Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Minggu, September 06, 2026

Cinta yang Setara

“Cinta yang setara.”

Aku sering mendengar kalimat itu, tapi sampai sekarang aku masih bertanya-tanya: sebenarnya apa maksudnya?

Setara dari segi harta?

Atau effort?

Atau mungkin cara memperlakukan satu sama lain?

Kalau yang dimaksud adalah effort, effort seperti apa?

Apakah harus sama-sama berusaha dalam bentuk yang sama?

Kalau laki-laki bekerja mencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah, apakah itu tidak setara karena bentuk usahanya berbeda?

Atau kalau sama-sama tidak memberikan effort, apakah itu juga bisa disebut setara?

Lalu bagaimana kalau hubungan itu dimulai dari laki-laki yang mendekati, kemudian perempuan merespons? Apakah itu tetap setara?

Semakin dipikirkan, semakin aku merasa bahwa “setara” bukan sesuatu yang sesederhana membagi semuanya menjadi 50:50.

Begitu juga dengan harta.

Apakah cinta yang setara berarti laki-laki dan perempuan harus berasal dari kondisi ekonomi yang sama?

Sama-sama miskin?

Sama-sama menengah?

Sama-sama kaya?

Bagaimana dengan perempuan yang sejak awal sudah hidup nyaman, kemudian memilih meninggalkan kenyamanan itu untuk hidup bersama laki-laki yang jauh lebih sederhana?

Kalau laki-laki tersebut sadar diri, mungkin ia justru akan berpikir, “Aku nggak mau membuat hidupnya menjadi lebih buruk hanya karena memilihku.”

Lalu ia berusaha.

Bukan karena harga dirinya terluka karena perempuan lebih berada, tetapi karena ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan.

Sebaliknya, kalau laki-laki tersebut justru merasa nyaman bergantung kepada perempuan?

Apakah itu masih bisa disebut cinta yang setara?

Dan dari semua pertanyaan itu, ada satu pertanyaan lain yang belakangan ini sering muncul di kepalaku:

Adakah laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Mungkin pertanyaan ini terdengar bias.

Dan aku sadar, aku mengatakannya sebagai seorang perempuan. Jadi tentu saja aku lebih sering melihat hubungan dari sudut pandang perempuan.

Tapi aku tidak bisa menutup mata terhadap apa yang kulihat di sekitarku.

Marriage is scary.

Kalimat itu entah kenapa masih sering terngiang di kepalaku.

Bukan karena pernikahan itu sendiri pasti menakutkan.

Tapi karena aku melihat terlalu banyak contoh yang membuatku berpikir bahwa menikah dengan orang yang salah bisa menjadi sesuatu yang sangat melelahkan.

Aku melihat perempuan yang masih harus pontang-panting mengurus rumah, memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, bahkan mungkin juga bekerja.

Sementara laki-lakinya?

Goleran.

Main HP.

Dan ketika anak menangis, bukannya berusaha menenangkan atau mengurus anaknya sendiri, malah berteriak memanggil istrinya yang sebenarnya sedang sibuk mengerjakan hal lain.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele.

Tapi menurutku, justru dari hal-hal kecil itulah karakter seseorang terlihat.

Karena menjadi suami bukan hanya tentang membawa uang pulang.

Menjadi ayah bukan hanya tentang namanya tercantum di kartu keluarga.

Dan menjadi laki-laki bukan hanya tentang menjadi pihak yang secara biologis disebut laki-laki.

Ada tanggung jawab.

Ada inisiatif.

Ada kepedulian.

Ada kemauan untuk melihat apa yang perlu dikerjakan tanpa harus selalu menunggu diminta.

Aku pernah melihat keluarga yang menurutku bahagia.

Aku pernah melihat laki-laki yang benar-benar mengambil perannya sebagai suami dan ayah.

Dan aku suka melihatnya.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat seorang laki-laki yang tidak merasa kehilangan harga dirinya hanya karena ikut mengurus anak.

Yang tidak merasa “membantu istri”, karena dia sadar bahwa rumah dan anak juga merupakan tanggung jawabnya.

Yang ketika melihat istrinya lelah, tidak bertanya, “Aku harus ngapain?”, tetapi melihat sendiri apa yang bisa ia lakukan.

Dan ketika melihat keluarga seperti itu, aku justru berpikir:

Betapa beruntungnya perempuan yang mendapatkan laki-laki seperti itu.

Sayangnya, semakin banyak melihat kenyataan di sekitar, semakin aku merasa bahwa laki-laki seperti itu tidak sebanyak yang kuharapkan.

Mungkin sebenarnya mereka ada.

Mungkin aku hanya lebih sering melihat contoh yang buruk daripada yang baik.

Atau mungkin memang laki-laki yang benar-benar siap menjadi suami dan ayah itu tidak sebanyak yang kita bayangkan.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, semua itu membuatku semakin memahami kenapa sebagian perempuan takut menikah.

Bukan karena mereka tidak ingin dicintai.

Bukan karena mereka ingin hidup sendirian selamanya.

Tapi karena mereka takut mendapatkan seseorang yang pada akhirnya justru membuat hidup mereka lebih berat.

Takut harus mengurus dua anak, padahal salah satunya adalah suami sendiri.

Takut sudah lelah seharian, tetapi masih harus meminta pasangan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya bisa ia sadari sendiri.

Takut ketika menikah, kehidupan yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi tempat lain yang menguras tenaga.

Dan mungkin itu juga alasan mengapa konsep “cinta yang setara” terasa begitu penting bagiku.

Bukan berarti harus sama-sama punya uang sebanyak itu.

Bukan berarti harus sama-sama bekerja.

Bukan berarti semua hal harus dibagi tepat 50:50.

Mungkin kesetaraan justru berarti:

sama-sama merasa bertanggung jawab atas hubungan yang sedang dijalani.

Ketika salah satu sedang lemah, yang lain tidak menghitung apakah kemarin ia sudah memberi lebih banyak.

Ketika salah satu menghasilkan lebih banyak uang, yang lain tidak merasa berhak untuk bermalas-malasan.

Ketika salah satu lebih banyak mengurus rumah, yang lain tidak menganggap pekerjaan itu sebagai sesuatu yang otomatis menjadi kewajibannya.

