Kenapa Banyak Orang Sekarang Takut Menikah?
Dulu, menikah adalah sesuatu yang dianggap pasti terjadi.
Lulus sekolah, bekerja, menikah, punya anak.
Urutannya hampir selalu sama.
Tapi beberapa tahun terakhir, sesuatu berubah.
Semakin banyak orang menunda menikah.
Semakin banyak yang ragu untuk masuk ke hubungan serius.
Dan semakin sering muncul kalimat:
“Marriage is scary.”
Kalimat itu bahkan menjadi tren besar di media sosial Indonesia sepanjang 2024. Di TikTok, X, dan Instagram, ribuan orang membagikan ketakutan mereka tentang pernikahan. Ada yang takut pasangannya berubah setelah menikah, takut tidak dibela pasangan di depan keluarga, takut mengalami kekerasan rumah tangga, sampai takut kehilangan dirinya sendiri setelah menjadi istri atau suami.
Dan tren itu bukan cuma omongan internet.
Data menunjukkan bahwa angka pernikahan di Indonesia memang terus menurun.
Angka Pernikahan Indonesia Turun Drastis
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan di Indonesia pada 2023 tercatat sebanyak 1.577.255 pasangan. Angka ini turun sekitar 128 ribu dibanding 2022 yang mencapai 1.705.348 pasangan.
Jika dibandingkan satu dekade lalu, penurunannya bahkan jauh lebih besar.
Di berbagai pembahasan publik dan media sosial, data BPS menunjukkan bahwa angka pernikahan Indonesia turun hampir 30 persen dalam 10 tahun terakhir.
Sementara itu, jumlah anak muda yang belum menikah justru terus meningkat.
Pada 2020, persentase pemuda Indonesia yang belum menikah berada di angka 59,82 persen.
Tahun 2025, angkanya naik menjadi 71,04 persen.
Artinya, mayoritas generasi muda Indonesia sekarang hidup dalam status lajang.
Dan fenomena ini paling terasa pada generasi kelahiran 1990-an hingga awal 2000-an.
Generasi yang Tidak Lagi Melihat Menikah Sebagai Kewajiban
Generasi orang tua kita banyak yang menikah di usia awal 20-an.
Tapi generasi sekarang tumbuh di dunia yang berbeda:
- biaya hidup lebih mahal,
- harga rumah sulit dijangkau,
- pekerjaan tidak stabil,
- dan tekanan hidup jauh lebih besar.
Akibatnya, banyak orang tidak lagi melihat pernikahan sebagai “fase hidup otomatis”.
Mereka mulai bertanya:
- apakah saya mampu secara finansial?
- apakah hubungan ini benar-benar aman?
- apakah saya siap secara mental?
- apakah hidup saya justru akan lebih berat setelah menikah?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu semakin besar karena media sosial.
Media Sosial Membuat Orang Semakin Takut Menikah
Kalau dulu orang belajar tentang rumah tangga dari keluarga atau lingkungan sekitar, sekarang orang belajar dari internet.
Setiap hari, media sosial dipenuhi cerita tentang:
- perselingkuhan,
- perceraian,
- suami yang berubah setelah menikah,
- toxic relationship,
- KDRT,
- mental load pada perempuan,
- sampai pasangan yang terlihat harmonis tapi ternyata bermasalah.
Video-video seperti itu viral jutaan kali.
Salah satu contoh yang ramai beberapa waktu terakhir adalah tren video “Marriage is Scary”, termasuk berbagai reels dan TikTok yang memperlihatkan ketakutan perempuan terhadap kehidupan setelah menikah. Mulai dari tidak dibela pasangan, tidak dibantu mengurus anak, sampai takut mengalami kekerasan setelah status berubah menjadi istri.
Masalahnya, algoritma media sosial memang bekerja seperti itu:
- konflik lebih viral,
- drama lebih ramai,
- luka lebih menarik perhatian dibanding hubungan sehat.
