4 Level Shalat: Dari Sekadar Kewajiban Menuju Bentuk Syukur kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim.
Beberapa waktu terakhir, aku mengikuti kelas Mindful Shalat. Tujuan dari kelas ini bukan sekadar mengajarkan gerakan atau bacaan shalat, tetapi mengajak kita agar shalat menjadi lebih bermakna, lebih khusyuk, lebih dekat kepada Allah SWT, dan pada akhirnya mampu mengubah hidup menjadi lebih baik.
Semakin dekat kepada Allah, bukan berarti hidup akan terbebas dari ujian. Bahkan para nabi adalah orang-orang yang paling berat ujiannya. Namun, kedekatan dengan Allah akan menghadirkan ketenangan, petunjuk, kekuatan, serta kemudahan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Ada sebuah ungkapan hikmah yang sering kita dengar,
"Kejarlah akhiratmu, maka duniamu akan mengikuti."
Kalimat ini bukanlah hadis Rasulullah ﷺ, melainkan sebuah nasihat yang maknanya sejalan dengan banyak ayat Al-Qur'an. Ketika seseorang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama, Allah akan mencukupkan urusan dunianya sesuai dengan kehendak-Nya.
Nah, dari kelas ini aku belajar bahwa secara sederhana, shalat dapat dibagi menjadi empat level.
Level 1: Shalat Sekadar Menjalankan Perintah
Di level pertama, seseorang shalat hanya karena merasa itu adalah kewajiban.
"Sudah masuk waktu shalat, ya sudah shalat."
Tidak ada rasa. Tidak ada kekhusyukan. Tidak ada usaha untuk menghadirkan hati ketika berdiri di hadapan Allah. Shalat menjadi rutinitas yang dilakukan sekadar agar kewajiban selesai.
Orang pada level ini biasanya masih melihat shalat sebagai beban, bukan sebagai kebutuhan ataupun kenikmatan. Hubungan dengan Allah pun belum terasa dekat karena hati belum benar-benar hadir dalam ibadah.
Padahal Allah menginginkan shalat yang menghadirkan hati, bukan sekadar gerakan fisik semata.
Level 2: Shalat Karena Ada Maunya
Di level ini, seseorang mulai mengingat Allah ketika sedang memiliki keinginan atau sedang menghadapi masalah.
Saat ingin lulus ujian, mendapat pekerjaan, sembuh dari penyakit, atau memiliki kebutuhan tertentu, barulah semangat shalat meningkat.
Allah menggambarkan sebagian manusia seperti ini dalam firman-Nya.
Q.S. Al-Hajj ayat 11
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ ۚ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Wa minan-nāsi may ya'budullāha 'alā harf, fa in aṣābahū khairun ithma`anna bih, wa in aṣābat-hu fitnatun inqalaba 'alā wajhih, khasirad-dunyā wal-ākhirah, żālika huwal-khusrānul-mubīn.
"Di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika memperoleh kebaikan, dia merasa tenang. Tetapi jika ditimpa cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata."
Masalahnya, jika doa belum dikabulkan sesuai keinginan, seseorang bisa kecewa, bahkan berputus asa.
Padahal Allah berfirman,
Q.S. Az-Zumar ayat 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Qul yā 'ibādiyallażīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh. Innallāha yaghfiruż-żunūba jamī'ā. Innahū huwal-Ghafūrur-Raḥīm.
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Berdoa dan meminta kepada Allah tentu sangat dianjurkan. Namun akan jauh lebih indah jika kita tetap beribadah kepada-Nya, baik ketika keinginan kita dikabulkan maupun belum dikabulkan.
Level 3: Shalat Karena Butuh Allah
Di level ini, seseorang mulai menyadari bahwa sebenarnya kitalah yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya.
Allah berfirman,
Q.S. Thaha ayat 124
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Wa man a'raḍa 'an żikrī fa inna lahū ma'īsyatan ḍankā wa naḥsyuruhū yaumal-qiyāmati a'mā.
"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."
Kemudian Allah juga berfirman,
Q.S. Fatir ayat 15
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Yā ayyuhan-nāsu antumul-fuqarā`u ilallāh, wallāhu huwal-Ghaniyyul-Ḥamīd.
"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
Di level ini kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, kita bukan siapa-siapa.
Kita shalat karena tahu bahwa hati hanya akan tenang ketika dekat kepada-Nya. Kita ingin Allah membimbing langkah kita, memudahkan urusan kita, menjaga keluarga kita, serta menguatkan kita menghadapi kehidupan.
Level 4: Shalat Sebagai Bentuk Syukur
Inilah level tertinggi.
Shalat bukan lagi dilakukan karena kewajiban semata, bukan pula karena sedang memiliki keinginan, bahkan bukan hanya karena merasa membutuhkan Allah.
Tetapi karena cinta dan rasa syukur.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang luar biasa.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha,
Rasulullah ﷺ shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?"
Beliau menjawab,
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Afalā akūnu 'abdan syakūrā?
"Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah puncak ibadah.
Shalat dilakukan bukan lagi karena ingin mendapatkan sesuatu, tetapi karena menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan.
Justru ketika kita tidak lagi sibuk menghitung apa yang akan kita dapatkan dari Allah, hati menjadi lebih tenang. Kita percaya bahwa Allah selalu memilihkan yang terbaik.
Baik ketika doa dikabulkan, ditunda, ataupun diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Kita tidak lagi merasa sendirian.
Karena kita yakin, Allah selalu bersama hamba-Nya.
Shalat yang Baik Akan Mengubah Kehidupan
Ada sebuah ungkapan yang cukup populer,
"Perbaikilah shalatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu."
Kalimat ini bukanlah hadis Rasulullah ﷺ. Namun maknanya sejalan dengan sebuah hadis yang sahih tentang pentingnya menjaga kualitas shalat.
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya."
(HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ath-Thabrani)
Karena itulah, memperbaiki shalat bukan hanya memperbaiki satu ibadah, tetapi juga menjadi awal dari perbaikan amal-amal lainnya.
Teruslah Mendekat kepada Allah
Semakin tinggi level shalat seseorang, semakin besar pula kerinduannya kepada Allah.
Ia tidak lagi merasa cukup hanya dengan shalat wajib. Akan muncul keinginan untuk memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, berpuasa sunnah, dan berbagai amal saleh lainnya.
Allah berfirman,
Q.S. Al-Ma'idah ayat 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtaghū ilaihil-wasīlata wa jāhidū fī sabīlihi la'allakum tufliḥūn.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung."
Pada akhirnya, setiap orang berada pada level sesuai dengan amal yang ia lakukan.
Jika shalat kita masih sekadar menggugurkan kewajiban, maka itulah posisi kita saat ini.
Jika shalat kita hanya semangat ketika memiliki keinginan, mungkin kita masih berada di level kedua.
Jika kita mulai menyadari bahwa hidup ini sangat membutuhkan pertolongan Allah, mungkin kita sedang bertumbuh menuju level ketiga.
Namun semoga Allah membimbing kita semua agar mampu mencapai level tertinggi, yaitu beribadah karena cinta dan rasa syukur kepada-Nya.
Mari terus memperbaiki kualitas shalat kita. Sebab ketika hubungan kita dengan Allah semakin baik, hati menjadi lebih tenang, amal menjadi lebih baik, dan kehidupan pun akan dijalani dengan penuh keberkahan atas izin-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga shalat dengan penuh kekhusyukan.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar