Artist : Raiko
Title : ALIVE
Realese date : 18 Febuari 2004
Kanji Lyrics, 歌詞 + Romaji + Arti Bahasa Indonesia
about me and all of mine
Artist : Raiko
Title : ALIVE
Realese date : 18 Febuari 2004
Kanji Lyrics, 歌詞 + Romaji + Arti Bahasa Indonesia
Punya kulit badan yang super kering, tapi wajah malah berminyak? Tenang... kamu bukan satu-satunya. 😆
Dulu aku sempat mikir, "Ini kulitku maunya apa sih?" Badan minta dilembapin terus, tapi muka malah kayak kilang minyak.
Case-ku tuh agak unik.
Dulu aku juga bingung. Masa iya badan kering tapi muka malah kayak kilang minyak? 😂
Akhirnya setelah coba-coba berbagai produk, aku nemuin rutinitas yang sampai sekarang masih jadi penyelamat.
Aku selalu pakai extra virgin olive oil (EVOO) setelah mandi, pas kulit masih setengah kering alias masih lembap.
Oiya, yang aku maksud di sini extra virgin olive oil (EVOO) ya, bukan olive oil biasa, apalagi minyak zaitun yang memang dijual khusus untuk pijat.
Kenapa?
Karena dari pengalamanku, hasilnya beda.
Waktu pernah coba minyak zaitun untuk pijat, rasanya memang tetap melembapkan, tapi daya tahan lembapnya nggak seawet EVOO. Di kulitku, rasanya jadi lebih mirip pakai body lotion biasa, jadi lebih cepat terasa kering lagi. Kemungkinan karena beberapa produk minyak pijat memang sudah dicampur dengan minyak atau bahan lain.
Kalau olive oil biasa, menurut hidungku aromanya juga agak tengik.
Sedangkan extra virgin olive oil aromanya lebih segar, nggak tengik sama sekali, dan yang paling aku suka, efek lembapnya di kulitku jauh lebih awet.
Makanya, sampai sekarang aku selalu pilih pakai extra virgin olive oil.
Takarnya juga nggak banyak kok.
Setelah itu baru lanjut skincare seperti biasa.
Kalau wajah:
Kalau badan:
Udah. Sesimpel itu.
Yang penting jangan nunggu kulit terasa kering dulu baru pakai pelembap.
Oiya, ada satu lagi yang pengen aku bagiin.
Kalau kalian kerja di ruangan ber-AC seharian... ya ampun, itu musuh besar buat kulit kering. 🥲
Sebenarnya body lotion tetap bagus dipakai. Tapi di kulitku, kalau cuma pakai body lotion, biasanya harus reapply sekitar 2–3 jam sekali supaya kulit tetap nyaman.
Masalahnya, kalau kerjaan lagi banyak, mana sempat reapply sesering itu? 😆
Nah, di situ aku lebih mengandalkan EVOO.
Kalau habis mandi aku sudah pakai EVOO, terus di tengah hari kulit mulai terasa kering, aku tinggal reapply sedikit EVOO lagi di bagian yang terasa kering, misalnya tangan atau kaki. Nggak perlu banyak, secukupnya aja.
Di kulitku, efek lembapnya jauh lebih awet. Bahkan sekitar 6 jam pun masih terasa nyaman. Jadi buat yang sehari-harinya kerja di ruangan ber-AC, menurutku EVOO ini benar-benar penyelamat.
Nah ini yang menurutku menarik.
Dulu karena wajahku berminyak, otomatis aku beli skincare yang memang khusus untuk kulit berminyak.
Eh... bukannya berkurang, minyaknya malah tetap banyak. Bahkan kulitku terasa agak kering.
Akhirnya iseng ganti moisturizer yang formulanya untuk kulit normal.
Lho...
Malah jauh lebih enak di kulitku.
Sejak rutin menjaga kelembapan wajah, termasuk pakai sedikit EVOO setelah mandi, produksi minyak di wajahku justru terasa lebih normal.
Dari situ aku mulai punya dugaan kalau di kasusku, wajah yang sangat berminyak mungkin memang sedang berusaha melindungi kulit yang sebenarnya kekurangan kelembapan.
Setelah baca beberapa referensi, ternyata memang ada penjelasannya.
