Self Acceptance: Belajar Menerima Diri, Termasuk Masa Lalu
Hai semua! π
Kali ini Hyull mau sharing. Bisa dibilang ini tips juga, sih. Hehehe.
Belakangan ini kita masih sering banget mendengar tentang mental health. Bahkan, entah kenapa, akhir-akhir ini FYP TikTok, Reels Instagram, sampai YouTube Shorts-ku malah sering berseliweran promo psikolog, psikiater, bahkan rumah sakit jiwa. Wkwkwk… entah algoritma lagi mau ngasih kode apa ke aku. π
Nah, beberapa waktu lalu aku menemukan sebuah kajian yang membahas tentang trauma masa lalu. Dari kajian tersebut, salah satu langkah yang dibahas untuk membantu mengatasi luka atau trauma masa lalu adalah self acceptance, atau penerimaan diri.
Ternyata menerima diri sendiri itu nggak sesederhana bilang, “Ya udah, aku terima.”
Karena yang perlu kita terima bukan cuma diri kita yang sekarang, tetapi juga berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup kita, termasuk masa lalu.
Dan menurutku, bagian ini memang susah.
Tapi kalau kita terus menolak sesuatu yang memang sudah terjadi, bukankah kita justru akan semakin capek?
Seperti quotes yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya:
“Masa lalu memang tidak bisa diubah, namun kita bisa memperbaharui maknanya.”
Tentang hal ini, sebelumnya aku juga sudah pernah membahasnya di artikel:
- Masa Lalu Tak Bisa Diubah, Tapi Kita Punya Kesempatan Untuk Menjadi Lebih Baik
- Fatherless dan Father Wound Part 2
- Kalau Kamu Lagi Nggak Baik-Baik Saja, Ini Buat Kamu
Nah, kali ini aku mau lebih fokus membahas tentang self acceptance.
Sebenarnya, bagaimana sih langkah untuk mulai belajar menerima diri sendiri?
Dari kajian yang aku dengarkan, ada tiga hal yang menurutku menarik untuk direnungkan.
1. Sadar Diri
Langkah pertama adalah mengenal dan menyadari diri sendiri.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan, kesalahan, atau penilaian orang lain sampai lupa bertanya:
“Sebenarnya aku ini siapa, sih?”
Untuk mulai mengenal diri sendiri, kita bisa mencoba menjawab beberapa pertanyaan sederhana:
- Bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu sendiri?
- Apa potensi baik yang kamu miliki?
- Apa passion-mu?
- Apa jalan manfaatmu?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin kelihatannya sederhana, tetapi ternyata bisa membuat kita berhenti sejenak dan melihat diri sendiri dengan lebih jujur.
Bukan hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga menyadari bahwa ada hal-hal baik dalam diri kita yang mungkin selama ini luput kita hargai.
Karena menerima diri bukan berarti kita harus menganggap diri kita sempurna.
Justru sebaliknya, kita perlu mengenal diri kita secara utuh dengan kelebihan, kekurangan, kesalahan, potensi, impian, dan segala proses yang sedang kita jalani.
2. Ramah pada Diri Sendiri
Setelah mulai mengenal diri sendiri, langkah berikutnya adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih ramah.
Kadang kita bisa begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi ketika giliran diri sendiri yang melakukan kesalahan, kita malah terus menghukum diri.
Padahal, kita juga manusia.
Memaafkan diri sendiri
Menurutku, inilah salah satu bentuk penerimaan yang paling penting.
Memaafkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.
Bukan berarti membenarkan kesalahan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Tetapi mengakui:
“Iya, itu memang sudah terjadi. Aku tidak bisa mengubahnya lagi.”
Yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dari kejadian tersebut, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, lalu melanjutkan hidup.
Karena kalau kita terus-menerus menghukum diri atas kesalahan di masa lalu, kita hanya akan terus tinggal di tempat yang sebenarnya sudah kita lewati.
Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan hari ini dan ke depannya.
Sadari bahwa manusia memang tidak sempurna
As human beings, we are not perfect.
Salah itu wajar.
Gagal juga wajar.
Jatuh pun wajar.
Yang penting, jangan sampai kita terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa mau belajar. π
Karena menerima diri bukan berarti, “Ya udah, aku memang begini.”
Bukan.
Self acceptance bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Justru setelah menerima diri, kita bisa melihat kekurangan dengan lebih jernih dan berkata,
“Oke, ini bagian dari diriku yang perlu diperbaiki.”
Jadi, kita boleh memaafkan diri sendiri tanpa berhenti belajar.
Menerima seluruh takdir diri
Ini juga bagian yang menurutku cukup menenangkan.
Sebagai manusia, tugas kita adalah berusaha dan berdoa.
Soal hasil?
Serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Kita sudah melakukan bagian yang menjadi jatah kita: berusaha sebaik mungkin, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan:
“Nanti berhasil nggak, ya?”
