI video gratis yang hasilnya bagus dan bisa di-download tanpa harus berlangganan? Wah, kalau ada sih aku juga mau coba. ๐Ÿคฃ

Yuk, saling berbagi pengalaman!

Karena dunia AI berkembang cepat banget. Rasanya setiap bulan selalu ada tools baru yang menarik untuk dicoba. Siapa tahu dari cerita kalian, kita sama-sama belajar hal baru. ๐Ÿ˜Š


Senin, Agustus 17, 2026

17 Agustus 2026: Ketika Negeri Sedang Berduka, Apa Arti Kemerdekaan Bagi Rakyat?

Sebuah Refleksi Arti Kemerdekaan

Setiap bulan Agustus, kita terbiasa melihat merah putih di mana-mana.

Bendera berkibar di depan rumah, jalanan dihiasi umbul-umbul, anak-anak mengikuti berbagai perlombaan, dan ucapan Dirgahayu Republik Indonesia memenuhi linimasa.

Tetapi tahun ini, entah mengapa, suasana perayaan itu terasa berbeda.

Di tengah persiapan menyambut 17 Agustus, ada negeri yang sedang berduka.

Bencana datang bertubi-tubi. Ekonomi terasa semakin berat. Harga kebutuhan pangan terus menjadi persoalan bagi banyak keluarga. Dan di tengah semua itu, kita kembali melihat bagaimana kehidupan rakyat dan narasi tentang keberhasilan negara terkadang terasa berjalan di dua ruang yang berbeda.

Bukan berarti tidak ada capaian.

Bukan berarti pemerintah tidak melakukan apa-apa.

Tetapi mungkin, justru karena kita mencintai negeri ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Seperti apa sebenarnya wajah kemerdekaan yang dirasakan rakyat hari ini?

Ketika Kemerdekaan Datang Bersama Duka

Pada 15 Agustus 2026, menjelang peringatan kemerdekaan, Indonesia kembali diguncang oleh sejumlah gempa signifikan di beberapa wilayah.

Di Nusa Tenggara Timur, gempa M7,7 mengguncang wilayah utara Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dan memicu peringatan dini tsunami. Tsunami kemudian terobservasi di sejumlah wilayah pesisir. BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. 

Pada hari yang sama, gempa M6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatra Utara, sementara gempa M6,2 terjadi di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. 

Bahkan setelah gempa utama di Flores, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hingga pukul 14.00 WIB pada 15 Agustus, BMKG mencatat 235 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo antara M2,5 hingga M6,2. BMKG juga menyebut tren aktivitas susulan saat itu belum menunjukkan peluruhan yang signifikan. Hingga 16 Agustus, aktivitas gempa di kawasan Flores masih terus tercatat. 

Bagi sebagian orang, 17 Agustus mungkin tetap menjadi hari perlombaan dan perayaan.

Tetapi bagi mereka yang kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, harus mengungsi, atau masih berada dalam ketakutan setelah gempa, merah putih tahun ini mungkin memiliki makna yang berbeda.

Mereka tidak sedang memikirkan lomba.

Mereka sedang memikirkan keselamatan.

Mereka sedang mencari keluarga.

Mereka sedang memikirkan bagaimana kembali hidup setelah rumah dan kehidupan mereka berubah dalam hitungan menit.

Dan sebenarnya, duka akibat bencana di Indonesia bukan hanya tentang apa yang terjadi beberapa hari menjelang 17 Agustus.

Ada luka yang bahkan sudah berlangsung berbulan-bulan.

Banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir 2025 meninggalkan kerusakan yang tidak selesai hanya ketika air mulai surut.

Rumah harus dibangun kembali.

Jalan dan jembatan harus dipulihkan.

Mata pencaharian harus dikembalikan.

Para pengungsi harus memiliki tempat tinggal yang layak.

Dan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, tidak ada pembangunan infrastruktur yang bisa benar-benar menghapus kehilangan tersebut.

Memasuki pertengahan 2026, proses pemulihan masih berjalan. Artinya, bagi sebagian masyarakat, bencana yang mungkin sudah lama berhenti menjadi berita belum berhenti menjadi kehidupan.

Mereka masih membangun kembali.

Masih membersihkan sisa kerusakan.

Masih mencari cara untuk kembali bekerja.

Masih mencoba memulai kehidupan dari apa yang tersisa.

Negara tentu memiliki mekanisme penanganan bencana. BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, dan berbagai kementerian memiliki tugas untuk melakukan evakuasi, memberikan bantuan, memulihkan akses, serta menangani para penyintas.

Tetapi ada satu hal yang membuatku tetap bertanya-tanya.

Dalam pidato kenegaraan yang disampaikan pada 14 Agustus, ketika bangsa sedang bersiap menyambut hari kemerdekaan dan bencana besar baru saja terjadi, persoalan kebencanaan dan nasib para penyintas tidak menjadi bagian yang menonjol dalam narasi besar tentang perjalanan bangsa.

Pidato banyak berbicara tentang swasembada pangan dan energi, pertumbuhan ekonomi, MBG, koperasi, pembangunan pendidikan, reformasi BUMN, efisiensi birokrasi, pemberantasan korupsi, hingga Indonesia Emas 2045.

Semua itu tentu penting.

Tetapi di tengah begitu banyak pembicaraan mengenai masa depan Indonesia, aku hanya berharap ada ruang yang cukup untuk mengingat mereka yang bahkan sedang berjuang melewati hari ini.

Karena pembangunan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mampu melangkah.

Pembangunan juga tentang seberapa kuat negara memegang tangan mereka yang sedang jatuh.

Ketika Angka Ekonomi Tidak Selalu Terasa di Dapur

Di sisi lain, kehidupan sehari-hari masyarakat juga menghadapi persoalan yang tidak kalah nyata.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar berada di bawah tekanan. Harga berbagai kebutuhan pangan masih terasa tinggi.

