Di Balik Viral Afirmasi Positif, Ada Sisi yang Jarang Dibahas
Belakangan ini, afirmasi positif sedang viral di mana-mana.
Setiap buka media sosial, mulai dari TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, Threads, bahkan sampai LinkedIn selalu ada konten tentang afirmasi positif.
“ Aku cantik. ”
“ Aku berharga. ”
“ Aku pasti sukses. ”
“ Aku dicintai. ”
“ Semesta mendukungku. ”
Banyak orang menjadikan afirmasi sebagai bagian dari healing.
Dan memang… untuk sebagian orang, afirmasi bisa membantu.
Terutama untuk mulai membangun harapan, keberanian, dan pola pikir yang lebih baik.
Tapi ternyata, tidak semua psikolog setuju kalau afirmasi positif dijadikan pondasi utama hidup dalam jangka panjang.
Karena dalam beberapa kasus, afirmasi yang terus diulang justru bisa memunculkan luka baru.
Afirmasi Positif Bisa Membantu… Tapi Tidak Selalu Menyelesaikan Luka
Beberapa psikolog menilai afirmasi positif memang bisa membantu dalam jangka pendek.
Terutama untuk:
- membangun harapan,
- mengurangi self-talk negatif,
- dan membantu seseorang mulai melihat dirinya secara lebih baik.
Namun, afirmasi tidak selalu menyelesaikan akar luka emosional.
Karena pada sebagian orang, terutama yang memiliki self-esteem rendah atau luka validasi sejak kecil, afirmasi yang terlalu positif justru bisa terasa “tidak nyata”.
Alih-alih merasa lebih baik, seseorang malah mulai merasa:
“Kenapa aku terus bilang aku berharga…
tapi tetap merasa kosong?”
Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan cognitive dissonance yaitu ketika apa yang terus diucapkan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dirasakan di dalam diri.
Akibatnya, afirmasi yang awalnya terasa menenangkan bisa berubah menjadi tekanan baru.
Seseorang jadi merasa gagal karena:
- hidupnya tidak kunjung berubah,
- emosinya tidak membaik,
- atau dirinya tetap merasa tidak cukup meski sudah “berpikir positif”.
Penelitian dari Joanne Wood dan timnya pada tahun 2009 bahkan menemukan bahwa afirmasi positif tertentu justru dapat membuat sebagian orang dengan self-esteem rendah merasa lebih buruk terhadap dirinya sendiri.
Karena ketika seseorang belum benar-benar mempercayai kalimat positif itu, otak justru semakin sadar terhadap jarak antara “harapan” dan “kenyataan”.
Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa efek afirmasi positif tidak selalu konsisten dan bisa berbeda pada tiap orang.
Karena itu, healing tidak cukup hanya dengan mengulang kalimat positif,
tetapi juga perlu:
- memproses luka,
- menerima emosi dengan jujur,
- membangun lingkungan yang sehat,
- dan memiliki tempat bersandar yang lebih kuat daripada diri sendiri.
Ketika Afirmasi Tidak Sesuai dengan Realita
Bayangkan seseorang terus berkata pada dirinya sendiri:
“Aku pasti dicintai.”
“Aku layak dipilih.”
“Aku akan bahagia.”
Tapi tahun demi tahun berlalu…
dan kenyataannya tidak kunjung terasa seperti itu.
Lama-lama muncul pertanyaan:
“Kalau aku sudah berpikir positif terus…
kenapa hidupku tetap begini?”
Di titik itu, sebagian orang mulai:
- meragukan dirinya sendiri,
- merasa gagal,
- merasa kurang positif,
- bahkan merasa ada yang salah dengan dirinya.
Ini yang kadang jarang dibahas.
Karena afirmasi positif sering terdengar indah di awal,
tapi tidak semua orang kuat menanggung kekecewaan ketika realita tidak berjalan sesuai harapan yang terus diulang di kepala.
Fatherless Wound dan Kebutuhan Validasi
Untuk orang yang memiliki father wound atau luka validasi sejak kecil,
afirmasi kadang berubah menjadi usaha terus-menerus untuk meyakinkan diri sendiri.
