Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^
Tampilkan postingan dengan label Reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reflection. Tampilkan semua postingan

Minggu, September 06, 2026

Cinta yang Setara

“Cinta yang setara.”

Aku sering mendengar kalimat itu, tapi sampai sekarang aku masih bertanya-tanya: sebenarnya apa maksudnya?

Setara dari segi harta?

Atau effort?

Atau mungkin cara memperlakukan satu sama lain?

Kalau yang dimaksud adalah effort, effort seperti apa?

Apakah harus sama-sama berusaha dalam bentuk yang sama?

Kalau laki-laki bekerja mencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah, apakah itu tidak setara karena bentuk usahanya berbeda?

Atau kalau sama-sama tidak memberikan effort, apakah itu juga bisa disebut setara?

Lalu bagaimana kalau hubungan itu dimulai dari laki-laki yang mendekati, kemudian perempuan merespons? Apakah itu tetap setara?

Semakin dipikirkan, semakin aku merasa bahwa “setara” bukan sesuatu yang sesederhana membagi semuanya menjadi 50:50.

Begitu juga dengan harta.

Apakah cinta yang setara berarti laki-laki dan perempuan harus berasal dari kondisi ekonomi yang sama?

Sama-sama miskin?

Sama-sama menengah?

Sama-sama kaya?

Bagaimana dengan perempuan yang sejak awal sudah hidup nyaman, kemudian memilih meninggalkan kenyamanan itu untuk hidup bersama laki-laki yang jauh lebih sederhana?

Kalau laki-laki tersebut sadar diri, mungkin ia justru akan berpikir, “Aku nggak mau membuat hidupnya menjadi lebih buruk hanya karena memilihku.”

Lalu ia berusaha.

Bukan karena harga dirinya terluka karena perempuan lebih berada, tetapi karena ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan.

Sebaliknya, kalau laki-laki tersebut justru merasa nyaman bergantung kepada perempuan?

Apakah itu masih bisa disebut cinta yang setara?

Dan dari semua pertanyaan itu, ada satu pertanyaan lain yang belakangan ini sering muncul di kepalaku:

Adakah laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Mungkin pertanyaan ini terdengar bias.

Dan aku sadar, aku mengatakannya sebagai seorang perempuan. Jadi tentu saja aku lebih sering melihat hubungan dari sudut pandang perempuan.

Tapi aku tidak bisa menutup mata terhadap apa yang kulihat di sekitarku.

Marriage is scary.

Kalimat itu entah kenapa masih sering terngiang di kepalaku.

Bukan karena pernikahan itu sendiri pasti menakutkan.

Tapi karena aku melihat terlalu banyak contoh yang membuatku berpikir bahwa menikah dengan orang yang salah bisa menjadi sesuatu yang sangat melelahkan.

Aku melihat perempuan yang masih harus pontang-panting mengurus rumah, memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, bahkan mungkin juga bekerja.

Sementara laki-lakinya?

Goleran.

Main HP.

Dan ketika anak menangis, bukannya berusaha menenangkan atau mengurus anaknya sendiri, malah berteriak memanggil istrinya yang sebenarnya sedang sibuk mengerjakan hal lain.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele.

Tapi menurutku, justru dari hal-hal kecil itulah karakter seseorang terlihat.

Karena menjadi suami bukan hanya tentang membawa uang pulang.

Menjadi ayah bukan hanya tentang namanya tercantum di kartu keluarga.

Dan menjadi laki-laki bukan hanya tentang menjadi pihak yang secara biologis disebut laki-laki.

Ada tanggung jawab.

Ada inisiatif.

Ada kepedulian.

Ada kemauan untuk melihat apa yang perlu dikerjakan tanpa harus selalu menunggu diminta.

Aku pernah melihat keluarga yang menurutku bahagia.

Aku pernah melihat laki-laki yang benar-benar mengambil perannya sebagai suami dan ayah.

Dan aku suka melihatnya.

Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat seorang laki-laki yang tidak merasa kehilangan harga dirinya hanya karena ikut mengurus anak.

Yang tidak merasa “membantu istri”, karena dia sadar bahwa rumah dan anak juga merupakan tanggung jawabnya.

Yang ketika melihat istrinya lelah, tidak bertanya, “Aku harus ngapain?”, tetapi melihat sendiri apa yang bisa ia lakukan.

Dan ketika melihat keluarga seperti itu, aku justru berpikir:

Betapa beruntungnya perempuan yang mendapatkan laki-laki seperti itu.

Sayangnya, semakin banyak melihat kenyataan di sekitar, semakin aku merasa bahwa laki-laki seperti itu tidak sebanyak yang kuharapkan.

Mungkin sebenarnya mereka ada.

Mungkin aku hanya lebih sering melihat contoh yang buruk daripada yang baik.

Atau mungkin memang laki-laki yang benar-benar siap menjadi suami dan ayah itu tidak sebanyak yang kita bayangkan.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, semua itu membuatku semakin memahami kenapa sebagian perempuan takut menikah.

Bukan karena mereka tidak ingin dicintai.

Bukan karena mereka ingin hidup sendirian selamanya.

Tapi karena mereka takut mendapatkan seseorang yang pada akhirnya justru membuat hidup mereka lebih berat.

Takut harus mengurus dua anak, padahal salah satunya adalah suami sendiri.

Takut sudah lelah seharian, tetapi masih harus meminta pasangan untuk melakukan hal-hal yang seharusnya bisa ia sadari sendiri.

Takut ketika menikah, kehidupan yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi tempat lain yang menguras tenaga.

Dan mungkin itu juga alasan mengapa konsep “cinta yang setara” terasa begitu penting bagiku.

Bukan berarti harus sama-sama punya uang sebanyak itu.

Bukan berarti harus sama-sama bekerja.

Bukan berarti semua hal harus dibagi tepat 50:50.

Mungkin kesetaraan justru berarti:

sama-sama merasa bertanggung jawab atas hubungan yang sedang dijalani.

Ketika salah satu sedang lemah, yang lain tidak menghitung apakah kemarin ia sudah memberi lebih banyak.

Ketika salah satu menghasilkan lebih banyak uang, yang lain tidak merasa berhak untuk bermalas-malasan.

Ketika salah satu lebih banyak mengurus rumah, yang lain tidak menganggap pekerjaan itu sebagai sesuatu yang otomatis menjadi kewajibannya.

Dan ketika salah satu sudah berusaha keras, yang lain tidak memilih untuk menikmati hasilnya sambil berpangku tangan.

Mungkin cinta yang setara bukan tentang siapa memberi lebih banyak.

Tapi tentang apakah keduanya sama-sama punya keinginan untuk menjaga.

Sama-sama punya rasa tanggung jawab.

Sama-sama mau tumbuh.

Dan yang paling penting, sama-sama tidak menjadikan pasangannya sebagai tempat bergantung tanpa batas.

Aku tidak mencari laki-laki yang sempurna.

Aku juga tidak yakin diriku sendiri akan menjadi perempuan yang sempurna dalam sebuah pernikahan.

Tapi kalau suatu hari aku menikah, aku ingin menikah dengan seseorang yang ketika melihat hidup bersama sebagai sebuah perjalanan, tidak berpikir:

“Apa yang bisa aku dapatkan dari hubungan ini?”

Melainkan:

“Apa yang bisa kita bangun bersama?”

Karena mungkin, pada akhirnya, cinta yang setara bukan tentang dua orang yang memiliki hal yang sama.

Melainkan dua orang yang sama-sama bersedia memikul kehidupan yang sama.

Dan sampai hari ini, setelah melihat begitu banyak hal di sekitarku, aku masih punya satu pertanyaan yang belum bisa kujawab:

Adakah di luar sana laki-laki yang benar-benar laki-laki?

Bukan laki-laki yang sempurna.

Bukan yang selalu kuat.

Bukan yang selalu punya uang.

Tapi laki-laki yang tahu bahwa menjadi suami berarti menjadi pasangan.

Menjadi ayah berarti menjadi orang tua.

Dan mencintai seorang perempuan berarti tidak membiarkannya berjuang sendirian ketika seharusnya mereka berjuang bersama.

- Hyull 💙


Senin, Agustus 31, 2026

Kalau Lagi Ingin Menyerah, Ingat: Kamu Masih Punya Kesempatan

Refleksi tentang berdamai dengan masa lalu, menerima ketidaksempurnaan, dan belajar melangkah lagi pelan-pelan

Beberapa tahun terakhir, entah kenapa aku sedang gila-gilanya ikut webinar online.

Mulai dari webinar tentang skill, pengetahuan, pekerjaan, sampai psikologi. Sertifikatnya sudah lumayan banyak. Ada yang aku download, ada yang nggak. Ada juga yang sertifikatnya memang nggak tersedia. Wkwkwk.

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya aku bukan cuma sedang mencari ilmu.

Aku sedang belajar memahami diriku sendiri.

Dan setelah beberapa tahun melewati berbagai macam webinar, kelas, pengalaman, dan tentu saja kehidupan itu sendiri, aku merasa ada satu perubahan yang cukup besar dalam diriku.

Aku jadi lebih legowo.

Lebih bisa menerima diriku sendiri.

Termasuk menerima masa lalu yang pernah terasa sakit, susah, bahkan mungkin ingin sekali aku lupakan.

Tapi kalau sekarang aku lihat lagi, ternyata masa lalu itu nggak semuanya buruk.

Ada sedihnya, ada susahnya, tapi ternyata ada bahagianya juga.

Dan semuanya tetap bagian dari diriku.

Aku yang dulu, aku yang sekarang, semuanya tetap aku.

Mungkin aku memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku bisa belajar melihatnya dengan cara yang berbeda.

Aku pernah mendengar kalimat dalam salah satu webinar psikologi yang kurang lebih bunyinya seperti ini:

“Masa lalu sudah berlalu dan tidak bisa diubah, tetapi kita bisa memperbarui maknanya.”

Dan ada satu lagi yang masih aku ingat sampai sekarang.

Kurang lebih pesannya adalah bahwa kita ini manusia. Jadi, ya, pasti tidak sempurna. Kita bisa salah. Kita bisa gagal. Dan memanusiakan manusia itu penting, termasuk memanusiakan diri sendiri.

Mungkin itu juga yang sedang aku pelajari sampai sekarang.

Aku manusia.

Aku nggak sempurna.

Aku pernah salah. Pernah gagal. Pernah mengambil keputusan yang ternyata tidak tepat. Pernah berada di titik yang tidak baik-baik saja.

Tapi aku juga masih terus berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik.

Karena rival terbesarku sebenarnya bukan orang lain.

Rival aku adalah diriku sendiri di masa lalu.

Capek boleh. Nyerah jangan. 👊😆

Ternyata Banyak Orang yang Juga Sedang Berjuang

Belakangan ini aku juga sering menemukan cerita orang lain di media sosial.

Ternyata banyak banget orang yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.

