Tentang Lelah Mental yang Kadang Tidak Terlihat
Ada orang yang terlihat baik-baik saja. Masih bisa bekerja. Masih bisa bercanda. Masih bisa menjalani aktivitas sehari-hari.
Tapi di dalam dirinya, ada percakapan yang tidak pernah berhenti.
“Aku capek.”
“Tapi aku harus jalan terus.”
“Aku pengen cerita… tapi bingung mau cerita apa.”
“Rasanya ada yang mengganjal, tapi aku sendiri nggak ngerti.”
Kadang, lelah mental tidak datang dalam bentuk tangisan besar. Tidak selalu membuat seseorang berhenti total.
Kadang bentuknya justru samar:
- sering blank
- bingung sendiri
- kehilangan arah
- capek jadi “dewasa terus”
- ingin dimengerti tapi tidak tahu cara menjelaskan
- ingin menangis tapi tidak tahu apa yang sebenarnya sakit
Dan karena hidupnya masih “jalan”, orang sering merasa:
“Berarti aku nggak kenapa-kenapa kan?”
Padahal belum tentu.
Ketika Dua Suara di Dalam Diri Saling Bicara
Kadang di dalam kepala kita seperti ada dua sisi.
Satu sisi berkata:
“Aku capek… aku pengen ada yang jagain.”
Tapi sisi lain menjawab:
“Udah tahan aja.”
“Nanti juga lewat.”
“Kamu harus kuat.”
Lama-lama seseorang jadi terbiasa memendam semuanya sendiri. Sampai akhirnya tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dirasakan.
Bukan karena tidak punya emosi. Tapi karena terlalu lama menahan emosi.
“Aku Pengen Punya Sayap”
Kadang keinginan untuk:
- traveling
- belajar dance
- boxing
- pergi jauh
- keliling dunia
bukan cuma soal hobi.
Kadang itu adalah bentuk lain dari:
- ingin bebas
- ingin bernapas
- ingin hidup terasa lebih luas
- ingin lepas dari tekanan yang terlalu lama dipendam
Dan itu valid.
Tidak semua orang yang lelah mental terlihat “hancur”. Ada juga yang hanya terlihat diam. Atau malah bercanda sambil bilang:
“Haha… kayaknya aku mau hilang aja.”
Padahal di balik candaan itu, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Kalau Kamu Merasa Seperti Ini
Kalau akhir-akhir ini kamu:
- sering blank
- merasa kosong tapi penuh sekaligus
- sulit menjelaskan perasaan sendiri
- ingin cerita tapi bingung mulai dari mana
- merasa lelah secara mental
mungkin kamu tidak sedang “lebay”. Mungkin kamu memang sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri.
Dan kamu tidak harus menunggu sampai benar-benar hancur untuk mencari bantuan.
Mencari Bantuan Itu Tidak Memalukan
Kalau kamu ingin mulai mencari bantuan, kamu bisa mulai dari langkah kecil:
1. Skrining kesehatan jiwa gratis
Melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile dari Kementerian Kesehatan.
Website resmi: https://satusehat.kemkes.go.id/platform/satusehat-mobile
2. Datang ke Puskesmas / FKTP BPJS
Kalau kamu peserta BPJS, kamu bisa mulai dari faskes pertama (FKTP).
Tidak harus langsung bilang “saya depresi”. Kamu bisa mulai dengan kalimat sederhana seperti:
“Akhir-akhir ini saya sering merasa blank dan capek mental. Rasanya ada yang mengganjal tapi saya bingung menjelaskannya.”
Itu sudah cukup untuk memulai screening awal.
3. Hotline kesehatan mental
Layanan bantuan kesehatan jiwa Indonesia:
119 ext. 8
Kalau sambungan terputus atau gagal tersambung, coba lagi beberapa saat kemudian karena kadang layanan sedang sibuk.
4. Befrienders Worldwide
Organisasi dukungan emosional internasional.
Kamu Tidak Harus Kuat Terus
Kadang yang paling melelahkan bukan masalahnya. Tapi perasaan bahwa kita harus menanggung semuanya sendirian.
Tidak apa-apa kalau kamu capek. Tidak apa-apa kalau kamu bingung. Tidak apa-apa kalau kamu belum tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Pelan-pelan saja.
Karena bertahan hidup juga sudah termasuk perjuangan.
— By Hyull

Tidak ada komentar:
Posting Komentar