Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Jumat, Agustus 28, 2026

Dari Sabun Mandi Sampai Skincare Anak-Anak: Perjalananku Menemukan 3 Basic Skincare yang Cocok di Kulitku

Cerita jujur trial and error bertahun-tahun demi merawat kulit rewel tanpa bikin boncos.

Aku bukan tipe orang yang kalau ada produk skincare viral langsung ikut beli. Bukan karena nggak penasaran, tapi aku lebih suka lihat dulu, pelajari kandungan utamanya, cek sekilas kira-kira cocok atau nggak dengan kondisi kulitku, memastikan produknya aman dan terdaftar BPOM, lalu yang nggak kalah penting: lihat harganya masuk budget atau nggak. 😂

Perjalananku menemukan basic skincare yang cocok juga ternyata nggak sebentar. Bahkan bisa dibilang sudah bertahun-tahun.

Semuanya berawal setelah aku mulai sering melihat edukasi dari dokter estetika di YouTube dan TikTok tentang pentingnya basic skincare. Dari situ aku mulai berpikir, “Oh iya juga ya, kayaknya aku memang butuh skincare yang basic dulu.”

Apalagi kondisi kulitku cukup unik: wajahku cenderung berminyak, tapi kulit badanku justru kering.

Kondisi ini sebelumnya sudah pernah aku ceritakan juga di artikel “Kulit Badan Kering Tapi Wajah Berminyak? Ternyata Solusiku Sesimpel Ini!”

Nah, dari situlah perjalananku mencari tiga basic skincare ini dimulai.

Dari EVOO, Sabun Mandi, Sampai Akhirnya Punya Face Wash

Kalau dipikir-pikir, dulu aku cukup sederhana soal skincare.

Sejak kecil, aku terbiasa memakai EVOO (extra virgin olive oil) untuk seluruh badan. Kemudian makin besar, mungkin sekitar SMP atau SMA, aku mulai sadar kalau wajah sepertinya butuh perlakuan yang berbeda.

Aku mulai menggunakan face wash, karena ternyata sekadar pakai EVOO saja nggak cukup untuk wajah. Apalagi setelah makin sering beraktivitas di luar rumah, jadi wajah terasa kotor. Ditambah matahari terasa makin terik, aku akhirnya sadar kalau sunscreen juga penting.

Tapi untuk sampai ke tahap punya tiga basic skincare yang sekarang kupakai, jalannya lumayan panjang. 😂

1. Face Wash: Dari Sabun Mandi Sampai Ketemu Pigeon

Dulu waktu sekolah, aku menganggap face wash bukan sesuatu yang penting.

Maklum, aku terbiasa pakai sabun mandi untuk cuci muka. Wkwkwk.

Masalahnya, setelah pakai sabun mandi, wajahku malah terasa semakin berminyak. Jadi aku sesekali memakai pembersih dan penyegar Viva bengkoang punya Ibu karena wajah berminyak dan kotor itu nggak enak. 😂

Sampai akhirnya aku mulai hunting face wash.

Face wash pertama yang kupilih adalah Clean & Clear yang kemasannya warna cokelat, tekstur cair, dan memang ditujukan untuk remaja. Waktu itu aku masih SMA, jadi rasanya cocoklah dengan target produknya.

Aku beli ukuran kecil dulu karena baru mencoba.

Ternyata setelah beberapa kali dipakai, wajahku malah terasa kering.

Tapi karena saat itu aku sudah punya “senjata andalan”, aku tinggal mengoleskan EVOO setelahnya. Wkwkwk.

Setelah produk itu habis, aku nggak beli lagi. Aku malah balik lagi ke sabun mandi, sesekali pembersih dan penyegar Viva punya Ibu, dan tentunya EVOO.

Kemudian aku pernah mencoba Pond’s punya sepupu.

Baru sekali pakai, wajah langsung terasa kering dan gradakan. 😂

Lagi-lagi, solusinya adalah EVOO.

Setelah itu aku mulai hunting lagi. Aku sempat mencoba beberapa produk dari berbagai merek seperti Hada Labo, Biore, Wardah, Hanasui, Emina, Skintific, dan beberapa merek lain yang sekarang sudah lupa.

Tapi karena aku juga tipe yang nggak mau buang-buang uang cuma untuk coba-coba, modal utamaku adalah tester gratis dari teman. Wkwkwk.

Tenang, aku nggak asal ambil banyak. Aku cuma coba sekali dan sedikit banget, paling seukuran biji jagung. Takut nggak cocok, kan?

Dan ternyata...

Memang banyak yang nggak cocok. 😂

Ada yang bikin wajah kering, makin berminyak, terasa panas, gradakan, bahkan ada yang bikin kulit terasa ketarik.

Solusinya?

EVOO lagi.

Wkwkwkwk.

Jadi selama bertahun-tahun, skincare wajahku itu bisa dibilang cukup random: sabun mandi, sesekali pembersih dan penyegar Viva, EVOO, dan Emina Bright Stuff yang akhirnya menjadi moisturizer pertamaku yang cocok.

Sampai akhirnya ketika kuliah, tepatnya sekitar semester akhir, aku sudah agak menyerah dengan face wash untuk remaja-dewasa.

Aku malah browsing dan searching face wash untuk anak-anak.

Pikirku waktu itu, mungkin produk untuk anak-anak formulanya lebih skin-friendly dan lembut. 😂

Dari pencarian itu aku menemukan Pigeon Facial Foam for All Skin Types. Di keterangannya, produk ini memang ditujukan untuk semua jenis kulit. Aku akhirnya beli ukuran kecil dulu.

Dan ternyata...

Cocok!

Nggak panas, nggak terasa ketarik, nggak bikin gradakan, dan nyaman dipakai.

Ukuran kecilnya habis tanpa drama.

Akhirnya aku beli ukuran besarnya. 😂

Finally! Aku menemukan satu produk basic skincare yang cocok: Pigeon Facial Foam for All Skin Types.

2. Moisturizer: Dari Emina, Muter-Muter, Sampai Hanasui

Kalau moisturizer, produk pertamaku adalah Emina Bright Stuff Moisturizing Cream SPF 15 yang kemasannya pink.

Aku sudah berkali-kali membeli produk ini sejak SMA karena memang cocok di kulitku.

Sampai kemudian ketika kuliah, kalau nggak salah sekitar semester pertengahan, Emina melakukan perubahan pada kemasan sekaligus formulanya. Kemasan masih sama-sama pink, tapi formulanya sudah berbeda.

Aku pun beli seperti biasa.

Eh, ternyata...

Nggak cocok lagi.

Wajahku jadi terasa lebih berminyak dan nggak nyaman.

Akhirnya aku stop pakai dan kembali lagi ke mode hunting moisturizer.

Dan tentu saja, selama masa pencarian itu...

EVOO dulu. Wkwkwkwk.

Produk pertama yang kucoba adalah yang murah dan kebetulan sudah ada di rumah: Viva punya Ibu.

Aku sempat mencoba beberapa variannya, mulai dari Viva Pelembab Bengkuang, Mulberry, sampai Skin Food.

Hasilnya kurang lebih sama.

Wajahku jadi lebih gampang berkeringat dan menurutku kelembapannya masih kurang. Untuk yang Skin Food, wajahku malah terasa lebih berminyak.

Aku juga pernah mencoba Viva Moist Cream dalam jar, bahkan night cream-nya.

Tapi tetap saja, wajahku gampang berkeringat setelah memakainya.

Entah memang karakter produknya begitu atau ada kandungan tertentu yang kurang cocok di kulitku. 🤔

Terus waktu aku ke toko kosmetik, aku disaranin pakai moisturizer yang teksturnya gel biar lebih ringan dan cepat meresap. Aku pun dikasih saran La Tulipe Active Moisturizer Gel for Normal to Dry Skin.

Aku akhirnya mencoba produk tersebut.

Tapi ternyata, produk ini juga belum menjadi moisturizer yang benar-benar cocok di kulitku karena menurutku kurang lembap. 😭

Kemudian aku mencoba Metoo Probiotik Water-Oil Balance Essence Cream.

Sebenarnya produk ini lumayan cocok. Nggak bikin wajah kering, hanya saja menurutku kelembapannya kurang tahan lama.

Beberapa jam kemudian rasanya harus re-apply lagi.

Dan jujur...

Males. Wkwkwk.

Selain itu, menurutku produk ini juga kurang cepat meresap.

Sampai suatu hari ketika sedang belanja di supermarket, aku melihat pelembap untuk bayi.