Bahkan orang-orang yang kelihatannya punya kehidupan baik-baik saja pun ternyata punya alasan sendiri untuk tetap bertahan.

Ada yang pernah cerita bahwa salah satu alasan kecilnya untuk tetap hidup adalah karena ingin melihat akhir anime One Piece. Wkwkwk.

Dan jujur, menurutku itu nggak masalah.

Karena kita memang nggak perlu punya alasan hidup yang terdengar besar dan luar biasa.

Mungkin hari ini alasannya cuma ingin jalan-jalan.

Besok ingin makan sesuatu yang enak dan belum pernah kita coba.

Minggu depan ingin nonton film.

Atau mungkin…

"Aku harus hidup dulu sampai One Piece tamat.”

Ya sudah. Nggak apa-apa.

Yang penting hidup dulu. Hahaa.

Karena selama kita masih hidup, kita masih punya kesempatan untuk menemukan alasan-alasan lain.

Jangan Meminta Mati, Karena Kita Masih Punya Kesempatan

Dalam Islam, ada pengingat yang menurutku sangat kuat tentang hal ini.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 29:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”

Ayat ini mengingatkan bahwa diri kita bukan sesuatu yang boleh kita perlakukan dengan semena-mena. Allah bahkan menutup larangan itu dengan mengingatkan bahwa Dia Maha Penyayang.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar seseorang tidak meminta kematian karena kesulitan atau musibah yang sedang dialaminya.

Dalam HR. Bukhari 5671, beliau mengajarkan bahwa jika seseorang sedang berada dalam keadaan sangat berat, ia dapat berdoa:

“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”

Dan dalam HR. Muslim 2682, ada pengingat yang menurutku sangat indah: selama seseorang masih hidup, masih ada kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Jadi mungkin…

Kalau hari ini hidup terasa berat, nggak apa-apa kalau alasanmu untuk bertahan masih kecil.

Nggak harus langsung punya impian besar.

Nggak harus langsung tahu masa depan mau jadi apa.

Nggak harus langsung merasa hidup ini indah.

Hidup dulu.

Besok cari alasan lain lagi.

Lha wong Sang Maha Pemilik Hidup aja melarang kita menyakiti diri sendiri kok, masa kita yang cuma hamba "seuprit" ini malah mau matiin diri sendiri. Jangan ngelunjak ya! Dosa kita tuh sudah banyak, nggak usah pakai acara nambah dosa lagi. 😎

Lakukan yang Memang Ada dalam Ranah Kita

Ada satu pelajaran lain dari webinar-webinar yang aku ikuti yang juga sangat melekat di kepalaku:

Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kalau sudah menyangkut hal yang berada di luar kendali kita, lepaskan.

Sederhana, tapi ternyata susah dilakukan. Wkwkwk.

Misalnya, aku sudah berusaha bersikap baik kepada seseorang.

Kalau kemudian orang tersebut tetap menganggap aku jahat?

Ya sudah.

Aku bisa mengontrol sikapku, tapi aku tidak bisa mengontrol isi hati dan pikiran orang lain.

Hati manusia bukan ranahku.

Atau soal pekerjaan.

Misalnya aku sudah berusaha daftar CPNS, memenuhi semua persyaratan, belajar, mengikuti tes CAT, dan mengerjakannya sebaik mungkin.

Setelah itu?

Ya sudah.

Lolos atau tidak, hasil akhirnya bukan lagi ranahku.

Kalau lolos, Alhamdulillah.

Jangan lupa bersyukur dan sedekah.

Kalau gagal?

Ya coba lagi.

Mungkin ada usaha yang belum maksimal.

Mungkin ada hal yang perlu diperbaiki.

Atau mungkin Allah sedang menyiapkan jalan lain.

“Jalan lain”-nya itu kapan?

Ya nggak tau!

Bukan ranah kita woiii. Wkwkwk.

Tugas kita adalah berusaha dan berdoa sebaik mungkin.

Hasil akhirnya?

Serahkan kepada Allah.

Karena kadang kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya memang tidak pernah menjadi tanggung jawab kita untuk mengendalikannya.

Kita hanya perlu tahu:

Mana yang merupakan ranah kita, dan mana yang harus kita lepaskan.

Kita Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini

Mungkin hidup memang seperti itu.

Ada hal yang bisa kita perjuangkan.

Ada hal yang hanya bisa kita doakan.

Ada hal yang harus kita terima.

Dan ada hal yang memang harus kita lepaskan.

Aku sendiri masih belajar.

Kadang masih sangklek juga.

Masih bisa overthinking. Masih bisa capek. Masih bisa mempertanyakan banyak hal.

Tapi setidaknya sekarang aku lebih tahu bahwa aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.

Aku hanya perlu melakukan bagian yang memang menjadi bagianku.

Sisanya?

Bukan ranahku.

Dan mungkin menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya justru merupakan salah satu bentuk berdamai dengan kehidupan.

Jadi, Kalau Kamu Sedang Ingin Menyerah…

Kalau hari ini kamu sedang berada di titik yang sangat berat, coba ingat lagi:

Apa yang sebenarnya masih ingin kamu lihat?

Apa yang masih ingin kamu lakukan?

Apa yang masih ingin kamu rasakan?

Nggak perlu sesuatu yang besar.

Mungkin ingin jalan-jalan. Sekadar melihat taman komplek.

Mungkin ingin punya pekerjaan impian. Jadi pengangguran kaya, misalnya. 😆

Mungkin ingin bertemu seseorang. Bertemu jodoh juga bisa.

Mungkin ingin mencoba makanan yang belum pernah dicoba.

Atau…

ingin melihat ending One Piece. Wkwkwk.

Nggak apa-apa.

Cari satu alasan kecil dulu.

Karena dengan hidup, kita masih punya kesempatan untuk mencapai masa depan yang baru.

Masa depan yang sekarang bahkan belum bisa kita bayangkan.

Jadi, sayangi dirimu sendiri.

Maafkan dirimu yang dulu.

Terima bahwa kamu manusia dan memang tidak akan pernah sempurna.

Kalau hari ini cuma sanggup berjalan pelan, ya sudah.

Pelan-pelan saja.

Capek boleh.

Istirahat boleh.

Menangis juga boleh.

Tapi jangan buru-buru menganggap perjalananmu sudah selesai.

Karena selama masih hidup, ceritamu belum selesai.

Dan siapa tahu, ternyata bagian terbaik dari hidupmu memang belum datang.

Sayang-sayang semuanya.

Love. 💙


Sabtu, Agustus 22, 2026

Berdamai dengan Masa Lalu, Melangkah Maju Lewat Self Acceptance

Self Acceptance: Belajar Menerima Diri, Termasuk Masa Lalu

Hai semua! 👋

Kali ini Hyull mau sharing. Bisa dibilang ini tips juga, sih. Hehehe.

Belakangan ini kita masih sering banget mendengar tentang mental health. Bahkan, entah kenapa, akhir-akhir ini FYP TikTok, Reels Instagram, sampai YouTube Shorts-ku malah sering berseliweran promo psikolog, psikiater, bahkan rumah sakit jiwa. Wkwkwk… entah algoritma lagi mau ngasih kode apa ke aku. 😭

Nah, beberapa waktu lalu aku menemukan sebuah kajian yang membahas tentang trauma masa lalu. Dari kajian tersebut, salah satu langkah yang dibahas untuk membantu mengatasi luka atau trauma masa lalu adalah self acceptance, atau penerimaan diri.

Ternyata menerima diri sendiri itu nggak sesederhana bilang, “Ya udah, aku terima.”

Karena yang perlu kita terima bukan cuma diri kita yang sekarang, tetapi juga berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup kita, termasuk masa lalu.

Dan menurutku, bagian ini memang susah.

Tapi kalau kita terus menolak sesuatu yang memang sudah terjadi, bukankah kita justru akan semakin capek?

Seperti quotes yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya:

“Masa lalu memang tidak bisa diubah, namun kita bisa memperbaharui maknanya.”

Tentang hal ini, sebelumnya aku juga sudah pernah membahasnya di artikel:

  1. Masa Lalu Tak Bisa Diubah, Tapi Kita Punya Kesempatan Untuk Menjadi Lebih Baik
  2. Fatherless dan Father Wound Part 2
  3. Kalau Kamu Lagi Nggak Baik-Baik Saja, Ini Buat Kamu

Nah, kali ini aku mau lebih fokus membahas tentang self acceptance.

Sebenarnya, bagaimana sih langkah untuk mulai belajar menerima diri sendiri?

Dari kajian yang aku dengarkan, ada tiga hal yang menurutku menarik untuk direnungkan.

1. Sadar Diri

Langkah pertama adalah mengenal dan menyadari diri sendiri.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan, kesalahan, atau penilaian orang lain sampai lupa bertanya:

“Sebenarnya aku ini siapa, sih?”

Untuk mulai mengenal diri sendiri, kita bisa mencoba menjawab beberapa pertanyaan sederhana:

  • Bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu sendiri?
  • Apa potensi baik yang kamu miliki?
  • Apa passion-mu?
  • Apa jalan manfaatmu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin kelihatannya sederhana, tetapi ternyata bisa membuat kita berhenti sejenak dan melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Bukan hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga menyadari bahwa ada hal-hal baik dalam diri kita yang mungkin selama ini luput kita hargai.

Karena menerima diri bukan berarti kita harus menganggap diri kita sempurna.

Justru sebaliknya, kita perlu mengenal diri kita secara utuh dengan kelebihan, kekurangan, kesalahan, potensi, impian, dan segala proses yang sedang kita jalani.

2. Ramah pada Diri Sendiri

Setelah mulai mengenal diri sendiri, langkah berikutnya adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih ramah.

Kadang kita bisa begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi ketika giliran diri sendiri yang melakukan kesalahan, kita malah terus menghukum diri.

Padahal, kita juga manusia.

Memaafkan diri sendiri

Menurutku, inilah salah satu bentuk penerimaan yang paling penting.

Memaafkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Bukan berarti membenarkan kesalahan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Tetapi mengakui:

“Iya, itu memang sudah terjadi. Aku tidak bisa mengubahnya lagi.”

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dari kejadian tersebut, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, lalu melanjutkan hidup.

Karena kalau kita terus-menerus menghukum diri atas kesalahan di masa lalu, kita hanya akan terus tinggal di tempat yang sebenarnya sudah kita lewati.

Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan hari ini dan ke depannya.

Sadari bahwa manusia memang tidak sempurna

As human beings, we are not perfect.

Salah itu wajar.

Gagal juga wajar.

Jatuh pun wajar.

Yang penting, jangan sampai kita terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa mau belajar. 😭

Karena menerima diri bukan berarti, “Ya udah, aku memang begini.”

Bukan.

Self acceptance bukan alasan untuk berhenti berkembang.

Justru setelah menerima diri, kita bisa melihat kekurangan dengan lebih jernih dan berkata,

“Oke, ini bagian dari diriku yang perlu diperbaiki.”

Jadi, kita boleh memaafkan diri sendiri tanpa berhenti belajar.

Menerima seluruh takdir diri

Ini juga bagian yang menurutku cukup menenangkan.

Sebagai manusia, tugas kita adalah berusaha dan berdoa.

Soal hasil?

Serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Kita sudah melakukan bagian yang menjadi jatah kita: berusaha sebaik mungkin, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan:

“Nanti berhasil nggak, ya?”

“Kalau gagal gimana?”

“Kalau ternyata bukan ini jalannya bagaimana?”

Padahal, hasil bukan sepenuhnya ranah kita.

Itu ranah Sang Pemilik hidup kita.

Jadi, lakukan saja bagian kita sebaik mungkin.

Kalau berhasil, alhamdulillah.

Kalau belum berhasil, ya coba lagi dengan cara lain.

Karena bisa jadi, kegagalan itu justru cara Tuhan menunjukkan bahwa masih ada jalan lain yang belum kita lihat.

Dan mungkin, jalan yang kita pikir sebagai kegagalan ternyata sedang mengarahkan kita ke sesuatu yang lebih baik.

3. Fokus pada Diri Sendiri

Setelah belajar menerima diri, kita juga perlu belajar untuk fokus pada apa yang memang bisa kita kendalikan.

Karena ternyata banyak hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali kita.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:

Release luka batin

Luka yang terus kita bawa ke mana-mana bisa membuat kita sulit menjalani kehidupan saat ini.

Jadi, perlahan-lahan kita perlu belajar melepaskannya.

Bukan berarti melupakan.

Bukan berarti kejadian tersebut tidak penting.

Tetapi belajar berdamai dengan apa yang sudah terjadi sehingga masa lalu tidak terus mengendalikan kehidupan kita hari ini.

Syukuri segala kebaikan

Kadang kita merasa hidup kita terlalu banyak masalah sampai lupa bahwa sebenarnya kebaikan juga tetap ada.

Dan kebaikan itu tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar.

Kita masih hidup sampai hari ini saja sudah merupakan sebuah kebaikan.

Kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri juga merupakan kebaikan.

Kita masih punya kesempatan untuk belajar, mencoba lagi, mencari jalan keluar, dan memperbaiki kehidupan kita juga merupakan sebuah kebaikan.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus menghitung apa yang hilang sampai lupa menghitung apa yang masih kita miliki.

Jadi, sesekali berhentilah.

Lihat lagi kehidupan kita.

Apa saja kebaikan yang masih Tuhan titipkan kepada kita sampai hari ini?

Fokus memperbaiki diri sendiri

Ini juga penting.

Kita hanya bisa mengontrol hal-hal yang memang berhubungan dengan diri kita sendiri.

Kita bisa mengontrol tindakan kita.

Kita bisa mengontrol bagaimana kita merespons sesuatu.

Kita bisa terus berusaha dan berdoa.

Tapi kita tidak bisa memaksa bagaimana orang lain harus merespons kita.

Kita juga tidak bisa mengontrol hasil dari setiap usaha yang kita lakukan.

Jadi, fokuslah pada bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Perbaiki apa yang bisa kita perbaiki.

Usahakan apa yang bisa kita usahakan.

Doakan apa yang ingin kita perjuangkan.

Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.

Kalau ternyata gagal?

Ya sudah.

Coba lagi.

Kalau cara pertama tidak berhasil, mungkin kita bisa mencari cara kedua.

Kalau cara kedua belum berhasil, mungkin masih ada cara ketiga.

Karena bisa jadi, kegagalan bukan berarti jalannya sudah habis.

Bisa jadi Tuhan sedang membuat kita melihat bahwa ternyata ada banyak jalan yang belum kita coba.

Jadi, Self Acceptance Itu Bukan Berarti Pasrah

Dari tiga langkah di atas, menurutku self acceptance bukan berarti kita menerima semuanya lalu berhenti berusaha.

Bukan juga berarti kita membenarkan semua kesalahan yang pernah kita lakukan.

Self acceptance adalah tentang berdamai dengan diri sendiri.

Mengenali diri.

Menerima bahwa kita pernah salah.

Memaafkan diri sendiri.

Menerima bahwa kita tidak sempurna.

Berdamai dengan masa lalu.

Mensyukuri apa yang masih kita punya.

Lalu tetap berusaha menjadi versi diri kita yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.

Tetapi kita masih punya kesempatan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan setelahnya.

Jadi, kalau hari ini kamu masih punya sesuatu dari masa lalu yang belum bisa kamu terima, mungkin nggak perlu memaksakan diri untuk langsung “move on”.

Pelan-pelan saja.

Kenali.

Pahami.

Maafkan.

Terima.

Lalu lanjutkan hidup.

Karena kamu juga pantas mendapatkan kedamaian dari dirimu sendiri. 💙


Yaps, itu dia 3 langkah self acceptance yang aku dapat dari kajian yang aku dengarkan.

Semoga sharing kali ini bermanfaat buat kamu yang mungkin sedang belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. 🫶🏻

Dan jangan lupa…

Selalu sayangi diri sendiri. 

With love,
- Hyull 💙


Senin, Agustus 17, 2026

17 Agustus 2026: Ketika Negeri Sedang Berduka, Apa Arti Kemerdekaan Bagi Rakyat?

Sebuah Refleksi Arti Kemerdekaan

Setiap bulan Agustus, kita terbiasa melihat merah putih di mana-mana.

Bendera berkibar di depan rumah, jalanan dihiasi umbul-umbul, anak-anak mengikuti berbagai perlombaan, dan ucapan Dirgahayu Republik Indonesia memenuhi linimasa.

Tetapi tahun ini, entah mengapa, suasana perayaan itu terasa berbeda.

Di tengah persiapan menyambut 17 Agustus, ada negeri yang sedang berduka.

Bencana datang bertubi-tubi. Ekonomi terasa semakin berat. Harga kebutuhan pangan terus menjadi persoalan bagi banyak keluarga. Dan di tengah semua itu, kita kembali melihat bagaimana kehidupan rakyat dan narasi tentang keberhasilan negara terkadang terasa berjalan di dua ruang yang berbeda.

Bukan berarti tidak ada capaian.

Bukan berarti pemerintah tidak melakukan apa-apa.

Tetapi mungkin, justru karena kita mencintai negeri ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Seperti apa sebenarnya wajah kemerdekaan yang dirasakan rakyat hari ini?

Ketika Kemerdekaan Datang Bersama Duka

Pada 15 Agustus 2026, menjelang peringatan kemerdekaan, Indonesia kembali diguncang oleh sejumlah gempa signifikan di beberapa wilayah.

Di Nusa Tenggara Timur, gempa M7,7 mengguncang wilayah utara Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dan memicu peringatan dini tsunami. Tsunami kemudian terobservasi di sejumlah wilayah pesisir. BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. 

Pada hari yang sama, gempa M6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatra Utara, sementara gempa M6,2 terjadi di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. 

Bahkan setelah gempa utama di Flores, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hingga pukul 14.00 WIB pada 15 Agustus, BMKG mencatat 235 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo antara M2,5 hingga M6,2. BMKG juga menyebut tren aktivitas susulan saat itu belum menunjukkan peluruhan yang signifikan. Hingga 16 Agustus, aktivitas gempa di kawasan Flores masih terus tercatat. 

Bagi sebagian orang, 17 Agustus mungkin tetap menjadi hari perlombaan dan perayaan.

Tetapi bagi mereka yang kehilangan rumah, kehilangan anggota keluarga, harus mengungsi, atau masih berada dalam ketakutan setelah gempa, merah putih tahun ini mungkin memiliki makna yang berbeda.

Mereka tidak sedang memikirkan lomba.

Mereka sedang memikirkan keselamatan.

Mereka sedang mencari keluarga.

Mereka sedang memikirkan bagaimana kembali hidup setelah rumah dan kehidupan mereka berubah dalam hitungan menit.

Dan sebenarnya, duka akibat bencana di Indonesia bukan hanya tentang apa yang terjadi beberapa hari menjelang 17 Agustus.

Ada luka yang bahkan sudah berlangsung berbulan-bulan.

Banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir 2025 meninggalkan kerusakan yang tidak selesai hanya ketika air mulai surut.

Rumah harus dibangun kembali.

Jalan dan jembatan harus dipulihkan.

Mata pencaharian harus dikembalikan.

Para pengungsi harus memiliki tempat tinggal yang layak.

Dan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, tidak ada pembangunan infrastruktur yang bisa benar-benar menghapus kehilangan tersebut.

Memasuki pertengahan 2026, proses pemulihan masih berjalan. Artinya, bagi sebagian masyarakat, bencana yang mungkin sudah lama berhenti menjadi berita belum berhenti menjadi kehidupan.

Mereka masih membangun kembali.

Masih membersihkan sisa kerusakan.

Masih mencari cara untuk kembali bekerja.

Masih mencoba memulai kehidupan dari apa yang tersisa.

Negara tentu memiliki mekanisme penanganan bencana. BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, dan berbagai kementerian memiliki tugas untuk melakukan evakuasi, memberikan bantuan, memulihkan akses, serta menangani para penyintas.

Tetapi ada satu hal yang membuatku tetap bertanya-tanya.

Dalam pidato kenegaraan yang disampaikan pada 14 Agustus, ketika bangsa sedang bersiap menyambut hari kemerdekaan dan bencana besar baru saja terjadi, persoalan kebencanaan dan nasib para penyintas tidak menjadi bagian yang menonjol dalam narasi besar tentang perjalanan bangsa.

Pidato banyak berbicara tentang swasembada pangan dan energi, pertumbuhan ekonomi, MBG, koperasi, pembangunan pendidikan, reformasi BUMN, efisiensi birokrasi, pemberantasan korupsi, hingga Indonesia Emas 2045.

Semua itu tentu penting.

Tetapi di tengah begitu banyak pembicaraan mengenai masa depan Indonesia, aku hanya berharap ada ruang yang cukup untuk mengingat mereka yang bahkan sedang berjuang melewati hari ini.

Karena pembangunan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mampu melangkah.

Pembangunan juga tentang seberapa kuat negara memegang tangan mereka yang sedang jatuh.

Ketika Angka Ekonomi Tidak Selalu Terasa di Dapur

Di sisi lain, kehidupan sehari-hari masyarakat juga menghadapi persoalan yang tidak kalah nyata.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar berada di bawah tekanan. Harga berbagai kebutuhan pangan masih terasa tinggi.

Beras, minyak goreng, cabai, daging, dan berbagai kebutuhan lainnya semakin membuat masyarakat harus berhitung.

Masalahnya, harga bisa berubah.

Tetapi tidak semua penghasilan ikut berubah.

Ada orang yang gajinya tetap.

Ada pekerja yang pendapatannya tidak bertambah sebanding dengan kebutuhan.