Beras, minyak goreng, cabai, daging, dan berbagai kebutuhan lainnya semakin membuat masyarakat harus berhitung.

Masalahnya, harga bisa berubah.

Tetapi tidak semua penghasilan ikut berubah.

Ada orang yang gajinya tetap.

Ada pekerja yang pendapatannya tidak bertambah sebanding dengan kebutuhan.

Ada keluarga yang akhirnya harus mengurangi sesuatu agar sesuatu yang lain tetap terpenuhi.

Di atas kertas, mungkin ekonomi tumbuh.

Tetapi di meja makan, pertanyaannya jauh lebih sederhana:

Apakah uang yang dibawa pulang masih cukup untuk membeli kebutuhan keluarga?

Pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang penting.

Tetapi pertumbuhan itu seharusnya tidak hanya terlihat dalam laporan dan angka makroekonomi.

Ia seharusnya perlahan terasa dalam kehidupan orang biasa.

Sebab bagi masyarakat yang setiap bulan harus menghitung uang untuk kebutuhan pokok, angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat harga beras menjadi lebih murah atau membuat isi dompet bertambah.

Ketika Data Mengatakan Sejahtera, Tetapi Kehidupan Terasa Rentan

Ada satu hal lain yang membuatku semakin berpikir tentang arti “sejahtera”.

Belakangan, pembicaraan mengenai data kesejahteraan dan desil DTSEN juga ramai diperbincangkan.

Aku mencoba bertanya secara acak kepada beberapa orang yang aku kenal dari daerah dan pulau yang berbeda mengenai hasil desil mereka. Tentu saja ini bukan survei dan tidak bisa dianggap sebagai representasi statistik seluruh Indonesia.

Tetapi ada satu hal yang cukup membuatku berhenti sejenak:

Dari orang-orang yang aku tanyai, tidak ada satu pun yang berada di bawah desil 8.

Beberapa berada pada desil 8, bahkan ada yang berada pada desil 9.

Padahal ketika aku mengenal kehidupan mereka secara langsung, gambaran yang aku temukan tidak selalu terlihat seperti keluarga yang sudah benar-benar aman secara ekonomi.

Ada keluarga yang seluruh anggota keluarganya bekerja.

Tidak menganggur.

Tidak memiliki utang.

Tetapi penghasilan masing-masing masih berada di bawah UMR. Bukan gaji bulanan, melainkan buruh harian.

Penghasilan itu habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Dan karena memang pas-pasan, mereka tidak memiliki ruang untuk menabung.

Ketika aku tanyakan hasil desil DTSEN mereka, keluarga seperti ini ternyata berada pada desil 8.

Secara klasifikasi, posisinya memang relatif tinggi.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi keadaan darurat.

Jika kendaraan satu-satunya rusak, ada pengeluaran tambahan yang harus dicari.

Jika salah satu anggota keluarga sakit, kondisi ekonomi bisa langsung ikut terguncang.

Jika salah satu sumber penghasilan berhenti, tidak banyak yang bisa digunakan sebagai cadangan.

Ada pula keluarga lain yang aku kenal yang berada pada desil 9.

Mereka memiliki dua anak yang masih kecil, masih memiliki utang, dan penghasilan keluarga pun masih pas-pasan.

Sekali lagi, aku tidak mengatakan bahwa hasil desil tersebut salah.

Aku juga tidak memiliki kapasitas untuk menilai bagaimana sistem DTSEN menentukan posisi setiap keluarga.

Tetapi pengalaman sederhana ini membuatku bertanya:

Jika seseorang berada pada desil 8 atau bahkan desil 9, apakah itu otomatis berarti mereka sudah aman secara ekonomi?

Sebab ada perbedaan antara posisi seseorang dalam klasifikasi kesejahteraan dengan seberapa kuat seseorang mampu bertahan ketika menghadapi guncangan ekonomi.

Desil tentu memiliki fungsi dan dasar perhitungannya sendiri.

Tetapi kehidupan sehari-hari memiliki pertanyaan yang berbeda.

Apakah klasifikasi tersebut sudah cukup menggambarkan kerentanan ekonomi yang dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah aku mulai bertanya:

Apakah tidak miskin otomatis berarti sejahtera?

Mungkin secara statistik mereka memang tidak berada di kelompok masyarakat paling miskin.

Tetapi bagaimana jika kendaraan satu-satunya rusak?

Bagaimana jika salah satu anggota keluarga sakit?

Bagaimana jika ada satu orang yang kehilangan pekerjaan?

Bagaimana jika rumah mereka terkena bencana?

Keluarga tersebut tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menyerap guncangan.

Bukan karena mereka boros.

Bukan karena mereka memiliki utang konsumtif.

Bukan karena mereka tidak mau bekerja.

Mereka justru bekerja.

Hanya saja, penghasilan yang ada memang habis untuk bertahan hidup.

Ada keluarga yang tidak miskin, tetapi juga tidak memiliki kemewahan untuk jatuh sakit.

Tidak memiliki kemewahan untuk kendaraan rusak.

Tidak memiliki kemewahan untuk kehilangan satu sumber penghasilan.

Dan bahkan tidak memiliki kemewahan untuk menabung.

Sebab tidak ada yang tersisa setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Mungkin inilah yang sering luput ketika kita hanya melihat posisi seseorang dalam angka.

Ada perbedaan antara tidak miskin dan benar-benar aman secara ekonomi.

Ada orang yang berada di atas batas kemiskinan, tetapi hanya berjarak satu musibah dari kondisi yang jauh lebih sulit.

Mereka adalah kelompok yang mungkin tidak terlihat sebagai orang miskin, tetapi sangat rentan untuk jatuh miskin.

Dan menurutku, kerentanan semacam ini juga layak menjadi perhatian negara.