Tiba-tiba muncul ide:

“Hmm... mungkin pakai yang buat bayi aja kali ya? Harusnya skin-friendly.” 😂

Akhirnya aku membeli My Baby Face & Body Cream yang warna pink, dengan kandungan ceramide, oat, dan milk.

Dan ternyata...

Cocok! Wkwkwk.

Walaupun masih ada kekurangannya, yaitu menurutku agak lama meresap, tapi sedikit lebih cepat dibanding Metoo.

Dari sini aku jadi penasaran dengan ceramide.

Aku lihat kandungannya, kemudian mulai mencari moisturizer lain yang juga mengandung ceramide.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel. Produk ini bertekstur gel dan klaimnya ringan serta mudah meresap, jadi cukup menarik untuk kulitku yang gampang berkeringat.

Aku pun nggak langsung beli yang besar.

Aku coba ukuran kecil 30 gram dulu.

Dan ternyata...

Enak banget dipakai!

Cepat meresap, cepat set, terasa adem di kulit, nggak bikin berminyak, dan nyaman.

Sampai habis pun nggak ada drama.

Ya sudah.

Gas beli ukuran besarnya. 😂

Sampai sekarang, Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel masih menjadi moisturizer yang kupakai, baik pagi maupun malam.

Kalau ada yang bertanya, “Terus krim malamnya apa?”

Nggak ada. Wkwkwk.

Bukan apa-apa, aku tuh kalau skincare terlalu banyak malah takutnya malas pakai dan akhirnya produknya keburu expired.

Jadi daripada punya banyak produk tapi nggak konsisten, mending pakai yang memang sudah cocok dan sering dipakai.

Simple. 😎

3. Sunscreen: Yang Paling Belakangan Kusadari Penting

Kalau dibandingkan face wash dan moisturizer, sunscreen justru menjadi basic skincare yang paling telat kusadari pentingnya.

Aku baru benar-benar mulai memperhatikan sunscreen sekitar tahun 2025.

Waktu itu aku mulai merasa matahari makin ke sini makin terik. Keluar siang sedikit saja rasanya menyengat dan panas.

Belum lagi aku mulai memperhatikan perubahan warna kulit di tangan.

Ada garis pembatas antara bagian tangan yang terkena sinar matahari dengan bagian pergelangan yang tertutup lengan baju.

Alias...

Belang. Wkwkwk

Akhirnya aku mulai hunting sunscreen.

Sunscreen pertama yang kucoba adalah Hanasui.

Ternyata di kulitku rasanya panas dan butuh waktu cukup lama untuk meresap.

Akhirnya aku downgrade produk ini untuk dipakai di badan saja.

Kemudian aku mencoba Wardah.

Sebenarnya oke, hanya ada satu masalah: menurutku cukup lama meresap di kulit.

Kalau sudah keburu berkeringat, rasanya sunscreen jadi kurang nyaman dan seperti nggak menempel dengan baik.

Akhirnya...

Downgrade lagi untuk badan. 😂

Karena pengalaman sebelumnya cukup mirip, aku kembali berpikir:

“Coba yang buat anak-anak aja kali ya. Siapa tahu lebih skin-friendly.”

Ketemulah BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+.

Produk ini menarik buatku karena ukurannya 100 ml, praktis, bisa digunakan untuk wajah sekaligus badan, dan harganya juga relatif ramah di kantong. Produk ini memang dipasarkan sebagai sunscreen lotion anak dengan SPF 30+.

Di wajah memang agak lama meresap, tapi untuk badan menurutku oke.

Akhirnya BFREE ini tetap kupakai sebagai sunscreen badan sekaligus sunscreen yang praktis untuk dibawa ke mana-mana.

Tapi aku masih mencari alternatif untuk wajah.

Aku sadar satu hal: Wajahku gampang berkeringat.

Jadi aku mulai mencari sunscreen yang ketika dioleskan bisa lebih cepat set di kulit.

Sampai akhirnya aku menemukan Seger Snow Sunscreen SPF 30 PA+++.

Aku melihat beberapa video review dan memperhatikan bagaimana orang-orang terlihat cukup effort saat meratakannya.

Akhirnya aku penasaran dan coba beli.

Dan ternyata...

Cocok di kulitku! 😭

Cepat meresap, cepat set, harganya murah, dan isinya 42 gram yang menurutku awet banget.

Tapi tentu saja ada minusnya.

Whitecast.

Kalau nggak hati-hati saat meratakannya, wajah bisa terlihat abu-abu.

Jadi sunscreen ini kurang praktis untuk dipakai di badan karena whitecast-nya cukup terlihat. Sebenarnya masih bisa diakali dengan bedak, tapi ya...

Nambah effort lagi. Wkwkwk.

Akhirnya untuk sementara kombo sunscreen-ku menjadi:

  • Wajah → Seger Snow Sunscreen SPF 30 PA+++
  • Badan → BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Sampai akhirnya Seger Snow-ku habis dan aku kembali hunting sunscreen wajah.

Setelah itu aku sempat mencoba Glow & Lovely Bright UV Duo SPF 35 PA+++ ukuran kecil, yang mengandung Niacinamide dan Vitamin C.

Awalnya sih oke-oke saja.

Tapi setelah dipakai beberapa kali, lama-lama wajahku malah terasa gradakan dan kasar.

Ya sudah...

Downgrade lagi jadi sunscreen badan. 😂

Aku mulai curiga jangan-jangan aku kurang cocok dengan kandungan Niacinamide dan Vitamin C. Kebetulan temanku juga pernah bilang kalau beberapa orang memang bisa mengalami kulit terasa kasar atau muncul tekstur kalau nggak cocok dengan bahan tertentu.

Tapi tentu saja, aku juga nggak bisa langsung menyimpulkan kalau penyebabnya pasti dua kandungan tersebut. Bisa saja memang ada faktor lain dari produknya yang kurang cocok di kulitku.

Yang jelas, daripada dipaksakan ke wajah, lebih aman menurutku turunkan levelnya jadi sunscreen badan. Wkwkwk.

Karena sebelumnya aku sudah menemukan moisturizer yang cocok dengan kandungan ceramide, aku pun penasaran mencoba sunscreen yang mengandung ceramide juga.

Akhirnya aku menemukan Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++.

Produk ini punya tekstur yang ringan dan mengandung 5X Ceramide, Cica, serta Squalane.

Aku memang sengaja mencari sunscreen dengan tekstur yang menurutku cocok untuk kondisi kulitku yang gampang berkeringat. Dan ternyata Azarine ini memang terasa lebih mudah meresap di kulitku.

Akhirnya sekarang kombo sunscreen-ku berubah lagi:

  • Wajah → Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++
  • Badan → BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Azarine biasanya kupakai pagi hari atau ketika dari rumah mau keluar.

Sedangkan kalau sudah berada di luar dan perlu re-apply, aku lebih suka menggunakan BFREE karena praktis dan bisa digunakan untuk wajah sekaligus badan.

Satu produk, dua fungsi.

Hemat, praktis, dan nggak ribet. 😂

Jadi, Ini Basic Skincare-ku Sekarang

Setelah perjalanan panjang dari sabun mandi, EVOO, coba punya teman, coba produk murah, coba produk anak-anak, sampai berkali-kali downgrade produk dari wajah ke badan, akhirnya aku punya basic skincare yang menurutku cocok dan nyaman dipakai.

Saat ini kombo-ku adalah:

  • Face wash: Pigeon Facial Foam for All Skin Types
  • Moisturizer: Hanasui 10X Ceramide Probiotics Moisturizer Gel
  • Sunscreen:

    • Wajah: Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturizer SPF 35 PA+++
    • Wajah/badan & re-apply saat di luar: BFREE Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Dan dari semua perjalanan ini aku jadi makin sadar kalau ternyata mencari skincare yang cocok itu memang nggak selalu soal ikut produk yang sedang viral.

Kadang kita memang perlu mengenali kondisi kulit sendiri, membaca kandungan utama, mencari tahu apakah produknya kira-kira sesuai, mengecek legalitasnya, mempertimbangkan budget, dan yang paling penting...

coba dulu pelan-pelan.

Karena skincare yang cocok buat orang lain belum tentu cocok di kulit kita.

Aku sendiri bahkan harus melewati perjalanan bertahun-tahun dan berkali-kali mengalami kulit kering, berminyak, panas, gradakan, terasa ketarik, sampai gampang berkeringat sebelum akhirnya menemukan tiga basic skincare yang sekarang.

Dan lucunya, beberapa produk yang akhirnya cocok justru datang dari pemikiran:

“Coba yang buat anak-anak aja kali ya?” 😂

Ternyata strategi skincare-ku malah:

skin-friendly + budget-friendly + nggak ribet.

