Refleksi tentang berdamai dengan masa lalu, menerima ketidaksempurnaan, dan belajar melangkah lagi pelan-pelan
Beberapa tahun terakhir, entah kenapa aku sedang gila-gilanya ikut webinar online.
Mulai dari webinar tentang skill, pengetahuan, pekerjaan, sampai psikologi. Sertifikatnya sudah lumayan banyak. Ada yang aku download, ada yang nggak. Ada juga yang sertifikatnya memang nggak tersedia. Wkwkwk.
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya aku bukan cuma sedang mencari ilmu.
Aku sedang belajar memahami diriku sendiri.
Dan setelah beberapa tahun melewati berbagai macam webinar, kelas, pengalaman, dan tentu saja kehidupan itu sendiri, aku merasa ada satu perubahan yang cukup besar dalam diriku.
Aku jadi lebih legowo.
Lebih bisa menerima diriku sendiri.
Termasuk menerima masa lalu yang pernah terasa sakit, susah, bahkan mungkin ingin sekali aku lupakan.
Tapi kalau sekarang aku lihat lagi, ternyata masa lalu itu nggak semuanya buruk.
Ada sedihnya, ada susahnya, tapi ternyata ada bahagianya juga.
Dan semuanya tetap bagian dari diriku.
Aku yang dulu, aku yang sekarang, semuanya tetap aku.
Mungkin aku memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi aku bisa belajar melihatnya dengan cara yang berbeda.
Aku pernah mendengar kalimat dalam salah satu webinar psikologi yang kurang lebih bunyinya seperti ini:
“Masa lalu sudah berlalu dan tidak bisa diubah, tetapi kita bisa memperbarui maknanya.”
Dan ada satu lagi yang masih aku ingat sampai sekarang.
Kurang lebih pesannya adalah bahwa kita ini manusia. Jadi, ya, pasti tidak sempurna. Kita bisa salah. Kita bisa gagal. Dan memanusiakan manusia itu penting, termasuk memanusiakan diri sendiri.
Mungkin itu juga yang sedang aku pelajari sampai sekarang.
Aku manusia.
Aku nggak sempurna.
Aku pernah salah. Pernah gagal. Pernah mengambil keputusan yang ternyata tidak tepat. Pernah berada di titik yang tidak baik-baik saja.
Tapi aku juga masih terus berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik.
Karena rival terbesarku sebenarnya bukan orang lain.
Rival aku adalah diriku sendiri di masa lalu.
Capek boleh. Nyerah jangan. 👊😆
Ternyata Banyak Orang yang Juga Sedang Berjuang
Belakangan ini aku juga sering menemukan cerita orang lain di media sosial.
Ternyata banyak banget orang yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.
Bahkan orang-orang yang kelihatannya punya kehidupan baik-baik saja pun ternyata punya alasan sendiri untuk tetap bertahan.
Ada yang pernah cerita bahwa salah satu alasan kecilnya untuk tetap hidup adalah karena ingin melihat akhir anime One Piece. Wkwkwk.
Dan jujur, menurutku itu nggak masalah.
Karena kita memang nggak perlu punya alasan hidup yang terdengar besar dan luar biasa.
Mungkin hari ini alasannya cuma ingin jalan-jalan.
Besok ingin makan sesuatu yang enak dan belum pernah kita coba.
Minggu depan ingin nonton film.
Atau mungkin…
"Aku harus hidup dulu sampai One Piece tamat.”
Ya sudah. Nggak apa-apa.
Yang penting hidup dulu. Hahaa.
Karena selama kita masih hidup, kita masih punya kesempatan untuk menemukan alasan-alasan lain.
Jangan Meminta Mati, Karena Kita Masih Punya Kesempatan
Dalam Islam, ada pengingat yang menurutku sangat kuat tentang hal ini.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 29:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”
Ayat ini mengingatkan bahwa diri kita bukan sesuatu yang boleh kita perlakukan dengan semena-mena. Allah bahkan menutup larangan itu dengan mengingatkan bahwa Dia Maha Penyayang.
Rasulullah ï·º juga mengingatkan agar seseorang tidak meminta kematian karena kesulitan atau musibah yang sedang dialaminya.
Dalam HR. Bukhari 5671, beliau mengajarkan bahwa jika seseorang sedang berada dalam keadaan sangat berat, ia dapat berdoa:
“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”
Dan dalam HR. Muslim 2682, ada pengingat yang menurutku sangat indah: selama seseorang masih hidup, masih ada kesempatan untuk melakukan kebaikan.
Jadi mungkin…
Kalau hari ini hidup terasa berat, nggak apa-apa kalau alasanmu untuk bertahan masih kecil.