Ada keluarga yang akhirnya harus mengurangi sesuatu agar sesuatu yang lain tetap terpenuhi.

Di atas kertas, mungkin ekonomi tumbuh.

Tetapi di meja makan, pertanyaannya jauh lebih sederhana:

Apakah uang yang dibawa pulang masih cukup untuk membeli kebutuhan keluarga?

Pertumbuhan ekonomi adalah sesuatu yang penting.

Tetapi pertumbuhan itu seharusnya tidak hanya terlihat dalam laporan dan angka makroekonomi.

Ia seharusnya perlahan terasa dalam kehidupan orang biasa.

Sebab bagi masyarakat yang setiap bulan harus menghitung uang untuk kebutuhan pokok, angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat harga beras menjadi lebih murah atau membuat isi dompet bertambah.

Ketika Data Mengatakan Sejahtera, Tetapi Kehidupan Terasa Rentan

Ada satu hal lain yang membuatku semakin berpikir tentang arti “sejahtera”.

Belakangan, pembicaraan mengenai data kesejahteraan dan desil DTSEN juga ramai diperbincangkan.

Aku mencoba bertanya secara acak kepada beberapa orang yang aku kenal dari daerah dan pulau yang berbeda mengenai hasil desil mereka. Tentu saja ini bukan survei dan tidak bisa dianggap sebagai representasi statistik seluruh Indonesia.

Tetapi ada satu hal yang cukup membuatku berhenti sejenak:

Dari orang-orang yang aku tanyai, tidak ada satu pun yang berada di bawah desil 8.

Beberapa berada pada desil 8, bahkan ada yang berada pada desil 9.

Padahal ketika aku mengenal kehidupan mereka secara langsung, gambaran yang aku temukan tidak selalu terlihat seperti keluarga yang sudah benar-benar aman secara ekonomi.

Ada keluarga yang seluruh anggota keluarganya bekerja.

Tidak menganggur.

Tidak memiliki utang.

Tetapi penghasilan masing-masing masih berada di bawah UMR. Bukan gaji bulanan, melainkan buruh harian.

Penghasilan itu habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Dan karena memang pas-pasan, mereka tidak memiliki ruang untuk menabung.

Ketika aku tanyakan hasil desil DTSEN mereka, keluarga seperti ini ternyata berada pada desil 8.

Secara klasifikasi, posisinya memang relatif tinggi.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi keadaan darurat.

Jika kendaraan satu-satunya rusak, ada pengeluaran tambahan yang harus dicari.

Jika salah satu anggota keluarga sakit, kondisi ekonomi bisa langsung ikut terguncang.

Jika salah satu sumber penghasilan berhenti, tidak banyak yang bisa digunakan sebagai cadangan.

Ada pula keluarga lain yang aku kenal yang berada pada desil 9.

Mereka memiliki dua anak yang masih kecil, masih memiliki utang, dan penghasilan keluarga pun masih pas-pasan.

Sekali lagi, aku tidak mengatakan bahwa hasil desil tersebut salah.

Aku juga tidak memiliki kapasitas untuk menilai bagaimana sistem DTSEN menentukan posisi setiap keluarga.

Tetapi pengalaman sederhana ini membuatku bertanya:

Jika seseorang berada pada desil 8 atau bahkan desil 9, apakah itu otomatis berarti mereka sudah aman secara ekonomi?

Sebab ada perbedaan antara posisi seseorang dalam klasifikasi kesejahteraan dengan seberapa kuat seseorang mampu bertahan ketika menghadapi guncangan ekonomi.

Desil tentu memiliki fungsi dan dasar perhitungannya sendiri.

Tetapi kehidupan sehari-hari memiliki pertanyaan yang berbeda.

Apakah klasifikasi tersebut sudah cukup menggambarkan kerentanan ekonomi yang dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah aku mulai bertanya:

Apakah tidak miskin otomatis berarti sejahtera?

Mungkin secara statistik mereka memang tidak berada di kelompok masyarakat paling miskin.

Tetapi bagaimana jika kendaraan satu-satunya rusak?

Bagaimana jika salah satu anggota keluarga sakit?

Bagaimana jika ada satu orang yang kehilangan pekerjaan?

Bagaimana jika rumah mereka terkena bencana?

Keluarga tersebut tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menyerap guncangan.

Bukan karena mereka boros.

Bukan karena mereka memiliki utang konsumtif.

Bukan karena mereka tidak mau bekerja.

Mereka justru bekerja.

Hanya saja, penghasilan yang ada memang habis untuk bertahan hidup.

Ada keluarga yang tidak miskin, tetapi juga tidak memiliki kemewahan untuk jatuh sakit.

Tidak memiliki kemewahan untuk kendaraan rusak.

Tidak memiliki kemewahan untuk kehilangan satu sumber penghasilan.

Dan bahkan tidak memiliki kemewahan untuk menabung.

Sebab tidak ada yang tersisa setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Mungkin inilah yang sering luput ketika kita hanya melihat posisi seseorang dalam angka.

Ada perbedaan antara tidak miskin dan benar-benar aman secara ekonomi.

Ada orang yang berada di atas batas kemiskinan, tetapi hanya berjarak satu musibah dari kondisi yang jauh lebih sulit.

Mereka adalah kelompok yang mungkin tidak terlihat sebagai orang miskin, tetapi sangat rentan untuk jatuh miskin.

Dan menurutku, kerentanan semacam ini juga layak menjadi perhatian negara.

Ketika Harga Naik, Tetapi Gaji Tetap

Sebab pada akhirnya, kehidupan rakyat bukan hanya tentang angka pendapatan.

Yang menentukan adalah jarak antara pendapatan dan kebutuhan.

Jika gaji tetap tetapi harga makanan naik, daya beli turun.

Jika biaya transportasi naik, sisa penghasilan semakin sedikit.

Jika biaya pendidikan, kesehatan, listrik, dan kebutuhan rumah tangga meningkat, kemampuan menabung semakin jauh.

Lalu ketika seseorang tidak mampu menabung, ia tidak memiliki bantalan ketika sesuatu terjadi.

Satu kecelakaan.

Satu penyakit.

Satu kendaraan rusak.

Satu kehilangan pekerjaan.

Satu bencana.

Dan tiba-tiba keluarga yang sebelumnya terlihat “baik-baik saja” bisa mengalami kesulitan yang sangat besar.

Gaji boleh tetap sama, tetapi harga kebutuhan tidak pernah berjanji untuk ikut diam.

Ketika Sakit Menjadi Kemewahan

Tetapi persoalan kesejahteraan tidak berhenti pada kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari.

Ada satu hal lain yang juga menentukan seberapa aman sebuah keluarga menjalani hidup:

kesehatan.

Kita bisa berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.

Kita bisa berbicara tentang swasembada pangan.

Kita bisa berbicara tentang pembangunan dan Indonesia Emas 2045.

Tetapi bagi keluarga yang penghasilannya habis untuk kebutuhan sehari-hari, satu anggota keluarga yang sakit bisa mengubah seluruh kondisi ekonomi mereka.

Ada biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan.

Ada obat.

Ada kebutuhan lain yang mungkin muncul selama perawatan.

Dan bagi pekerja harian, ada persoalan yang tidak kalah berat:

ketika tidak bekerja, tidak ada penghasilan.

Satu hari sakit mungkin berarti satu hari tanpa pemasukan.

Beberapa hari sakit bisa berarti kebutuhan rumah tangga mulai terganggu.

Dan ketika penyakit membutuhkan perawatan lebih panjang, keluarga yang sebelumnya sudah hidup pas-pasan bisa semakin kehilangan ruang untuk bertahan.

Di sinilah aku kembali bertanya:

Apakah seseorang benar-benar sejahtera jika sedikit saja terkena masalah kesehatan, kehidupannya langsung terguncang?

Kesehatan bukan hanya persoalan rumah sakit dan dokter.

Kesehatan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap bekerja, memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarganya, dan menjalani hidup dengan layak.

Karena itu, keberhasilan sektor kesehatan seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak fasilitas yang dibangun atau program yang diluncurkan.

Pertanyaan yang lebih sederhana mungkin adalah:

Ketika rakyat sakit, apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa harus takut kehidupan ekonominya ikut runtuh?

Apakah fasilitas kesehatan mudah dijangkau oleh masyarakat di daerah?

Apakah tenaga kesehatan cukup tersedia dan mendapatkan dukungan yang layak?

Apakah masyarakat yang rentan benar-benar mendapatkan perlindungan ketika mereka membutuhkannya?

Dan bagaimana dengan mereka yang berada di tengah-tengah?

Tidak cukup miskin untuk selalu dianggap sebagai kelompok paling membutuhkan bantuan, tetapi juga tidak cukup mampu untuk menanggung sendiri berbagai biaya ketika sesuatu terjadi.

Kelompok seperti inilah yang sering kali tidak terlihat.

Mereka bekerja.

Mereka berusaha.

Mereka mungkin tidak memiliki utang.

Mereka mungkin bahkan tidak masuk kategori masyarakat miskin.

Tetapi mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menghadapi kejutan.

Sakit sedikit, ekonomi terganggu.

Tidak bekerja beberapa hari, pemasukan berkurang.

Harus membeli obat, tabungan yang memang hampir tidak ada kembali terkuras.

Dan ketika seseorang tidak memiliki tabungan, persoalan kesehatan bukan lagi hanya persoalan tubuh.

Ia bisa berubah menjadi persoalan ekonomi seluruh keluarga.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, mungkin kita juga perlu bertanya:

Apakah rakyat sudah benar-benar merasa aman ketika jatuh sakit?

Sebab hidup yang layak bukan hanya tentang memiliki penghasilan.

Tetapi juga tentang memiliki perlindungan ketika tubuh tidak lagi mampu bekerja.

Dan di tengah pembicaraan mengenai berbagai capaian pembangunan dalam pidato kenegaraan, persoalan rasa aman masyarakat ketika menghadapi sakit dan kerentanan ekonomi akibat masalah kesehatan rasanya juga layak mendapatkan ruang.

Bukan karena pembangunan yang lain tidak penting.

Tetapi karena pada akhirnya, pembangunan seharusnya membuat manusia yang hidup di dalamnya merasa lebih aman, lebih sehat, dan lebih mampu menghadapi kehidupan.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Angka Keberhasilan

Aku tidak ingin tulisan ini menjadi tulisan yang mengatakan bahwa semua hal yang dilakukan pemerintah pasti salah.

Tidak.

Swasembada pangan penting.

Ketahanan energi penting.

Pendidikan penting.

Pemberantasan korupsi penting.

Pertumbuhan ekonomi penting.

Pembangunan juga penting.

Tetapi semua itu seharusnya kembali kepada satu tujuan:

rakyat.

Sebab negara bukan dibangun untuk menghasilkan angka-angka yang indah.