Dan ketika salah satu sudah berusaha keras, yang lain tidak memilih untuk menikmati hasilnya sambil berpangku tangan.

Mungkin cinta yang setara bukan tentang siapa memberi lebih banyak.

Tapi tentang apakah keduanya sama-sama punya keinginan untuk menjaga.

Sama-sama punya rasa tanggung jawab.

Sama-sama mau tumbuh.

Dan yang paling penting, sama-sama tidak menjadikan pasangannya sebagai tempat bergantung tanpa batas.

Aku tidak mencari laki-laki yang sempurna.

Aku juga tidak yakin diriku sendiri akan menjadi perempuan yang sempurna dalam sebuah pernikahan.

Tapi kalau suatu hari aku menikah, aku ingin menikah dengan seseorang yang ketika melihat hidup bersama sebagai sebuah perjalanan, tidak berpikir:

“Apa yang bisa aku dapatkan dari hubungan ini?”

Melainkan:

“Apa yang bisa kita bangun bersama?”

Karena mungkin, pada akhirnya, cinta yang setara bukan tentang dua orang yang memiliki hal yang sama.

Melainkan dua orang yang sama-sama bersedia memikul kehidupan yang sama.

Dan sampai hari ini, setelah melihat begitu banyak hal di sekitarku, aku masih punya satu pertanyaan yang belum bisa kujawab:

Adakah di luar sana laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Bukan laki-laki yang sempurna.

Bukan yang selalu kuat.

Bukan yang selalu punya uang.

Tapi laki-laki yang tahu bahwa menjadi suami berarti menjadi pasangan.

Menjadi ayah berarti menjadi orang tua.

Dan mencintai seorang perempuan berarti tidak membiarkannya berjuang sendirian ketika seharusnya mereka berjuang bersama.

- Hyull 💙


Kamis, September 03, 2026

Bolu Coklat Kukus Ala Hyull: Lembut, Empuk, dan Coklat Banget

Berawal dari Ngidam Kue Cokelat

​Siapa sih yang bisa menolak godaan makanan manis beraroma cokelat? Berawal dari dorongan sederhana untuk menikmati sepotong kue cokelat, pikiran mendadak melayang ke arah bolu cokelat kukus.

​Di tengah persiapan, satu pertanyaan besar terus berputar di kepala: kira-kira rasanya bakal padat, legit, dan nyokelat banget kayak brownies panggang, atau justru tetap ringan seperti bolu pada umumnya?

Oke, mari kita coba. 😂

Berbekal bahan yang ada di rumah, jadilah eksperimen Bolu Coklat Kukus Ala Hyull. Hasil akhirnya ternyata bukan brownies yang fudgy dan melted, tapi lebih ke bolu yang fluffy, empuk, soft, dan membal, dengan rasa coklat yang cukup kuat. 🤎

🍫 Bahan

Bahan yang dimixer:

  • 4 butir telur ukuran besar
  • 150 gr gula pasir
  • ¼ sdm SP
  • Vanili secukupnya

Bahan kering, ayak:

  • 150 gr tepung terigu
  • 15 gr maizena
  • ¾ sdt soda kue

Bahan basah:

  • 100 ml minyak goreng
  • ±20 ml SKM coklat
  • ±2 sdt perisa dark chocolate

Tambahan:

  • Meses coklat secukupnya
  • 2 lembar daun pandan untuk air kukusan, opsional

👩🏻‍🍳 Cara Membuat

  1. Masukkan telur, gula, SP, dan vanili ke dalam wadah. Mixer dengan kecepatan tinggi sampai adonan mengembang, kental, dan berjejak.

  2. Turunkan mixer ke kecepatan 1. Masukkan bahan kering dan bahan basah secara bergantian, sedikit demi sedikit sampai habis.

  3. Setelah semua bahan tercampur, matikan mixer. Aduk balik sebentar menggunakan spatula, terutama bagian pinggir dan dasar wadah, supaya tidak ada adonan atau minyak yang masih tertinggal.

  4. Tuang adonan ke loyang bolu yang sudah diolesi minyak tipis.

  5. Taburi permukaannya dengan meses sesuai selera.

  6. Panaskan kukusan. Untuk tambahan aroma, daun pandan bisa dimasukkan ke dalam air kukusan.

  7. Kukus selama ±30 menit dengan api sedang. Jangan terlalu sering membuka tutup kukusan.

  8. Setelah matang, angkat dan biarkan sebentar sebelum dikeluarkan dari loyang.

🤎 Hasilnya?

Ternyata nggak jadi brownies. 😂

Tapi justru dapat bolu coklat yang fluffy, empuk, soft, dan membal ketika ditekan. Teksturnya nggak melted atau fudgy seperti brownies, tapi tetap terasa moist dan nyaman dimakan.

Untuk topping, meses yang ditaburkan sebelum dikukus ternyata meleleh dan berubah warna jadi super gelap, sampai kelihatan kayak gosong. Padahal itu coklat semua. Wkwk. 😂

Tapi rasanya? Enak. 🤌

Jadi kalau lagi pengen kue coklat tapi bahan di rumah terbatas, resep ini boleh banget dicoba.

Bolu Coklat Kukus Ala Hyull

Eksperimen yang awalnya penasaran bakal jadi brownies, malah lahir jadi bolu coklat sendiri. 🤎


Senin, Agustus 31, 2026

Kalau Lagi Ingin Menyerah, Ingat: Kamu Masih Punya Kesempatan

Refleksi tentang berdamai dengan masa lalu, menerima ketidaksempurnaan, dan belajar melangkah lagi pelan-pelan

Beberapa tahun terakhir, entah kenapa aku sedang gila-gilanya ikut webinar online.

Mulai dari webinar tentang skill, pengetahuan, pekerjaan, sampai psikologi. Sertifikatnya sudah lumayan banyak. Ada yang aku download, ada yang nggak. Ada juga yang sertifikatnya memang nggak tersedia. Wkwkwk.

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya aku bukan cuma sedang mencari ilmu.

Aku sedang belajar memahami diriku sendiri.

Dan setelah beberapa tahun melewati berbagai macam webinar, kelas, pengalaman, dan tentu saja kehidupan itu sendiri, aku merasa ada satu perubahan yang cukup besar dalam diriku.

