“Cinta yang setara.”
Aku sering mendengar kalimat itu, tapi sampai sekarang aku masih bertanya-tanya: sebenarnya apa maksudnya?
Setara dari segi harta?
Atau effort?
Atau mungkin cara memperlakukan satu sama lain?
Kalau yang dimaksud adalah effort, effort seperti apa?
Apakah harus sama-sama berusaha dalam bentuk yang sama?
Kalau laki-laki bekerja mencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah, apakah itu tidak setara karena bentuk usahanya berbeda?
Atau kalau sama-sama tidak memberikan effort, apakah itu juga bisa disebut setara?
Lalu bagaimana kalau hubungan itu dimulai dari laki-laki yang mendekati, kemudian perempuan merespons? Apakah itu tetap setara?
Semakin dipikirkan, semakin aku merasa bahwa “setara” bukan sesuatu yang sesederhana membagi semuanya menjadi 50:50.
Begitu juga dengan harta.
Apakah cinta yang setara berarti laki-laki dan perempuan harus berasal dari kondisi ekonomi yang sama?
Sama-sama miskin?
Sama-sama menengah?
Sama-sama kaya?
Bagaimana dengan perempuan yang sejak awal sudah hidup nyaman, kemudian memilih meninggalkan kenyamanan itu untuk hidup bersama laki-laki yang jauh lebih sederhana?
Kalau laki-laki tersebut sadar diri, mungkin ia justru akan berpikir, “Aku nggak mau membuat hidupnya menjadi lebih buruk hanya karena memilihku.”
Lalu ia berusaha.
Bukan karena harga dirinya terluka karena perempuan lebih berada, tetapi karena ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan.
Sebaliknya, kalau laki-laki tersebut justru merasa nyaman bergantung kepada perempuan?
Apakah itu masih bisa disebut cinta yang setara?
Dan dari semua pertanyaan itu, ada satu pertanyaan lain yang belakangan ini sering muncul di kepalaku:
Adakah laki-laki yang benar-benar laki-laki?
Mungkin pertanyaan ini terdengar bias.
Dan aku sadar, aku mengatakannya sebagai seorang perempuan. Jadi tentu saja aku lebih sering melihat hubungan dari sudut pandang perempuan.
Tapi aku tidak bisa menutup mata terhadap apa yang kulihat di sekitarku.
Marriage is scary.
Kalimat itu entah kenapa masih sering terngiang di kepalaku.
Bukan karena pernikahan itu sendiri pasti menakutkan.
Tapi karena aku melihat terlalu banyak contoh yang membuatku berpikir bahwa menikah dengan orang yang salah bisa menjadi sesuatu yang sangat melelahkan.
Aku melihat perempuan yang masih harus pontang-panting mengurus rumah, memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, bahkan mungkin juga bekerja.
Sementara laki-lakinya?
Goleran.
Main HP.
Dan ketika anak menangis, bukannya berusaha menenangkan atau mengurus anaknya sendiri, malah berteriak memanggil istrinya yang sebenarnya sedang sibuk mengerjakan hal lain.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele.
Tapi menurutku, justru dari hal-hal kecil itulah karakter seseorang terlihat.
Karena menjadi suami bukan hanya tentang membawa uang pulang.
Menjadi ayah bukan hanya tentang namanya tercantum di kartu keluarga.
Dan menjadi laki-laki bukan hanya tentang menjadi pihak yang secara biologis disebut laki-laki.
Ada tanggung jawab.
Ada inisiatif.
Ada kepedulian.
Ada kemauan untuk melihat apa yang perlu dikerjakan tanpa harus selalu menunggu diminta.
Aku pernah melihat keluarga yang menurutku bahagia.
Aku pernah melihat laki-laki yang benar-benar mengambil perannya sebagai suami dan ayah.
Dan aku suka melihatnya.
Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat seorang laki-laki yang tidak merasa kehilangan harga dirinya hanya karena ikut mengurus anak.
Yang tidak merasa “membantu istri”, karena dia sadar bahwa rumah dan anak juga merupakan tanggung jawabnya.
Yang ketika melihat istrinya lelah, tidak bertanya, “Aku harus ngapain?”, tetapi melihat sendiri apa yang bisa ia lakukan.
Dan ketika melihat keluarga seperti itu, aku justru berpikir:
Betapa beruntungnya perempuan yang mendapatkan laki-laki seperti itu.
Sayangnya, semakin banyak melihat kenyataan di sekitar, semakin aku merasa bahwa laki-laki seperti itu tidak sebanyak yang kuharapkan.
Mungkin sebenarnya mereka ada.
Mungkin aku hanya lebih sering melihat contoh yang buruk daripada yang baik.
Atau mungkin memang laki-laki yang benar-benar siap menjadi suami dan ayah itu tidak sebanyak yang kita bayangkan.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, semua itu membuatku semakin memahami kenapa sebagian perempuan takut menikah.
Bukan karena mereka tidak ingin dicintai.
Bukan karena mereka ingin hidup sendirian selamanya.
Tapi karena mereka takut mendapatkan seseorang yang pada akhirnya justru membuat hidup mereka lebih berat.
Takut harus mengurus dua anak, padahal salah satunya adalah suami sendiri.
Takut sudah lelah seharian, tetapi masih harus meminta pasangan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya bisa ia sadari sendiri.
Takut ketika menikah, kehidupan yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi tempat lain yang menguras tenaga.
Dan mungkin itu juga alasan mengapa konsep “cinta yang setara” terasa begitu penting bagiku.
Bukan berarti harus sama-sama punya uang sebanyak itu.
Bukan berarti harus sama-sama bekerja.
Bukan berarti semua hal harus dibagi tepat 50:50.
Mungkin kesetaraan justru berarti:
sama-sama merasa bertanggung jawab atas hubungan yang sedang dijalani.
Ketika salah satu sedang lemah, yang lain tidak menghitung apakah kemarin ia sudah memberi lebih banyak.
Ketika salah satu menghasilkan lebih banyak uang, yang lain tidak merasa berhak untuk bermalas-malasan.
Ketika salah satu lebih banyak mengurus rumah, yang lain tidak menganggap pekerjaan itu sebagai sesuatu yang otomatis menjadi kewajibannya.
Dan ketika salah satu sudah berusaha keras, yang lain tidak memilih untuk menikmati hasilnya sambil berpangku tangan.
Mungkin cinta yang setara bukan tentang siapa memberi lebih banyak.
Tapi tentang apakah keduanya sama-sama punya keinginan untuk menjaga.
Sama-sama punya rasa tanggung jawab.
Sama-sama mau tumbuh.
Dan yang paling penting, sama-sama tidak menjadikan pasangannya sebagai tempat bergantung tanpa batas.
Aku tidak mencari laki-laki yang sempurna.
Aku juga tidak yakin diriku sendiri akan menjadi perempuan yang sempurna dalam sebuah pernikahan.
Tapi kalau suatu hari aku menikah, aku ingin menikah dengan seseorang yang ketika melihat hidup bersama sebagai sebuah perjalanan, tidak berpikir:
“Apa yang bisa aku dapatkan dari hubungan ini?”
Melainkan:
“Apa yang bisa kita bangun bersama?”
Karena mungkin, pada akhirnya, cinta yang setara bukan tentang dua orang yang memiliki hal yang sama.
Melainkan dua orang yang sama-sama bersedia memikul kehidupan yang sama.
Dan sampai hari ini, setelah melihat begitu banyak hal di sekitarku, aku masih punya satu pertanyaan yang belum bisa kujawab:
Adakah di luar sana laki-laki yang benar-benar laki-laki?
Bukan laki-laki yang sempurna.
Bukan yang selalu kuat.
Bukan yang selalu punya uang.
Tapi laki-laki yang tahu bahwa menjadi suami berarti menjadi pasangan.
Menjadi ayah berarti menjadi orang tua.
Dan mencintai seorang perempuan berarti tidak membiarkannya berjuang sendirian ketika seharusnya mereka berjuang bersama.
- Hyull 💙