Ketika Harga Naik, Tetapi Gaji Tetap

Sebab pada akhirnya, kehidupan rakyat bukan hanya tentang angka pendapatan.

Yang menentukan adalah jarak antara pendapatan dan kebutuhan.

Jika gaji tetap tetapi harga makanan naik, daya beli turun.

Jika biaya transportasi naik, sisa penghasilan semakin sedikit.

Jika biaya pendidikan, kesehatan, listrik, dan kebutuhan rumah tangga meningkat, kemampuan menabung semakin jauh.

Lalu ketika seseorang tidak mampu menabung, ia tidak memiliki bantalan ketika sesuatu terjadi.

Satu kecelakaan.

Satu penyakit.

Satu kendaraan rusak.

Satu kehilangan pekerjaan.

Satu bencana.

Dan tiba-tiba keluarga yang sebelumnya terlihat “baik-baik saja” bisa mengalami kesulitan yang sangat besar.

Gaji boleh tetap sama, tetapi harga kebutuhan tidak pernah berjanji untuk ikut diam.

Ketika Sakit Menjadi Kemewahan

Tetapi persoalan kesejahteraan tidak berhenti pada kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari.

Ada satu hal lain yang juga menentukan seberapa aman sebuah keluarga menjalani hidup:

kesehatan.

Kita bisa berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.

Kita bisa berbicara tentang swasembada pangan.

Kita bisa berbicara tentang pembangunan dan Indonesia Emas 2045.

Tetapi bagi keluarga yang penghasilannya habis untuk kebutuhan sehari-hari, satu anggota keluarga yang sakit bisa mengubah seluruh kondisi ekonomi mereka.

Ada biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan.

Ada obat.

Ada kebutuhan lain yang mungkin muncul selama perawatan.

Dan bagi pekerja harian, ada persoalan yang tidak kalah berat:

ketika tidak bekerja, tidak ada penghasilan.

Satu hari sakit mungkin berarti satu hari tanpa pemasukan.

Beberapa hari sakit bisa berarti kebutuhan rumah tangga mulai terganggu.

Dan ketika penyakit membutuhkan perawatan lebih panjang, keluarga yang sebelumnya sudah hidup pas-pasan bisa semakin kehilangan ruang untuk bertahan.

Di sinilah aku kembali bertanya:

Apakah seseorang benar-benar sejahtera jika sedikit saja terkena masalah kesehatan, kehidupannya langsung terguncang?

Kesehatan bukan hanya persoalan rumah sakit dan dokter.

Kesehatan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap bekerja, memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarganya, dan menjalani hidup dengan layak.

Karena itu, keberhasilan sektor kesehatan seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak fasilitas yang dibangun atau program yang diluncurkan.

Pertanyaan yang lebih sederhana mungkin adalah:

Ketika rakyat sakit, apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa harus takut kehidupan ekonominya ikut runtuh?

Apakah fasilitas kesehatan mudah dijangkau oleh masyarakat di daerah?

Apakah tenaga kesehatan cukup tersedia dan mendapatkan dukungan yang layak?

Apakah masyarakat yang rentan benar-benar mendapatkan perlindungan ketika mereka membutuhkannya?

Dan bagaimana dengan mereka yang berada di tengah-tengah?

Tidak cukup miskin untuk selalu dianggap sebagai kelompok paling membutuhkan bantuan, tetapi juga tidak cukup mampu untuk menanggung sendiri berbagai biaya ketika sesuatu terjadi.

Kelompok seperti inilah yang sering kali tidak terlihat.

Mereka bekerja.

Mereka berusaha.

Mereka mungkin tidak memiliki utang.

Mereka mungkin bahkan tidak masuk kategori masyarakat miskin.

Tetapi mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi kejutan.

Sakit sedikit, ekonomi terganggu.

Tidak bekerja beberapa hari, pemasukan berkurang.

Harus membeli obat, tabungan yang memang hampir tidak ada kembali terkuras.

Dan ketika seseorang tidak memiliki tabungan, persoalan kesehatan bukan lagi hanya persoalan tubuh.

Ia bisa berubah menjadi persoalan ekonomi seluruh keluarga.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, mungkin kita juga perlu bertanya:

Apakah rakyat sudah benar-benar merasa aman ketika jatuh sakit?

Sebab hidup yang layak bukan hanya tentang memiliki penghasilan.

Tetapi juga tentang memiliki perlindungan ketika tubuh tidak lagi mampu bekerja.

Dan di tengah pembicaraan mengenai berbagai capaian pembangunan dalam pidato kenegaraan, persoalan rasa aman masyarakat ketika menghadapi sakit dan kerentanan ekonomi akibat masalah kesehatan rasanya juga layak mendapatkan ruang.

Bukan karena pembangunan yang lain tidak penting.

Tetapi karena pada akhirnya, pembangunan seharusnya membuat manusia yang hidup di dalamnya merasa lebih aman, lebih sehat, dan lebih mampu menghadapi kehidupan.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Angka Keberhasilan

Aku tidak ingin tulisan ini menjadi tulisan yang mengatakan bahwa semua hal yang dilakukan pemerintah pasti salah.

Tidak.

Swasembada pangan penting.

Ketahanan energi penting.

Pendidikan penting.

Pemberantasan korupsi penting.

Pertumbuhan ekonomi penting.

Pembangunan juga penting.

Tetapi semua itu seharusnya kembali kepada satu tujuan:

rakyat.

Sebab negara bukan dibangun untuk menghasilkan angka-angka yang indah.

Angka adalah alat untuk membantu negara melihat keadaan rakyat dan menentukan kebijakan.

Kalau angka menunjukkan keadaan membaik, tetapi di lapangan masih banyak orang yang merasa semakin sulit bernapas secara ekonomi, mungkin yang perlu dilakukan bukan sekadar berdebat angka mana yang benar.

