Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Sabtu, September 12, 2026

Xiaolongbao KW Ala Hyull: Sup Tauge Telur Daging Sapi yang Hangat dan Comfort

Berawal dari Craving Sesuatu yang Berkuah

Berawal dari pengen makan sesuatu yang berkuah, tanpa nasi, minim minyak, ringan, dan hangat. Pokoknya cocok buat makan malam super ringan, sekaligus comfort food buat perut yang rasanya lagi nano-nano. 😂

Kebayangnya sup dengan kuah ringan dan hangat.

Eh, tiba-tiba keinget sama pangsit ala China yang bagian dalamnya ada kuahnya. Namanya apa, ya? Lupa.

Akhirnya searching internet dan ketemu deh sama Xiaolongbao.

Ohhh, ternyata itu namanya! 🤣

Yaudah, gas bikin kuahnya.

Tentu saja dengan sedikit modifikasi dan menyesuaikan bahan yang ada di rumah. Wkwkwk.

Bahan

(Untuk sekitar 2 porsi)

  • 500 ml Air
  • 75–100 gram Daging sapi (pilih yang agak berlemak)
  • 2–3 cm Jahe (memarkan)
  • 2 siung Bawang merah (cincang)
  • 1 siung Bawang putih (cincang)
  • 2 batang kecil Daun bawang bagian putih (jika ada)
  • 1 genggam Tauge
  • 2 butir Telur
  • 1 sdm Kecap asin
  • ½ sdt Kaldu bubuk
  • ¼ sdt Lada bubuk
  • ¼ sdt Garam (atau sesuai selera)
  • ½ sdm Minyak wijen

Cara Membuat

  1.  ​Rebus 500 ml air bersama daging sapi dan jahe sampai mendidih.
  2. ​Sambil menunggu air mendidih, cincang bawang merah, bawang putih, dan daun bawang (jika pakai).
  3. ​Setelah air mendidih, masukkan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang tadi ke dalam rebusan. Rebus sampai aromanya keluar dan kuah terasa lebih wangi.
  4. ​Masukkan segenggam tauge. Ingat, nggak perlu terlalu banyak ya, karena ini sup kuah, bukan sup tauge! 😂
  5. Teknik Telur Sutera (PENTING!): Kocok 2 butir telur di mangkuk terpisah. Tuangkan telur perlahan ke dalam rebusan sambil diaduk pelan. Cara ini akan membuat telur membentuk serabut-serabut lembut dengan tekstur seperti sutera. Jangan lewatkan bagian ini!
  6. Masukkan kecap asin, kaldu bubuk, lada bubuk, dan garam. Aduk rata dan cicipi. Sesuaikan rasa dengan selera.
  7. ​Setelah rasa pas, matikan kompor. Terakhir, tambahkan ½ sdm minyak wijen. Aduk sebentar. 

Dan...

Sudah jadi! 🥣

Gampang Banget, Kan?

Nggak perlu banyak bahan, nggak perlu nasi, nggak perlu minyak banyak, dan prosesnya juga simpel banget.

Tinggal tuang ke mangkuk dan siap dimakan selagi hangat.

Hasilnya?

Kuahnya gurih, hangat, wangi jahe dan minyak wijen, dengan daging sapi, telur lembut, serta sedikit tekstur renyah dari tauge.

Persis seperti yang aku cari dari awal: makanan yang ringan tapi tetap terasa seperti makanan, cocok buat makan malam, dan yang paling penting...

Enak di perut.

Dimakan hangat-hangat sampai bikin keringetan sedikit.

Mantap. 🤣

Memang bukan xiaolongbao asli. Jelas nggak ada pangsitnya juga. 😂

Tapi kalau craving-nya adalah kuah dengan rasa ala isian xiaolongbao, versi improvisasi ini ternyata cukup memuaskan.

Awalnya cuma pengen sup kuah ringan.

Tahu habis, daun bawang cuma nemu sedikit, akhirnya tauge yang maju sebagai pengganti.

Dan lahirlah...