Aku jadi lebih legowo.

Lebih bisa menerima diriku sendiri.

Termasuk menerima masa lalu yang pernah terasa sakit, susah, bahkan mungkin ingin sekali aku lupakan.

Tapi kalau sekarang aku lihat lagi, ternyata masa lalu itu nggak semuanya buruk.

Ada sedihnya, ada susahnya, tapi ternyata ada bahagianya juga.

Dan semuanya tetap bagian dari diriku.

Aku yang dulu, aku yang sekarang, semuanya tetap aku.

Mungkin aku memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku bisa belajar melihatnya dengan cara yang berbeda.

Aku pernah mendengar kalimat dalam salah satu webinar psikologi yang kurang lebih bunyinya seperti ini:

“Masa lalu sudah berlalu dan tidak bisa diubah, tetapi kita bisa memperbarui maknanya.”

Dan ada satu lagi yang masih aku ingat sampai sekarang.

Kurang lebih pesannya adalah bahwa kita ini manusia. Jadi, ya, pasti tidak sempurna. Kita bisa salah. Kita bisa gagal. Dan memanusiakan manusia itu penting, termasuk memanusiakan diri sendiri.

Mungkin itu juga yang sedang aku pelajari sampai sekarang.

Aku manusia.

Aku nggak sempurna.

Aku pernah salah. Pernah gagal. Pernah mengambil keputusan yang ternyata tidak tepat. Pernah berada di titik yang tidak baik-baik saja.

Tapi aku juga masih terus berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik.

Karena rival terbesarku sebenarnya bukan orang lain.

Rival aku adalah diriku sendiri di masa lalu.

Capek boleh. Nyerah jangan. 👊😆

Ternyata Banyak Orang yang Juga Sedang Berjuang

Belakangan ini aku juga sering menemukan cerita orang lain di media sosial.

Ternyata banyak banget orang yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.

Bahkan orang-orang yang kelihatannya punya kehidupan baik-baik saja pun ternyata punya alasan sendiri untuk tetap bertahan.

Ada yang pernah cerita bahwa salah satu alasan kecilnya untuk tetap hidup adalah karena ingin melihat akhir anime One Piece. Wkwkwk.

Dan jujur, menurutku itu nggak masalah.

Karena kita memang nggak perlu punya alasan hidup yang terdengar besar dan luar biasa.

Mungkin hari ini alasannya cuma ingin jalan-jalan.

Besok ingin makan sesuatu yang enak dan belum pernah kita coba.

Minggu depan ingin nonton film.

Atau mungkin…

"Aku harus hidup dulu sampai One Piece tamat.”

Ya sudah. Nggak apa-apa.

Yang penting hidup dulu. Hahaa.

Karena selama kita masih hidup, kita masih punya kesempatan untuk menemukan alasan-alasan lain.

Jangan Meminta Mati, Karena Kita Masih Punya Kesempatan

Dalam Islam, ada pengingat yang menurutku sangat kuat tentang hal ini.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 29:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”

Ayat ini mengingatkan bahwa diri kita bukan sesuatu yang boleh kita perlakukan dengan semena-mena. Allah bahkan menutup larangan itu dengan mengingatkan bahwa Dia Maha Penyayang.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar seseorang tidak meminta kematian karena kesulitan atau musibah yang sedang dialaminya.

Dalam HR. Bukhari 5671, beliau mengajarkan bahwa jika seseorang sedang berada dalam keadaan sangat berat, ia dapat berdoa:

“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”

Dan dalam HR. Muslim 2682, ada pengingat yang menurutku sangat indah: selama seseorang masih hidup, masih ada kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Jadi mungkin…

Kalau hari ini hidup terasa berat, nggak apa-apa kalau alasanmu untuk bertahan masih kecil.

Nggak harus langsung punya impian besar.

Nggak harus langsung tahu masa depan mau jadi apa.

Nggak harus langsung merasa hidup ini indah.

Hidup dulu.

Besok cari alasan lain lagi.

Lha wong Sang Maha Pemilik Hidup aja melarang kita menyakiti diri sendiri kok, masa kita yang cuma hamba "seuprit" ini malah mau matiin diri sendiri. Jangan ngelunjak ya! Dosa kita tuh sudah banyak, nggak usah pakai acara nambah dosa lagi. 😎

Lakukan yang Memang Ada dalam Ranah Kita

Ada satu pelajaran lain dari webinar-webinar yang aku ikuti yang juga sangat melekat di kepalaku:

Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kalau sudah menyangkut hal yang berada di luar kendali kita, lepaskan.

Sederhana, tapi ternyata susah dilakukan. Wkwkwk.

Misalnya, aku sudah berusaha bersikap baik kepada seseorang.

Kalau kemudian orang tersebut tetap menganggap aku jahat?

Ya sudah.

Aku bisa mengontrol sikapku, tapi aku tidak bisa mengontrol isi hati dan pikiran orang lain.

Hati manusia bukan ranahku.

Atau soal pekerjaan.

Misalnya aku sudah berusaha daftar CPNS, memenuhi semua persyaratan, belajar, mengikuti tes CAT, dan mengerjakannya sebaik mungkin.

Setelah itu?

Ya sudah.

Lolos atau tidak, hasil akhirnya bukan lagi ranahku.

Kalau lolos, Alhamdulillah.

Jangan lupa bersyukur dan sedekah.

Kalau gagal?

Ya coba lagi.

Mungkin ada usaha yang belum maksimal.

Mungkin ada hal yang perlu diperbaiki.

Atau mungkin Allah sedang menyiapkan jalan lain.

“Jalan lain”-nya itu kapan?

Ya nggak tau!

Bukan ranah kita woiii. Wkwkwk.

Tugas kita adalah berusaha dan berdoa sebaik mungkin.

Hasil akhirnya?

Serahkan kepada Allah.

Karena kadang kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya memang tidak pernah menjadi tanggung jawab kita untuk mengendalikannya.

Kita hanya perlu tahu:

Mana yang merupakan ranah kita, dan mana yang harus kita lepaskan.

Kita Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini

Mungkin hidup memang seperti itu.

Ada hal yang bisa kita perjuangkan.

Ada hal yang hanya bisa kita doakan.

Ada hal yang harus kita terima.