Mungkin kita perlu bertanya:

Apa yang belum terlihat oleh angka tersebut?

Apakah keluarga yang bekerja tetapi tidak mampu menabung sudah benar-benar aman?

Apakah masyarakat yang sedikit berada di atas garis kemiskinan sudah memiliki ketahanan ketika bencana datang?

Apakah pertumbuhan ekonomi sudah cukup terasa di dapur rumah tangga?

Apakah mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana merasa negara benar-benar hadir?

Apakah masyarakat yang jatuh sakit memiliki rasa aman bahwa kesehatan mereka tidak akan membuat keluarganya jatuh secara ekonomi?

Dan yang paling sederhana:

Apakah rakyat merasa hidupnya semakin layak?

Untuk Indonesia yang Kita Cintai

Mungkin karena itulah, tahun ini aku merasa tidak ingin merayakan 17 Agustus hanya dengan mengatakan bahwa Indonesia baik-baik saja.

Aku ingin tetap mengibarkan merah putih.

Tetap menghormati perjuangan para pendahulu.

Tetap bersyukur bahwa kita hidup di negeri yang merdeka.

Tetapi mencintai Indonesia bukan berarti harus menutup mata terhadap luka yang ada di dalamnya.

Kita boleh bangga.

Tetapi kita juga boleh prihatin.

Kita boleh berharap.

Tetapi kita juga boleh bertanya.

Kita boleh mencintai negeri ini sambil mengkritik mereka yang diberi amanah untuk mengelolanya.

Sebab kritik tidak selalu lahir dari kebencian.

Kadang kritik justru lahir karena kita masih peduli.

Kita ingin uang negara benar-benar kembali kepada rakyat.

Kita ingin pembangunan tidak hanya menghasilkan proyek, tetapi juga menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Kita ingin pemberantasan korupsi benar-benar menyentuh mereka yang merugikan negara, bukan berhenti sebagai slogan.

Kita ingin pejabat mengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang jauh dari realitas rakyatnya.

Kita ingin pembangunan memiliki pandangan jauh ke depan, bukan hanya mengejar apa yang terlihat selesai hari ini.

Dan kita ingin mereka yang sedang berduka karena bencana tidak merasa sendirian di negeri sendiri.

Sebab bencana mengajarkan satu hal yang sangat sederhana:

ketahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga dari seberapa kuat ia memastikan rakyatnya tidak kehilangan masa depan setelah bencana.

Pada akhirnya, mungkin kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk hidup layak.

Memiliki rasa aman.

Memiliki perlindungan ketika musibah datang.

Memiliki pekerjaan yang manusiawi.

Mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Mampu menabung untuk masa depan.

Dan memiliki keyakinan bahwa ketika kehidupan tiba-tiba jatuh, negara tidak akan membiarkan kita jatuh sendirian.

Maka pada 17 Agustus tahun ini, di tengah merah putih yang berkibar dan perayaan yang tetap berlangsung, aku ingin menyimpan satu pertanyaan kecil:

Sudah sejauh mana kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan rakyatnya?

Karena Indonesia bukan hanya tentang pemerintah.

Bukan hanya tentang pejabat.

Bukan hanya tentang angka pertumbuhan.

Bukan hanya tentang proyek pembangunan.

Indonesia adalah manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

Dan selama masih ada rakyat yang bekerja keras tetapi tidak mampu menabung, keluarga yang hidup hanya selangkah dari kerentanan, masyarakat yang masih berjuang membangun kembali kehidupan setelah bencana, serta suara-suara kecil yang merasa tidak didengar—

mungkin tugas kita belum selesai.

Dirgahayu Indonesia.

Semoga kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak berhenti sebagai sebuah peringatan, tetapi perlahan benar-benar menjadi sesuatu yang dirasakan oleh setiap manusia yang hidup di dalamnya. ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

~Hyull ๐Ÿ’™

Minggu, Agustus 16, 2026

Realita Menjadi Dewasa: Ternyata Hidup Tidak Seindah Anime dan Drama Korea

Dulu Aku Ingin Cepat Dewasa

Semakin bertambah usia, aku mulai sadar...

Ternyata menjadi dewasa tidak seperti yang dulu kubayangkan.

Waktu kecil, aku ingin sekali cepat besar.

Menurutku, menjadi orang dewasa itu pasti menyenangkan.

Bisa punya uang sendiri. Bisa membeli apa pun yang diinginkan. Bisa pergi ke mana saja tanpa harus meminta izin. Bisa melakukan banyak hal tanpa bergantung pada orang lain.

Kelihatannya bebas sekali, ya?

Mungkin karena dulu aku terlalu sering melihat kehidupan yang indah di anime, drama Korea, atau cerita-cerita novel yang kubaca.

Tokoh utamanya memang sering mengalami masalah. Kadang hidupnya berat. Kadang harus melewati banyak kesulitan.

Tapi selalu ada seseorang yang datang menolong.

Selalu ada keluarga yang hangat.

Selalu ada sahabat yang menemani.

Selalu ada seseorang yang berkata, "Tidak apa-apa, kamu tidak sendiri."

Dan pada akhirnya...

Semua akan baik-baik saja.

Happy ending.

Waktu kecil, aku pikir kehidupan nyata juga akan seperti itu.

Aku pikir nanti ketika dewasa, aku akan menjadi seseorang yang bebas, bahagia, dan hidup tanpa terlalu banyak beban.

Ternyata...

Tidak sesederhana itu.

Ternyata Dewasa Tidak Hanya Tentang Kebebasan

Semakin dewasa, aku justru semakin sering bertanya dalam hati,

"Kenapa hidup capek, ya?"

Ternyata menjadi dewasa bukan hanya tentang mendapatkan kebebasan.