Akibatnya, banyak orang akhirnya tumbuh dengan persepsi bahwa:
pernikahan lebih dekat dengan penderitaan dibanding ketenangan.
Dan semakin sering seseorang melihat contoh buruk, semakin besar rasa takutnya.
Laki-Laki dan Perempuan Sama-Sama Takut — Tapi Alasannya Berbeda
Menariknya, laki-laki dan perempuan ternyata mengalami ketakutan yang berbeda terhadap pernikahan.
Banyak perempuan takut:
- kehilangan kebebasan,
- tidak diperlakukan setara,
- menghadapi beban rumah tangga sendirian,
- atau mendapatkan pasangan yang berubah setelah menikah.
Sementara laki-laki lebih sering takut:
- tidak mampu secara finansial,
- gagal menjadi kepala keluarga,
- tidak cukup mapan,
- atau tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial.
Akibatnya, banyak laki-laki memilih menunda menikah sampai merasa “cukup siap”.
Dan di sisi lain, perempuan sekarang juga semakin mandiri, lebih fokus pada pendidikan dan karier, serta semakin selektif memilih pasangan.
Di titik inilah muncul fenomena baru yang jarang dibahas:
banyak orang masih ingin dicintai,
tapi tidak yakin ingin menikah.
Masalah Terbesarnya Mungkin Bukan Takut Menikah — Tapi Takut Salah Memilih
Sebenarnya, sebagian besar orang masih percaya pada cinta.
Yang berubah adalah cara mereka melihat konsekuensi setelahnya.
Generasi sekarang tumbuh dengan terlalu banyak contoh hubungan yang gagal.
Mereka melihat sendiri:
- orang tua bertahan dalam hubungan tidak sehat,
- pasangan saling menyakiti,
- perceraian yang melelahkan,
- dan tekanan ekonomi yang menghancurkan rumah tangga.
Karena itu, banyak orang hari ini memilih berhati-hati.
Mereka bukan anti-pernikahan.
Mereka hanya sadar bahwa:
cinta saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan kehidupan setelah menikah.
Ketika “Siap” Tidak Pernah Benar-Benar Datang
Ada satu perubahan besar antara generasi dulu dan sekarang.
Generasi dulu:
menikah sambil membangun hidup.
Generasi sekarang:
ingin membangun hidup dulu, baru menikah.
Masalahnya, di tengah ekonomi yang tidak pasti, standar hidup yang terus naik, dan tekanan sosial yang semakin besar, rasa “siap” itu sering terasa tidak pernah benar-benar datang.
Akhirnya banyak orang terus menunda:
- satu tahun,
- dua tahun,
- lima tahun,
- lalu tiba-tiba sadar usia sudah jauh dari rencana awal mereka.
Dan itulah kenapa tren pernikahan terus turun.
Bukan karena orang berhenti percaya cinta.
Tapi karena hidup sekarang membuat komitmen terasa jauh lebih menakutkan dibanding sebelumnya.
Penutup
Fenomena takut menikah bukan sekadar tren internet.
Ia adalah cerminan dari perubahan sosial yang nyata.
Tentang generasi yang tumbuh dengan:
- tekanan ekonomi lebih berat,
- ekspektasi hidup lebih tinggi,
- trauma sosial lebih besar,
- dan paparan negatif yang terus muncul setiap hari di layar mereka.
Mereka tidak membenci pernikahan.
Mereka hanya tidak ingin masuk ke hubungan yang salah lalu menghabiskan hidup untuk menyesalinya.
Dan mungkin, itulah alasan kenapa hari ini semakin banyak orang berkata:
“Aku masih percaya cinta.
Tapi aku belum yakin pernikahan zaman sekarang benar-benar aman untuk dijalani.”
"Buat kamu yang takut menikah, tidak apa-apa berjalan lebih pelan.
Menikah bukan perlombaan, dan hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Yang penting, saat waktunya tiba, kamu tidak sedang memaksa diri untuk bahagia."
— By Hyull







