Ingin Dipeluk dan Dibimbing Bukan Berarti Kamu Egois
Ada kalanya kita merasa lelah bukan karena terlalu banyak melakukan sesuatu, melainkan karena terlalu lama berusaha memahami semuanya sendirian.
Belajar mengenali emosi, memahami diri sendiri, menghadapi masalah, sampai mencari tahu bagaimana seharusnya menjalani hubungan dengan orang lain. Semuanya dilakukan dengan meraba-raba, tanpa banyak panduan, tanpa contoh nyata yang bisa dijadikan pegangan.
Sampai akhirnya, kita hanya bisa belajar dari cerita-cerita fiksi, mengamati kehidupan orang lain, dan mencoba memahami sendiri apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Rasanya melelahkan, bukan?
Ada begitu banyak hal yang ingin dipahami, tetapi tidak selalu tahu harus mulai dari mana. Ada keinginan untuk menjadi lebih baik, tetapi tidak tahu apakah langkah yang diambil sudah benar. Ada pula bagian dari diri yang diam-diam berharap seseorang akan datang, memeluk kita, lalu berkata bahwa tidak apa-apa jika hari ini kita belum memahami semuanya.
Namun, kita justru merasa bersalah karena menginginkan hal-hal tersebut.
Bukankah seharusnya kita bisa berdiri sendiri? Bukankah kita harus belajar menyelesaikan masalah tanpa terus-menerus mengharapkan bantuan orang lain?
Lalu, ketika keinginan untuk ditemani dan dibimbing terasa semakin kuat, kita mulai bertanya-tanya: apakah aku terlalu egois?
Ingin Ditemani Bukan Berarti Tidak Mandiri
Ada perbedaan antara ingin seseorang membereskan seluruh masalah kita dan ingin seseorang menemani kita saat berusaha menyelesaikannya.
Kita mungkin tidak membutuhkan seseorang yang selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan. Kita hanya ingin seseorang yang bersedia mendengarkan ketika pikiran terasa terlalu ramai, membantu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, atau sekadar meyakinkan kita bahwa kebingungan yang sedang dirasakan bukanlah sesuatu yang memalukan.
Karena hal sederhana seperti ditanya apakah kita baik-baik saja, diperhatikan ketika suasana hati berubah, atau diberi pelukan tanpa harus menjelaskan panjang lebar sudah cukup berarti.
Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita diperhatikan. Bahwa apa yang kita rasakan tidak dianggap berlebihan. Bahwa kita tidak harus selalu menemukan jawaban sendirian.
Bukankah manusia memang membutuhkan manusia lain?
Kemandirian memang penting. Namun, menjadi mandiri bukan berarti kita harus mampu menghadapi segala sesuatu tanpa bantuan siapa pun. Ada kalanya kita membutuhkan dukungan, dan ada kalanya kita ingin bersandar sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Keinginan untuk dipeluk dan dibimbing tidak serta-merta menjadikan kita egois. Bisa jadi, itu adalah bentuk kerinduan akan rasa aman yang selama ini sulit kita temukan.
Ruang Belajar Emosi Tiap Orang Berbeda
Sebagian orang tumbuh dengan contoh nyata tentang bagaimana menghadapi kesedihan, mengungkapkan kemarahan, meminta maaf, atau menyelesaikan konflik. Mereka memiliki kesempatan untuk mengamati, meniru, dan belajar dari orang-orang di sekitarnya.
Namun, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.
Ada yang harus mempelajari semuanya ketika sudah dewasa. Mereka belajar mengenali emosi sendiri setelah berkali-kali merasa kewalahan. Mereka berusaha memahami hubungan yang sehat tanpa pernah benar-benar melihat seperti apa bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Sedih, marah, kecewa, takut, kesepian, dan lelah bisa terasa bercampur menjadi satu. Kita tahu ada sesuatu yang mengganggu, tetapi kesulitan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri.
Akhirnya, kita mencari jawaban dari berbagai tempat. Membaca buku, mendengarkan cerita orang lain, menonton film, atau menemukan potongan-potongan pemahaman melalui cerita fiksi.
Semua itu bisa membantu. Namun, memahami sesuatu secara teori tidak selalu membuat kita langsung mampu mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
Kita bisa mengetahui bahwa komunikasi itu penting, tetapi tetap kesulitan mengungkapkan perasaan. Kita bisa memahami bahwa setiap orang memiliki kekurangan, tetapi tetap takut kekurangan kita sendiri tidak akan diterima.