Xiaolongbao KW Ala Hyull. 🤣🥣

Resep random memang paling mantap deh..


Rabu, September 09, 2026

Bubur Jagung Ala Hyull Versi Maizena: Lebih Kental, Texture Lebih Pas, dan Ternyata…

Eksperimen Bubur Jagung Lagi 🌽

Setelah sebelumnya bikin Bubur Jagung Ala Hyull pakai tepung pati garut, kali ini aku bikin lagi versi lainnya.

Resep sebelumnya di artikel ini: Resep Bubur Jagung Ala Hyull: No Gula-Gula, Manisnya dari Jagung, SKM, dan Madu

Bedanya, kali ini jagungnya ditumbuk dulu sebelum direbus, lalu untuk pengentalnya aku pakai campuran tepung maizena dan tepung terigu.

Dan ternyata...

Maizena lebih manjur alias lebih bikin bubur kental! 😂

Saking manjur-nya, aku malah harus menambahkan air lagi karena buburnya jadi terlalu kental.

Alhasil, setelah ditambah air, jagungnya malah kelihatan nggak sebanyak sebelumnya.

Wkwkwk... beginilah kalau resep Ala Hyull sambil eksperimen. 🤣

Bahan

  • 3 buah jagung manis, sudah dipipil
  • 2–4 lembar daun pandan
  • Air secukupnya
  • 2 sdm tepung maizena
  • 1 sdm tepung terigu
  • SKM putih secukupnya
  • Madu secukupnya

⚠️Catatan: Di percobaan kali ini aku sebenarnya pakai 3 sdm maizena + 1 sdm terigu, tapi ternyata terlalu kental. Jadi untuk resep yang aku rekomendasikan, cukup 2 sdm maizena + 1 sdm terigu untuk 3 buah jagung.

Cara Membuat

  1. Jagung yang sudah dipipil ditumbuk terlebih dahulu. Nggak perlu sampai halus, cukup sampai jagungnya pecah dan teksturnya sedikit lebih lembut.
  2. Masukkan jagung tumbuk ke dalam panci.
  3. Tambahkan air secukupnya, kira-kira sampai setinggi jagung.
  4. Masukkan daun pandan, lalu rebus dengan api sedang sampai jagung matang dan empuk. Aku merebusnya sekitar 15 menit.
  5. Sambil menunggu jagung matang, campurkan maizena, tepung terigu, SKM putih, madu, dan air di wadah terpisah. Aduk sampai rata dan tidak menggumpal.
  6. Tuangkan larutan tepung ke dalam rebusan jagung sambil terus diaduk.
  7. Masak dengan api kecil sampai bubur mengental dan mendidih.
  8. Kalau terlalu kental, tambahkan air sedikit demi sedikit sambil terus diaduk sampai mendapatkan tekstur yang diinginkan.
  9. Matikan api dan sajikan. 🌽

Ternyata Jagungnya Lebih Enak Ditumbuk!

Nah, ini bagian yang paling aku suka dari eksperimen kali ini.

Aku sudah mencoba bubur jagung dengan tiga cara mengolah jagung:

🌽 Jagung utuh
Hasilnya masih sangat crunchy. Buatku malah terlalu crunchy untuk ukuran bubur.

🌽 Jagung diblender
Teksturnya jadi super lembut dan menyatu, tapi sensasi jagungnya jadi hilang.

🌽 Jagung ditumbuk
Nah, ini favoritku! 😆

Saat ditumbuk, jagungnya jadi lebih banyak mengeluarkan air atau sari jagung dibandingkan saat masih utuh ataupun diblender. Jagungnya jadi terasa lebih berair dan sebagian teksturnya mulai lembek, tapi masih ada beberapa butir jagung yang tetap utuh.

Nah, kombinasi inilah yang ternyata paling aku suka. 😆

Dibandingkan jagung utuh yang terlalu crunchy, atau jagung yang diblender sampai terlalu lembut, jagung tumbuk punya tekstur yang menurutku paling pas: lebih juicy, lembut di beberapa bagian, tapi masih ada jagung yang bisa dikunyah.

