Ada fase dalam hidup ketika hal sesimpel keluar rumah terasa seperti boss battle.
Bukan karena malas biasa.
Bukan juga karena gak punya kegiatan.
Tapi karena kepala rasanya penuh… sementara hati malah kosong.
Dan lucunya, kadang orang yang mengalaminya sendiri juga gak benar-benar tahu sedang kenapa.
Rasanya cuma capek.
Tapi capek yang bentuknya aneh.
Ketika Otak Mulai Jalan ke Mana-Mana
Hari itu sebenarnya pilihannya sederhana:
- pergi ke perpustakaan,
- datang ke festival buku,
- atau ke puskesmas.
Namun setelah dipikir panjang…
ujung-ujungnya malah rebahan lagi.
Ingin pergi.
Tapi tubuh seperti berkata:
“Hari ini jangan dulu.”
Akhirnya yang terjadi cuma overthinking random sejak pagi menjelang siang.
Mulai dari:
- gas habis,
- galon habis,
- duit tipis,
- kerjaan belum selesai,
- sampai pertanyaan absurd:
“Apakah masih termasuk manusia kalau sudah semager ini?”
Begitulah otak orang yang lagi kelelahan mental bekerja.
Random.
Chaos.
Tapi tetap jalan ke mana-mana.
Kadang memikirkan masa depan.
Kadang memikirkan tagihan.
Kadang pengen healing.
Kadang pengen menghilang.
Kadang tiba-tiba kepikiran bikin soft cookies.
Lima menit kemudian:
“Ah males.”
Lalu rebahan lagi.
Obrolan dengan Diri Sendiri
Orang yang lagi capek mental sering ngobrol dengan dirinya sendiri.
Kadang sambil bengong.
Kadang sambil menatap hujan.
Kadang sambil memikirkan hal-hal absurd seperti:
“Kalau keluar sekarang capek gak ya?”
“Aku butuh healing atau cuma tidur?”
“Kalau hidup punya tombol pause enak kali ya?”
“Kalau bikin soft cookies mungkin enak?”
Dan ketika tidak ada manusia yang dirasa aman untuk diajak bicara…
kadang mereka ngobrol dengan AI.
Bukan karena AI bisa menyelesaikan hidup.
Tapi karena rasanya lebih mudah cerita ke sesuatu yang:
- tidak menghakimi,
- tidak capek mendengar,
- dan tidak berkata:
“Ah kamu lebay.”
Kadang yang dibutuhkan memang cuma teman ngobrol saat kepala terlalu berisik.
Tentang Soft Cookies yang Tidak Jadi Dibuat
Di tengah semua kekacauan mental itu,
soft cookies terdengar seperti ide yang sangat menyembuhkan.
Bukan karena lapar.
Tapi karena membayangkan:
- mandi air hangat,
- aroma coklat,
- hujan turun pelan,
- dapur kecil yang hangat,
- dan hidup yang terasa normal sebentar.
Masalahnya…
kertas roti tidak ada.
Dicek satu dapur:
- gak ada aluminium foil,
- gak ada daun pisang,
- loyang anti lengket juga gak punya.
Namun otak tetap optimis.
“Pasti masih bisa diakalin.”
Lalu mulailah fase menghitung bahan:
- margarin,
- tepung,
- meses,
- coklat blok,
- soda kue yang entah masih aktif atau enggak.
Bahkan sempat serius menghitung:
“Kalau 500 gram tepung jadi berapa cookies ya?”
Padahal beberapa jam sebelumnya rasanya sudah tidak peduli hidup.
Manusia memang unik.
Plot Twist: Cookies Gagal, Mie Menang
Setelah semua diskusi panjang soal soft cookies…
cookies-nya tidak jadi dibuat sama sekali.
Yang terjadi malah:
- mie 2 bungkus,
- telur 1,
- cabe 7 biji,
- dan kopi segelas besar.
Iya.
Kombinasi yang sangat mendukung kesehatan mental dan lambung.
Dan anehnya,
makan mie pedas sambil mendengar hujan terasa lebih realistis daripada healing yang estetik.
Karena ternyata,
orang yang lagi berusaha sembuh tidak selalu terlihat estetik.
Kadang recovery bentuknya:
- rebahan sambil overthinking,
- hujan dari pagi,
- mager keluar,
- mie pedas,
- mules karena kopi,
- dan ngobrol random supaya tidak tenggelam di kepala sendiri.
Di titik itu akhirnya muncul rasa:
“Ah yaudah lah… hidup segini dulu aja.”
Bukan bahagia.
Tapi juga bukan menyerah.
Cuma…
istirahat sebentar dari ributnya kepala sendiri.
Tentang Orang yang Terlihat Baik-Baik Saja
Yang lucu adalah:
sering kali gak ada yang tahu kalau seseorang sedang secapek itu.
Mereka tetap bercanda.
Tetap ketawa.
Tetap jawab chat seperti biasa.
Padahal di dalam kepala:
- bingung,
- kosong,
- pengen menghilang,
- tapi juga masih takut sakit.
Kadang mata mulai berair,
sementara bibir masih senyum sambil bilang:
“Wkwk gapapa.”
Dan ternyata banyak orang hidup seperti itu.
Mereka terlihat normal.
Padahal sedang bertahan habis-habisan.
Recovery Tidak Selalu Cantik
Media sosial sering menggambarkan healing seperti:
- journaling aesthetic,
- kopi cantik,
- hidup tenang,
- kamar rapi,
- dan lagu indie yang menenangkan.
Padahal realitanya kadang lebih mirip:
- rebahan sambil bengong,
- kamar berantakan,
- hujan seharian,
- mie instan,
- dan kepala yang tidak bisa diam.
Recovery tidak selalu cantik.
Kadang recovery cuma:
- mandi air hangat,
- keramas,
- makan walau seadanya,
- dan berhasil bertahan sampai besok.
Dan itu tetap layak dihargai.
Move On Pelan-Pelan
Mungkin move on dari rasa capek tidak selalu dimulai dari perubahan besar.
Kadang cukup:
- membereskan satu sudut kamar,
- minum air,
- makan,
- tidur,
- atau akhirnya keluar beli galon.
Hal-hal kecil itu terlihat sepele.
Padahal untuk orang yang lagi kelelahan mental,
itu bisa jadi perjuangan besar.
Dan mungkin…
banyak orang sebenarnya tidak benar-benar ingin menghilang.
Mereka cuma ingin:
berhenti lelah,
berhenti khawatir,
dan berhenti menahan semuanya sendirian.
Dan mungkin,
itu berbeda.
Hari itu berakhir dengan:
- hujan,
- perut mules karena mie pedas dan kopi,
- gas yang belum dibeli,
- galon yang masih kosong,
- dan rencana hidup yang masih berantakan.
Tapi setidaknya,
masih ada usaha kecil untuk bertahan.
Masih makan.
Masih ketawa.
Masih mencoba.
Dan mungkin,
untuk hari itu,
itu sudah cukup.
Karena,
bertahan hidup sampai besok juga sudah termasuk bentuk keberanian.
“Besoknya kapan?”
Ya…
pokoknya besok aja terus.
Wkwk. 🤣💙