Angka adalah alat untuk membantu negara melihat keadaan rakyat dan menentukan kebijakan.

Kalau angka menunjukkan keadaan membaik, tetapi di lapangan masih banyak orang yang merasa semakin sulit bernapas secara ekonomi, mungkin yang perlu dilakukan bukan sekadar berdebat angka mana yang benar.

Mungkin kita perlu bertanya:

Apa yang belum terlihat oleh angka tersebut?

Apakah keluarga yang bekerja tetapi tidak mampu menabung sudah benar-benar aman?

Apakah masyarakat yang sedikit berada di atas garis kemiskinan sudah memiliki ketahanan ketika bencana datang?

Apakah pertumbuhan ekonomi sudah cukup terasa di dapur rumah tangga?

Apakah mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana merasa negara benar-benar hadir?

Apakah masyarakat yang jatuh sakit memiliki rasa aman bahwa kesehatan mereka tidak akan membuat keluarganya jatuh secara ekonomi?

Dan yang paling sederhana:

Apakah rakyat merasa hidupnya semakin layak?

Untuk Indonesia yang Kita Cintai

Mungkin karena itulah, tahun ini aku merasa tidak ingin merayakan 17 Agustus hanya dengan mengatakan bahwa Indonesia baik-baik saja.

Aku ingin tetap mengibarkan merah putih.

Tetap menghormati perjuangan para pendahulu.

Tetap bersyukur bahwa kita hidup di negeri yang merdeka.

Tetapi mencintai Indonesia bukan berarti harus menutup mata terhadap luka yang ada di dalamnya.

Kita boleh bangga.

Tetapi kita juga boleh prihatin.

Kita boleh berharap.

Tetapi kita juga boleh bertanya.

Kita boleh mencintai negeri ini sambil mengkritik mereka yang diberi amanah untuk mengelolanya.

Sebab kritik tidak selalu lahir dari kebencian.

Kadang kritik justru lahir karena kita masih peduli.

Kita ingin uang negara benar-benar kembali kepada rakyat.

Kita ingin pembangunan tidak hanya menghasilkan proyek, tetapi juga menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Kita ingin pemberantasan korupsi benar-benar menyentuh mereka yang merugikan negara, bukan berhenti sebagai slogan.

Kita ingin pejabat mengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang jauh dari realitas rakyatnya.

Kita ingin pembangunan memiliki pandangan jauh ke depan, bukan hanya mengejar apa yang terlihat selesai hari ini.

Dan kita ingin mereka yang sedang berduka karena bencana tidak merasa sendirian di negeri sendiri.

Sebab bencana mengajarkan satu hal yang sangat sederhana:

ketahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga dari seberapa kuat ia memastikan rakyatnya tidak kehilangan masa depan setelah bencana.

Pada akhirnya, mungkin kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk hidup layak.

Memiliki rasa aman.

Memiliki perlindungan ketika musibah datang.

Memiliki pekerjaan yang manusiawi.

Mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Mampu menabung untuk masa depan.

Dan memiliki keyakinan bahwa ketika kehidupan tiba-tiba jatuh, negara tidak akan membiarkan kita jatuh sendirian.

Maka pada 17 Agustus tahun ini, di tengah merah putih yang berkibar dan perayaan yang tetap berlangsung, aku ingin menyimpan satu pertanyaan kecil:

Sudah sejauh mana kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan rakyatnya?

Karena Indonesia bukan hanya tentang pemerintah.

Bukan hanya tentang pejabat.

Bukan hanya tentang angka pertumbuhan.

Bukan hanya tentang proyek pembangunan.

Indonesia adalah manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

Dan selama masih ada rakyat yang bekerja keras tetapi tidak mampu menabung, keluarga yang hidup hanya selangkah dari kerentanan, masyarakat yang masih berjuang membangun kembali kehidupan setelah bencana, serta suara-suara kecil yang merasa tidak didengar—

mungkin tugas kita belum selesai.

Dirgahayu Indonesia.

Semoga kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun tidak berhenti sebagai sebuah peringatan, tetapi perlahan benar-benar menjadi sesuatu yang dirasakan oleh setiap manusia yang hidup di dalamnya. 🇮🇩

~Hyull 💙

Minggu, Agustus 16, 2026

Realita Menjadi Dewasa: Ternyata Hidup Tidak Seindah Anime dan Drama Korea

Dulu Aku Ingin Cepat Dewasa

Semakin bertambah usia, aku mulai sadar...

Ternyata menjadi dewasa tidak seperti yang dulu kubayangkan.

Waktu kecil, aku ingin sekali cepat besar.

Menurutku, menjadi orang dewasa itu pasti menyenangkan.

Bisa punya uang sendiri. Bisa membeli apa pun yang diinginkan. Bisa pergi ke mana saja tanpa harus meminta izin. Bisa melakukan banyak hal tanpa bergantung pada orang lain.

Kelihatannya bebas sekali, ya?

Mungkin karena dulu aku terlalu sering melihat kehidupan yang indah di anime, drama Korea, atau cerita-cerita novel yang kubaca.

Tokoh utamanya memang sering mengalami masalah. Kadang hidupnya berat. Kadang harus melewati banyak kesulitan.

Tapi selalu ada seseorang yang datang menolong.

Selalu ada keluarga yang hangat.

Selalu ada sahabat yang menemani.

Selalu ada seseorang yang berkata, "Tidak apa-apa, kamu tidak sendiri."

Dan pada akhirnya...

Semua akan baik-baik saja.

Happy ending.

Waktu kecil, aku pikir kehidupan nyata juga akan seperti itu.

Aku pikir nanti ketika dewasa, aku akan menjadi seseorang yang bebas, bahagia, dan hidup tanpa terlalu banyak beban.

Ternyata...

Tidak sesederhana itu.

Ternyata Dewasa Tidak Hanya Tentang Kebebasan

Semakin dewasa, aku justru semakin sering bertanya dalam hati,

"Kenapa hidup capek, ya?"

Ternyata menjadi dewasa bukan hanya tentang mendapatkan kebebasan.

Ada tanggung jawab yang ikut datang bersamanya.

Mulai memikirkan pekerjaan.

Memikirkan uang.

Memikirkan masa depan.

Memikirkan keluarga.

Belajar menjaga ucapan supaya tidak menyakiti orang lain.

Belajar memahami orang lain meskipun terkadang diri sendiri juga ingin dipahami.

Kadang aku bertanya...

Kalau aku terus berusaha menjaga perasaan semua orang, siapa yang akan menjaga perasaanku?

Kalau semua orang ingin dimengerti, kapan aku dimengerti?

Ada kalanya aku juga ingin menjadi seseorang yang boleh merasa lelah.

Aku juga ingin sesekali ada yang berkata,

"Sudah... hari ini istirahat saja. Kamu tidak perlu kuat terus."

Karena ternyata...

Capek juga ya, harus selalu terlihat baik-baik saja.

Capek harus tersenyum ketika hati sedang penuh.

Capek harus meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, padahal sebenarnya ingin menangis sebentar.

Ketika Aku Mulai Melihat Kembali Hidupku

Tapi beberapa hari yang lalu, aku mencoba berhenti sebentar.

Aku bertanya kepada diriku sendiri...

"Benarkah hidupku hanya berisi hal-hal yang tidak sesuai harapan?"

Lalu aku mencoba melihat ke belakang.

Dan ternyata...

Tidak juga.

Mungkin aku terlalu sibuk melihat apa yang belum aku punya sampai lupa melihat apa yang sudah berhasil aku dapatkan.

Ternyata Ada Mimpi Kecil yang Diam-Diam Sudah Terwujud

Dulu waktu kecil, aku pernah ingin sekali makan es krim sebanyak yang aku mau.

Dulu rasanya melihat orang membeli es krim besar itu seperti melihat sesuatu yang mewah sekali.

Sekarang?

Aku pernah membeli satu ember es krim dan memakannya sendiri.

Walaupun akhirnya eneg juga karena kebanyakan, haha.

Tapi lucunya, aku ingat ada rasa bahagia kecil waktu membelinya.

Seperti ada bagian kecil dari diriku yang berkata,

"Akhirnya kita bisa beli sendiri."

Dulu aku juga pernah ingin makan kue ulang tahun sesuka hati.

Sekarang aku bisa membelinya sendiri.

Memang bukan sesuatu yang besar.

Tapi ternyata ada kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada diri sendiri.

Aku juga ingat dulu sering melihat jajanan di minimarket.

Kadang ingin membeli, tapi harus berpikir dulu.

"Uangnya cukup tidak, ya?"

Sekarang memang aku belum bisa membeli semua yang aku mau.

Masih harus berpikir juga.

Tapi sesekali aku bisa mengambil camilan yang aku suka tanpa merasa terlalu bersalah.

Dan ternyata...

Hal kecil seperti itu dulu adalah sesuatu yang pernah aku inginkan.

Benda-Benda Sederhana yang Dulu Hanya Ada di Bayangan

Dulu aku pernah menggambar HP di kertas, di kayu, dan seringkali di pecahan genteng yang dibentuk kotak untuk dijadikan mainan.

Ketika zamannya Android mulai ramai, aku bahkan pernah memakai kaca bekas bedak yang bentuknya kotak memanjang, lalu membayangkan itu adalah HP layar sentuh.

Kalau diingat sekarang...

Lucu juga.

Anak kecil itu hanya punya imajinasi sederhana.

Tapi sekarang HP benar-benar ada di tanganku.

Sesuatu yang dulu hanya bisa kubayangkan, sekarang menjadi benda biasa yang setiap hari kugunakan.

Aku juga pernah bermimpi punya laptop sendiri.

Waktu akhirnya bisa membeli laptop, memang bukan laptop baru yang mahal.

Laptop bekas.

Dan sekarang malah sedang rusak.

Tapi aku masih ingat perasaan ketika pertama kali memilikinya.

Ada rasa bangga.

Karena untuk pertama kalinya aku punya sesuatu yang kubeli dari hasil usahaku sendiri.

Begitu juga dengan tablet yang sekarang aku punya.

Bukan tablet mahal.

Aku membelinya saat diskon.

Tapi tetap saja...

Aku punya tablet yang sekarang sering kupakai untuk belajar, menulis, dan menunjang karierku.

Dulu, itu adalah salah satu hal yang ingin kumiliki.

Aku pernah membeli cincin emas pertamaku.

Memang kecil.

Tidak sampai dua gram.

Tapi rasanya berbeda ketika memakai sesuatu yang kubeli sendiri.

Bukan karena barangnya mahal.

Tapi karena ada cerita di baliknya.

Belajar Memberikan Hal Baik untuk Diri Sendiri

Pelan-pelan, aku juga mulai belajar merawat diri.

Dulu skincare terasa seperti sesuatu yang jauh.

Sekarang aku punya skincare sederhana.

Facial wash, moisturizer, sunscreen, bedak, dan lipstick yang juga sering kupakai sebagai blush on atau eyeshadow supaya lebih praktis.