Jadi menurutku:

Nggak terlalu crunchy, nggak terlalu lembut. Pas! ✨

Maizena Ternyata Lebih Nendang

Kalau dibandingkan dengan versi sebelumnya yang menggunakan tepung pati garut, kali ini aku cukup kaget dengan hasil maizena.

Aku pakai 3 sdm maizena + 1 sdm terigu, dan ternyata buburnya langsung jadi jauh lebih kental.

Awalnya kupikir bakal pas-pas saja.

Ternyata...

Kental banget. 🤣

Akhirnya aku tambahkan air lagi supaya teksturnya lebih nyaman dimakan.

Makanya, setelah eksperimen ini, aku lebih merekomendasikan 2 sdm maizena + 1 sdm terigu untuk 3 buah jagung.

Kalau ternyata masih kurang kental, lebih baik tambahkan sedikit demi sedikit daripada langsung kebanyakan.

⚠️ Catatan Penting Ala Hyull

Jangan ikuti takaran 3 sdm maizenaku kalau nggak mau berakhir menambahkan air seperti aku. 😂

Untuk 3 buah jagung, 2 sdm maizena + 1 sdm terigu sudah cukup untuk menghasilkan bubur yang kental.

Air juga nggak perlu langsung ditambahkan banyak. Sesuaikan saja sambil melihat teksturnya.

Kalau terlalu kental → tambah air sedikit-sedikit.
Kalau kurang kental → bisa tambahkan sedikit larutan maizena.

Karena ternyata maizena memang lebih ampuh mengentalkan dibanding versi pati garut yang sebelumnya aku coba.

Jadi, Versi Mana yang Lebih Aku Suka?

Kalau soal tekstur jagung, aku jelas lebih suka versi ditumbuk.

Dan setelah mencoba beberapa cara, menurutku urutannya:

Ditumbuk ⭐⭐⭐⭐⭐→ juicy/lebih berair + lembut + masih ada butiran yang bisa dikunyah
Utuh ⭐⭐⭐⭐ → crunchy banget, tapi agak terlalu crunchy untuk bubur
Diblender ⭐⭐⭐ → terlalu lembut, sensasi mengunyahnya hilang

Untuk pengental, maizena juga ternyata bekerja lebih cepat dan menghasilkan bubur yang lebih kental.

Tapi karena ini Resep Ala Hyull, sebenarnya nggak ada aturan mutlak. Mau jagungnya diblender, ditumbuk, atau dibiarkan utuh, semuanya kembali ke selera masing-masing.

Yang penting jangan sampai kejadian bubur jagung terlalu kental gara-gara kebanyakan maizena seperti eksperimenku kali ini. Wkwkwk. 😂

Ternyata dari bikin bubur jagung berkali-kali, aku malah menemukan satu kombinasi favorit:

jagung ditumbuk + maizena secukupnya = tekstur bubur jagung yang paling pas menurutku. 🌽

Namanya juga Bubur Jagung Ala Hyull.

Suka-suka, coba-coba, lalu ketemu versi yang paling cocok! 😆💙

Kalau kalian sendiri, lebih suka tekstur jagung yang mana nih?


Minggu, September 06, 2026

Cinta yang Setara

“Cinta yang setara.”

Aku sering mendengar kalimat itu, tapi sampai sekarang aku masih bertanya-tanya: sebenarnya apa maksudnya?

Setara dari segi harta?

Atau effort?

Atau mungkin cara memperlakukan satu sama lain?

Kalau yang dimaksud adalah effort, effort seperti apa?

Apakah harus sama-sama berusaha dalam bentuk yang sama?

Kalau laki-laki bekerja mencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah, apakah itu tidak setara karena bentuk usahanya berbeda?

Atau kalau sama-sama tidak memberikan effort, apakah itu juga bisa disebut setara?

Lalu bagaimana kalau hubungan itu dimulai dari laki-laki yang mendekati, kemudian perempuan merespons? Apakah itu tetap setara?