Kulit yang kehilangan kelembapan atau mengalami gangguan skin barrier bisa terasa lebih kering sekaligus memicu produksi sebum lebih banyak pada sebagian orang. Tujuannya adalah membantu melindungi permukaan kulit agar tidak semakin kehilangan air.
Makanya, tidak semua wajah berminyak berarti kulitnya sudah cukup lembap.
Kadang justru yang dibutuhkan adalah menjaga skin barrier tetap sehat dengan pelembap yang cocok.
Tapi tentu saja, penyebab wajah berminyak itu banyak. Bisa karena hormon, genetik, cuaca, atau pemakaian skincare yang kurang cocok. Jadi pengalaman ini murni berdasarkan apa yang terjadi di kulitku sendiri.
Ini yang paling kerasa buatku.
Kalau aku skip moisturizer atau body lotion sekitar dua hari aja...
Wah, selesai. 🤣
Kulit badan langsung kering banget.
Wajah juga biasanya jadi jauh lebih berminyak daripada biasanya.
Yang bikin sebel, mengembalikannya nggak bisa instan.
Butuh waktu sekitar seminggu atau bahkan lebih sampai kondisi kulitku balik normal lagi.
Makanya sekarang aku lebih milih rajin pakai pelembap daripada harus memperbaiki kulit yang sudah telanjur kering.
Kalau lagi musim pancaroba atau cuaca berubah-ubah, kulitku jauh lebih gampang kehilangan kelembapan.
Jadi biasanya aku lebih sering reapply EVOO atau body lotion kalau mulai terasa kering.
Nggak harus nunggu habis mandi lagi.
Begitu terasa ketarik, langsung kasih pelembap.
Menurutku, lebih enak mencegah kulit jadi super kering daripada harus mengembalikan kelembapannya dari nol.
Jadi, kalau ada yang case-nya mirip kayak aku yang kulit badan (terutama tangan dan kaki) gampang kering tapi wajah malah cenderung berminyak, coba deh jangan cuma fokus mengurangi minyaknya.
Coba juga perhatikan apakah kulitmu sebenarnya sedang kekurangan kelembapan.
Siapa tahu, yang dibutuhkan bukan skincare yang semakin "mengeringkan", tapi justru pelembap yang cocok untuk menjaga skin barrier tetap sehat.
Kalau di aku sendiri, kombinasi ini yang paling nyaman:
Sejak rutin seperti ini, kondisi kulitku jauh lebih nyaman dibanding dulu.
Semoga pengalamanku ini bisa membantu teman-teman yang mungkin punya kondisi kulit yang mirip denganku. 😊
Disclaimer: Artikel ini murni berdasarkan pengalaman pribadiku. Kondisi kulit setiap orang bisa berbeda-beda. Kalau kamu punya masalah kulit yang berat atau tidak kunjung membaik, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit agar mendapatkan penanganan yang sesuai.
Ada yang punya masalah kulit unik kayak gini juga, atau tim yang suka skip pelembap? Coba share cerita kalian di kolom komentar ya! ^^
Minggu kemarin pas lagi jalan-jalan di Car Free Day, mataku langsung tertuju sama jagung manis yang kuningnya cantik banget. 🌽
Ya ampun... cakep-cakep semua! Akhirnya ngidam bubur jagung deh. Langsung gas beli satu bungkus isi tiga biji. Sampai rumah, tanpa pikir panjang langsung pipil semua jagungnya.
Dan... mari kita bikin Bubur Jagung Ala Hyull versi suka-suka. 😆
Resep ini benar-benar memanfaatkan bahan yang ada di rumah. Nggak pakai gula pasir, tapi tetap manis karena jagungnya memang sudah manis, ditambah susu kental manis dan madu.
Yeay... selesai! Sat set banget, kan? 😂
Sebenarnya bukan karena sedang bikin resep sehat-sehatan juga sih. 😆
Menurutku, jagung manis sudah cukup memberikan rasa manis alami. Ditambah susu kental manis dan madu, rasanya sudah pas banget. Jadi aku merasa nggak perlu lagi menambahkan gula pasir.
Aku juga nggak berani bilang ini resep sehat ya. Yang jelas, versi ini memang tanpa tambahan gula pasir.
Nah, ini yang mungkin agak berbeda dari resep bubur jagung kebanyakan.