Ada tanggung jawab yang ikut datang bersamanya.

Mulai memikirkan pekerjaan.

Memikirkan uang.

Memikirkan masa depan.

Memikirkan keluarga.

Belajar menjaga ucapan supaya tidak menyakiti orang lain.

Belajar memahami orang lain meskipun terkadang diri sendiri juga ingin dipahami.

Kadang aku bertanya...

Kalau aku terus berusaha menjaga perasaan semua orang, siapa yang akan menjaga perasaanku?

Kalau semua orang ingin dimengerti, kapan aku dimengerti?

Ada kalanya aku juga ingin menjadi seseorang yang boleh merasa lelah.

Aku juga ingin sesekali ada yang berkata,

"Sudah... hari ini istirahat saja. Kamu tidak perlu kuat terus."

Karena ternyata...

Capek juga ya, harus selalu terlihat baik-baik saja.

Capek harus tersenyum ketika hati sedang penuh.

Capek harus meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal sebenarnya ingin menangis sebentar.

Ketika Aku Mulai Melihat Kembali Hidupku

Tapi beberapa hari yang lalu, aku mencoba berhenti sebentar.

Aku bertanya kepada diriku sendiri...

"Benarkah hidupku hanya berisi hal-hal yang tidak sesuai harapan?"

Lalu aku mencoba melihat ke belakang.

Dan ternyata...

Tidak juga.

Mungkin aku terlalu sibuk melihat apa yang belum aku punya sampai lupa melihat apa yang sudah berhasil aku dapatkan.

Ternyata Ada Mimpi Kecil yang Diam-Diam Sudah Terwujud

Dulu waktu kecil, aku pernah ingin sekali makan es krim sebanyak yang aku mau.

Dulu rasanya melihat orang membeli es krim besar itu seperti melihat sesuatu yang mewah sekali.

Sekarang?

Aku pernah membeli satu ember es krim dan memakannya sendiri.

Walaupun akhirnya eneg juga karena kebanyakan, haha.

Tapi lucunya, aku ingat ada rasa bahagia kecil waktu membelinya.

Seperti ada bagian kecil dari diriku yang berkata,

"Akhirnya kita bisa beli sendiri."

Dulu aku juga pernah ingin makan kue ulang tahun sesuka hati.

Sekarang aku bisa membelinya sendiri.

Memang bukan sesuatu yang besar.

Tapi ternyata ada kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada diri sendiri.

Aku juga ingat dulu sering melihat jajanan di minimarket.

Kadang ingin membeli, tapi harus berpikir dulu.

"Uangnya cukup tidak, ya?"

Sekarang memang aku belum bisa membeli semua yang aku mau.

Masih harus berpikir juga.

Tapi sesekali aku bisa mengambil camilan yang aku suka tanpa merasa terlalu bersalah.

Dan ternyata...

Hal kecil seperti itu dulu adalah sesuatu yang pernah aku inginkan.

Benda-Benda Sederhana yang Dulu Hanya Ada di Bayangan

Dulu aku pernah menggambar HP di kertas, di kayu, dan seringkali di pecahan genteng yang dibentuk kotak untuk dijadikan mainan.

Ketika zamannya Android mulai ramai, aku bahkan pernah memakai kaca bekas bedak yang bentuknya kotak memanjang, lalu membayangkan itu adalah HP layar sentuh.

Kalau diingat sekarang...

Lucu juga.

Anak kecil itu hanya punya imajinasi sederhana.

Tapi sekarang HP benar-benar ada di tanganku.

Sesuatu yang dulu hanya bisa kubayangkan, sekarang menjadi benda biasa yang setiap hari kugunakan.

Aku juga pernah bermimpi punya laptop sendiri.

Waktu akhirnya bisa membeli laptop, memang bukan laptop baru yang mahal.

Laptop bekas.

Dan sekarang malah sedang rusak.

Tapi aku masih ingat perasaan ketika pertama kali memilikinya.

Ada rasa bangga.

Karena untuk pertama kalinya aku punya sesuatu yang kubeli dari hasil usahaku sendiri.

Begitu juga dengan tablet yang sekarang aku punya.

Bukan tablet mahal.

Aku membelinya saat diskon.

Tapi tetap saja...

Aku punya tablet yang sekarang sering kupakai untuk belajar, menulis, dan menunjang karierku.

Dulu, itu adalah salah satu hal yang ingin kumiliki.

Aku pernah membeli cincin emas pertamaku.

Memang kecil.

Tidak sampai dua gram.

Tapi rasanya berbeda ketika memakai sesuatu yang kubeli sendiri.

Bukan karena barangnya mahal.

Tapi karena ada cerita di baliknya.

Belajar Memberikan Hal Baik untuk Diri Sendiri

Pelan-pelan, aku juga mulai belajar merawat diri.

Dulu skincare terasa seperti sesuatu yang jauh.

Sekarang aku punya skincare sederhana.

Facial wash, moisturizer, sunscreen, bedak, dan lipstick yang juga sering kupakai sebagai blush on atau eyeshadow supaya lebih praktis.

Tidak mahal.

Sebagian besar bahkan harganya di bawah lima puluh ribu.

Tapi ternyata...

Merawat diri sendiri juga termasuk bentuk sayang kepada diri sendiri.

Aku juga punya motor.

Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja.

Tapi buatku, motor berarti kemandirian.

Jadi kalau belanja bulanan, aku tidak perlu lagi merepotkan orang lain untuk mengantar.

Aku bisa pergi sendiri.

Aku membeli kasur busa untuk diriku sendiri.

Aku juga akhirnya punya mesin cuci.

Mungkin terdengar sederhana.

Tapi buatku, itu adalah bentuk kecil bahwa hidupku perlahan menjadi lebih mudah.