Semakin dipikirkan, semakin aku merasa bahwa “setara” bukan sesuatu yang sesederhana membagi semuanya menjadi 50:50.

Begitu juga dengan harta.

Apakah cinta yang setara berarti laki-laki dan perempuan harus berasal dari kondisi ekonomi yang sama?

Sama-sama miskin?

Sama-sama menengah?

Sama-sama kaya?

Bagaimana dengan perempuan yang sejak awal sudah hidup nyaman, kemudian memilih meninggalkan kenyamanan itu untuk hidup bersama laki-laki yang jauh lebih sederhana?

Kalau laki-laki tersebut sadar diri, mungkin ia justru akan berpikir, “Aku nggak mau membuat hidupnya menjadi lebih buruk hanya karena memilihku.”

Lalu ia berusaha.

Bukan karena harga dirinya terluka karena perempuan lebih berada, tetapi karena ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan.

Sebaliknya, kalau laki-laki tersebut justru merasa nyaman bergantung kepada perempuan?

Apakah itu masih bisa disebut cinta yang setara?

Dan dari semua pertanyaan itu, ada satu pertanyaan lain yang belakangan ini sering muncul di kepalaku:

Adakah laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Mungkin pertanyaan ini terdengar bias.

Dan aku sadar, aku mengatakannya sebagai seorang perempuan. Jadi tentu saja aku lebih sering melihat hubungan dari sudut pandang perempuan.

Tapi aku tidak bisa menutup mata terhadap apa yang kulihat di sekitarku.

Marriage is scary.

Kalimat itu entah kenapa masih sering terngiang di kepalaku.

Bukan karena pernikahan itu sendiri pasti menakutkan.

Tapi karena aku melihat terlalu banyak contoh yang membuatku berpikir bahwa menikah dengan orang yang salah bisa menjadi sesuatu yang sangat melelahkan.

Aku melihat perempuan yang masih harus pontang-panting mengurus rumah, memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, bahkan mungkin juga bekerja.

Sementara laki-lakinya?

Goleran.

Main HP.

Dan ketika anak menangis, bukannya berusaha menenangkan atau mengurus anaknya sendiri, malah berteriak memanggil istrinya yang sebenarnya sedang sibuk mengerjakan hal lain.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele.

Tapi menurutku, justru dari hal-hal kecil itulah karakter seseorang terlihat.

Karena menjadi suami bukan hanya tentang membawa uang pulang.

Menjadi ayah bukan hanya tentang namanya tercantum di kartu keluarga.

Dan menjadi laki-laki bukan hanya tentang menjadi pihak yang secara biologis disebut laki-laki.

Ada tanggung jawab.

Ada inisiatif.

Ada kepedulian.

Ada kemauan untuk melihat apa yang perlu dikerjakan tanpa harus selalu menunggu diminta.

Aku pernah melihat keluarga yang menurutku bahagia.

Aku pernah melihat laki-laki yang benar-benar mengambil perannya sebagai suami dan ayah.

Dan aku suka melihatnya.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat seorang laki-laki yang tidak merasa kehilangan harga dirinya hanya karena ikut mengurus anak.

Yang tidak merasa “membantu istri”, karena dia sadar bahwa rumah dan anak juga merupakan tanggung jawabnya.

Yang ketika melihat istrinya lelah, tidak bertanya, “Aku harus ngapain?”, tetapi melihat sendiri apa yang bisa ia lakukan.

Dan ketika melihat keluarga seperti itu, aku justru berpikir:

Betapa beruntungnya perempuan yang mendapatkan laki-laki seperti itu.

Sayangnya, semakin banyak melihat kenyataan di sekitar, semakin aku merasa bahwa laki-laki seperti itu tidak sebanyak yang kuharapkan.

Mungkin sebenarnya mereka ada.

Mungkin aku hanya lebih sering melihat contoh yang buruk daripada yang baik.

Atau mungkin memang laki-laki yang benar-benar siap menjadi suami dan ayah itu tidak sebanyak yang kita bayangkan.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, semua itu membuatku semakin memahami kenapa sebagian perempuan takut menikah.