Dan ada hal yang memang harus kita lepaskan.

Aku sendiri masih belajar.

Kadang masih sangklek juga.

Masih bisa overthinking. Masih bisa capek. Masih bisa mempertanyakan banyak hal.

Tapi setidaknya sekarang aku lebih tahu bahwa aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.

Aku hanya perlu melakukan bagian yang memang menjadi bagianku.

Sisanya?

Bukan ranahku.

Dan mungkin menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya justru merupakan salah satu bentuk berdamai dengan kehidupan.

Jadi, Kalau Kamu Sedang Ingin Menyerah…

Kalau hari ini kamu sedang berada di titik yang sangat berat, coba ingat lagi:

Apa yang sebenarnya masih ingin kamu lihat?

Apa yang masih ingin kamu lakukan?

Apa yang masih ingin kamu rasakan?

Nggak perlu sesuatu yang besar.

Mungkin ingin jalan-jalan. Sekadar melihat taman komplek.

Mungkin ingin punya pekerjaan impian. Jadi pengangguran kaya, misalnya. 😆

Mungkin ingin bertemu seseorang. Bertemu jodoh juga bisa.

Mungkin ingin mencoba makanan yang belum pernah dicoba.

Atau…

ingin melihat ending One PieceWkwkwk.

Nggak apa-apa.

Cari satu alasan kecil dulu.

Karena dengan hidup, kita masih punya kesempatan untuk mencapai masa depan yang baru.

Masa depan yang sekarang bahkan belum bisa kita bayangkan.

Jadi, sayangi dirimu sendiri.

Maafkan dirimu yang dulu.

Terima bahwa kamu manusia dan memang tidak akan pernah sempurna.

Kalau hari ini cuma sanggup berjalan pelan, ya sudah.

Pelan-pelan saja.

Capek boleh.

Istirahat boleh.

Menangis juga boleh.

Tapi jangan buru-buru menganggap perjalananmu sudah selesai.

Karena selama masih hidup, ceritamu belum selesai.

Dan siapa tahu, ternyata bagian terbaik dari hidupmu memang belum datang.

Sayang-sayang semuanya.

Love. 💙


Jumat, Agustus 28, 2026

Dari Sabun Mandi Sampai Skincare Anak-Anak: Perjalananku Menemukan 3 Basic Skincare yang Cocok di Kulitku

Cerita jujur trial and error bertahun-tahun demi merawat kulit rewel tanpa bikin boncos.

Aku bukan tipe orang yang kalau ada produk skincare viral langsung ikut beli. Bukan karena nggak penasaran, tapi aku lebih suka lihat dulu, pelajari kandungan utamanya, cek sekilas kira-kira cocok atau nggak dengan kondisi kulitku, memastikan produknya aman dan terdaftar BPOM, lalu yang nggak kalah penting: lihat harganya masuk budget atau nggak. 😂

Perjalananku menemukan basic skincare yang cocok juga ternyata nggak sebentar. Bahkan bisa dibilang sudah bertahun-tahun.

Semuanya berawal setelah aku mulai sering melihat edukasi dari dokter estetika di YouTube dan TikTok tentang pentingnya basic skincare. Dari situ aku mulai berpikir, “Oh iya juga ya, kayaknya aku memang butuh skincare yang basic dulu.”

Apalagi kondisi kulitku cukup unik: wajahku cenderung berminyak, tapi kulit badanku justru kering.

Kondisi ini sebelumnya sudah pernah aku ceritakan juga di artikel “Kulit Badan Kering Tapi Wajah Berminyak? Ternyata Solusiku Sesimpel Ini!”

Nah, dari situlah perjalananku mencari tiga basic skincare ini dimulai.

Dari EVOO, Sabun Mandi, Sampai Akhirnya Punya Face Wash

Kalau dipikir-pikir, dulu aku cukup sederhana soal skincare.

Sejak kecil, aku terbiasa memakai EVOO (extra virgin olive oil) untuk seluruh badan. Kemudian makin besar, mungkin sekitar SMP atau SMA, aku mulai sadar kalau wajah sepertinya butuh perlakuan yang berbeda.

Aku mulai menggunakan face wash, karena ternyata sekadar pakai EVOO saja nggak cukup untuk wajah. Apalagi setelah makin sering beraktivitas di luar rumah, jadi wajah terasa kotor. Ditambah matahari terasa makin terik, aku akhirnya sadar kalau sunscreen juga penting.

Tapi untuk sampai ke tahap punya tiga basic skincare yang sekarang kupakai, jalannya lumayan panjang. 😂

1. Face Wash: Dari Sabun Mandi Sampai Ketemu Pigeon

Dulu waktu sekolah, aku menganggap face wash bukan sesuatu yang penting.

Maklum, aku terbiasa pakai sabun mandi untuk cuci muka. Wkwkwk.

Masalahnya, setelah pakai sabun mandi, wajahku malah terasa semakin berminyak. Jadi aku sesekali memakai pembersih dan penyegar Viva bengkoang punya Ibu karena wajah berminyak dan kotor itu nggak enak. 😂

Sampai akhirnya aku mulai hunting face wash.

Face wash pertama yang kupilih adalah Clean & Clear yang kemasannya warna cokelat, tekstur cair, dan memang ditujukan untuk remaja. Waktu itu aku masih SMA, jadi rasanya cocoklah dengan target produknya.

Aku beli ukuran kecil dulu karena baru mencoba.

Ternyata setelah beberapa kali dipakai, wajahku malah terasa kering.

Tapi karena saat itu aku sudah punya “senjata andalan”, aku tinggal mengoleskan EVOO setelahnya. Wkwkwk.

Setelah produk itu habis, aku nggak beli lagi. Aku malah balik lagi ke sabun mandi, sesekali pembersih dan penyegar Viva punya Ibu, dan tentunya EVOO.

Kemudian aku pernah mencoba Pond’s punya sepupu.

Baru sekali pakai, wajah langsung terasa kering dan gradakan. 😂

Lagi-lagi, solusinya adalah EVOO.

Setelah itu aku mulai hunting lagi. Aku sempat mencoba beberapa produk dari berbagai merek seperti Hada Labo, Biore, Wardah, Hanasui, Emina, Skintific, dan beberapa merek lain yang sekarang sudah lupa.