Tanganku tidak perlu merasakan alergi akibat deterjen.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata dulu adalah doa-doa kecil yang diam-diam sudah dijawab.

Perpustakaan Kecil yang Masih Dalam Perjalanan

Ada satu mimpi yang sampai sekarang masih berjalan.

Aku ingin punya perpustakaan pribadi.

Dulu aku membayangkannya ruangan khusus dengan rak-rak buku memenuhi dinding.

Ada kursi nyaman.

Ada sudut kecil untuk membaca.

Tempat yang tenang untuk melarikan diri sebentar dari dunia.

Sekarang?

Perpustakaan itu belum ada.

Buku-bukuku masih berada di rak sederhana di kamar.

Sebagian besar rak itu masih berisi buku sekolah dan buku lama yang sudah menemaniku bertahun-tahun.

Kalau buku yang benar-benar kubeli sendiri?

Masih sedikit.

Mungkin baru mengisi setengah bagian bawah rak.

Belasan buku.

Bahkan beberapa masih rapi karena belum sempat kubaca.

Tapi setiap melihat rak itu, aku tetap tersenyum.

Karena aku sadar...

Aku tidak lagi hanya bermimpi.

Aku sedang membangun mimpi itu.

Sedikit demi sedikit.

Masih Ada Mimpi yang Belum Sampai

Tentu saja masih banyak mimpi yang belum tercapai.

Aku masih ingin punya rumah yang benar-benar kubeli sendiri.

Bukan hadiah.

Bukan warisan.

Bukan sekadar tempat tinggal.

Tapi rumah yang suatu hari nanti bisa membuatku berkata,

"Rumah ini hasil perjuanganku."

Aku juga ingin umrah.

Pernah mulai menabung, tapi ternyata uangnya harus dipakai untuk kebutuhan lain.

Ya... Begitulah hidup, haha.

Kadang kita sudah membuat rencana, tapi Allah punya jalan yang berbeda.

Aku juga punya keinginan untuk merasakan umrah sendirian.

Bukan karena tidak ingin ditemani.

Tapi karena aku ingin merasakan perjalanan itu sebagai perjalanan antara aku dan Allah.

Mungkin belum sekarang.

Mungkin memang belum waktunya.

Melihat Hidup dari Sudut Pandang yang Berbeda

Saat ini, aku mencoba melihat hidupku dari sudut pandang yang berbeda.

Aku memang belum menjadi orang yang benar-benar mapan.

Masih banyak hal yang ingin aku capai.

Masih ada doa-doa yang belum terjawab.

Masih ada hari-hari ketika aku merasa lelah dan bertanya, "Kapan ya?"

Tapi ternyata...

Aku sudah berjalan cukup jauh.

Mungkin Hyull kecil tidak akan kecewa melihatku sekarang.

Mungkin dia tidak akan bertanya,

"Kenapa kita belum punya rumah?"

Mungkin dia justru akan tersenyum dan berkata,

"Ternyata kita berhasil ya."

"Pelan-pelan, tapi kita berhasil."

Dan mungkin...

Itu sudah cukup.

Untuk Hyull Kecil yang Masih Berani Bermimpi

Tulisan ini bukan tentang seseorang yang sudah berhasil mencapai semua impiannya.

Karena aku masih berjuang.

Masih belajar.

Masih sering merasa lelah.

Masih sering kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Tapi aku tidak ingin terus melihat semua hal yang belum kumiliki.

Aku juga ingin mengingat semua hal kecil yang dulu hanya menjadi mimpi.

Karena mungkin...

Kita sering terlalu sibuk mengejar mimpi berikutnya sampai lupa bahwa beberapa doa kecil kita sebenarnya sudah dijawab.

Kalau hari ini kamu juga sedang merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana...

Coba berhenti sebentar.

Lihat ke belakang.

Mungkin ada versi kecil dari dirimu yang sedang tersenyum karena melihat sejauh apa kamu sudah bertahan.

Untuk Hyull kecil...

Terima kasih sudah berani bermimpi.

Memang belum bisa mewujudkan semuanya.

Tapi tenang ya...

Kita masih mengusahakannya.

Satu per satu. 

Karena yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi kita tidak berhenti berjalan. - Hyull ๐Ÿ’™


Kamis, Agustus 13, 2026

Lirik dan Terjemahan Raiko - ALIVE : Naruto Ending 4

Artist : Raiko 

Title : ALIVE

Realese date : 18 Febuari 2004

Kanji Lyrics, ๆญŒ่ฉž + Romaji + Arti Bahasa Indonesia

Naruto Ending 4

่ชฐใ ใฃใฆๅคฑๆ•—ใฏใ™ใ‚‹ใ‚“ใ  
Dare datte shippai wa surun da
Semua orang pernah gagal 

ๆฅใšใ‹ใ—ใ„ใ“ใจใ˜ใ‚ƒใชใ„
Hazukashii koto ja nai 
Itu bukanlah hal yang memalukan 

ใ“ใฎๅ‚ทใ‚’็„ก้ง„ใซใ—ใชใ„ใง 
Kono kizu wo muda ni shinaide  
Jangan sia-sia kan luka ini 

็ฌ‘ใฃใฆๆญฉใ‘ใ‚Œใฐใ„ใ„
Waratte arukereba ii 
Tersenyumlah lalu mulailah berjalan


ใใ† ้™ใ‹ใช็ฉบๆฐ—ๅธใ„่พผใฟ 
Sou shizuka na kuuki suikomi 
Yah, hiruplah udara segar 

ๅบƒใ็ฉบใซ้ก”ไธŠใ’้ฃ›ใณ่พผใฟ
Hiroki sora ni kao age tobikomi 
Tegakkan wajahmu menghadap langit luas, dan terbanglah 