Aku pakainya tepung pati garut karena kebetulan stoknya ada di rumah. Selain itu, tepung ini juga terkenal lebih ramah di lambung dibanding beberapa jenis tepung lainnya. Jadi sekalian saja dipakai. Hehe.
Kalau nggak punya, tenang... tetap bisa diganti pakai tepung maizena atau tepung tapioka kok.
Yang penting, sesuaikan saja kekentalannya dengan selera. Mau lebih kental? Tambah sedikit lagi tepungnya. Mau lebih encer? Tambah air.
Namanya juga versi suka-suka. 😁
Selamat mencoba resep Bubur Jagung Ala Hyull ini ya!
Kalau kalian lebih suka bubur jagung yang lembut atau yang masih ada sensasi jagung buat dikunyah? 🌽
Pernah nggak sih lagi pengen makan sambal, tapi malas ngeluarin ulekan?
Aku sering. 😂
Akhirnya, lahirlah resep sambal andalan yang super simpel. Tinggal cincang semua bahan, siram minyak panas, jadi deh! Nggak perlu ulek, nggak perlu ditumis, tapi rasanya tetap pedas, gurih, dan segar.
Opsional (tapi menurutku wajib kalau lagi ada):
Selesai! Sambal siap disantap.
Kalau kebetulan di rumah ada jeruk limau, jangan dilewatkan.
Menurutku, jeruk limau bikin rasa sambal jadi jauh lebih segar. Pedasnya terasa lebih hidup, ada sedikit rasa asam yang bikin nagih, dan aromanya juga semakin menggugah selera.
Kalau lagi nggak ada, ya tetap enak kok. Tapi kalau ada... wah, rasanya naik level!
Awalnya, resep ini terinspirasi dari sambal matah khas Bali.
Aku pernah mencoba menambahkan irisan serai yang tipis-tipis, dan ternyata enak juga. Wanginya segar tanpa terlalu mendominasi.
Sebaliknya, aku juga pernah mencoba menambahkan daun jeruk. Banyak orang suka, tapi ternyata bukan seleraku. Buat lidahku pribadi, aroma daun jeruk justru terlalu kuat, jadi akhirnya aku kembali ke versi yang paling sederhana.
Dan ternyata, versi sederhana inilah yang paling sering kubuat di rumah.
Yang aku suka dari sambal ini adalah bahannya hampir selalu tersedia di dapur.
Nggak perlu ulekan, nggak perlu blender, nggak perlu menumis lama. Cukup lima menit, sambal sudah siap menemani nasi hangat, telur dadar, telur ceplok, ayam goreng, tahu, tempe, bahkan kerupuk pun rasanya jadi lebih nikmat.
Kadang, resep yang paling sederhana justru yang paling sering kita buat. Karena selain praktis, rasanya juga nggak pernah gagal bikin nambah nasi.
Kalau kamu termasuk tim "malas ngulek" seperti aku, wajib coba resep sambal mentah siram minyak ini. Siapa tahu malah jadi sambal favorit di rumah. 😉
Sebagai Virtual Assistant (VA) yang pernah mengerjakan bagian strategy, aku sering banget bingung, bahkan sampai ketuker antara tiga istilah ini:
Ternyata bukan cuma aku, lho. Banyak juga yang masih suka mencampuradukkan ketiganya.
Memang, di beberapa perusahaan satu orang bisa mengerjakan semuanya. Tapi di perusahaan lain, ketiga posisi ini dipisah karena fokus pekerjaannya berbeda.
Nah, supaya nggak keliru lagi saat membaca atau membuat laporan, yuk kita bahas satu per satu dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Bahkan anak SD pun semoga bisa langsung paham. 😄
Misalnya kita punya usaha jualan es teh.
Tujuan kita sederhana: es tehnya laku dan menghasilkan keuntungan.
Nah, untuk mencapai tujuan itu, ada tiga "cara berpikir" yang berbeda.
Marketing Strategy menjawab pertanyaan besar:
"Gimana caranya supaya produk ini laku?"
Ini adalah rencana besar sebuah bisnis.
Hal-hal yang dipikirkan biasanya seperti:
Contoh
Misalnya target pembelinya adalah anak sekolah.
Maka strategi yang dibuat bisa seperti ini:
Semua keputusan tadi termasuk ke dalam Marketing Strategy.
Goal Marketing Strategy
Tujuan utamanya adalah:
Setelah strategi pemasaran selesai dibuat, muncul pertanyaan berikutnya.