“Kalau gagal gimana?”
“Kalau ternyata bukan ini jalannya bagaimana?”
Padahal, hasil bukan sepenuhnya ranah kita.
Itu ranah Sang Pemilik hidup kita.
Jadi, lakukan saja bagian kita sebaik mungkin.
Kalau berhasil, alhamdulillah.
Kalau belum berhasil, ya coba lagi dengan cara lain.
Karena bisa jadi, kegagalan itu justru cara Tuhan menunjukkan bahwa masih ada jalan lain yang belum kita lihat.
Dan mungkin, jalan yang kita pikir sebagai kegagalan ternyata sedang mengarahkan kita ke sesuatu yang lebih baik.
3. Fokus pada Diri Sendiri
Setelah belajar menerima diri, kita juga perlu belajar untuk fokus pada apa yang memang bisa kita kendalikan.
Karena ternyata banyak hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali kita.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:
Release luka batin
Luka yang terus kita bawa ke mana-mana bisa membuat kita sulit menjalani kehidupan saat ini.
Jadi, perlahan-lahan kita perlu belajar melepaskannya.
Bukan berarti melupakan.
Bukan berarti kejadian tersebut tidak penting.
Tetapi belajar berdamai dengan apa yang sudah terjadi sehingga masa lalu tidak terus mengendalikan kehidupan kita hari ini.
Syukuri segala kebaikan
Kadang kita merasa hidup kita terlalu banyak masalah sampai lupa bahwa sebenarnya kebaikan juga tetap ada.
Dan kebaikan itu tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar.
Kita masih hidup sampai hari ini saja sudah merupakan sebuah kebaikan.
Kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri juga merupakan kebaikan.
Kita masih punya kesempatan untuk belajar, mencoba lagi, mencari jalan keluar, dan memperbaiki kehidupan kita juga merupakan sebuah kebaikan.
Mungkin selama ini kita terlalu fokus menghitung apa yang hilang sampai lupa menghitung apa yang masih kita miliki.
Jadi, sesekali berhentilah.
Lihat lagi kehidupan kita.
Apa saja kebaikan yang masih Tuhan titipkan kepada kita sampai hari ini?
Fokus memperbaiki diri sendiri
Ini juga penting.
Kita hanya bisa mengontrol hal-hal yang memang berhubungan dengan diri kita sendiri.
Kita bisa mengontrol tindakan kita.
Kita bisa mengontrol bagaimana kita merespons sesuatu.
Kita bisa terus berusaha dan berdoa.
Tapi kita tidak bisa memaksa bagaimana orang lain harus merespons kita.
Kita juga tidak bisa mengontrol hasil dari setiap usaha yang kita lakukan.
Jadi, fokuslah pada bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Perbaiki apa yang bisa kita perbaiki.
Usahakan apa yang bisa kita usahakan.
Doakan apa yang ingin kita perjuangkan.
Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.
Kalau ternyata gagal?
Ya sudah.
Coba lagi.
Kalau cara pertama tidak berhasil, mungkin kita bisa mencari cara kedua.
Kalau cara kedua belum berhasil, mungkin masih ada cara ketiga.
Karena bisa jadi, kegagalan bukan berarti jalannya sudah habis.
Bisa jadi Tuhan sedang membuat kita melihat bahwa ternyata ada banyak jalan yang belum kita coba.
Jadi, Self Acceptance Itu Bukan Berarti Pasrah
Dari tiga langkah di atas, menurutku self acceptance bukan berarti kita menerima semuanya lalu berhenti berusaha.
Bukan juga berarti kita membenarkan semua kesalahan yang pernah kita lakukan.
Self acceptance adalah tentang berdamai dengan diri sendiri.
Mengenali diri.
Menerima bahwa kita pernah salah.
Memaafkan diri sendiri.
Menerima bahwa kita tidak sempurna.
Berdamai dengan masa lalu.
Mensyukuri apa yang masih kita punya.
Lalu tetap berusaha menjadi versi diri kita yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Tetapi kita masih punya kesempatan untuk menentukan apa yang ingin kita lakukan setelahnya.
Jadi, kalau hari ini kamu masih punya sesuatu dari masa lalu yang belum bisa kamu terima, mungkin nggak perlu memaksakan diri untuk langsung “move on”.
Pelan-pelan saja.
Kenali.
Pahami.
Maafkan.
Terima.
Lalu lanjutkan hidup.
Karena kamu juga pantas mendapatkan kedamaian dari dirimu sendiri. π
Yaps, itu dia 3 langkah self acceptance yang aku dapat dari kajian yang aku dengarkan.
Semoga sharing kali ini bermanfaat buat kamu yang mungkin sedang belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. π«Άπ»
Dan jangan lupa…
Selalu sayangi diri sendiri.
With love,
- Hyull π

Tidak ada komentar:
Posting Komentar