ๆ™‚ใซ้›จใŒ้™ใฃใŸใ‚‰ใฒใจไผ‘ใฟ ใ˜ใ‚ƒใ‚
Toki ame ga futtara hito yasumi jaa 
Jika hujan turun, beristirahatlah 

 ่กŒใๅ…ˆใฏ้ขจๅนใใพใพใซ
Iku saki wa kaze fuku mama ni 
Tujuan kita sesuai dengan arah angin berhembus 

 ใŸใใ•ใ‚“ใฎใพใจใฃใฆใ‚‹ๅพŒๆ‚” 
Takusan nomattoteru koukai 
Kita mengkoleksi banyak penyesalan 

ใ“ใฎๅ‚ทใ‚’็„ก้ง„ใซใ—ใกใ‚ƒใ—ใ‚‡ใ†ใชใ„
Kono kizu wo muda ni shicha shounai 
Kita tak boleh menyia-nyiakan luka ini 

่…•ใซๅ‹ฒ็ซ ๅˆปใฟ่กŒใ“ใ†ใ‹ใ„ ็”Ÿๆถฏ 
Mune ni kunshou kizami ikoukai shougai 
Mari kita ukir mendali dihati untuk seumur hidup 

ใใ†ใ“ใฃใ‹ใ‚‰ใŒShow Time
Sou kokkara ga Show time 
Yah, mulai sekarang adalah waktu pertunjukannya


่‰ฒ่คชใ›ใŸใ“ใฎใƒใƒฉ ไธญใง
Iroaseta kono pora naka de 
Dalam foto polaroid yang memudar ini 

็”Ÿใใฆใ‚‹้ŽๅŽปใฎ่‡ชๅˆ†ใจใ‹
Ikiteru kako no jibun toka 
Ada gambaran hidup diriku dari masa lalu

ใ„ใคใ‚‚ใƒ„ใƒซใ‚“ใงๅฆใฎใชใ„ใ‚ˆใ†ใซ 
Itsumo tsurunde hi no nai you ni 
Kita selalu berusaha mengalir dan tak dapat dihentikan 

ๅฑ…ๅ ดๆ‰€่ฆ‹ใคใ‘ใฆ้™ฝๅฝ“ใŸใ‚‹ใ‚ˆใ†ใซ
Ibasho mitsukete hiataru you ni 
Kita juga selalu mencari tempat dimana kita bisa terkena sinar matahari 

ใ“ใ‚“ใชๆ„Ÿใ˜ใงๆ—ฅใ€…่‘›่—ค 
Konna kanjite hibi kattou
Masalah macam ini yang terjadi setiap hari

ไธ€ๆญฉ่ธใฟๅ‡บใ™ในใ้ก˜ๆœ›
Ippou fumidasu beki ganbou 
Satu langkah harapan yang harus dimulai

็œŸๅ‘ ๅ‹่ฒ ่‡ชๅˆ†ใซๅ‘ใ‘
Makkou shoubu jibun ni muke 
Berhadapan satu lawan satu dengan diri sendiri 

ไธ€ๆŽƒ ใ“ใ“ใงใ“ใฎๆญŒ้Ÿฟใ‹ใใ†
Issou koko de kono uta hibika sou
Selesaikanlah, mari menggemakan lagu ini disini


่ชฐใ ใฃใฆๅคฑๆ•—ใฏใ™ใ‚‹ใ‚“ใ  
Dare datte shippai wa surun da
Semua orang pernah gagal 

ๆฅใšใ‹ใ—ใ„ใ“ใจใ˜ใ‚ƒใชใ„
Hazukashii koto ja nai 
Itu bukanlah hal yang memalukan 

ใ“ใฎๅ‚ทใ‚’็„ก้ง„ใซใ—ใชใ„ใง 
Kono kizu wo muda ni shinaide  
Jangan sia-sia kan luka ini 

็ฌ‘ใฃใฆๆญฉใ‘ใ‚Œใฐใ„ใ„
Waratte arukereba ii 
Tersenyumlah lalu mulailah berjalan


ไปŠๆ—ฅๅง‹ใพใ‚Šใ‚’ๅ‘Šใ’ใ‚‹ๆœ็„ผใ‘
Kyou hajimari wo tsugeru asayake 
Matahari terbit yang menandai awal hari ini 

 ๅคขใจ็พๅฎŸใฎ็‹ญ้–“ใง
Yume to genjitsu no hazama de
Di celah antara mimpi dan kenyataan 

What' a say ใ“ใฎๅฃฐๆžฏใ‚Œใ‚‹ใใฎๆ—ฅใพใง
What' a say kono koe kareru sono hi made 
Apa yang kita katakan, sampai hari dimana suara ini habis 

่ปขใŒใ‚Š็ถšใ‘ใ‚‹ Another Day
Korogari tsuzukeru Another Day
Tetaplah lewati hari-hari yang lain  

ๅ‡บ็™บ้€ฒ่กŒ ใ‹ใพใ›้Ÿปใ‚’ ๆ–ฐ้“ ้–‹ๆ‹“้“ไธ€ๆœฌ
Shuppatsu shinkou kamase in wo shindou kaitaku michi ippon
Sajak ini yang siap untuk membuka jalan setapak baru 

ใ‚„ใŒใฆ้€šใ‚Šใซ่Šฑๅ’ฒใ‘ 
Yagate toori ni hana sake 
Akhirnya bunga-bunga bermekaran dijalanan 

ใใ—ใฆๆœชๆฅใซๅ‘ใ‘ใฆ็พฝใฐใŸใ‘
Soshite mirai ni mukete mabatake
Lalu kembangkan sayang menghadap masa depan


็พๅฎŸ้‡ใใฎใฃใ‹ใ‚‹ใŒ 
Genjitsu omoku nokkaru ga 
Kenyataan memang berat 

็›ฎๆŒ‡ใ›้ ‚็‚น Like a No Culture
Mezase chouten Like a No Culture
Tapi tetaplah bidik puncak seperti tak berbudaya 