Misalnya diputuskan bahwa promosi akan dilakukan melalui Instagram.
Nah, sekarang pertanyaannya berubah menjadi:
"Instagram ini mau dipakai untuk tujuan apa?"
Apakah untuk:
Inilah yang disebut Social Media Strategy.
Jadi fokusnya bukan lagi soal produk, tetapi bagaimana media sosial digunakan untuk membantu mencapai tujuan bisnis.
Contoh
Instagram digunakan untuk membangun kepercayaan.
TikTok digunakan agar konten mudah viral.
Facebook digunakan untuk menjalankan iklan.
Setiap platform punya tugas yang berbeda.
Goal Social Media Strategy
Biasanya bertujuan untuk:
Belum tentu langsung menghasilkan penjualan, tetapi membantu calon pelanggan semakin mengenal bisnis kita.
Kalau tujuan media sosial sudah ditentukan, sekarang muncul pertanyaan terakhir.
"Konten apa yang harus dibuat supaya tujuan tadi tercapai?"
Nah, inilah tugas Content Strategy.
Contohnya:
Hari Senin: Tips membuat es teh yang segar.
Hari Selasa: Testimoni pelanggan.
Hari Rabu: Behind the scene proses pembuatan es teh.
Hari Kamis: Fakta unik tentang teh.
Hari Jumat: Promo akhir pekan.
Semua perencanaan isi konten tersebut disebut Content Strategy.
Goal Content Strategy
Tujuannya adalah:
Masih bingung?
Coba gunakan analogi membangun rumah.
Marketing Strategy
Menentukan:
Ini adalah gambaran besarnya.
Social Media Strategy
Setelah rumah mau dibangun, kita memilih jalannya.
Misalnya:
Lalu setiap platform dipakai untuk tujuan yang berbeda.
Content Strategy
Kalau sudah memilih Instagram, sekarang pertanyaannya menjadi:
Nah, itulah Content Strategy.
Ketiga strategi ini sebenarnya saling berhubungan.
Urutannya seperti ini:
Jadi, Content Strategy tidak bisa berdiri sendiri tanpa mengetahui tujuan dari Social Media Strategy. Begitu juga Social Media Strategy sebaiknya mengikuti arah besar dari Marketing Strategy.
| Aspek | Marketing Strategy | Social Media Strategy | Content Strategy |
|---|---|---|---|
| Fokus | Bisnis | Media sosial | Isi konten |
| Pertanyaan | Bagaimana produk bisa laku? | Media sosial dipakai untuk apa? | Konten apa yang harus dibuat? |
| Goal | Penjualan & keuntungan | Awareness, engagement, trust | Konten yang menarik dan sesuai tujuan |
| Hasil Akhir | Strategi pemasaran | Strategi penggunaan media sosial | Rencana isi konten |
Kalau suatu hari kamu lupa lagi, cukup ingat tiga pertanyaan ini.
Marketing Strategy
"Gimana caranya supaya produk ini laku?"
Social Media Strategy
"Media sosial ini dipakai untuk mencapai tujuan apa?"
Content Strategy
"Konten apa yang harus dibuat supaya tujuan tadi tercapai?"
Banyak orang mengira ketiga istilah ini sama, padahal sebenarnya berbeda.
Kesalahan yang sering terjadi antara lain:
Padahal urutannya adalah:
Marketing Strategy → Social Media Strategy → Content Strategy → Content Creation → Posting.
Kalau sudah paham tiga pertanyaan ini, biasanya kamu tidak akan lagi tertukar saat membaca job desk, membuat laporan, atau berdiskusi dengan tim marketing.
Semoga setelah membaca artikel ini, istilah Marketing Strategy, Social Media Strategy, dan Content Strategy tidak lagi terdengar membingungkan. Ketiganya memang saling berkaitan, tetapi masing-masing punya fokus dan tujuan yang berbeda. Dengan memahami perbedaannya, kita bisa bekerja lebih terarah dan komunikasi dengan tim pun menjadi lebih mudah.
Kalau kamu sendiri, pernah nggak salah membedakan Marketing Strategy, Social Media Strategy, dan Content Strategy? Atau justru baru tahu bedanya setelah membaca artikel ini? Ceritakan di kolom komentar, ya! 😊