Kalau kalian sendiri, kombo basic skincare-nya sekarang pakai apa aja?

Face wash, moisturizer, dan sunscreen andalan kalian apa?

Komen yaa! :)


Selasa, Agustus 25, 2026

Pentingnya Sunscreen: Dulu Aku Nggak Peduli, Sekarang Malah Nggak Bisa Keluar Tanpa Sunscreen

Cerita Jujur Perjalanan Hunting Sunscreen, Tips Praktis Re-apply, dan Alasan Kenapa Sekarang Aku Nggak Bisa Lepas Darinya

Jujur, sebelumnya aku bukan orang yang terlalu mementingkan sunscreen.

Bahkan kalau dipikir-pikir, selama masa sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, kuliah, sampai kerja, aku hampir nggak pernah rutin pakai sunscreen. 😭

Skincare yang paling sering kupakai paling cuma moisturizer dan EVOO. Udah, itu aja.

Tapi makin ke sini, aku mulai merasa matahari tuh makin nggak santai.

Apalagi akhir-akhir ini panasnya poll banget. Baru jam 7 pagi saja rasanya matahari sudah menyengat. Kalau keluar rumah tanpa perlindungan, kulit terasa seperti kena panas langsung, bahkan kadang sampai terasa cekit-cekit.

Dari situlah aku mulai berpikir,

“Kayaknya aku harus mulai serius pakai sunscreen deh.”

Mulai Hunting Sunscreen

Akhirnya sekitar setahun yang lalu, tepatnya tahun 2025, aku mulai berusaha rutin menggunakan sunscreen.

Dan ternyata menemukan sunscreen yang cocok itu nggak semudah yang kukira. 😭

Aku mulai hunting dari sunscreen yang harganya paling murah. Kalau ternyata kurang cocok di wajah, aku coba pakai untuk kaki atau tangan. Kemudian aku mulai mencari sunscreen dengan kisaran harga yang sedikit lebih tinggi.

Jadi kalau sunscreen murahnya gagal di wajah, bukan berarti langsung terbuang.

Turun kasta aja jadi sunscreen badan. Wkwkwk.

Tapi memang, untukku yang paling susah itu menemukan sunscreen yang cocok untuk wajah.

Karena kalau nggak cocok, bukannya kulit jadi enak malah bisa terasa nggak nyaman, kasar, gradakan, atau bahkan jerawat.

Jadi prinsipku sekarang:

Cari yang cocok buat wajah dulu. Urusan badan belakangan.

Kenapa Aku Memilih SPF 30-an?

Aku sendiri nggak terlalu mengejar sunscreen dengan SPF tinggi sampai SPF 50 atau lebih.

Untuk pemakaian sehari-hari, aku lebih nyaman dengan SPF 30-an.

Bukan berarti SPF 50 nggak bagus, ya. Hanya saja, selama ini aku merasa sunscreen SPF 50 biasanya terasa lebih “berat” di kulit, sementara aku lebih suka sunscreen yang nyaman dipakai dan nggak bikin wajah terasa penuh.

Dan ternyata, secara angka, perbedaannya memang nggak sebesar yang mungkin kita bayangkan.

Menurut American Academy of Dermatology, sunscreen SPF 30 dapat memblokir sekitar 97% sinar UVB, sedangkan SPF 50 berada di sekitar 98%. Jadi memang ada peningkatan perlindungan, tetapi bukan berarti SPF 50 memberikan perlindungan dua kali lipat dibanding SPF 30.

Makanya buatku, SPF 30-an sudah cukup nyaman untuk penggunaan sehari-hari, selama dipakai dengan benar dan cukup.

Yang penting juga bukan cuma angka SPF. Pilih sunscreen yang memberikan perlindungan terhadap UVA dan UVB, serta sesuaikan dengan kebutuhan kulit dan aktivitas kita. Dermatologis umumnya merekomendasikan sunscreen minimal SPF 30.

Setelah Rutin Pakai Sunscreen, Aku Baru Merasakan Bedanya

Nah, ini bagian yang paling bikin aku sadar bahwa sunscreen ternyata memang penting.

Setelah rutin pakai sunscreen, aku merasa paparan matahari jadi nggak terlalu “galak” ke kulit.

Kalau sebelumnya kena matahari rasanya panas menyengat dan kadang seperti cekit-cekit, setelah pakai sunscreen rasanya jauh lebih nyaman.

Seperti ada lapisan perlindungan tambahan di kulit.

Memang, ini pengalaman yang aku rasakan sendiri, bukan berarti sunscreen membuat matahari benar-benar jadi nggak panas. 😆

Tapi setidaknya, kulitku terasa lebih terlindungi dan nggak seperti langsung menerima sengatan matahari begitu saja.

Buatku yang penting tuh nggak menyengat seperti terbakar.

Dan ternyata sunscreen memang bukan cuma soal mencegah kulit gosong atau tanning. Perlindungan dari sinar matahari juga membantu mengurangi risiko sunburn, penuaan dini, dan kerusakan kulit akibat paparan UV.

Jangan Lupa Re-Apply

Nah, ini juga yang kadang suka dilupakan.

Pakai sunscreen sekali di pagi hari bukan berarti perlindungannya bertahan seharian penuh.

Untuk aktivitas di luar ruangan, sunscreen umumnya perlu diaplikasikan ulang sekitar setiap dua jam, dan lebih cepat kalau banyak berkeringat atau setelah berenang.

Masalahnya...

Mana sempat re-apply tiap dua jam?! 😂

Apalagi kalau lagi sibuk atau nggak terus-terusan berada di luar rumah.

Jadi kalau aku sedang keluar rumah, biasanya aku punya cara sendiri supaya lebih gampang mengingatnya: re-apply setelah shalat.

Lebih gampang diingat karena sudah punya patokan waktunya.

Jadi nggak perlu terus-terusan mikir, “Eh, sudah dua jam belum, ya?”

Kalau sudah selesai shalat dan memang masih akan beraktivitas di luar, tinggal ingat sunscreen lagi.

Simple. 😎

Sunscreen yang Sekarang Cocok Buatku

Setelah beberapa kali mencoba berbagai produk, akhirnya sekarang aku punya dua sunscreen yang cukup cocok dan sering kupakai.

Bfree Kids Sunscreen Lotion SPF 30+

Lucunya, sunscreen pertama yang menurutku cukup oke justru Bfree Kids Sunscreen Lotion SPF 30+.

Waktu itu aku sengaja memilih sunscreen anak-anak karena menurutku produk yang memang ditujukan untuk anak biasanya lebih skin-friendly, terutama untuk kulit yang sensitif.

Dan ternyata memang cocok di kulitku.

Petunjuk pemakaiannya juga memang untuk digunakan pada seluruh bagian kulit yang terbuka, jadi praktis banget. Bisa dipakai di tangan, kaki, dan wajah.

Makanya sampai sekarang Bfree ini justru yang paling sering kubawa ke mana-mana.

Satu sunscreen bisa dipakai untuk berbagai bagian tubuh. Nggak perlu bawa banyak produk.

Tapi tentu saja bukan berarti Bfree punya kekurangan.

Buatku, masalahnya cuma satu: Kurang cepat meresap.

Terutama kalau dipakai di wajah, aku merasa butuh waktu lebih lama sampai benar-benar meresap..

Karena aku pengennya sunscreen wajah yang lebih cepat meresap dan terasa ringan, akhirnya aku tetap hunting sunscreen lain.

Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturiser SPF 35 PA+++

Dan akhirnya aku ketemu Azarine Cicamide Barrier Sunscreen Moisturiser SPF 35 PA+++.

Nah, yang ini ternyata lebih sesuai dengan preferensiku untuk wajah.

Teksturnya terasa lebih nyaman dan lebih cepat meresap di kulit wajahku dibanding Bfree.

Jadi sekarang penggunaannya kurang lebih seperti ini:

Bfree buat praktis dibawa ke mana-mana, sedangkan Azarine lebih sering kupakai untuk wajah.

Setelah beberapa kali mencoba sunscreen, akhirnya aku jadi paham bahwa mencari sunscreen itu bukan cuma soal mencari yang “bagus”, tapi juga mencari yang cocok dengan kebutuhan dan kenyamanan kulit kita sendiri.

Ternyata Aku Lebih Cocok dengan Ceramide

Selain soal tekstur, ternyata aku juga mulai menemukan kandungan skincare yang lebih cocok buat kulitku.

Yaitu... Ceramide.

Sebelumnya aku pernah mencoba skincare dengan kandungan niacinamide dan vitamin C, tapi entah kenapa di wajahku malah terasa kurang cocok.