็ŒฟใŒ็Œฟใซใ—ใ‹ใชใ‚Œใชใ„ 
Saru ga saru ni shika narenai
Monyet hanya bisa menjadi monyet 

่‡ชๅˆ†ใฏ่‡ชๅˆ†ใซใ—ใ‹ใชใ‚Œใชใ„
Jibun wa jibun ni shika narenai 
Akupun hanya bisa menjadi diri sendiri 

ๆ˜Žๆ—ฅใ‚’ๆฐ—ใซใ—ใฆไธ‹ๅ‘ใๅ‰ใซ 
Asu wo ki ni shite shitamuku mae ni 
Sebelum mengkhawatirkan hari esok 

ไปŠๆ—ฅใฎ่‡ชๅˆ†ใฎๆฐ—ใฎๅ‘ใใพใพใซ
Kyou no jibun no ki no muku mama ni 
Jadilah diri sendiri hari ini 

ๅ†็”Ÿ ไปŠๆ—ฅใฏ่ถ…ๅฟซๆ™ด 
Saisei kyou wa choukaisen 
Lahir kembalilah, hari ini cuacanya bagus sekali 

ไฝ•ใ‚‚ๆ‚ฉใฟใชใ‚“ใ‹ใชใ„ใœ
Nani mo nayami nanka nai ze
Tak ada yang harus dikhawatirkan


้‡ใใฎใ—ใ‹ใ‹ใ‚‹็พๅฎŸใŒ 
Omoku no shikakaru genjitsu ga 
Kenyataan yang berat 

ไปŠใฎๅƒ•ใ‚’่ฒฌใ‚็ซ‹ใฆใฆใ‚‹
Ima no boku wo semetateteru 
Menyerang diriku yang sekarang 

็ฐกๅ˜ใซใฏใ„ใ‹ใชใ„ใช 
Kantan ni wa ikanai na 
Semuanya tak mudah 

ใใ‚“ใชใ“ใจใใ‚‰ใ„ๆ‰ฟ็Ÿฅใ—ใฆใ‚‹ใ‚ˆ
Sonna koto kurai shouchi shiteru yo
Kalau itu saja aku sudah mengerti


่ชฐใ ใฃใฆๅคฑๆ•—ใฏใ™ใ‚‹ใ‚“ใ  
Dare datte shippai wa surun da
Semua orang pernah gagal 

ๆฅใšใ‹ใ—ใ„ใ“ใจใ˜ใ‚ƒใชใ„
Hazukashii koto ja nai 
Itu bukanlah hal yang memalukan 

ใ“ใฎๅ‚ทใ‚’็„ก้ง„ใซใ—ใชใ„ใง 
Kono kizu wo muda ni shinaide  
Jangan sia-sia kan luka ini 

็ฌ‘ใฃใฆๆญฉใ‘ใ‚Œใฐใ„ใ„
Waratte arukereba ii 
Tersenyumlah lalu mulailah berjalan


ใŸใใ•ใ‚“ใฎๅพŒๆ‚”ใ‚’ใพใจใฃใฆ 
Takusan no koukai wo matotte 
Kita mengkoleksi banyak penyesalan 

ๅ‘ณใฎใ‚ใ‚‹ไบบใซใชใ‚‹ใ•
Aji no aru hito ni naru sa 
Dan menjadi manusia yang memiliki rasa 

ๆ‚ฒใ—ใฟใ‚‚้ขจใซๅค‰ใˆใฆ 
Kanashimi mo kaze ni kaete 
Kesedihanpun berubah menjadi angin 

ๅผทใ้€ฒใ‚“ใง่กŒใ‘ใ‚Œใฐใ„ใ„
Tsuyoku susunde ikereba ii 
Majulah dengan kuat 


ใใ† ้™ใ‹ใช็ฉบๆฐ—ๅธใ„่พผใฟ 
Sou shizuka na kuuki suikomi 
Hiruplah udara segar 

ๅบƒใ็ฉบใซ้ก”ไธŠใ’้ฃ›ใณ่พผใฟ
Hiroki sora ni kao age tobikomi 
Tegakkan wajahmu menghadap langit luas, dan terbanglah 

ๆ™‚ใซ้›จใŒ้™ใฃใŸใ‚‰ใฒใจไผ‘ใฟ ใ˜ใ‚ƒใ‚
Toki ame ga futtara hito yasumi jaa 
Jika hujan turun, beristirahatlah 

่กŒใๅ…ˆใฏ้ขจๅนใใพใพใซ
Iku saki wa kaze fuku mama ni 
Tujuan kita sesuai dengan arah angin berhembus 

ใŸใใ•ใ‚“ใฎใพใจใฃใฆใ‚‹ๅพŒๆ‚” 
Takusan no matotteru koukai 
Kita mengkoleksi banyak penyesalan 

ใ“ใฎๅ‚ทใ‚’็„ก้ง„ใซใ—ใกใ‚ƒใ—ใ‚‡ใ†ใชใ„
Kono kizu wo muda ni shicha shounai 
Kita tak boleh menyia-nyiakan luka ini 

่…•ใซๅ‹ฒ็ซ ๅˆปใฟ่กŒใ“ใ†ใ‹ใ„ ็”Ÿๆถฏ 
Mune ni kunshou kizami ikou kai shougai 
Mari kita ukir mendali dihati untuk seumur hidup 

ใใ†ใ“ใฃใ‹ใ‚‰ใŒShow Time
Sou kokkara ga Show Time 
Yah, mulai sekarang adalah waktu pertunjukannya  


Yups, setelah web yang berisi lirik kesukaan ku tumbang. Akhirnya aku bersusah payah upload sendiri. Wkwkkk
Buat arsip pribadi ku, karna aku suka lirik ini.

Ciao~