Tapi karena aku juga tipe yang nggak mau buang-buang uang cuma untuk coba-coba, modal utamaku adalah tester gratis dari teman. Wkwkwk.

Tenang, aku nggak asal ambil banyak. Aku cuma coba sekali dan sedikit banget, paling seukuran biji jagung. Takut nggak cocok, kan?

Dan ternyata...

Memang banyak yang nggak cocok. 😂

Ada yang bikin wajah kering, makin berminyak, terasa panas, gradakan, bahkan ada yang bikin kulit terasa ketarik.

Solusinya?

EVOO lagi.

Wkwkwkwk.

Jadi selama bertahun-tahun, skincare wajahku itu bisa dibilang cukup random: sabun mandi, sesekali pembersih dan penyegar Viva, EVOO, dan Emina Bright Stuff yang akhirnya menjadi moisturizer pertamaku yang cocok.

Sampai akhirnya ketika kuliah, tepatnya sekitar semester akhir, aku sudah agak menyerah dengan face wash untuk remaja-dewasa.

Aku malah browsing dan searching face wash untuk anak-anak.

Pikirku waktu itu, mungkin produk untuk anak-anak formulanya lebih skin-friendly dan lembut. 😂

Dari pencarian itu aku menemukan Pigeon Facial Foam for All Skin Types. Di keterangannya, produk ini memang ditujukan untuk semua jenis kulit. Aku akhirnya beli ukuran kecil dulu.

Dan ternyata...

Cocok!

Nggak panas, nggak terasa ketarik, nggak bikin gradakan, dan nyaman dipakai.

Ukuran kecilnya habis tanpa drama.

Akhirnya aku beli ukuran besarnya. 😂

Finally! Aku menemukan satu produk basic skincare yang cocok: Pigeon Facial Foam for All Skin Types.

2. Moisturizer: Dari Emina, Muter-Muter, Sampai Hanasui

Kalau moisturizer, produk pertamaku adalah Emina Bright Stuff Moisturizing Cream SPF 15 yang kemasannya pink.

Aku sudah berkali-kali membeli produk ini sejak SMA karena memang cocok di kulitku.

Sampai kemudian ketika kuliah, kalau nggak salah sekitar semester pertengahan, Emina melakukan perubahan pada kemasan sekaligus formulanya. Kemasan masih sama-sama pink, tapi formulanya sudah berbeda.

Aku pun beli seperti biasa.

Eh, ternyata...

Nggak cocok lagi.

Wajahku jadi terasa lebih berminyak dan nggak nyaman.

Akhirnya aku stop pakai dan kembali lagi ke mode hunting moisturizer.

Dan tentu saja, selama masa pencarian itu...

EVOO dulu. Wkwkwkwk.

Produk pertama yang kucoba adalah yang murah dan kebetulan sudah ada di rumah: Viva punya Ibu.

Aku sempat mencoba beberapa variannya, mulai dari Viva Pelembab Bengkuang, Mulberry, sampai Skin Food.

Hasilnya kurang lebih sama.

Wajahku jadi lebih gampang berkeringat dan menurutku kelembapannya masih kurang. Untuk yang Skin Food, wajahku malah terasa lebih berminyak.

Aku juga pernah mencoba Viva Moist Cream dalam jar, bahkan night cream-nya.

Tapi tetap saja, wajahku gampang berkeringat setelah memakainya.

Entah memang karakter produknya begitu atau ada kandungan tertentu yang kurang cocok di kulitku. 🤔

Terus waktu aku ke toko kosmetik, aku disaranin pakai moisturizer yang teksturnya gel biar lebih ringan dan cepat meresap. Aku pun dikasih saran La Tulipe Active Moisturizer Gel for Normal to Dry Skin.

Aku akhirnya mencoba produk tersebut.

Tapi ternyata, produk ini juga belum menjadi moisturizer yang benar-benar cocok di kulitku karena menurutku kurang lembap. 😭

Kemudian aku mencoba Metoo Probiotik Water-Oil Balance Essence Cream.

Sebenarnya produk ini lumayan cocok. Nggak bikin wajah kering, hanya saja menurutku kelembapannya kurang tahan lama.

Beberapa jam kemudian rasanya harus re-apply lagi.

Dan jujur...

Males. Wkwkwk.

Selain itu, menurutku produk ini juga kurang cepat meresap.

Sampai suatu hari ketika sedang belanja di supermarket, aku melihat pelembap untuk bayi.

Tiba-tiba muncul ide:

“Hmm... mungkin pakai yang buat bayi aja kali ya? Harusnya skin-friendly.” 😂

Akhirnya aku membeli My Baby Face & Body Cream yang warna pink, dengan kandungan ceramide, oat, dan milk.

Dan ternyata...

Cocok! Wkwkwk.

Walaupun masih ada kekurangannya, yaitu menurutku agak lama meresap, tapi sedikit lebih cepat dibanding Metoo.

Dari sini aku jadi penasaran dengan ceramide.

Aku lihat kandungannya, kemudian mulai mencari moisturizer lain yang juga mengandung ceramide.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel. Produk ini bertekstur gel dan klaimnya ringan serta mudah meresap, jadi cukup menarik untuk kulitku yang gampang berkeringat.

Aku pun nggak langsung beli yang besar.

Aku coba ukuran kecil 30 gram dulu.

Dan ternyata...

Enak banget dipakai!

Cepat meresap, cepat set, terasa adem di kulit, nggak bikin berminyak, dan nyaman.

Sampai habis pun nggak ada drama.

Ya sudah.

Gas beli ukuran besarnya. 😂

Sampai sekarang, Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel masih menjadi moisturizer yang kupakai, baik pagi maupun malam.

Kalau ada yang bertanya, “Terus krim malamnya apa?”

Nggak ada. Wkwkwk.

Bukan apa-apa, aku tuh kalau skincare terlalu banyak malah takutnya malas pakai dan akhirnya produknya keburu expired.

Jadi daripada punya banyak produk tapi nggak konsisten, mending pakai yang memang sudah cocok dan sering dipakai.

Simple. 😎

3. Sunscreen: Yang Paling Belakangan Kusadari Penting

Kalau dibandingkan face wash dan moisturizer, sunscreen justru menjadi basic skincare yang paling telat kusadari pentingnya.