Kulit jadi seperti gradakan dan teksturnya terasa jadi lebih kasar.

Wkwkwk.

Akhirnya sekarang aku lebih memilih kandungan yang sudah terasa cocok di kulitku, salah satunya ceramide.

Kalau pakai produk dengan ceramide, kulit wajahku rasanya lebih nyaman dan adem.

Jadi sekarang aku lebih suka skincare yang fokus menjaga dan merawat skin barrier daripada terlalu banyak mencoba bahan aktif macam-macam.

Tentunya pengalaman kulit tiap orang bisa berbeda, ya.

Yang cocok di aku belum tentu cocok juga di kulitmu.

Tapi setelah menemukan bahan yang terasa cocok, aku jadi lebih nyaman untuk stick dengan yang sudah cocok daripada terus-terusan coba-coba.

Kalau sudah cocok, ngapain cari masalah lagi? 😂

Bonusnya, Kulit Terlihat Lebih Cerah dan Bersih

Setelah rutin menggunakan sunscreen, aku juga merasa kulit jadi lebih terjaga dan terlihat lebih cerah.

Dan yang kumaksud dengan “cerah” di sini bukan berarti jadi putih.

Lebih ke kulit yang terlihat lebih fresh, bersih, dan nggak kusam.

Aku sendiri merasa perubahan itu cukup terasa setelah mulai rutin menggunakan sunscreen.

Tapi sebenarnya aku nggak menganggap sunscreen sebagai produk untuk “memutihkan” kulit.

Lebih ke arah mencegah kulit terus-terusan terpapar sinar UV, sehingga kulit nggak gampang mengalami tanning dan kerusakan akibat paparan matahari.

Apalagi kalau sunscreen dipadukan dengan moisturizer yang cocok.

Gacor deh pokoknya. 😂

Jadi, Sunscreen Itu Penting Nggak?

Kalau dulu ada yang bilang,

“Pakai sunscreen dong!”

mungkin reaksiku cuma,

“Iya, nanti...”

Dan “nanti”-nya bisa bertahun-tahun.

Wkwkwk.

Sekarang setelah mulai rutin pakai sunscreen dan merasakan sendiri bedanya ketika kulit terpapar matahari, aku justru baru sadar:

Oh, ternyata sepenting itu.

Nggak harus langsung mencari sunscreen yang mahal atau SPF setinggi mungkin.

Menurutku, yang lebih penting adalah menemukan sunscreen yang nyaman dipakai, cocok dengan kulit, dan yang paling penting: benar-benar mau kita pakai secara rutin.

Karena sunscreen terbaik pada akhirnya bukan cuma yang kandungannya bagus atau harganya mahal.

Tapi yang mau kita pakai setiap hari.

Dan kalau ternyata sunscreen yang cocok itu harganya masih ramah di kantong?

Ya makin gacor. 😎

Jadi buat kamu yang selama ini masih seperti aku dulu yang merasa,

“Ah, nggak perlu sunscreen kali...”

mungkin sekarang saatnya mulai mencoba.

Apalagi kalau belakangan ini kamu juga merasa matahari makin menyengat.

Karena kalau kulit sudah mulai terasa cekit-cekit kena matahari seperti yang kurasakan sekarang...

Mungkin itu saatnya berhenti pura-pura kuat.

Wkwkwk.



Sabtu, Agustus 22, 2026

Berdamai dengan Masa Lalu, Melangkah Maju Lewat Self Acceptance

Self Acceptance: Belajar Menerima Diri, Termasuk Masa Lalu

Hai semua! 👋

Kali ini Hyull mau sharing. Bisa dibilang ini tips juga, sih. Hehehe.

Belakangan ini kita masih sering banget mendengar tentang mental health. Bahkan, entah kenapa, akhir-akhir ini FYP TikTok, Reels Instagram, sampai YouTube Shorts-ku malah sering berseliweran promo psikolog, psikiater, bahkan rumah sakit jiwa. Wkwkwk… entah algoritma lagi mau ngasih kode apa ke aku. 😭

Nah, beberapa waktu lalu aku menemukan sebuah kajian yang membahas tentang trauma masa lalu. Dari kajian tersebut, salah satu langkah yang dibahas untuk membantu mengatasi luka atau trauma masa lalu adalah self acceptance, atau penerimaan diri.

Ternyata menerima diri sendiri itu nggak sesederhana bilang, “Ya udah, aku terima.”

Karena yang perlu kita terima bukan cuma diri kita yang sekarang, tetapi juga berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup kita, termasuk masa lalu.

Dan menurutku, bagian ini memang susah.

Tapi kalau kita terus menolak sesuatu yang memang sudah terjadi, bukankah kita justru akan semakin capek?

Seperti quotes yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya:

“Masa lalu memang tidak bisa diubah, namun kita bisa memperbaharui maknanya.”

Tentang hal ini, sebelumnya aku juga sudah pernah membahasnya di artikel:

  1. Masa Lalu Tak Bisa Diubah, Tapi Kita Punya Kesempatan Untuk Menjadi Lebih Baik
  2. Fatherless dan Father Wound Part 2
  3. Kalau Kamu Lagi Nggak Baik-Baik Saja, Ini Buat Kamu

Nah, kali ini aku mau lebih fokus membahas tentang self acceptance.

Sebenarnya, bagaimana sih langkah untuk mulai belajar menerima diri sendiri?

Dari kajian yang aku dengarkan, ada tiga hal yang menurutku menarik untuk direnungkan.

1. Sadar Diri

Langkah pertama adalah mengenal dan menyadari diri sendiri.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan, kesalahan, atau penilaian orang lain sampai lupa bertanya:

“Sebenarnya aku ini siapa, sih?”

Untuk mulai mengenal diri sendiri, kita bisa mencoba menjawab beberapa pertanyaan sederhana:

  • Bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu sendiri?
  • Apa potensi baik yang kamu miliki?
  • Apa passion-mu?
  • Apa jalan manfaatmu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin kelihatannya sederhana, tetapi ternyata bisa membuat kita berhenti sejenak dan melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Bukan hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga menyadari bahwa ada hal-hal baik dalam diri kita yang mungkin selama ini luput kita hargai.

Karena menerima diri bukan berarti kita harus menganggap diri kita sempurna.

Justru sebaliknya, kita perlu mengenal diri kita secara utuh dengan kelebihan, kekurangan, kesalahan, potensi, impian, dan segala proses yang sedang kita jalani.

2. Ramah pada Diri Sendiri

Setelah mulai mengenal diri sendiri, langkah berikutnya adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih ramah.

Kadang kita bisa begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi ketika giliran diri sendiri yang melakukan kesalahan, kita malah terus menghukum diri.

Padahal, kita juga manusia.

Memaafkan diri sendiri

Menurutku, inilah salah satu bentuk penerimaan yang paling penting.

Memaafkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Bukan berarti membenarkan kesalahan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Tetapi mengakui:

“Iya, itu memang sudah terjadi. Aku tidak bisa mengubahnya lagi.”

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dari kejadian tersebut, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, lalu melanjutkan hidup.

Karena kalau kita terus-menerus menghukum diri atas kesalahan di masa lalu, kita hanya akan terus tinggal di tempat yang sebenarnya sudah kita lewati.

Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan hari ini dan ke depannya.

Sadari bahwa manusia memang tidak sempurna

As human beings, we are not perfect.

Salah itu wajar.

Gagal juga wajar.

Jatuh pun wajar.

Yang penting, jangan sampai kita terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa mau belajar. 😭

Karena menerima diri bukan berarti, “Ya udah, aku memang begini.”

Bukan.

Self acceptance bukan alasan untuk berhenti berkembang.

Justru setelah menerima diri, kita bisa melihat kekurangan dengan lebih jernih dan berkata,

“Oke, ini bagian dari diriku yang perlu diperbaiki.”

Jadi, kita boleh memaafkan diri sendiri tanpa berhenti belajar.

Menerima seluruh takdir diri

Ini juga bagian yang menurutku cukup menenangkan.

Sebagai manusia, tugas kita adalah berusaha dan berdoa.

Soal hasil?

Serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Kita sudah melakukan bagian yang menjadi jatah kita: berusaha sebaik mungkin, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan:

“Nanti berhasil nggak, ya?”

“Kalau gagal gimana?”

“Kalau ternyata bukan ini jalannya bagaimana?”

Padahal, hasil bukan sepenuhnya ranah kita.

Itu ranah Sang Pemilik hidup kita.

Jadi, lakukan saja bagian kita sebaik mungkin.

Kalau berhasil, alhamdulillah.

Kalau belum berhasil, ya coba lagi dengan cara lain.

Karena bisa jadi, kegagalan itu justru cara Tuhan menunjukkan bahwa masih ada jalan lain yang belum kita lihat.

Dan mungkin, jalan yang kita pikir sebagai kegagalan ternyata sedang mengarahkan kita ke sesuatu yang lebih baik.

3. Fokus pada Diri Sendiri

Setelah belajar menerima diri, kita juga perlu belajar untuk fokus pada apa yang memang bisa kita kendalikan.

Karena ternyata banyak hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali kita.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:

Release luka batin

Luka yang terus kita bawa ke mana-mana bisa membuat kita sulit menjalani kehidupan saat ini.

Jadi, perlahan-lahan kita perlu belajar melepaskannya.

Bukan berarti melupakan.

Bukan berarti kejadian tersebut tidak penting.

Tetapi belajar berdamai dengan apa yang sudah terjadi sehingga masa lalu tidak terus mengendalikan kehidupan kita hari ini.

Syukuri segala kebaikan

Kadang kita merasa hidup kita terlalu banyak masalah sampai lupa bahwa sebenarnya kebaikan juga tetap ada.

Dan kebaikan itu tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar.

Kita masih hidup sampai hari ini saja sudah merupakan sebuah kebaikan.

Kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri juga merupakan kebaikan.

Kita masih punya kesempatan untuk belajar, mencoba lagi, mencari jalan keluar, dan memperbaiki kehidupan kita juga merupakan sebuah kebaikan.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus menghitung apa yang hilang sampai lupa menghitung apa yang masih kita miliki.

Jadi, sesekali berhentilah.

Lihat lagi kehidupan kita.

Apa saja kebaikan yang masih Tuhan titipkan kepada kita sampai hari ini?

Fokus memperbaiki diri sendiri

Ini juga penting.

Kita hanya bisa mengontrol hal-hal yang memang berhubungan dengan diri kita sendiri.

Kita bisa mengontrol tindakan kita.

Kita bisa mengontrol bagaimana kita merespons sesuatu.

Kita bisa terus berusaha dan berdoa.

Tapi kita tidak bisa memaksa bagaimana orang lain harus merespons kita.

Kita juga tidak bisa mengontrol hasil dari setiap usaha yang kita lakukan.

Jadi, fokuslah pada bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Perbaiki apa yang bisa kita perbaiki.

Usahakan apa yang bisa kita usahakan.

Doakan apa yang ingin kita perjuangkan.

Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Kalau ternyata gagal?

Ya sudah.

Coba lagi.

Kalau cara pertama tidak berhasil, mungkin kita bisa mencari cara kedua.

Kalau cara kedua belum berhasil, mungkin masih ada cara ketiga.

Karena bisa jadi, kegagalan bukan berarti jalannya sudah habis.

Bisa jadi Tuhan sedang membuat kita melihat bahwa ternyata ada banyak jalan yang belum kita coba.

Jadi, Self Acceptance Itu Bukan Berarti Pasrah

Dari tiga langkah di atas, menurutku self acceptance bukan berarti kita menerima semuanya lalu berhenti berusaha.

Bukan juga berarti kita membenarkan semua kesalahan yang pernah kita lakukan.

Self acceptance adalah tentang berdamai dengan diri sendiri.

Mengenali diri.

Menerima bahwa kita pernah salah.

Memaafkan diri sendiri.

Menerima bahwa kita tidak sempurna.

Berdamai dengan masa lalu.

Mensyukuri apa yang masih kita punya.

Lalu tetap berusaha menjadi versi diri kita yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.

Tetapi kita masih punya kesempatan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan setelahnya.

Jadi, kalau hari ini kamu masih punya sesuatu dari masa lalu yang belum bisa kamu terima, mungkin nggak perlu memaksakan diri untuk langsung “move on”.

Pelan-pelan saja.

Kenali.

Pahami.

Maafkan.

Terima.

Lalu lanjutkan hidup.

Karena kamu juga pantas mendapatkan kedamaian dari dirimu sendiri. 💙


Yaps, itu dia 3 langkah self acceptance yang aku dapat dari kajian yang aku dengarkan.

Semoga sharing kali ini bermanfaat buat kamu yang mungkin sedang belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. 🫶🏻

Dan jangan lupa…

Selalu sayangi diri sendiri. 

With love,
- Hyull 💙


Rabu, Agustus 19, 2026

Dapat Langganan Google Gemini AI Plus dari Paket Internet? Lumayan Banget!

Dapat Google AI Plus Gratis dari Paket Internet? Pengalamanku Bikin Video AI untuk Reels

Belakangan ini aku baru sadar kalau paket internet yang selama ini kupakai ternyata punya bonus yang lumayan berguna.

Bahkan, bonusnya bukan sekadar kuota tambahan atau akses aplikasi tertentu.

Tapi Google Gemini AI Plus.

Wkwkwk.

Jadi ceritanya, sekarang aku sedang mengikuti Career Development Program (CDP) dari SGB VA, tempat aku dulu mengikuti course Virtual Assistant sampai akhirnya berhasil mendapatkan sertifikasi sebagai Certified VA.

Program ini semacam magang untuk mengembangkan skill dan menambah pengalaman kerja. Walaupun tidak dibayar, menurutku tetap menarik karena bisa dijadikan tempat belajar sekaligus mengisi portofolio.

Nah, salah satu tugas yang sedang kukerjakan adalah membuat konten untuk sebuah brand skincare dari Hong Kong.

Dan salah satu jenis kontennya adalah...

Instagram Reels.

Reels + AI = Lumayan Membantu

Karena sekarang AI semakin banyak digunakan dalam pembuatan konten, aku pun diminta membuat beberapa video menggunakan AI.

Akhirnya aku mencoba menggunakan Gemini untuk generate video.

Lucunya, prompt-nya sendiri juga bisa dibuat pakai AI.

Aku bisa minta bantuan ChatGPT menyusun prompt, lalu prompt tersebut dimasukkan ke Gemini untuk menghasilkan video.

Atau langsung minta Gemini membuat prompt sekaligus videonya.

Kurang lebih alurnya seperti ini:

Cari ide → Buat prompt → Generate video AI → Edit → Upload jadi Reels.

Menurutku cara ini lumayan membantu, apalagi kalau kita tidak punya footage sendiri atau ingin membuat visual yang sulit direkam secara langsung.

Walaupun tentu saja hasil AI masih belum selalu sempurna.

Kadang ada detail yang aneh.

Kadang gerakannya agak ajaib.

Ya namanya juga AI. 😂

Kenapa Aku Memilih Gemini?

Sebenarnya sekarang sudah banyak AI yang bisa digunakan untuk membantu membuat konten.

ChatGPT bisa membantu menyusun prompt.

Ada juga berbagai AI video generator lainnya.

Tapi aku memilih Gemini karena satu alasan sederhana.

Aku sudah mendapat akses Google AI Plus dari paket internet yang kupakai. 😆

Aku menggunakan paket internet dari Indosat Ooredoo, dan ternyata paket tersebut memberikan bonus langganan Google AI Plus.

Bahkan tidak hanya itu.

Aku juga mendapatkan bonus Adobe Express Premium.

Sebagai orang yang sedang belajar content creation dan social media management, menurutku bonus seperti ini lumayan banget.

Daripada sudah punya akses tapi tidak dimanfaatkan.

Wkwkwk.

Satu hal lagi yang membuat bonus ini terasa semakin worth it adalah karena sampai sekarang aku masih belum menemukan banyak AI pembuat video yang benar-benar gratis.

Kalau untuk AI pembuat gambar, pilihannya sudah banyak. Mau bikin ilustrasi, foto produk, wallpaper, atau konsep visual lainnya, cukup mudah menemukan tools gratis yang hasilnya bagus.

Tapi beda cerita kalau sudah masuk ke AI pembuat video.

Dari beberapa tools yang sempat kucoba atau kutemukan, kebanyakan memang mengharuskan kita berlangganan kalau ingin mengunduh hasil videonya, membuat video dengan kualitas yang lebih baik, atau menghilangkan watermark.

Jadi waktu tahu paket internet yang kupakai sudah termasuk akses Google AI Plus, aku merasa ini benar-benar benefit yang kepakai.

Apalagi pas banget sedang ada tugas membuat Reels selama mengikuti Career Development Program.

Rasanya seperti...

"Wah, ternyata bonus paket internet ini benar-benar berguna."

Memang Ada Batasannya

Namanya juga bonus, tentu ada batasnya.

Saat ini aku hanya bisa menghasilkan maksimal 2 video AI per hari.

Selain itu, setiap video yang dihasilkan juga memiliki durasi maksimal sekitar 10 detik.