Tidak mahal.

Sebagian besar bahkan harganya di bawah lima puluh ribu.

Tapi ternyata...

Merawat diri sendiri juga termasuk bentuk sayang kepada diri sendiri.

Aku juga punya motor.

Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja.

Tapi buatku, motor berarti kemandirian.

Jadi kalau belanja bulanan, aku tidak perlu lagi merepotkan orang lain untuk mengantar.

Aku bisa pergi sendiri.

Aku membeli kasur busa untuk diriku sendiri.

Aku juga akhirnya punya mesin cuci.

Mungkin terdengar sederhana.

Tapi buatku, itu adalah bentuk kecil bahwa hidupku perlahan menjadi lebih mudah.

Tanganku tidak perlu merasakan alergi akibat deterjen.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata dulu adalah doa-doa kecil yang diam-diam sudah dijawab.

Perpustakaan Kecil yang Masih Dalam Perjalanan

Ada satu mimpi yang sampai sekarang masih berjalan.

Aku ingin punya perpustakaan pribadi.

Dulu aku membayangkannya ruangan khusus dengan rak-rak buku memenuhi dinding.

Ada kursi nyaman.

Ada sudut kecil untuk membaca.

Tempat yang tenang untuk melarikan diri sebentar dari dunia.

Sekarang?

Perpustakaan itu belum ada.

Buku-bukuku masih berada di rak sederhana di kamar.

Sebagian besar rak itu masih berisi buku sekolah dan buku lama yang sudah menemaniku bertahun-tahun.

Kalau buku yang benar-benar kubeli sendiri?

Masih sedikit.

Mungkin baru mengisi setengah bagian bawah rak.

Belasan buku.

Bahkan beberapa masih rapi karena belum sempat kubaca.

Tapi setiap melihat rak itu, aku tetap tersenyum.

Karena aku sadar...

Aku tidak lagi hanya bermimpi.

Aku sedang membangun mimpi itu.

Sedikit demi sedikit.

Masih Ada Mimpi yang Belum Sampai

Tentu saja masih banyak mimpi yang belum tercapai.

Aku masih ingin punya rumah yang benar-benar kubeli sendiri.

Bukan hadiah.

Bukan warisan.

Bukan sekadar tempat tinggal.

Tapi rumah yang suatu hari nanti bisa membuatku berkata,

"Rumah ini hasil perjuanganku."

Aku juga ingin umrah.

Pernah mulai menabung, tapi ternyata uangnya harus dipakai untuk kebutuhan lain.

Ya... Begitulah hidup, haha.

Kadang kita sudah membuat rencana, tapi Allah punya jalan yang berbeda.

Aku juga punya keinginan untuk merasakan umrah sendirian.

Bukan karena tidak ingin ditemani.

Tapi karena aku ingin merasakan perjalanan itu sebagai perjalanan antara aku dan Allah.

Mungkin belum sekarang.

Mungkin memang belum waktunya.

Melihat Hidup dari Sudut Pandang yang Berbeda

Saat ini, aku mencoba melihat hidupku dari sudut pandang yang berbeda.

Aku memang belum menjadi orang yang benar-benar mapan.

Masih banyak hal yang ingin aku capai.

Masih ada doa-doa yang belum terjawab.

Masih ada hari-hari ketika aku merasa lelah dan bertanya, "Kapan ya?"

Tapi ternyata...

Aku sudah berjalan cukup jauh.

Mungkin Hyull kecil tidak akan kecewa melihatku sekarang.

Mungkin dia tidak akan bertanya,

"Kenapa kita belum punya rumah?"

Mungkin dia justru akan tersenyum dan berkata,

"Ternyata kita berhasil ya."

"Pelan-pelan, tapi kita berhasil."

Dan mungkin...

Itu sudah cukup.

Untuk Hyull Kecil yang Masih Berani Bermimpi

Tulisan ini bukan tentang seseorang yang sudah berhasil mencapai semua impiannya.

Karena aku masih berjuang.

Masih belajar.

Masih sering merasa lelah.

Masih sering kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

Tapi aku tidak ingin terus melihat semua hal yang belum kumiliki.

Aku juga ingin mengingat semua hal kecil yang dulu hanya menjadi mimpi.

Karena mungkin...

Kita sering terlalu sibuk mengejar mimpi berikutnya sampai lupa bahwa beberapa doa kecil kita sebenarnya sudah dijawab.

Kalau hari ini kamu juga sedang merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana...

Coba berhenti sebentar.

Lihat ke belakang.

Mungkin ada versi kecil dari dirimu yang sedang tersenyum karena melihat sejauh apa kamu sudah bertahan.

Untuk Hyull kecil...

Terima kasih sudah berani bermimpi.

Memang belum bisa mewujudkan semuanya.

Tapi tenang ya...

Kita masih mengusahakannya.

Satu per satu. 

Karena yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi kita tidak berhenti berjalan. - Hyull 💙


Minggu, Juli 26, 2026

Masa Lalu Tak Bisa Diubah, Tapi Kita Selalu Punya Kesempatan Menjadi Lebih Baik

Menata Kembali Langkah dan Memperbaiki Masa Depan Lewat Untaian Hikmah Kebaikan

Beberapa waktu lalu aku mengikuti kajian dari seorang ustaz. Ada beberapa poin yang menurutku sangat membekas dan layak untuk selalu diingat.

Masa Lalu Tidak Bisa Diubah

Masa lalu tetaplah masa lalu. Tidak ada seorang pun yang mampu kembali ke waktu itu untuk mengubah apa yang sudah terjadi.

Karena itu, jangan terlalu lama terjebak dalam penyesalan. Ambillah hikmah dari setiap kejadian, lalu jadikan pelajaran untuk menjalani kehidupan hari ini dan masa depan dengan lebih baik.

Manusia diberikan kemampuan untuk bangkit dan move on. Bukan berarti melupakan semuanya, tetapi berdamai dengan masa lalu dan mengambil pelajaran darinya.

Dalam Islam, setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Tidak ada seorang pun yang luput dari dosa.

Namun, Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Selama kita masih hidup, pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.

Karena itu, jangan biarkan masa lalu menjadi penghalang untuk berubah. Menyesal memang perlu, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti melangkah. Jadikan penyesalan sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.

Allah juga mengingatkan agar seseorang tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

QS. Az-Zumar: 53

Arab:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Latin:

Qul yā 'ibādiyalladzīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh. Innallāha yaghfiruż-żunūba jamī'ā. Innahū huwal-Ghafūrur-Raḥīm.

Arti:

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

Musibah Tidak Terjadi Tanpa Sebab

Salah satu poin yang dijelaskan dalam kajian adalah bahwa setiap musibah pasti ada sebabnya. Bisa jadi karena kelalaian manusia, kesalahan manusia, atau akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Allah berfirman dalam:

QS. Ar-Rum: 41

Arab:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Latin:

Zhaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba'dhal-ladzī 'amilū la'allahum yarji'ūn.

Arti:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Ayat ini mengingatkan bahwa banyak kerusakan dan musibah terjadi akibat ulah manusia sendiri. Ada sebab, maka ada akibat. Sering kali kita menganggap sebuah kesalahan itu kecil, padahal dampaknya bisa menjadi besar di kemudian hari.

Namun, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua musibah berarti hukuman dari Allah. Ada musibah yang menjadi ujian keimanan, ada yang menjadi penghapus dosa, dan ada pula yang menjadi cara Allah mengangkat derajat hamba-Nya.

Yang terpenting adalah menjadikan setiap musibah sebagai momen untuk introspeksi. Jangan sibuk menyalahkan keadaan atau orang lain, tetapi tanyakan kepada diri sendiri, "Apa yang bisa aku perbaiki setelah ini?"

Dan sebagai seorang muslim kita juga harus mengingat bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin Allah.

QS. At-Taghabun: 11

Arab:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Latin:

Mā aṣāba mim muṣībatin illā bi idznillāh. Wa may yu'mim billāhi yahdi qalbah. Wallāhu bikulli syai'in 'alīm.

Arti:

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Karena itu, saat mendapat ujian jangan hanya bertanya, "Mengapa ini terjadi?", tetapi juga introspeksi diri dan mendekat kepada Allah.

Perbanyak istighfar, perbanyak bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah dalam setiap keadaan. Bisa jadi musibah yang datang justru menjadi jalan agar kita kembali mendekat kepada-Nya.

Allah Tidak Akan Memberikan Ujian Melebihi Kemampuan Hamba-Nya

Di balik setiap ujian, Allah memberikan kabar yang sangat menenangkan.

Allah SWT berfirman:

QS. Al-Baqarah: 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Latin:

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā.

Artinya:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Saat kita merasa lelah, kecewa, atau hampir menyerah, ingatlah ayat ini.

Jika Allah mengizinkan sebuah ujian datang kepada kita, berarti Allah juga telah memberikan kemampuan untuk menghadapinya. Mungkin kita belum menyadarinya sekarang, tetapi suatu hari nanti kita akan melihat bahwa semua ujian itu telah membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya.

Karena itu, jangan mudah berputus asa. Teruslah berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada Allah.

Allah Adalah Tempat Curhat Terbaik

Saat hati sedang gelisah, jangan hanya mencari tempat bercerita kepada manusia. Tidak semua orang mampu memahami apa yang kita rasakan.

Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu.

Allah SWT berfirman:

QS. Ar-Ra'd: 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Latin:

Allażīna āmanū wa taṭma'innu qulūbuhum biżikrillāh. Alā biżikrillāhi taṭma'innul-qulūb.

Artinya:

"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Begitu pula Nabi Ya'qub AS saat menghadapi kesedihan yang begitu berat.

Allah SWT berfirman:

QS. Yusuf: 86

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Latin:

Innamā asykū batstsī wa ḥuznī ilallāh.

Artinya:

"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."

Saat sepertiga malam terakhir, bangunlah untuk melaksanakan shalat tahajud jika mampu. Curahkan semua isi hati kepada Allah. Tidak perlu malu, tidak perlu berpura-pura kuat, karena Allah mengetahui segala isi hati hamba-Nya, bahkan sebelum kita mengucapkannya.

Jangan Takut Mati, Tapi Selalu Ingat Mati

Sebagai manusia, kita tidak perlu takut menghadapi kematian, karena setiap yang bernyawa pasti akan mengalaminya.

QS. Ali 'Imran: 185

Arab:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Latin:

Kullu nafsin dzā'iqatul maut.

Arti:

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati."

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan datang kepada setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan waktunya tiba.

Karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk selalu mengingat kematian agar hidupnya lebih berhati-hati, lebih banyak beramal, dan tidak terlena oleh urusan dunia.

Namun, Rasulullah ﷺ juga melarang kita meminta kematian hanya karena sedang menghadapi kesulitan.

Beliau bersabda:

"Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika memang harus berdoa, hendaklah ia berkata: 'Ya Allah, hidupkanlah aku apabila kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku.'"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebesar apa pun ujian yang kita hadapi, jangan pernah kehilangan harapan kepada rahmat Allah. Teruslah berdoa agar diberi kekuatan menjalani kehidupan dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah ketika waktunya telah tiba.

Dalam Prosesnya

Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Akan ada kesalahan, penyesalan, kehilangan, dan berbagai ujian yang datang silih berganti.

Namun, jangan biarkan masa lalu menguasai hidup kita. Ambillah hikmah dari setiap kejadian, perbanyak istighfar, biasakan bersyukur, dan jadikan Allah sebagai tempat terbaik untuk mengadu.

Percayalah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita. Selama kita masih diberi kesempatan untuk bernapas, selalu ada kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali kepada jalan-Nya.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, menguatkan hati kita dalam menghadapi setiap ujian, menerima taubat kita, serta menutup kehidupan ini dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.


Jumat, Juli 17, 2026

Lambung Sering Kambuh? Jangan Dianggap Sepele! Ini 6 Cara Sederhana yang Sangat Membantu

Sering Maag atau GERD Kambuh? Ini 6 Cara Sederhana Menenangkan Lambung Secara Alami

Hai hai, semua.

Aku yakin banyak di antara kita pasti pernah ngerasain yang namanya maag kumat. Dan itu nggak enak banget kan?

Rasa nyerinya bisa luar biasa. Dada terasa sesak, ulu hati seperti ditusuk, panas dan nyeri menjalar sampai punggung, mulut pahit, mual, bahkan mata bisa berkunang-kunang, sampai berdiri tegak pun tak mampu.

Aku sendiri termasuk yang sudah cukup lama berjuang dengan masalah lambung. Tidak setiap hari kambuh, tapi saat datang, rasanya benar-benar mengganggu aktivitas.

Yang mengejutkan, penyakit lambung ternyata bukan masalah kecil di Indonesia.

Berdasarkan berbagai penelitian kesehatan nasional, prevalensi gastritis (maag) di Indonesia mencapai sekitar 40,8%.

​Angka ini menjadikan gangguan lambung sebagai salah satu masalah pencernaan yang paling sering dijumpai. Bahkan, gastritis konsisten masuk dalam daftar 10 besar penyakit yang paling banyak ditangani di rumah sakit, dan ironisnya sering menyerang usia produktif. Pemicu utamanya mulai dari pola makan yang tidak teratur, tingkat stres, kebiasaan merokok, konsumsi kopi atau makanan pedas berlebihan, hingga gaya hidup yang kurang sehat.

Karena itu, jangan anggap remeh sakit lambung.

Berikut beberapa tips yang benar-benar aku rasakan manfaatnya. Ini bukan pengganti pengobatan dokter, tetapi pengalaman pribadi yang cukup membantu mengurangi kekambuhan.

1. Saat Lambung Kambuh, Jangan Langsung Dipaksa Makan

Banyak orang berpikir maag kambuh harus langsung makan.

Kalau aku justru tidak begitu.

Ini murni pengalaman pribadiku ya. Saat nyeri sedang hebat, biasanya aku diamkan dulu sampai rasa sakitnya sedikit mereda. Setelah itu baru kunyah obat maag yang biasa kupakai sesuai kebutuhan. Sekitar 30 menit hingga 1 jam kemudian baru makan sedikit demi sedikit.

Tujuannya supaya lambung tidak "kaget". Makan terlalu banyak saat nyeri masih hebat justru sering membuat rasa tidak nyaman bertambah.

2. Jangan Biarkan Perut Kosong Terlalu Lama

Ini salah satu penyebab maag paling sering kambuh.

Aku selalu berusaha membawa camilan kecil ke mana pun pergi.

Tidak harus mahal. Cukup:

  • Biskuit
  • Roti
  • Crackers
  • Camilan kering
  • Atau apapun yang penting bisa dimakan

Yang penting ada pengganjal ketika mulai terasa lapar.

Tapi ingat, jangan berlebihan juga. Terlalu kenyang justru bisa membuat lambung semakin tidak nyaman.

3. Air Rebusan Kunyit dan Madu

Ini salah satu minuman favoritku ketika lambung mulai terasa tidak enak. Rasanya hangat dan sangat menenangkan lambung yang sedang meradang.

Caranya sederhana:

  • Bahan: 1 ruas kunyit (sekitar sejempol), 1 gelas air, dan 1 sdm madu murni.
  • ​Cara Membuat: Rebus kunyit hingga airnya mendidih, lalu saring ke dalam gelas. Setelah airnya berubah menjadi hangat, tambahkan madu dan aduk rata.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kunyit mengandung kurkumin yang memiliki sifat antiinflamasi (anti-peradangan). Namun, karena efeknya bisa berbeda pada setiap orang, tetap sesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing, ya.

4. Bubur Pati Garut, Comfort Food untuk Lambung

Kalau sedang benar-benar tidak sanggup makan nasi, aku biasanya membuat bubur pati garut (umpat garut/irut).

Resepnya sangat sederhana.

  • 1 sdm pati garut
  • 150 ml air
  • Aduk hingga rata
  • Masak dengan api kecil sambil terus diaduk sampai mengental

Setelah matang langsung dimakan hangat.

Entah kenapa, setiap kali mengonsumsi bubur ini, lambung terasa jauh lebih adem, tenang, dan nyaman.

Biasanya cukup makan satu mangkuk kecil di pagi hari sebagai sarapan darurat.

5. Puasa yang Benar Ternyata Membantu

Mungkin terdengar aneh.

Banyak orang takut puasa karena khawatir maag-nya kambuh.

Namun, yang aku alami justru sebaliknya.

Kuncinya ada pada manajemennya. Jika kondisi lambung sedang agak sensitif di hari pertama puasa, aku biasanya minum obat maag sesuai anjuran dokter sebelum makan sahur. Setelah itu menjalani puasa dengan pola makan yang baik.

Sahur secukupnya.

Berbuka juga secukupnya.

Semakin rutin berpuasa dengan pola yang benar, lambungku justru terasa semakin jarang kambuh.

Tentu pengalaman setiap orang bisa berbeda. Bila memiliki riwayat maag berat, GERD, atau tukak lambung, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum berpuasa.

6. Ikuti Pola Rasulullah ﷺ

Ada satu kebiasaan yang perlahan aku coba terapkan.

Makan sebelum terlalu lapar, dan berhenti sebelum terlalu kenyang.
Sering kali lambung bermasalah bukan hanya karena telat makan, tetapi juga karena "balas dendam" saat makan. Porsi langsung besar dan dimakan terburu-buru. 

Padahal lambung juga butuh diperlakukan dengan lembut dan bertahap.

Semoga kita bisa sama-sama belajar menjaga pola makan, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Dengarkan Sinyal Tubuhmu

Lambung memang organ kecil, tetapi ketika bermasalah, seluruh tubuh bisa ikut merasakan dampaknya.

Kalau kamu termasuk orang yang sering mengalami maag atau gangguan lambung lainnya, jangan hanya mengandalkan obat-obatan saat kambuh. Mulailah memperbaiki akar masalahnya: atur waktu makan, kurangi stres, perbaiki pola tidur, serta jaga pola hidup yang lebih sehat.

Kapan harus ke dokter?

Jika keluhan lambungmu semakin sering terjadi, apalagi jika sudah disertai gejala berat seperti muntah darah, BAB berwarna hitam, berat badan turun drastis tanpa sebab, atau nyeri hebat yang tidak tertahankan, jangan ditunda lagi. Segera periksakan diri ke dokter.

Semoga kita semua diberikan kesehatan, dijauhkan dari berbagai penyakit, dan selalu diberi kekuatan untuk menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan.

Mari kita sehat bersama. Ciaoo... 💙

— Hyull


Kamis, Juni 04, 2026

Saat Kepala Terus Berada di Mode Perang: Ketika Emosi Penuh, Badan Ikut Bicara

Pernah merasa sesak di dada, mual, ingin berteriak, tetapi tidak tahu sebenarnya sedang marah, sedih, atau kecewa karena apa?

Kadang tidak ada satu masalah besar yang menjadi penyebab. Tidak ada kejadian dramatis yang baru saja terjadi. Namun tiba-tiba tubuh terasa penuh, pikiran berisik, dan emosi seperti meluap sampai rasanya ingin meledak.

Banyak orang mengira ini hanya "stres biasa". Padahal ketika kondisi ini berlangsung terlalu lama, tubuh mulai ikut berbicara.

Ketika Pikiran Selalu Berada di Mode Survival

Ada masa ketika hidup terasa seperti rangkaian tugas yang harus diselesaikan.

Bangun pagi, bekerja, memikirkan uang, masa depan, tanggung jawab, masalah keluarga, target yang belum tercapai, dan berbagai hal lain yang terus berputar di kepala.

Lama-kelamaan, otak terbiasa berada dalam kondisi siaga.

Jika tidak sedang "berperang" menghadapi masalah, maka sedang "bertahan hidup" menghadapi kecemasan tentang hal berikutnya.

Akibatnya, tubuh hampir tidak pernah benar-benar beristirahat.

Tanda-Tanda Tubuh Sedang Kelelahan Secara Emosional

Kelelahan emosional tidak selalu muncul dalam bentuk menangis atau sedih.

Kadang tubuh menunjukkan sinyal seperti:

  • Dada terasa sesak atau nyeri
  • Perut kembung tanpa sebab yang jelas
  • Mual
  • Sulit bernapas dalam-dalam
  • Otot leher, bahu, atau punggung terasa tegang
  • Mata berkedut
  • Sulit tidur
  • Mudah marah atau tersinggung
  • Merasa ingin kabur dari semuanya

Tubuh dan pikiran sebenarnya tidak terpisah.

Saat emosi menumpuk terlalu lama, tubuh sering menjadi "pengeras suara" yang menyampaikan pesan tersebut.

Ketika Ingin Berteriak tetapi Tidak Bisa

Banyak orang pernah berada di titik ini.

Ingin meluapkan emosi, tetapi:

  • Takut mengganggu orang lain
  • Tidak punya tempat aman untuk menangis
  • Tidak punya seseorang untuk diajak bicara
  • Tidak tahu bagaimana mengekspresikan apa yang dirasakan

Akibatnya, emosi hanya berputar-putar di dalam kepala.

Padahal sering kali yang dibutuhkan bukan solusi instan, melainkan ruang untuk mengeluarkan beban tersebut.

Hal-Hal Sederhana yang Bisa Membantu Saat Emosi Sedang Penuh

Tidak semua orang punya akses ke terapi, liburan, atau hiburan mahal.

Namun beberapa hal sederhana berikut bisa membantu menurunkan intensitas emosi:

1. Fokus Menurunkan Intensitas, Bukan Menghilangkan Emosi

Saat emosi sedang berada di level 100, jangan memaksa diri untuk langsung tenang.