Aku baru benar-benar mulai memperhatikan sunscreen sekitar tahun 2025.

Waktu itu aku mulai merasa matahari makin ke sini makin terik. Keluar siang sedikit saja rasanya menyengat dan panas.

Belum lagi aku mulai memperhatikan perubahan warna kulit di tangan.

Ada garis pembatas antara bagian tangan yang terkena sinar matahari dengan bagian pergelangan yang tertutup lengan baju.

Alias...

Belang. Wkwkwk

Akhirnya aku mulai hunting sunscreen.

Sunscreen pertama yang kucoba adalah Hanasui.

Ternyata di kulitku rasanya panas dan butuh waktu cukup lama untuk meresap.

Akhirnya aku downgrade produk ini untuk dipakai di badan saja.

Kemudian aku mencoba Wardah.

Sebenarnya oke, hanya ada satu masalah: menurutku cukup lama meresap di kulit.

Kalau sudah keburu berkeringat, rasanya sunscreen jadi kurang nyaman dan seperti nggak menempel dengan baik.

Akhirnya...

Downgrade lagi untuk badan. 😂

Karena pengalaman sebelumnya cukup mirip, aku kembali berpikir:

“Coba yang buat anak-anak aja kali ya. Siapa tahu lebih skin-friendly.”

Ketemulah BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+.

Produk ini menarik buatku karena ukurannya 100 ml, praktis, bisa digunakan untuk wajah sekaligus badan, dan harganya juga relatif ramah di kantong. Produk ini memang dipasarkan sebagai sunscreen lotion anak dengan SPF 30+.

Di wajah memang agak lama meresap, tapi untuk badan menurutku oke.

Akhirnya BFREE ini tetap kupakai sebagai sunscreen badan sekaligus sunscreen yang praktis untuk dibawa ke mana-mana.

Tapi aku masih mencari alternatif untuk wajah.

Aku sadar satu hal: Wajahku gampang berkeringat.

Jadi aku mulai mencari sunscreen yang ketika dioleskan bisa lebih cepat set di kulit.

Sampai akhirnya aku menemukan Seger Snow Sunscreen SPF 30 PA+++.

Aku melihat beberapa video review dan memperhatikan bagaimana orang-orang terlihat cukup effort saat meratakannya.

Akhirnya aku penasaran dan coba beli.

Dan ternyata...

Cocok di kulitku! 😭

Cepat meresap, cepat set, harganya murah, dan isinya 42 gram yang menurutku awet banget.

Tapi tentu saja ada minusnya.

Whitecast.

Kalau nggak hati-hati saat meratakannya, wajah bisa terlihat abu-abu.

Jadi sunscreen ini kurang praktis untuk dipakai di badan karena whitecast-nya cukup terlihat. Sebenarnya masih bisa diakali dengan bedak, tapi ya...

Nambah effort lagi. Wkwkwk.

Akhirnya untuk sementara kombo sunscreen-ku menjadi:

  • Wajah → Seger Snow Sunscreen SPF 30 PA+++
  • Badan → BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Sampai akhirnya Seger Snow-ku habis dan aku kembali hunting sunscreen wajah.

Setelah itu aku sempat mencoba Glow & Lovely Bright UV Duo SPF 35 PA+++ ukuran kecil, yang mengandung Niacinamide dan Vitamin C.

Awalnya sih oke-oke saja.

Tapi setelah dipakai beberapa kali, lama-lama wajahku malah terasa gradakan dan kasar.

Ya sudah...

Downgrade lagi jadi sunscreen badan. 😂

Aku mulai curiga jangan-jangan aku kurang cocok dengan kandungan Niacinamide dan Vitamin C. Kebetulan temanku juga pernah bilang kalau beberapa orang memang bisa mengalami kulit terasa kasar atau muncul tekstur kalau nggak cocok dengan bahan tertentu.

Tapi tentu saja, aku juga nggak bisa langsung menyimpulkan kalau penyebabnya pasti dua kandungan tersebut. Bisa saja memang ada faktor lain dari produknya yang kurang cocok di kulitku.

Yang jelas, daripada dipaksakan ke wajah, lebih aman menurutku turunkan levelnya jadi sunscreen badan. Wkwkwk.

Karena sebelumnya aku sudah menemukan moisturizer yang cocok dengan kandungan ceramide, aku pun penasaran mencoba sunscreen yang mengandung ceramide juga.

Akhirnya aku menemukan Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++.

Produk ini punya tekstur yang ringan dan mengandung 5X Ceramide, Cica, serta Squalane.

Aku memang sengaja mencari sunscreen dengan tekstur yang menurutku cocok untuk kondisi kulitku yang gampang berkeringat. Dan ternyata Azarine ini memang terasa lebih mudah meresap di kulitku.

Akhirnya sekarang kombo sunscreen-ku berubah lagi:

  • Wajah → Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++
  • Badan → BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Azarine biasanya kupakai pagi hari atau ketika dari rumah mau keluar.

Sedangkan kalau sudah berada di luar dan perlu re-apply, aku lebih suka menggunakan BFREE karena praktis dan bisa digunakan untuk wajah sekaligus badan.

Satu produk, dua fungsi.

Hemat, praktis, dan nggak ribet. 😂

Jadi, Ini Basic Skincare-ku Sekarang

Setelah perjalanan panjang dari sabun mandi, EVOO, coba punya teman, coba produk murah, coba produk anak-anak, sampai berkali-kali downgrade produk dari wajah ke badan, akhirnya aku punya basic skincare yang menurutku cocok dan nyaman dipakai.

Saat ini kombo-ku adalah:

  • Face wash: Pigeon Facial Foam for All Skin Types
  • Moisturizer: Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel
  • Sunscreen:

    • Wajah: Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++
    • Wajah/badan & re-apply saat di luar: BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Dan dari semua perjalanan ini aku jadi makin sadar kalau ternyata mencari skincare yang cocok itu memang nggak selalu soal ikut produk yang sedang viral.

Kadang kita memang perlu mengenali kondisi kulit sendiri, membaca kandungan utama, mencari tahu apakah produknya kira-kira sesuai, mengecek legalitasnya, mempertimbangkan budget, dan yang paling penting...

coba dulu pelan-pelan.

Karena skincare yang cocok buat orang lain belum tentu cocok di kulit kita.

Aku sendiri bahkan harus melewati perjalanan bertahun-tahun dan berkali-kali mengalami kulit kering, berminyak, panas, gradakan, terasa ketarik, sampai gampang berkeringat sebelum akhirnya menemukan tiga basic skincare yang sekarang.

Dan lucunya, beberapa produk yang akhirnya cocok justru datang dari pemikiran:

“Coba yang buat anak-anak aja kali ya?” 😂

Ternyata strategi skincare-ku malah:

skin-friendly + budget-friendly + nggak ribet.

Kalau kalian sendiri, kombo basic skincare-nya sekarang pakai apa aja?

Face wash, moisturizer, dan sunscreen andalan kalian apa?

Komen yaa! :)


Selasa, Agustus 25, 2026

Pentingnya Sunscreen: Dulu Aku Nggak Peduli, Sekarang Malah Nggak Bisa Keluar Tanpa Sunscreen

Cerita Jujur Perjalanan Hunting Sunscreen, Tips Praktis Re-apply, dan Alasan Kenapa Sekarang Aku Nggak Bisa Lepas Darinya

Jujur, sebelumnya aku bukan orang yang terlalu mementingkan sunscreen.

Bahkan kalau dipikir-pikir, selama masa sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, kuliah, sampai kerja, aku hampir nggak pernah rutin pakai sunscreen. 😭

Skincare yang paling sering kupakai paling cuma moisturizer dan EVOO. Udah, itu aja.

Tapi makin ke sini, aku mulai merasa matahari tuh makin nggak santai.

Apalagi akhir-akhir ini panasnya poll banget. Baru jam 7 pagi saja rasanya matahari sudah menyengat. Kalau keluar rumah tanpa perlindungan, kulit terasa seperti kena panas langsung, bahkan kadang sampai terasa cekit-cekit.

Dari situlah aku mulai berpikir,

“Kayaknya aku harus mulai serius pakai sunscreen deh.”

Mulai Hunting Sunscreen

Akhirnya sekitar setahun yang lalu, tepatnya tahun 2025, aku mulai berusaha rutin menggunakan sunscreen.

Dan ternyata menemukan sunscreen yang cocok itu nggak semudah yang kukira. 😭

Aku mulai hunting dari sunscreen yang harganya paling murah. Kalau ternyata kurang cocok di wajah, aku coba pakai untuk kaki atau tangan. Kemudian aku mulai mencari sunscreen dengan kisaran harga yang sedikit lebih tinggi.

Jadi kalau sunscreen murahnya gagal di wajah, bukan berarti langsung terbuang.

Turun kasta aja jadi sunscreen badan. Wkwkwk.

Tapi memang, untukku yang paling susah itu menemukan sunscreen yang cocok untuk wajah.

Karena kalau nggak cocok, bukannya kulit jadi enak malah bisa terasa nggak nyaman, kasar, gradakan, atau bahkan jerawat.

Jadi prinsipku sekarang:

Cari yang cocok buat wajah dulu. Urusan badan belakangan.

Kenapa Aku Memilih SPF 30-an?

Aku sendiri nggak terlalu mengejar sunscreen dengan SPF tinggi sampai SPF 50 atau lebih.

Untuk pemakaian sehari-hari, aku lebih nyaman dengan SPF 30-an.

Bukan berarti SPF 50 nggak bagus, ya. Hanya saja, selama ini aku merasa sunscreen SPF 50 biasanya terasa lebih “berat” di kulit, sementara aku lebih suka sunscreen yang nyaman dipakai dan nggak bikin wajah terasa penuh.

Dan ternyata, secara angka, perbedaannya memang nggak sebesar yang mungkin kita bayangkan.

Menurut American Academy of Dermatology, sunscreen SPF 30 dapat memblokir sekitar 97% sinar UVB, sedangkan SPF 50 berada di sekitar 98%. Jadi memang ada peningkatan perlindungan, tetapi bukan berarti SPF 50 memberikan perlindungan dua kali lipat dibanding SPF 30.

Makanya buatku, SPF 30-an sudah cukup nyaman untuk penggunaan sehari-hari, selama dipakai dengan benar dan cukup.

Yang penting juga bukan cuma angka SPF. Pilih sunscreen yang memberikan perlindungan terhadap UVA dan UVB, serta sesuaikan dengan kebutuhan kulit dan aktivitas kita. Dermatologis umumnya merekomendasikan sunscreen minimal SPF 30.

Setelah Rutin Pakai Sunscreen, Aku Baru Merasakan Bedanya

Nah, ini bagian yang paling bikin aku sadar bahwa sunscreen ternyata memang penting.

Setelah rutin pakai sunscreen, aku merasa paparan matahari jadi nggak terlalu “galak” ke kulit.

Kalau sebelumnya kena matahari rasanya panas menyengat dan kadang seperti cekit-cekit, setelah pakai sunscreen rasanya jauh lebih nyaman.

Seperti ada lapisan perlindungan tambahan di kulit.

Memang, ini pengalaman yang aku rasakan sendiri, bukan berarti sunscreen membuat matahari benar-benar jadi nggak panas. 😆

Tapi setidaknya, kulitku terasa lebih terlindungi dan nggak seperti langsung menerima sengatan matahari begitu saja.

Buatku yang penting tuh nggak menyengat seperti terbakar.

Dan ternyata sunscreen memang bukan cuma soal mencegah kulit gosong atau tanning. Perlindungan dari sinar matahari juga membantu mengurangi risiko sunburn, penuaan dini, dan kerusakan kulit akibat paparan UV.

Jangan Lupa Re-Apply

Nah, ini juga yang kadang suka dilupakan.

Pakai sunscreen sekali di pagi hari bukan berarti perlindungannya bertahan seharian penuh.

Untuk aktivitas di luar ruangan, sunscreen umumnya perlu diaplikasikan ulang sekitar setiap dua jam, dan lebih cepat kalau banyak berkeringat atau setelah berenang.

Masalahnya...

Mana sempat re-apply tiap dua jam?! 😂

Apalagi kalau lagi sibuk atau nggak terus-terusan berada di luar rumah.