Dan itu tidak berarti kita gagal belajar.
Mungkin kita memang membutuhkan lebih banyak waktu, pengalaman, dan kesempatan untuk belajar bersama orang lain.
Ingin Dicintai, Tapi Takut Ditolak
Ada sesuatu yang terasa menyakitkan ketika kita sangat ingin dekat dengan seseorang, tetapi pada saat yang sama takut jika orang itu mengetahui diri kita yang sebenarnya.
Kita ingin diterima, tetapi takut dianggap terlalu rumit. Kita ingin dipahami, tetapi khawatir perasaan kita akan dinilai berlebihan. Kita ingin menunjukkan sisi rapuh, tetapi takut orang lain akan kehilangan ketertarikan setelah melihat bahwa kita tidak sekuat yang selama ini terlihat.
Akhirnya, kita memilih menyembunyikan semuanya.
Kita berusaha terlihat baik-baik saja. Menampilkan diri sebagai seseorang yang mandiri, mampu mengatasi masalah, dan tidak terlalu membutuhkan orang lain.
Bukan karena kita tidak ingin terbuka, melainkan karena kita takut apa yang ada di balik semua itu tidak akan disukai.
Ironisnya, semakin keras kita berusaha menyembunyikan kerapuhan, semakin sulit pula bagi orang lain untuk mengetahui bahwa kita sebenarnya membutuhkan dukungan.
Tentu saja, membuka diri bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Kita berhak memilih kepada siapa kita bercerita, kapan kita siap melakukannya, dan seberapa banyak yang ingin kita bagikan.
Namun, mungkin kita bisa mulai belajar memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenal diri kita yang sebenarnya, sedikit demi sedikit.
Tidak harus langsung menceritakan semua luka. Tidak harus membuka seluruh bagian diri yang selama ini kita lindungi.
Cukup mulai dari kejujuran sederhana: hari ini kita sedang lelah, ada sesuatu yang membuat kita sedih, atau kita membutuhkan seseorang untuk mendengarkan tanpa buru-buru memberikan penilaian.
Kita tidak bisa menjamin bahwa semua orang akan memahami kita. Namun, kita juga tidak perlu lebih dahulu menolak diri sendiri hanya karena takut orang lain akan melakukannya.
Kita Tidak Harus Menjadi Utuh Terlebih Dahulu untuk Layak Dicintai
Seringkali, kita memiliki gambaran bahwa sebelum menjalin hubungan, kita harus menyelesaikan seluruh persoalan dalam diri sendiri.
Kita harus sudah mengenali semua emosi, berdamai dengan masa lalu, memahami kebutuhan pribadi, dan mampu mengelola setiap perasaan dengan baik.
Barulah setelah itu kita dianggap siap untuk mencintai dan dicintai.
Padahal, apakah ada manusia yang benar-benar selesai dengan dirinya sendiri?
Kita selalu memiliki sesuatu untuk dipelajari. Ada kebiasaan yang perlu diperbaiki, ketakutan yang masih harus dihadapi, dan bagian diri yang baru kita pahami setelah melewati pengalaman tertentu.
Tentu saja, belajar bertanggung jawab atas diri sendiri tetap penting. Pasangan bukan terapis, bukan penyelamat, dan bukan seseorang yang harus menanggung seluruh beban hidup kita.
Namun, hubungan yang sehat juga bukan tempat yang mengharuskan kita tampil sempurna setiap saat.
Kita boleh datang sebagai seseorang yang masih belajar. Seseorang yang terkadang kebingungan menghadapi emosinya sendiri, masih kesulitan mengungkapkan kebutuhan, atau sesekali membutuhkan bantuan untuk melihat persoalan dengan lebih jernih.
Kita bisa belajar bersama pasangan, saling mengingatkan, dan bertumbuh tanpa harus menjadikan salah satu pihak sebagai orang yang bertanggung jawab memperbaiki seluruh kehidupan pihak lainnya.
Dicintai bukanlah hadiah yang baru boleh kita terima setelah berhasil menjadi manusia sempurna.
Kita tetap layak mendapatkan kasih sayang ketika masih berproses.