Target yang lebih realistis adalah menurunkannya menjadi 80 atau 70 terlebih dahulu.

Sedikit lebih baik tetap merupakan kemajuan.

2. Lepaskan Ketegangan Fisik

Coba:

  • Meremas bantal
  • Meregangkan tubuh
  • Berjalan santai
  • Mandi air hangat
  • Mengubah posisi duduk atau berbaring

Tubuh yang lebih rileks sering membantu pikiran menjadi sedikit lebih tenang.

3. Tulis Semua Isi Kepala

Buka aplikasi catatan.

Tulis apa saja yang muncul tanpa sensor dan tanpa memikirkan tata bahasa.

Tidak perlu rapi.

Tidak perlu masuk akal.

Tujuannya bukan menghasilkan tulisan bagus, melainkan memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas.

4. Jangan Memaksa Mencari Penyebab Saat Sedang Overload

Kadang kita bertanya:

"Sebenarnya aku kenapa sih?"

Namun ketika emosi sudah terlalu penuh, mencari jawaban justru bisa membuat frustrasi.

Tidak apa-apa jika saat ini belum tahu penyebab pastinya.

Saat Comfort Food Tidak Ada

Ada malam-malam ketika kita hanya ingin ngemil sesuatu untuk merasa lebih baik.

Lalu membuka lemari dan mendapati tidak ada apa-apa selain air putih.

Terdengar sepele, tetapi kondisi seperti ini sering memperburuk perasaan sedih atau frustrasi.

Bukan karena lapar semata.

Melainkan karena kita sedang mencari sedikit kenyamanan di tengah hari yang berat.

Jika memungkinkan, cobalah menyimpan "stok darurat emosional" yang murah dan tahan lama seperti:

  • Biskuit
  • Mie instan
  • Teh sachet
  • Permen
  • Kacang
  • Kerupuk

Hal kecil seperti ini kadang terasa sangat berarti pada malam yang sulit.

Kesepian yang Jarang Dibicarakan

Ada orang yang memiliki banyak teman tetapi tetap merasa kesepian.

Ada juga yang benar-benar memiliki lingkaran sosial yang sangat kecil.

Kesepian tidak selalu terlihat dari luar.

Namun saat tidak memiliki tempat bercerita, semua beban hidup cenderung dipikul sendirian.

Dan itu melelahkan.

Sangat melelahkan.

Jika Tubuh Mulai Memberikan Sinyal

Nyeri dada, sesak, atau gejala fisik lainnya tidak boleh langsung dianggap sebagai stres.

Jika gejala sering berulang, mengganggu aktivitas, atau terasa semakin berat, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Tidak semua keluhan fisik berasal dari emosi.

Kadang tubuh memang sedang meminta perhatian yang lebih serius.

Sadari

Tidak semua hari harus produktif.

Tidak semua malam harus diakhiri dengan solusi.

Kadang keberhasilan terbesar hari itu hanyalah:

Bertahan sampai besok.

Jika hari ini terasa berat, jika pikiran terus berada dalam mode perang, jika tubuh mulai ikut berteriak melalui berbagai keluhan fisik, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah menjadi lebih kuat.

Mungkin yang dibutuhkan adalah memberi diri sendiri izin untuk beristirahat.

Karena bahkan pejuang yang paling tangguh pun tidak bisa terus bertempur tanpa henti.


"Pikiran yang terus berperang tidak membutuhkan lebih banyak jawaban. Kadang ia hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat." — Hyull



Kamis, Mei 28, 2026

Kalau Kamu Lagi Nggak Baik-Baik Saja, Ini Buat Kamu

Untuk Kamu yang Lagi Capek Tapi Masih Bertahan,

Ada hari-hari ketika semuanya terasa berat tanpa alasan yang jelas. Bangun tidur sudah capek, pikiran berisik, dan dunia terasa “jauh” walaupun kamu lagi di dalamnya.

Kalau kamu lagi di fase itu sekarang, kamu nggak sendirian.

Dan kamu nggak harus langsung baik-baik saja.

Ini bukan kamu yang lemah

Kadang kita suka mikir:

  • “Harusnya aku bisa lebih kuat”
  • “Dulu aku bisa lewat ini”
  • “Kenapa sekarang jadi begini?”

Tapi kenyataannya, kamu bukan versi yang sama seperti dulu.

Kamu sudah melewati banyak hal, dan itu mengubah kapasitas emosimu. Jadi wajar kalau sekarang rasanya lebih berat.

Itu bukan kegagalan. Itu tanda kamu manusia yang sedang lelah.

“Sekarang nggak baik, tapi ini sementara”

Kalimat ini sederhana, tapi bisa jadi pegangan:

Sekarang nggak baik-baik saja, tapi ini sementara.

Bukan berarti masalahnya hilang.
Tapi kamu diingatkan bahwa kondisi ini tidak akan selamanya seperti ini.

Perasaan itu datang dan pergi. Bahkan yang paling gelap pun punya batas waktu.

Kamu tidak harus langsung sembuh

Ada tekanan halus di dunia ini yang bilang:

  • harus cepat pulih
  • harus tetap produktif
  • harus tetap terlihat baik

Padahal saat mental lagi drop, tugas kamu cuma satu:

bertahan.

Itu saja sudah cukup.

Kalau semuanya terasa terlalu berat, lakukan ini saja

Nggak perlu rumit. Cukup 3 hal dasar:

  • minum air sedikit
  • makan sesuatu walau kecil
  • tetap ada di tempat yang aman

Kalau itu saja yang kamu bisa hari ini, itu sudah valid.

Kalau pikiran mulai terlalu ramai

Coba ulang pelan:

“Aku lagi capek, bukan gagal.”
“Aku nggak harus menyelesaikan semuanya sekarang.”
“Aku cuma perlu lewat hari ini.”

Nggak perlu dipercaya 100%. Cukup dijadikan pegangan kecil supaya kamu nggak jatuh terlalu dalam.

Kamu sudah pernah lewat ini

Dan itu penting.

Artinya:

  • kamu punya kemampuan untuk bertahan
  • kamu pernah jatuh dan masih bangkit
  • kamu sudah punya bukti bahwa ini bisa dilewati

Tapi kali ini, mungkin caranya berbeda. Lebih pelan. Lebih lembut.

Dan itu nggak apa-apa.

Ini Adalah Proses

Kalau hari ini kamu cuma bisa:

  • diam
  • rebahan
  • menangis
  • atau sekadar bertahan

Itu bukan kemunduran.

Itu bagian dari proses kamu untuk tetap hidup di hari yang berat.

Dan kalau kamu masih di sini membaca ini…

kamu masih berjuang.

Big Love and Hug for Us 💙

Selasa, Mei 26, 2026

Saat Rumah Bukan Lagi Tempat Pulang

Tentang Capek Mental, Batas Diri, dan Keinginan untuk Pergi

Ada titik dalam hidup ketika seseorang tidak lagi merasa “lelah biasa”.

Bukan lelah karena kerja.
Bukan lelah karena kurang tidur.
Tapi lelah karena harus terus memahami, menahan, dan menjaga emosi orang lain sambil mengabaikan dirinya sendiri.

Ini adalah cerita tentang itu.

1. Ketika rumah terasa penuh tapi tidak menenangkan

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat aman.
Tapi bagi sebagian lainnya, rumah justru menjadi tempat di mana emosi harus selalu dijaga.

Ada konflik yang tidak selalu meledak, tapi hadir dalam bentuk yang lebih sunyi:

  • diam tanpa penjelasan (silent treatment)
  • komunikasi yang tidak jelas
  • nada yang menyudutkan
  • dan suasana yang membuat harus selalu “siaga”

Lama-kelamaan, seseorang bisa hidup dalam mode bertahan, bukan mode hidup.

2. Capek yang tidak terlihat: ketika harus selalu “mengerti”

Dalam dinamika tertentu, ada peran yang tanpa sadar terbentuk:
satu pihak selalu merasa perlu dipahami,
sementara pihak lain selalu diminta untuk memahami.

Saat ini terjadi terus-menerus, muncul kelelahan yang dalam:

  • merasa tidak pernah benar-benar didengar
  • merasa harus selalu mengalah
  • merasa emosinya sendiri tidak punya ruang

Di titik ini, seseorang tidak lagi hanya capek secara fisik, tapi juga secara mental dan emosional.

3. Ketika fokus belajar dan bekerja ikut runtuh

Capek mental tidak hanya memengaruhi perasaan, tapi juga fungsi dasar:

  • sulit fokus belajar atau bekerja
  • sulit menyerap informasi
  • merasa “kosong” meski sedang mencoba produktif

Bukan karena malas, tapi karena pikiran sedang penuh.

4. Keinginan untuk pergi: bukan kabur, tapi mencari ruang hidup

Saat tekanan berlangsung lama, muncul satu dorongan kuat:
ingin pergi jauh.

Bukan selalu karena ingin meninggalkan seseorang,
tapi karena ingin merasakan:

  • tenang tanpa tegang
  • hidup tanpa harus membaca emosi orang lain terus
  • menjadi diri sendiri tanpa rasa bersalah

Keinginan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk:

  • pindah kota lain
  • hidup mandiri
  • bahkan mimpi jauh seperti bekerja ke luar negeri

5. Dilema rasa bersalah

Namun keinginan untuk hidup sendiri sering berbenturan dengan rasa bersalah:

  • takut dianggap meninggalkan orang tua
  • takut dianggap tidak peduli
  • takut melukai perasaan orang lain

Padahal di sisi lain, kebutuhan untuk punya ruang hidup sendiri juga nyata dan penting.

6. Kesadaran penting: tidak semua hal adalah tanggung jawab kita

Salah satu titik penting dalam proses ini adalah memahami batas:

Tidak semua emosi orang lain adalah tanggung jawab kita.
Tidak semua konflik harus kita selesaikan sendiri.
Dan tidak semua rasa bersalah berarti kita benar-benar salah.

Belajar membedakan ini adalah bagian dari proses menjadi dewasa secara emosional.

7. Keinginan sederhana yang sebenarnya dalam

Di balik semua konflik dan kelelahan itu, ada satu hal yang sebenarnya sederhana:

Ingin hidup dengan tenang.
Ingin menjadi diri sendiri.
Ingin punya ruang untuk bernapas.

Itu saja.

Pada Akhirnya

Perubahan besar dalam hidup tidak selalu dimulai dari langkah besar.

Kadang dimulai dari satu kesadaran kecil:
bahwa kita juga berhak untuk tidak selalu kuat, tidak selalu memahami, dan tidak selalu mengorbankan diri.

Dan dari sana, pelan-pelan, seseorang mulai mencari jalan hidupnya sendiri dengan cara yang lebih sehat, lebih sadar, dan lebih manusiawi.


Langkah kecil yang konsisten akan menuntun kita ke jalan yang lebih baik..

Yuk, semangat dan tersenyum 💙