Bukan karena mereka tidak ingin dicintai.

Bukan karena mereka ingin hidup sendirian selamanya.

Tapi karena mereka takut mendapatkan seseorang yang pada akhirnya justru membuat hidup mereka lebih berat.

Takut harus mengurus dua anak, padahal salah satunya adalah suami sendiri.

Takut sudah lelah seharian, tetapi masih harus meminta pasangan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya bisa ia sadari sendiri.

Takut ketika menikah, kehidupan yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi tempat lain yang menguras tenaga.

Dan mungkin itu juga alasan mengapa konsep “cinta yang setara” terasa begitu penting bagiku.

Bukan berarti harus sama-sama punya uang sebanyak itu.

Bukan berarti harus sama-sama bekerja.

Bukan berarti semua hal harus dibagi tepat 50:50.

Mungkin kesetaraan justru berarti:

sama-sama merasa bertanggung jawab atas hubungan yang sedang dijalani.

Ketika salah satu sedang lemah, yang lain tidak menghitung apakah kemarin ia sudah memberi lebih banyak.

Ketika salah satu menghasilkan lebih banyak uang, yang lain tidak merasa berhak untuk bermalas-malasan.

Ketika salah satu lebih banyak mengurus rumah, yang lain tidak menganggap pekerjaan itu sebagai sesuatu yang otomatis menjadi kewajibannya.

Dan ketika salah satu sudah berusaha keras, yang lain tidak memilih untuk menikmati hasilnya sambil berpangku tangan.

Mungkin cinta yang setara bukan tentang siapa memberi lebih banyak.

Tapi tentang apakah keduanya sama-sama punya keinginan untuk menjaga.

Sama-sama punya rasa tanggung jawab.

Sama-sama mau tumbuh.

Dan yang paling penting, sama-sama tidak menjadikan pasangannya sebagai tempat bergantung tanpa batas.

Aku tidak mencari laki-laki yang sempurna.

Aku juga tidak yakin diriku sendiri akan menjadi perempuan yang sempurna dalam sebuah pernikahan.

Tapi kalau suatu hari aku menikah, aku ingin menikah dengan seseorang yang ketika melihat hidup bersama sebagai sebuah perjalanan, tidak berpikir:

“Apa yang bisa aku dapatkan dari hubungan ini?”

Melainkan:

“Apa yang bisa kita bangun bersama?”

Karena mungkin, pada akhirnya, cinta yang setara bukan tentang dua orang yang memiliki hal yang sama.

Melainkan dua orang yang sama-sama bersedia memikul kehidupan yang sama.

Dan sampai hari ini, setelah melihat begitu banyak hal di sekitarku, aku masih punya satu pertanyaan yang belum bisa kujawab:

Adakah di luar sana laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Bukan laki-laki yang sempurna.

Bukan yang selalu kuat.

Bukan yang selalu punya uang.

Tapi laki-laki yang tahu bahwa menjadi suami berarti menjadi pasangan.

Menjadi ayah berarti menjadi orang tua.

Dan mencintai seorang perempuan berarti tidak membiarkannya berjuang sendirian ketika seharusnya mereka berjuang bersama.

- Hyull 💙


Kamis, September 03, 2026

Bolu Coklat Kukus Ala Hyull: Lembut, Empuk, dan Coklat Banget

Berawal dari Ngidam Kue Cokelat

​Siapa sih yang bisa menolak godaan makanan manis beraroma cokelat? Berawal dari dorongan sederhana untuk menikmati sepotong kue cokelat, pikiran mendadak melayang ke arah bolu cokelat kukus.

​Di tengah persiapan, satu pertanyaan besar terus berputar di kepala: kira-kira rasanya bakal padat, legit, dan nyokelat banget kayak brownies panggang, atau justru tetap ringan seperti bolu pada umumnya?