Tidak Perlu Langsung Mencintai Diri Sendiri
Ada banyak nasihat yang meminta kita untuk mencintai diri sendiri sebelum mengharapkan cinta dari orang lain.
Nasihat itu terdengar baik, tetapi terasa sulit dilakukan ketika kita bahkan belum benar-benar memahami diri sendiri.
Bagaimana caranya mencintai diri sendiri jika kita masih sering bingung dengan apa yang kita rasakan? Bagaimana menerima kekurangan jika kita sendiri belum tahu bagaimana menyikapinya?
Mungkin, untuk sementara waktu, kita tidak perlu memaksakan diri sampai sejauh itu.
Kita bisa mulai dengan sesuatu yang lebih sederhana: mengakui keadaan diri sendiri tanpa buru-buru menghakiminya.
Jika sedang lelah, akui bahwa kita lelah. Jika sedang takut, tidak perlu berpura-pura berani. Jika belum memahami sesuatu, kita boleh mengakui bahwa kita memang belum tahu.
Kita tidak harus langsung menyukai setiap bagian dari diri sendiri. Kita hanya perlu belajar agar tidak terus-menerus memperlakukan diri sendiri sebagai musuh.
Sebab, selama ini kita mungkin sudah menghabiskan begitu banyak tenaga untuk bertahan, mencoba memahami keadaan, dan mencari cara agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik.
Bukankah kita juga pantas mendapatkan sedikit kelembutan dari diri sendiri?
Kita boleh beristirahat. Kita boleh meminta bantuan. Kita boleh belajar secara perlahan, bahkan ketika orang lain terlihat sudah jauh lebih mahir menjalani kehidupan mereka.
Setiap orang memiliki titik awal, pengalaman, dan perjalanan yang berbeda.
Tidak adil jika kita terus-menerus menuntut diri sendiri untuk bisa melakukan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kita pelajari.
Kita Boleh Kuat, tetapi Tidak Harus Selalu Kuat
Pada akhirnya, mungkin kita tidak benar-benar ingin seseorang datang untuk menyelamatkan kita dari kehidupan.
Kita hanya ingin tahu bahwa ketika suatu hari merasa terlalu lelah untuk melanjutkan langkah, ada seseorang yang bersedia duduk di samping kita.
Seseorang yang tidak selalu menuntut kita untuk segera menemukan solusi. Seseorang yang mau mendengarkan tanpa membuat kita merasa bodoh karena belum memahami sesuatu. Seseorang yang bisa memberikan pelukan, menawarkan sudut pandang lain, atau sekadar menemani sampai pikiran terasa lebih tenang.
Kita ingin memiliki tempat untuk beristirahat tanpa harus merasa gagal.
Dan keinginan itu tidak menjadikan kita lemah.
Kita tetap bisa belajar mandiri sambil menerima bantuan. Kita tetap bisa bertanggung jawab atas hidup sendiri sambil mengharapkan dukungan. Kita tetap bisa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik tanpa harus menyangkal bahwa ada bagian dari diri kita yang masih membutuhkan perhatian.
Mungkin, kita tidak membutuhkan seseorang yang akan mengutuhkan seluruh bagian diri kita.
Mungkin, kita hanya mendambakan seseorang yang bersedia menemani proses kita memahami bagian-bagian diri yang selama ini terasa asing, tanpa membuat kita merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Sementara itu, sebelum orang tersebut hadir, kita bisa mulai memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasa lelah tanpa rasa bersalah.
Tidak perlu terburu-buru menjadi kuat. Tidak perlu memaksakan diri untuk selalu memahami segalanya. Dan tidak perlu merasa egois hanya karena sesekali ingin bersandar.
Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa kuat kita bertahan menghadapi semuanya.
Hidup juga tentang belajar menerima bahwa terkadang kita membutuhkan bantuan, bahwa kita tidak harus selalu memiliki jawaban, dan bahwa kita pun layak mendapatkan kasih sayang ketika masih berusaha menemukan jalan.
Kita boleh terus bertumbuh tanpa harus menunggu diri kita menjadi sempurna. Kita boleh berjalan dengan kaki sendiri, tetapi sesekali menggenggam tangan seseorang juga tidak apa-apa.
Dari aku yang juga masih belajar,
- Hyull 💙