Padahal di dalam dirinya masih ada luka yang belum selesai diproses.
Akhirnya seseorang terus memaksa dirinya:
- harus kuat,
- harus percaya diri,
- harus positif,
- harus bahagia.
Padahal hatinya sebenarnya lelah.
Dan ketika afirmasi itu tidak “terbukti”, luka lama bisa semakin terasa.
Bukan karena afirmasinya sepenuhnya salah,
tetapi karena manusia terlalu rapuh jika dijadikan pusat sandaran utama.
Masalahnya Ada pada “Pusat Sandaran”
Sebagian afirmasi modern berpusat pada diri sendiri.
“Aku cukup.”
“Aku bisa semuanya.”
“Aku menentukan segalanya.”
Sekilas terdengar empowering.
Tapi manusia punya batas.
Ada hari ketika kita lemah.
Ada hari ketika kita gagal.
Ada hari ketika kita tidak percaya pada diri sendiri.
Kalau seluruh pondasi hidup hanya bertumpu pada diri sendiri,
maka saat diri ini runtuh…
semuanya ikut runtuh.
Ketika Sandarannya Bukan Diri Sendiri
Berbeda ketika seseorang percaya bahwa hidupnya ditopang oleh Allah SWT.
Bukan berarti hidup langsung mudah.
Bukan berarti sedih langsung hilang.
Tapi ada rasa:
- “Aku tidak sendirian.”
- “Aku tidak harus kuat setiap saat.”
- “Ada Allah yang menuntun.”
- “Nilai diriku tidak ditentukan oleh hasil hidup hari ini.”
Di titik itu, ketenangan tidak lagi bergantung pada:
“Apakah afirmasiku kejadian atau tidak?”
Melainkan pada keyakinan:
“Allah tetap ada, bahkan ketika hidupku belum sesuai harapan.”
Dan itu membuat seseorang lebih stabil secara emosional.
Healing Bukan Sekadar Mengulang Kata-Kata Indah
Kadang healing bukan tentang terus berkata:
“Aku baik-baik saja.”
Tapi berani jujur:
“Ya Allah… aku sedang capek.”
Bukan memaksa diri terlihat kuat,
tetapi belajar bersandar dengan jujur.
Karena manusia tidak diciptakan untuk menopang semuanya sendirian.
Afirmasi Boleh, Tapi Jangan Dijadikan Sebuah Kemutlakan
Afirmasi positif bukan musuh.
Dalam kadar tertentu, afirmasi bisa membantu seseorang membangun harapan dan cara bicara yang lebih lembut kepada dirinya sendiri.
Tapi jangan sampai seluruh hidup bergantung pada kalimat-kalimat yang kita ciptakan sendiri.
Karena pada akhirnya,
manusia bisa berubah,
perasaan bisa runtuh,
dan keyakinan pada diri sendiri bisa goyah.
Sedangkan Allah SWT tidak.
Ketenangan Tidak Harus Datang dari Diri Sendiri
Mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar berkata:
“Aku kuat.”
Tetapi belajar percaya:
“Walaupun aku lemah, Allah SWT tetap membersamaiku.”
Karena ada saatnya manusia benar-benar lelah menjadi sandaran bagi dirinya sendiri.
Capek harus selalu terlihat kuat.
Capek harus selalu positif.
Capek harus terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Padahal tidak semua luka sembuh hanya dengan kalimat indah.
Kadang yang paling menenangkan justru bukan:
“aku pasti bisa”,
melainkan:
“Ya Allah, aku tidak kuat sendiri… dan aku butuh Engkau.”
Dan mungkin…
itu jauh lebih menenangkan daripada ribuan afirmasi yang terus dipaksa terdengar sempurna.
“Tidak semua hati butuh diyakinkan bahwa dirinya kuat.
Kadang hati hanya butuh tempat bersandar ketika sedang lelah.”
— By Hyull 💙