Oke, mari kita coba. 😂

Berbekal bahan yang ada di rumah, jadilah eksperimen Bolu Coklat Kukus Ala Hyull. Hasil akhirnya ternyata bukan brownies yang fudgy dan melted, tapi lebih ke bolu yang fluffy, empuk, soft, dan membal, dengan rasa coklat yang cukup kuat. 🤎

🍫 Bahan

Bahan yang dimixer:

  • 4 butir telur ukuran besar
  • 150 gr gula pasir
  • ¼ sdm SP
  • Vanili secukupnya

Bahan kering, ayak:

  • 150 gr tepung terigu
  • 15 gr maizena
  • ¾ sdt soda kue

Bahan basah:

  • 100 ml minyak goreng
  • ±20 ml SKM coklat
  • ±2 sdt perisa dark chocolate

Tambahan:

  • Meses coklat secukupnya
  • 2 lembar daun pandan untuk air kukusan, opsional

👩🏻‍🍳 Cara Membuat

  1. Masukkan telur, gula, SP, dan vanili ke dalam wadah. Mixer dengan kecepatan tinggi sampai adonan mengembang, kental, dan berjejak.

  2. Turunkan mixer ke kecepatan 1. Masukkan bahan kering dan bahan basah secara bergantian, sedikit demi sedikit sampai habis.

  3. Setelah semua bahan tercampur, matikan mixer. Aduk balik sebentar menggunakan spatula, terutama bagian pinggir dan dasar wadah, supaya tidak ada adonan atau minyak yang masih tertinggal.

  4. Tuang adonan ke loyang bolu yang sudah diolesi minyak tipis.

  5. Taburi permukaannya dengan meses sesuai selera.

  6. Panaskan kukusan. Untuk tambahan aroma, daun pandan bisa dimasukkan ke dalam air kukusan.

  7. Kukus selama ±30 menit dengan api sedang. Jangan terlalu sering membuka tutup kukusan.

  8. Setelah matang, angkat dan biarkan sebentar sebelum dikeluarkan dari loyang.

🤎 Hasilnya?

Ternyata nggak jadi brownies. 😂

Tapi justru dapat bolu coklat yang fluffy, empuk, soft, dan membal ketika ditekan. Teksturnya nggak melted atau fudgy seperti brownies, tapi tetap terasa moist dan nyaman dimakan.

Untuk topping, meses yang ditaburkan sebelum dikukus ternyata meleleh dan berubah warna jadi super gelap, sampai kelihatan kayak gosong. Padahal itu coklat semua. Wkwk. 😂

Tapi rasanya? Enak. 🤌

Jadi kalau lagi pengen kue coklat tapi bahan di rumah terbatas, resep ini boleh banget dicoba.

Bolu Coklat Kukus Ala Hyull

Eksperimen yang awalnya penasaran bakal jadi brownies, malah lahir jadi bolu coklat sendiri. 🤎


Senin, Agustus 31, 2026

Kalau Lagi Ingin Menyerah, Ingat: Kamu Masih Punya Kesempatan

Refleksi tentang berdamai dengan masa lalu, menerima ketidaksempurnaan, dan belajar melangkah lagi pelan-pelan

Beberapa tahun terakhir, entah kenapa aku sedang gila-gilanya ikut webinar online.

Mulai dari webinar tentang skill, pengetahuan, pekerjaan, sampai psikologi. Sertifikatnya sudah lumayan banyak. Ada yang aku download, ada yang nggak. Ada juga yang sertifikatnya memang nggak tersedia. Wkwkwk.

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya aku bukan cuma sedang mencari ilmu.

Aku sedang belajar memahami diriku sendiri.

Dan setelah beberapa tahun melewati berbagai macam webinar, kelas, pengalaman, dan tentu saja kehidupan itu sendiri, aku merasa ada satu perubahan yang cukup besar dalam diriku.

Aku jadi lebih legowo.

Lebih bisa menerima diriku sendiri.

Termasuk menerima masa lalu yang pernah terasa sakit, susah, bahkan mungkin ingin sekali aku lupakan.

Tapi kalau sekarang aku lihat lagi, ternyata masa lalu itu nggak semuanya buruk.

Ada sedihnya, ada susahnya, tapi ternyata ada bahagianya juga.