Jadi kalau aku sedang keluar rumah, biasanya aku punya cara sendiri supaya lebih gampang mengingatnya: re-apply setelah shalat.

Lebih gampang diingat karena sudah punya patokan waktunya.

Jadi nggak perlu terus-terusan mikir, “Eh, sudah dua jam belum, ya?”

Kalau sudah selesai shalat dan memang masih akan beraktivitas di luar, tinggal ingat sunscreen lagi.

Simple. 😎

Sunscreen yang Sekarang Cocok Buatku

Setelah beberapa kali mencoba berbagai produk, akhirnya sekarang aku punya dua sunscreen yang cukup cocok dan sering kupakai.

Bfree Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Lucunya, sunscreen pertama yang menurutku cukup oke justru Bfree Kids Sunscreen Lotion SPF 30+.

Waktu itu aku sengaja memilih sunscreen anak-anak karena menurutku produk yang memang ditujukan untuk anak biasanya lebih skin-friendly, terutama untuk kulit yang sensitif.

Dan ternyata memang cocok di kulitku.

Petunjuk pemakaiannya juga memang untuk digunakan pada seluruh bagian kulit yang terbuka, jadi praktis banget. Bisa dipakai di tangan, kaki, dan wajah.

Makanya sampai sekarang Bfree ini justru yang paling sering kubawa ke mana-mana.

Satu sunscreen bisa dipakai untuk berbagai bagian tubuh. Nggak perlu bawa banyak produk.

Tapi tentu saja bukan berarti Bfree punya kekurangan.

Buatku, masalahnya cuma satu: Kurang cepat meresap.

Terutama kalau dipakai di wajah, aku merasa butuh waktu lebih lama sampai benar-benar meresap..

Karena aku pengennya sunscreen wajah yang lebih cepat meresap dan terasa ringan, akhirnya aku tetap hunting sunscreen lain.

Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturiser SPF 35 PA+++

Dan akhirnya aku ketemu Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturiser SPF 35 PA+++.

Nah, yang ini ternyata lebih sesuai dengan preferensiku untuk wajah.

Teksturnya terasa lebih nyaman dan lebih cepat meresap di kulit wajahku dibanding Bfree.

Jadi sekarang penggunaannya kurang lebih seperti ini:

Bfree buat praktis dibawa ke mana-mana, sedangkan Azarine lebih sering kupakai untuk wajah.

Setelah beberapa kali mencoba sunscreen, akhirnya aku jadi paham bahwa mencari sunscreen itu bukan cuma soal mencari yang “bagus”, tapi juga mencari yang cocok dengan kebutuhan dan kenyamanan kulit kita sendiri.

Ternyata Aku Lebih Cocok dengan Ceramide

Selain soal tekstur, ternyata aku juga mulai menemukan kandungan skincare yang lebih cocok buat kulitku.

Yaitu... Ceramide.

Sebelumnya aku pernah mencoba skincare dengan kandungan niacinamide dan vitamin C, tapi entah kenapa di wajahku malah terasa kurang cocok.

Kulit jadi seperti gradakan dan teksturnya terasa jadi lebih kasar.

Wkwkwk.

Akhirnya sekarang aku lebih memilih kandungan yang sudah terasa cocok di kulitku, salah satunya ceramide.

Kalau pakai produk dengan ceramide, kulit wajahku rasanya lebih nyaman dan adem.

Jadi sekarang aku lebih suka skincare yang fokus menjaga dan merawat skin barrier daripada terlalu banyak mencoba bahan aktif macam-macam.

Tentunya pengalaman kulit tiap orang bisa berbeda, ya.

Yang cocok di aku belum tentu cocok juga di kulitmu.

Tapi setelah menemukan bahan yang terasa cocok, aku jadi lebih nyaman untuk stick dengan yang sudah cocok daripada terus-terusan coba-coba.

Kalau sudah cocok, ngapain cari masalah lagi? 😂

Bonusnya, Kulit Terlihat Lebih Cerah dan Bersih

Setelah rutin menggunakan sunscreen, aku juga merasa kulit jadi lebih terjaga dan terlihat lebih cerah.

Dan yang kumaksud dengan “cerah” di sini bukan berarti jadi putih.

Lebih ke kulit yang terlihat lebih fresh, bersih, dan nggak kusam.

Aku sendiri merasa perubahan itu cukup terasa setelah mulai rutin menggunakan sunscreen.

Tapi sebenarnya aku nggak menganggap sunscreen sebagai produk untuk “memutihkan” kulit.

Lebih ke arah mencegah kulit terus-terusan terpapar sinar UV, sehingga kulit nggak gampang mengalami tanning dan kerusakan akibat paparan matahari.

Apalagi kalau sunscreen dipadukan dengan moisturizer yang cocok.

Gacor deh pokoknya. 😂

Jadi, Sunscreen Itu Penting Nggak?

Kalau dulu ada yang bilang,

“Pakai sunscreen dong!”

mungkin reaksiku cuma,

“Iya, nanti...”

Dan “nanti”-nya bisa bertahun-tahun.

Wkwkwk.

Sekarang setelah mulai rutin pakai sunscreen dan merasakan sendiri bedanya ketika kulit terpapar matahari, aku justru baru sadar:

Oh, ternyata sepenting itu.

Nggak harus langsung mencari sunscreen yang mahal atau SPF setinggi mungkin.

Menurutku, yang lebih penting adalah menemukan sunscreen yang nyaman dipakai, cocok dengan kulit, dan yang paling penting: benar-benar mau kita pakai secara rutin.

Karena sunscreen terbaik pada akhirnya bukan cuma yang kandungannya bagus atau harganya mahal.

Tapi yang mau kita pakai setiap hari.

Dan kalau ternyata sunscreen yang cocok itu harganya masih ramah di kantong?

Ya makin gacor. 😎

Jadi buat kamu yang selama ini masih seperti aku dulu yang merasa,

“Ah, nggak perlu sunscreen kali...”

mungkin sekarang saatnya mulai mencoba.

Apalagi kalau belakangan ini kamu juga merasa matahari makin menyengat.

Karena kalau kulit sudah mulai terasa cekit-cekit kena matahari seperti yang kurasakan sekarang...

Mungkin itu saatnya berhenti pura-pura kuat.

Wkwkwk.