Nggak harus langsung punya impian besar.
Nggak harus langsung tahu masa depan mau jadi apa.
Nggak harus langsung merasa hidup ini indah.
Hidup dulu.
Besok cari alasan lain lagi.
Lha wong Sang Maha Pemilik Hidup aja melarang kita menyakiti diri sendiri kok, masa kita yang cuma hamba "seuprit" ini malah mau matiin diri sendiri. Jangan ngelunjak ya! Dosa kita tuh sudah banyak, nggak usah pakai acara nambah dosa lagi. 😎
Lakukan yang Memang Ada dalam Ranah Kita
Ada satu pelajaran lain dari webinar-webinar yang aku ikuti yang juga sangat melekat di kepalaku:
Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kalau sudah menyangkut hal yang berada di luar kendali kita, lepaskan.
Sederhana, tapi ternyata susah dilakukan. Wkwkwk.
Misalnya, aku sudah berusaha bersikap baik kepada seseorang.
Kalau kemudian orang tersebut tetap menganggap aku jahat?
Ya sudah.
Aku bisa mengontrol sikapku, tapi aku tidak bisa mengontrol isi hati dan pikiran orang lain.
Hati manusia bukan ranahku.
Atau soal pekerjaan.
Misalnya aku sudah berusaha daftar CPNS, memenuhi semua persyaratan, belajar, mengikuti tes CAT, dan mengerjakannya sebaik mungkin.
Setelah itu?
Ya sudah.
Lolos atau tidak, hasil akhirnya bukan lagi ranahku.
Kalau lolos, Alhamdulillah.
Jangan lupa bersyukur dan sedekah.
Kalau gagal?
Ya coba lagi.
Mungkin ada usaha yang belum maksimal.
Mungkin ada hal yang perlu diperbaiki.
Atau mungkin Allah sedang menyiapkan jalan lain.
“Jalan lain”-nya itu kapan?
Ya nggak tau!
Bukan ranah kita woiii. Wkwkwk.
Tugas kita adalah berusaha dan berdoa sebaik mungkin.
Hasil akhirnya?
Serahkan kepada Allah.
Karena kadang kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya memang tidak pernah menjadi tanggung jawab kita untuk mengendalikannya.
Kita hanya perlu tahu:
Mana yang merupakan ranah kita, dan mana yang harus kita lepaskan.
Kita Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini
Mungkin hidup memang seperti itu.
Ada hal yang bisa kita perjuangkan.
Ada hal yang hanya bisa kita doakan.
Ada hal yang harus kita terima.
Dan ada hal yang memang harus kita lepaskan.
Aku sendiri masih belajar.
Kadang masih sangklek juga.
Masih bisa overthinking. Masih bisa capek. Masih bisa mempertanyakan banyak hal.
Tapi setidaknya sekarang aku lebih tahu bahwa aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.
Aku hanya perlu melakukan bagian yang memang menjadi bagianku.
Sisanya?
Bukan ranahku.
Dan mungkin menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya justru merupakan salah satu bentuk berdamai dengan kehidupan.
Jadi, Kalau Kamu Sedang Ingin Menyerah…
Kalau hari ini kamu sedang berada di titik yang sangat berat, coba ingat lagi:
Apa yang sebenarnya masih ingin kamu lihat?
Apa yang masih ingin kamu lakukan?
Apa yang masih ingin kamu rasakan?
Nggak perlu sesuatu yang besar.
Mungkin ingin jalan-jalan. Sekadar melihat taman komplek.
Mungkin ingin punya pekerjaan impian. Jadi pengangguran kaya, misalnya. 😆
Mungkin ingin bertemu seseorang. Bertemu jodoh juga bisa.
Mungkin ingin mencoba makanan yang belum pernah dicoba.
Atau…
ingin melihat ending One Piece. Wkwkwk.
Nggak apa-apa.
Cari satu alasan kecil dulu.
Karena dengan hidup, kita masih punya kesempatan untuk mencapai masa depan yang baru.
Masa depan yang sekarang bahkan belum bisa kita bayangkan.
Jadi, sayangi dirimu sendiri.
Maafkan dirimu yang dulu.
Terima bahwa kamu manusia dan memang tidak akan pernah sempurna.
Kalau hari ini cuma sanggup berjalan pelan, ya sudah.
Pelan-pelan saja.
Capek boleh.
Istirahat boleh.
Menangis juga boleh.
Tapi jangan buru-buru menganggap perjalananmu sudah selesai.
Karena selama masih hidup, ceritamu belum selesai.
Dan siapa tahu, ternyata bagian terbaik dari hidupmu memang belum datang.
Sayang-sayang semuanya.
Love. 💙

Tidak ada komentar:
Posting Komentar