Kalau baru mendengar angka itu mungkin terdengar sedikit.

Tapi menurutku...

Masih sangat bisa dimanfaatkan.

Karena toh tujuan akhirnya adalah membuat Instagram Reels, bukan mengunggah video mentah dari Gemini.

Setelah video selesai dibuat, kita tinggal mengeditnya menggunakan aplikasi editing video seperti:

  • CapCut
  • Canva
  • InShot
  • atau editor video lainnya.

Video 10 detik tadi bisa dipotong, disusun ulang, digabung dengan beberapa klip lain, ditambahkan teks, transisi, musik, voice over, B-roll, atau efek tambahan sehingga durasinya menjadi lebih panjang dan lebih menarik.

Jadi jangan terpaku dengan batasan 10 detik.

Yang penting adalah bagaimana kita mengolah hasil AI tersebut menjadi konten yang enak ditonton.

Pokoknya mah yang penting...

Jadi Reels.

WKWKWK.

Ternyata Paket Data Bisa Dapat Bonus AI

Yang membuatku cukup senang sebenarnya bukan cuma karena bisa generate video AI.

Tapi karena aku baru sadar kalau sekarang paket internet juga bisa memberikan benefit seperti ini.

Awalnya aku cuma berpikir,

"Ya paket internet ya buat internetan."

Eh ternyata dapat bonus AI juga.

Lumayan banget.

Kalau tidak salah, paket dengan benefit serupa juga tersedia untuk pengguna 3 (Tri), karena sekarang Tri dan Indosat sama-sama berada di bawah Indosat Ooredoo Hutchison.

Jadi kalau kalian memang sering menggunakan AI untuk bekerja, belajar, atau membuat konten, coba deh cek benefit dari paket internet yang kalian gunakan.

Siapa tahu ternyata kalian juga sudah punya akses, hanya saja belum pernah menyadarinya.

Pernah Hampir Punya ChatGPT Go Seharga Rp1 😭

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku mendapat kesempatan mencoba layanan AI.

Beberapa waktu lalu aku juga pernah mendapatkan voucher ChatGPT Go dari Shopee.

Harganya?

Rp1.

Iya.

Satu rupiah.

Murah banget, kan?

Sayangnya tetap harus melakukan pembayaran menggunakan e-wallet.

Dan waktu itu...

Saldo seluruh e-wallet-ku kosong.

😭😭😭

Akhirnya voucher tersebut tidak jadi kupakai sampai hangus.

Sedihnya bukan karena harus bayar.

Rp1 doang, lho.

Tapi karena bahkan uang Rp1 itu saja tidak ada di saldo e-wallet.

WKWKWK.

AI Itu Alat, Bukan Pengganti Kreativitas

Dari pengalaman ini aku jadi merasa kalau sekarang semakin banyak tools AI yang bisa dimanfaatkan untuk belajar dan bekerja.

Apalagi buat orang yang sedang membangun skill di bidang digital, social media, content creation, atau Virtual Assistant seperti aku.

Menurutku kita tidak harus langsung berlangganan semua tools AI yang ada.

Kalau kebetulan ada promo, voucher, masa trial, atau bonus dari layanan yang memang sudah kita gunakan, ya manfaatkan saja.

Seperti pengalamanku kali ini.

Aku mengikuti Career Development Program.

Mendapat tugas membuat Reels.

Butuh AI untuk membuat video.

Eh ternyata paket internet yang kupakai sudah menyediakan akses Google AI Plus.

Ya sudah.

Dipakai.

Wkwkwk.

Walaupun hanya bisa membuat dua video per hari dengan durasi maksimal 10 detik per video, nyatanya tetap sangat membantu.

Karena setelah itu semua hasilnya masih bisa diedit lagi menjadi konten yang lebih menarik.

Bahkan siapa tahu, dari proses belajar kecil seperti ini justru lahir skill baru yang nantinya bisa masuk ke portofolio.

Pada akhirnya, belajar AI bukan hanya soal punya akses ke teknologinya.

Tapi bagaimana kita memanfaatkan teknologi itu untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Dan untuk sekarang...

Aku cukup senang karena ternyata paket internetku bukan cuma memberi kuota.

Tapi juga membuka kesempatan untuk belajar AI lebih dalam.

Lumayan banget, kan? 😄

Kalau Kalian Gimana?

Nah, sekarang aku penasaran.

Kalian biasanya pakai AI apa buat membantu pekerjaan, belajar, atau bikin konten?

Masih pakai yang gratis, atau sudah berlangganan?

Kalau ada AI favorit yang menurut kalian bagus (terutama untuk generate video) boleh banget sharing di kolom komentar.

Siapa tahu aku jadi menemukan tools baru yang belum pernah kucoba.

Atau mungkin ada AI video gratis yang hasilnya bagus dan bisa di-download tanpa harus berlangganan? Wah, kalau ada sih aku juga mau coba. 🤣

Yuk, saling berbagi pengalaman!

Karena dunia AI berkembang cepat banget. Rasanya setiap bulan selalu ada tools baru yang menarik untuk dicoba. Siapa tahu dari cerita kalian, kita sama-sama belajar hal baru. 😊


Senin, Agustus 17, 2026

17 Agustus 2026: Ketika Negeri Sedang Berduka, Apa Arti Kemerdekaan Bagi Rakyat?

Sebuah Refleksi Arti Kemerdekaan

Setiap bulan Agustus, kita terbiasa melihat merah putih di mana-mana.

Bendera berkibar di depan rumah, jalanan dihiasi umbul-umbul, anak-anak mengikuti berbagai perlombaan, dan ucapan Dirgahayu Republik Indonesia memenuhi linimasa.

Tetapi tahun ini, entah mengapa, suasana perayaan itu terasa berbeda.

Di tengah persiapan menyambut 17 Agustus, ada negeri yang sedang berduka.

Bencana datang bertubi-tubi. Ekonomi terasa semakin berat. Harga kebutuhan pangan terus menjadi persoalan bagi banyak keluarga. Dan di tengah semua itu, kita kembali melihat bagaimana kehidupan rakyat dan narasi tentang keberhasilan negara terkadang terasa berjalan di dua ruang yang berbeda.

Bukan berarti tidak ada capaian.

Bukan berarti pemerintah tidak melakukan apa-apa.

Tetapi mungkin, justru karena kita mencintai negeri ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Seperti apa sebenarnya wajah kemerdekaan yang dirasakan rakyat hari ini?

Ketika Kemerdekaan Datang Bersama Duka

Pada 15 Agustus 2026, menjelang peringatan kemerdekaan, Indonesia kembali diguncang oleh sejumlah gempa signifikan di beberapa wilayah.

Di Nusa Tenggara Timur, gempa M7,7 mengguncang wilayah utara Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dan memicu peringatan dini tsunami. Tsunami kemudian terobservasi di sejumlah wilayah pesisir. BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. 

Pada hari yang sama, gempa M6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatra Utara, sementara gempa M6,2 terjadi di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. 

Bahkan setelah gempa utama di Flores, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hingga pukul 14.00 WIB pada 15 Agustus, BMKG mencatat 235 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo antara M2,5 hingga M6,2. BMKG juga menyebut tren aktivitas susulan saat itu belum menunjukkan peluruhan yang signifikan. Hingga 16 Agustus, aktivitas gempa di kawasan Flores masih terus tercatat. 

Bagi sebagian orang, 17 Agustus mungkin tetap menjadi hari perlombaan dan perayaan.

Tetapi bagi mereka yang kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, harus mengungsi, atau masih berada dalam ketakutan setelah gempa, merah putih tahun ini mungkin memiliki makna yang berbeda.

Mereka tidak sedang memikirkan lomba.

Mereka sedang memikirkan keselamatan.

Mereka sedang mencari keluarga.

Mereka sedang memikirkan bagaimana kembali hidup setelah rumah dan kehidupan mereka berubah dalam hitungan menit.

Dan sebenarnya, duka akibat bencana di Indonesia bukan hanya tentang apa yang terjadi beberapa hari menjelang 17 Agustus.

Ada luka yang bahkan sudah berlangsung berbulan-bulan.

Banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir 2025 meninggalkan kerusakan yang tidak selesai hanya ketika air mulai surut.

Rumah harus dibangun kembali.

Jalan dan jembatan harus dipulihkan.

Mata pencaharian harus dikembalikan.

Para pengungsi harus memiliki tempat tinggal yang layak.

Dan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, tidak ada pembangunan infrastruktur yang bisa benar-benar menghapus kehilangan tersebut.