Dan semuanya tetap bagian dari diriku.

Aku yang dulu, aku yang sekarang, semuanya tetap aku.

Mungkin aku memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku bisa belajar melihatnya dengan cara yang berbeda.

Aku pernah mendengar kalimat dalam salah satu webinar psikologi yang kurang lebih bunyinya seperti ini:

“Masa lalu sudah berlalu dan tidak bisa diubah, tetapi kita bisa memperbarui maknanya.”

Dan ada satu lagi yang masih aku ingat sampai sekarang.

Kurang lebih pesannya adalah bahwa kita ini manusia. Jadi, ya, pasti tidak sempurna. Kita bisa salah. Kita bisa gagal. Dan memanusiakan manusia itu penting, termasuk memanusiakan diri sendiri.

Mungkin itu juga yang sedang aku pelajari sampai sekarang.

Aku manusia.

Aku nggak sempurna.

Aku pernah salah. Pernah gagal. Pernah mengambil keputusan yang ternyata tidak tepat. Pernah berada di titik yang tidak baik-baik saja.

Tapi aku juga masih terus berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik.

Karena rival terbesarku sebenarnya bukan orang lain.

Rival aku adalah diriku sendiri di masa lalu.

Capek boleh. Nyerah jangan. 👊😆

Ternyata Banyak Orang yang Juga Sedang Berjuang

Belakangan ini aku juga sering menemukan cerita orang lain di media sosial.

Ternyata banyak banget orang yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.

Bahkan orang-orang yang kelihatannya punya kehidupan baik-baik saja pun ternyata punya alasan sendiri untuk tetap bertahan.

Ada yang pernah cerita bahwa salah satu alasan kecilnya untuk tetap hidup adalah karena ingin melihat akhir anime One Piece. Wkwkwk.

Dan jujur, menurutku itu nggak masalah.

Karena kita memang nggak perlu punya alasan hidup yang terdengar besar dan luar biasa.

Mungkin hari ini alasannya cuma ingin jalan-jalan.

Besok ingin makan sesuatu yang enak dan belum pernah kita coba.

Minggu depan ingin nonton film.

Atau mungkin…

"Aku harus hidup dulu sampai One Piece tamat.”

Ya sudah. Nggak apa-apa.

Yang penting hidup dulu. Hahaa.

Karena selama kita masih hidup, kita masih punya kesempatan untuk menemukan alasan-alasan lain.

Jangan Meminta Mati, Karena Kita Masih Punya Kesempatan

Dalam Islam, ada pengingat yang menurutku sangat kuat tentang hal ini.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 29:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”

Ayat ini mengingatkan bahwa diri kita bukan sesuatu yang boleh kita perlakukan dengan semena-mena. Allah bahkan menutup larangan itu dengan mengingatkan bahwa Dia Maha Penyayang.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar seseorang tidak meminta kematian karena kesulitan atau musibah yang sedang dialaminya.

Dalam HR. Bukhari 5671, beliau mengajarkan bahwa jika seseorang sedang berada dalam keadaan sangat berat, ia dapat berdoa:

“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”

Dan dalam HR. Muslim 2682, ada pengingat yang menurutku sangat indah: selama seseorang masih hidup, masih ada kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Jadi mungkin…

Kalau hari ini hidup terasa berat, nggak apa-apa kalau alasanmu untuk bertahan masih kecil.

Nggak harus langsung punya impian besar.

Nggak harus langsung tahu masa depan mau jadi apa.

Nggak harus langsung merasa hidup ini indah.

Hidup dulu.

Besok cari alasan lain lagi.

Lha wong Sang Maha Pemilik Hidup aja melarang kita menyakiti diri sendiri kok, masa kita yang cuma hamba "seuprit" ini malah mau matiin diri sendiri. Jangan ngelunjak ya! Dosa kita tuh sudah banyak, nggak usah pakai acara nambah dosa lagi. 😎

Lakukan yang Memang Ada dalam Ranah Kita

Ada satu pelajaran lain dari webinar-webinar yang aku ikuti yang juga sangat melekat di kepalaku:

Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kalau sudah menyangkut hal yang berada di luar kendali kita, lepaskan.