Memasuki pertengahan 2026, proses pemulihan masih berjalan. Artinya, bagi sebagian masyarakat, bencana yang mungkin sudah lama berhenti menjadi berita belum berhenti menjadi kehidupan.

Mereka masih membangun kembali.

Masih membersihkan sisa kerusakan.

Masih mencari cara untuk kembali bekerja.

Masih mencoba memulai kehidupan dari apa yang tersisa.

Negara tentu memiliki mekanisme penanganan bencana. BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, dan berbagai kementerian memiliki tugas untuk melakukan evakuasi, memberikan bantuan, memulihkan akses, serta menangani para penyintas.

Tetapi ada satu hal yang membuatku tetap bertanya-tanya.

Dalam pidato kenegaraan yang disampaikan pada 14 Agustus, ketika bangsa sedang bersiap menyambut hari kemerdekaan dan bencana besar baru saja terjadi, persoalan kebencanaan dan nasib para penyintas tidak menjadi bagian yang menonjol dalam narasi besar tentang perjalanan bangsa.

Pidato banyak berbicara tentang swasembada pangan dan energi, pertumbuhan ekonomi, MBG, koperasi, pembangunan pendidikan, reformasi BUMN, efisiensi birokrasi, pemberantasan korupsi, hingga Indonesia Emas 2045.

Semua itu tentu penting.

Tetapi di tengah begitu banyak pembicaraan mengenai masa depan Indonesia, aku hanya berharap ada ruang yang cukup untuk mengingat mereka yang bahkan sedang berjuang melewati hari ini.

Karena pembangunan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mampu melangkah.

Pembangunan juga tentang seberapa kuat negara memegang tangan mereka yang sedang jatuh.

Ketika Angka Ekonomi Tidak Selalu Terasa di Dapur

Di sisi lain, kehidupan sehari-hari masyarakat juga menghadapi persoalan yang tidak kalah nyata.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar berada di bawah tekanan. Harga berbagai kebutuhan pangan masih terasa tinggi.

Beras, minyak goreng, cabai, daging, dan berbagai kebutuhan lainnya semakin membuat masyarakat harus berhitung.

Masalahnya, harga bisa berubah.

Tetapi tidak semua penghasilan ikut berubah.

Ada orang yang gajinya tetap.

Ada pekerja yang pendapatannya tidak bertambah sebanding dengan kebutuhan.

Ada keluarga yang akhirnya harus mengurangi sesuatu agar sesuatu yang lain tetap terpenuhi.

Di atas kertas, mungkin ekonomi tumbuh.

Tetapi di meja makan, pertanyaannya jauh lebih sederhana:

Apakah uang yang dibawa pulang masih cukup untuk membeli kebutuhan keluarga?

Pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang penting.

Tetapi pertumbuhan itu seharusnya tidak hanya terlihat dalam laporan dan angka makroekonomi.

Ia seharusnya perlahan terasa dalam kehidupan orang biasa.

Sebab bagi masyarakat yang setiap bulan harus menghitung uang untuk kebutuhan pokok, angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat harga beras menjadi lebih murah atau membuat isi dompet bertambah.

Ketika Data Mengatakan Sejahtera, Tetapi Kehidupan Terasa Rentan

Ada satu hal lain yang membuatku semakin berpikir tentang arti “sejahtera”.

Belakangan, pembicaraan mengenai data kesejahteraan dan desil DTSEN juga ramai diperbincangkan.

Aku mencoba bertanya secara acak kepada beberapa orang yang aku kenal dari daerah dan pulau yang berbeda mengenai hasil desil mereka. Tentu saja ini bukan survei dan tidak bisa dianggap sebagai representasi statistik seluruh Indonesia.

Tetapi ada satu hal yang cukup membuatku berhenti sejenak:

Dari orang-orang yang aku tanyai, tidak ada satu pun yang berada di bawah desil 8.

Beberapa berada pada desil 8, bahkan ada yang berada pada desil 9.

Padahal ketika aku mengenal kehidupan mereka secara langsung, gambaran yang aku temukan tidak selalu terlihat seperti keluarga yang sudah benar-benar aman secara ekonomi.

Ada keluarga yang seluruh anggota keluarganya bekerja.

Tidak menganggur.

Tidak memiliki utang.

Tetapi penghasilan masing-masing masih berada di bawah UMR. Bukan gaji bulanan, melainkan buruh harian.

Penghasilan itu habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Dan karena memang pas-pasan, mereka tidak memiliki ruang untuk menabung.

Ketika aku tanyakan hasil desil DTSEN mereka, keluarga seperti ini ternyata berada pada desil 8.

Secara klasifikasi, posisinya memang relatif tinggi.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi keadaan darurat.

Jika kendaraan satu-satunya rusak, ada pengeluaran tambahan yang harus dicari.

Jika salah satu anggota keluarga sakit, kondisi ekonomi bisa langsung ikut terguncang.

Jika salah satu sumber penghasilan berhenti, tidak banyak yang bisa digunakan sebagai cadangan.

Ada pula keluarga lain yang aku kenal yang berada pada desil 9.

Mereka memiliki dua anak yang masih kecil, masih memiliki utang, dan penghasilan keluarga pun masih pas-pasan.

Sekali lagi, aku tidak mengatakan bahwa hasil desil tersebut salah.

Aku juga tidak memiliki kapasitas untuk menilai bagaimana sistem DTSEN menentukan posisi setiap keluarga.

Tetapi pengalaman sederhana ini membuatku bertanya:

Jika seseorang berada pada desil 8 atau bahkan desil 9, apakah itu otomatis berarti mereka sudah aman secara ekonomi?

Sebab ada perbedaan antara posisi seseorang dalam klasifikasi kesejahteraan dengan seberapa kuat seseorang mampu bertahan ketika menghadapi guncangan ekonomi.

Desil tentu memiliki fungsi dan dasar perhitungannya sendiri.

Tetapi kehidupan sehari-hari memiliki pertanyaan yang berbeda.

Apakah klasifikasi tersebut sudah cukup menggambarkan kerentanan ekonomi yang dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah aku mulai bertanya:

Apakah tidak miskin otomatis berarti sejahtera?

Mungkin secara statistik mereka memang tidak berada di kelompok masyarakat paling miskin.

Tetapi bagaimana jika kendaraan satu-satunya rusak?

Bagaimana jika salah satu anggota keluarga sakit?

Bagaimana jika ada satu orang yang kehilangan pekerjaan?

Bagaimana jika rumah mereka terkena bencana?

Keluarga tersebut tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menyerap guncangan.

Bukan karena mereka boros.

Bukan karena mereka memiliki utang konsumtif.

Bukan karena mereka tidak mau bekerja.

Mereka justru bekerja.

Hanya saja, penghasilan yang ada memang habis untuk bertahan hidup.

Ada keluarga yang tidak miskin, tetapi juga tidak memiliki kemewahan untuk jatuh sakit.

Tidak memiliki kemewahan untuk kendaraan rusak.

Tidak memiliki kemewahan untuk kehilangan satu sumber penghasilan.

Dan bahkan tidak memiliki kemewahan untuk menabung.

Sebab tidak ada yang tersisa setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Mungkin inilah yang sering luput ketika kita hanya melihat posisi seseorang dalam angka.

Ada perbedaan antara tidak miskin dan benar-benar aman secara ekonomi.

Ada orang yang berada di atas batas kemiskinan, tetapi hanya berjarak satu musibah dari kondisi yang jauh lebih sulit.

Mereka adalah kelompok yang mungkin tidak terlihat sebagai orang miskin, tetapi sangat rentan untuk jatuh miskin.

Dan menurutku, kerentanan semacam ini juga layak menjadi perhatian negara.

Ketika Harga Naik, Tetapi Gaji Tetap

Sebab pada akhirnya, kehidupan rakyat bukan hanya tentang angka pendapatan.

Yang menentukan adalah jarak antara pendapatan dan kebutuhan.

Jika gaji tetap tetapi harga makanan naik, daya beli turun.

Jika biaya transportasi naik, sisa penghasilan semakin sedikit.

Jika biaya pendidikan, kesehatan, listrik, dan kebutuhan rumah tangga meningkat, kemampuan menabung semakin jauh.

Lalu ketika seseorang tidak mampu menabung, ia tidak memiliki bantalan ketika sesuatu terjadi.

Satu kecelakaan.

Satu penyakit.

Satu kendaraan rusak.

Satu kehilangan pekerjaan.

Satu bencana.

Dan tiba-tiba keluarga yang sebelumnya terlihat “baik-baik saja” bisa mengalami kesulitan yang sangat besar.

Gaji boleh tetap sama, tetapi harga kebutuhan tidak pernah berjanji untuk ikut diam.

Ketika Sakit Menjadi Kemewahan

Tetapi persoalan kesejahteraan tidak berhenti pada kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari.

Ada satu hal lain yang juga menentukan seberapa aman sebuah keluarga menjalani hidup:

kesehatan.

Kita bisa berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.

Kita bisa berbicara tentang swasembada pangan.

Kita bisa berbicara tentang pembangunan dan Indonesia Emas 2045.

Tetapi bagi keluarga yang penghasilannya habis untuk kebutuhan sehari-hari, satu anggota keluarga yang sakit bisa mengubah seluruh kondisi ekonomi mereka.

Ada biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan.

Ada obat.

Ada kebutuhan lain yang mungkin muncul selama perawatan.

Dan bagi pekerja harian, ada persoalan yang tidak kalah berat:

ketika tidak bekerja, tidak ada penghasilan.

Satu hari sakit mungkin berarti satu hari tanpa pemasukan.

Beberapa hari sakit bisa berarti kebutuhan rumah tangga mulai terganggu.

Dan ketika penyakit membutuhkan perawatan lebih panjang, keluarga yang sebelumnya sudah hidup pas-pasan bisa semakin kehilangan ruang untuk bertahan.

Di sinilah aku kembali bertanya:

Apakah seseorang benar-benar sejahtera jika sedikit saja terkena masalah kesehatan, kehidupannya langsung terguncang?

Kesehatan bukan hanya persoalan rumah sakit dan dokter.

Kesehatan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap bekerja, memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarganya, dan menjalani hidup dengan layak.

Karena itu, keberhasilan sektor kesehatan seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak fasilitas yang dibangun atau program yang diluncurkan.

Pertanyaan yang lebih sederhana mungkin adalah:

Ketika rakyat sakit, apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa harus takut kehidupan ekonominya ikut runtuh?

Apakah fasilitas kesehatan mudah dijangkau oleh masyarakat di daerah?

Apakah tenaga kesehatan cukup tersedia dan mendapatkan dukungan yang layak?

Apakah masyarakat yang rentan benar-benar mendapatkan perlindungan ketika mereka membutuhkannya?

Dan bagaimana dengan mereka yang berada di tengah-tengah?

Tidak cukup miskin untuk selalu dianggap sebagai kelompok paling membutuhkan bantuan, tetapi juga tidak cukup mampu untuk menanggung sendiri berbagai biaya ketika sesuatu terjadi.

Kelompok seperti inilah yang sering kali tidak terlihat.

Mereka bekerja.

Mereka berusaha.

Mereka mungkin tidak memiliki utang.

Mereka mungkin bahkan tidak masuk kategori masyarakat miskin.

Tetapi mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi kejutan.

Sakit sedikit, ekonomi terganggu.

Tidak bekerja beberapa hari, pemasukan berkurang.

Harus membeli obat, tabungan yang memang hampir tidak ada kembali terkuras.

Dan ketika seseorang tidak memiliki tabungan, persoalan kesehatan bukan lagi hanya persoalan tubuh.

Ia bisa berubah menjadi persoalan ekonomi seluruh keluarga.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, mungkin kita juga perlu bertanya:

Apakah rakyat sudah benar-benar merasa aman ketika jatuh sakit?

Sebab hidup yang layak bukan hanya tentang memiliki penghasilan.

Tetapi juga tentang memiliki perlindungan ketika tubuh tidak lagi mampu bekerja.

Dan di tengah pembicaraan mengenai berbagai capaian pembangunan dalam pidato kenegaraan, persoalan rasa aman masyarakat ketika menghadapi sakit dan kerentanan ekonomi akibat masalah kesehatan rasanya juga layak mendapatkan ruang.

Bukan karena pembangunan yang lain tidak penting.

Tetapi karena pada akhirnya, pembangunan seharusnya membuat manusia yang hidup di dalamnya merasa lebih aman, lebih sehat, dan lebih mampu menghadapi kehidupan.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Angka Keberhasilan

Aku tidak ingin tulisan ini menjadi tulisan yang mengatakan bahwa semua hal yang dilakukan pemerintah pasti salah.

Tidak.

Swasembada pangan penting.

Ketahanan energi penting.

Pendidikan penting.

Pemberantasan korupsi penting.

Pertumbuhan ekonomi penting.

Pembangunan juga penting.

Tetapi semua itu seharusnya kembali kepada satu tujuan:

rakyat.

Sebab negara bukan dibangun untuk menghasilkan angka-angka yang indah.

Angka adalah alat untuk membantu negara melihat keadaan rakyat dan menentukan kebijakan.

Kalau angka menunjukkan keadaan membaik, tetapi di lapangan masih banyak orang yang merasa semakin sulit bernapas secara ekonomi, mungkin yang perlu dilakukan bukan sekadar berdebat angka mana yang benar.

Mungkin kita perlu bertanya:

Apa yang belum terlihat oleh angka tersebut?

Apakah keluarga yang bekerja tetapi tidak mampu menabung sudah benar-benar aman?

Apakah masyarakat yang sedikit berada di atas garis kemiskinan sudah memiliki ketahanan ketika bencana datang?

Apakah pertumbuhan ekonomi sudah cukup terasa di dapur rumah tangga?

Apakah mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana merasa negara benar-benar hadir?

Apakah masyarakat yang jatuh sakit memiliki rasa aman bahwa kesehatan mereka tidak akan membuat keluarganya jatuh secara ekonomi?

Dan yang paling sederhana:

Apakah rakyat merasa hidupnya semakin layak?

Untuk Indonesia yang Kita Cintai

Mungkin karena itulah, tahun ini aku merasa tidak ingin merayakan 17 Agustus hanya dengan mengatakan bahwa Indonesia baik-baik saja.

Aku ingin tetap mengibarkan merah putih.

Tetap menghormati perjuangan para pendahulu.

Tetap bersyukur bahwa kita hidup di negeri yang merdeka.

Tetapi mencintai Indonesia bukan berarti harus menutup mata terhadap luka yang ada di dalamnya.

Kita boleh bangga.

Tetapi kita juga boleh prihatin.

Kita boleh berharap.

Tetapi kita juga boleh bertanya.

Kita boleh mencintai negeri ini sambil mengkritik mereka yang diberi amanah untuk mengelolanya.

Sebab kritik tidak selalu lahir dari kebencian.

Kadang kritik justru lahir karena kita masih peduli.

Kita ingin uang negara benar-benar kembali kepada rakyat.

Kita ingin pembangunan tidak hanya menghasilkan proyek, tetapi juga menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Kita ingin pemberantasan korupsi benar-benar menyentuh mereka yang merugikan negara, bukan berhenti sebagai slogan.

Kita ingin pejabat mengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang jauh dari realitas rakyatnya.

Kita ingin pembangunan memiliki pandangan jauh ke depan, bukan hanya mengejar apa yang terlihat selesai hari ini.

Dan kita ingin mereka yang sedang berduka karena bencana tidak merasa sendirian di negeri sendiri.

Sebab bencana mengajarkan satu hal yang sangat sederhana:

ketahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga dari seberapa kuat ia memastikan rakyatnya tidak kehilangan masa depan setelah bencana.

Pada akhirnya, mungkin kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk hidup layak.

Memiliki rasa aman.

Memiliki perlindungan ketika musibah datang.

Memiliki pekerjaan yang manusiawi.

Mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Mampu menabung untuk masa depan.

Dan memiliki keyakinan bahwa ketika kehidupan tiba-tiba jatuh, negara tidak akan membiarkan kita jatuh sendirian.

Maka pada 17 Agustus tahun ini, di tengah merah putih yang berkibar dan perayaan yang tetap berlangsung, aku ingin menyimpan satu pertanyaan kecil:

Sudah sejauh mana kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan rakyatnya?

Karena Indonesia bukan hanya tentang pemerintah.

Bukan hanya tentang pejabat.

Bukan hanya tentang angka pertumbuhan.

Bukan hanya tentang proyek pembangunan.

Indonesia adalah manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

Dan selama masih ada rakyat yang bekerja keras tetapi tidak mampu menabung, keluarga yang hidup hanya selangkah dari kerentanan, masyarakat yang masih berjuang membangun kembali kehidupan setelah bencana, serta suara-suara kecil yang merasa tidak didengar—

mungkin tugas kita belum selesai.

Dirgahayu Indonesia.

Semoga kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak berhenti sebagai sebuah peringatan, tetapi perlahan benar-benar menjadi sesuatu yang dirasakan oleh setiap manusia yang hidup di dalamnya. 🇮🇩

~Hyull 💙