Sederhana, tapi ternyata susah dilakukan. Wkwkwk.

Misalnya, aku sudah berusaha bersikap baik kepada seseorang.

Kalau kemudian orang tersebut tetap menganggap aku jahat?

Ya sudah.

Aku bisa mengontrol sikapku, tapi aku tidak bisa mengontrol isi hati dan pikiran orang lain.

Hati manusia bukan ranahku.

Atau soal pekerjaan.

Misalnya aku sudah berusaha daftar CPNS, memenuhi semua persyaratan, belajar, mengikuti tes CAT, dan mengerjakannya sebaik mungkin.

Setelah itu?

Ya sudah.

Lolos atau tidak, hasil akhirnya bukan lagi ranahku.

Kalau lolos, Alhamdulillah.

Jangan lupa bersyukur dan sedekah.

Kalau gagal?

Ya coba lagi.

Mungkin ada usaha yang belum maksimal.

Mungkin ada hal yang perlu diperbaiki.

Atau mungkin Allah sedang menyiapkan jalan lain.

“Jalan lain”-nya itu kapan?

Ya nggak tau!

Bukan ranah kita woiii. Wkwkwk.

Tugas kita adalah berusaha dan berdoa sebaik mungkin.

Hasil akhirnya?

Serahkan kepada Allah.

Karena kadang kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya memang tidak pernah menjadi tanggung jawab kita untuk mengendalikannya.

Kita hanya perlu tahu:

Mana yang merupakan ranah kita, dan mana yang harus kita lepaskan.

Kita Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini

Mungkin hidup memang seperti itu.

Ada hal yang bisa kita perjuangkan.

Ada hal yang hanya bisa kita doakan.

Ada hal yang harus kita terima.

Dan ada hal yang memang harus kita lepaskan.

Aku sendiri masih belajar.

Kadang masih sangklek juga.

Masih bisa overthinking. Masih bisa capek. Masih bisa mempertanyakan banyak hal.

Tapi setidaknya sekarang aku lebih tahu bahwa aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.

Aku hanya perlu melakukan bagian yang memang menjadi bagianku.

Sisanya?

Bukan ranahku.

Dan mungkin menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya justru merupakan salah satu bentuk berdamai dengan kehidupan.

Jadi, Kalau Kamu Sedang Ingin Menyerah…

Kalau hari ini kamu sedang berada di titik yang sangat berat, coba ingat lagi:

Apa yang sebenarnya masih ingin kamu lihat?

Apa yang masih ingin kamu lakukan?

Apa yang masih ingin kamu rasakan?

Nggak perlu sesuatu yang besar.

Mungkin ingin jalan-jalan. Sekadar melihat taman komplek.

Mungkin ingin punya pekerjaan impian. Jadi pengangguran kaya, misalnya. 😆

Mungkin ingin bertemu seseorang. Bertemu jodoh juga bisa.

Mungkin ingin mencoba makanan yang belum pernah dicoba.

Atau…

ingin melihat ending One PieceWkwkwk.

Nggak apa-apa.

Cari satu alasan kecil dulu.

Karena dengan hidup, kita masih punya kesempatan untuk mencapai masa depan yang baru.

Masa depan yang sekarang bahkan belum bisa kita bayangkan.

Jadi, sayangi dirimu sendiri.

Maafkan dirimu yang dulu.

Terima bahwa kamu manusia dan memang tidak akan pernah sempurna.

Kalau hari ini cuma sanggup berjalan pelan, ya sudah.

Pelan-pelan saja.

Capek boleh.

Istirahat boleh.

Menangis juga boleh.

Tapi jangan buru-buru menganggap perjalananmu sudah selesai.

Karena selama masih hidup, ceritamu belum selesai.

Dan siapa tahu, ternyata bagian terbaik dari hidupmu memang belum datang.

Sayang-sayang semuanya.

Love. 💙