Translate

Kumpulan Hal-hal yang Menarik..... Menurut si Owner Web ^_^

Jumat, September 18, 2026

Hijab Bukan Sekadar Menutup Aurat: Tentang Ketaatan dan Cara Berpakaian Sesuai Syariat

Beberapa waktu lalu, waktu aku lagi berada di keramaian dan melihat bentuk hijab orang-orang, aku jadi kepikiran tentang hijab.

Kalau membicarakan hijab, pembahasannya mungkin sering kali berhenti pada satu kalimat sederhana:

“Hijab itu wajib karena perempuan harus menutup aurat.”

Benar. Menutup aurat memang merupakan kewajiban seorang muslimah.

Tapi menurutku, makna hijab sebenarnya bisa jauh lebih dalam daripada sekadar kewajiban menutup bagian tubuh tertentu.

Hijab juga merupakan salah satu bentuk ketaatan seorang perempuan kepada Allah.

Bukan sekadar tentang bagaimana penampilan kita di hadapan manusia, tetapi tentang kesediaan untuk mengikuti apa yang Allah perintahkan.

Dan ketika hijab dipahami sebagai bentuk ketaatan, muncul satu pertanyaan penting:

Kalau memang ingin taat kepada Allah, seperti apa seharusnya cara berpakaian seorang muslimah?


Ketika Allah dan Rasul-Nya Sudah Menetapkan

Dalam Islam, ketaatan bukan hanya dilakukan ketika kita memahami atau menyukai sebuah perintah.

Ada kalanya Allah menetapkan sesuatu, kemudian seorang mukmin belajar untuk menerima dan menjalankannya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 36:

Arab:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Latin:

Wa mā kāna limu’minin wa lā mu’minatin idzā qadhallāhu wa rasūluhū amran ay yakūna lahumul-khiyaratu min amrihim, wa may ya‘shillāha wa rasūlahū faqad dhalla dhalālam mubīnā.

Terjemahan:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”

(QS. Al-Ahzab: 36)

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang hijab.

Tetapi ayat ini memberikan dasar yang penting tentang sikap seorang mukmin terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ketika sudah jelas ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya, maka sikap seorang mukmin bukan mencari cara agar perintah tersebut bisa disesuaikan dengan keinginannya.

Melainkan berusaha untuk menaati.

Begitu pula dengan hijab.

Mungkin awalnya seseorang mengenakan hijab karena keluarga. Mungkin karena lingkungan. Mungkin karena sekolah atau pekerjaan.

Tidak apa-apa.

Tetapi seiring perjalanan, hijab bisa memiliki makna yang lebih dalam.

Dari yang awalnya hanya “aku memakai hijab karena memang harus”, berubah menjadi:

“Aku memakai hijab karena aku ingin taat kepada Allah.”

Dan menurutku, di situlah hijab mulai memiliki makna yang berbeda.

Allah Tidak Hanya Memerintahkan Menutup, tetapi Juga Memberikan Petunjuk

Ketika berbicara tentang hijab, terkadang pembahasannya hanya sampai pada:

“Yang penting rambut tertutup.”

Padahal Al-Qur'an memberikan petunjuk yang lebih spesifik mengenai cara berpakaian perempuan.

Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31:

Arab:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Latin:

Wa qul lil-mu’mināti yaghḍuḍna min abṣārihinna wa yaḥfaẓna furūjahunna wa lā yubdīna zīnatahunna illā mā ẓahara minhā, wal-yaḍribna bi-khumurihinna ‘alā juyūbihinna, wa lā yubdīna zīnatahunna illā li-bu‘ūlatihinna aw ābā’ihinna aw ābā’i bu‘ūlatihinna aw abnā’ihinna aw abnā’i bu‘ūlatihinna aw ikh’wānihinna aw banī ikh’wānihinna aw banī akhawātihinna aw nisā’ihinna aw mā malakat aymānuhunna awit-tābi‘īna ghayri ulil-irbati minar-rijāli awit-ṭifli alladzīna lam yaẓharū ‘alā ‘awrātin-nisā’. Wa lā yaḍribna bi-arjulihinna li-yu‘lama mā yukhfīna min zīnatihinna. Wa tūbū ilallāhi jamī‘an ayyuhal-mu’minūna la‘allakum tufliḥūn.

Terjemahan:

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”

(QS. An-Nur: 31)

Ada satu bagian yang menarik perhatian:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.”

Di sini Al-Qur'an tidak sekadar menyebutkan tentang adanya penutup kepala, tetapi juga memberikan petunjuk agar khimar tersebut digunakan untuk menutupi bagian dada.

Karena itu, kalau kita ingin membicarakan hijab sebagai bentuk ketaatan, rasanya kurang lengkap kalau pembahasannya hanya berhenti pada “rambut sudah tertutup.”

Kita juga perlu belajar tentang apa yang dimaksud dengan pakaian yang diperintahkan dalam syariat.

Jilbab dalam Al-Qur'an

Selain QS. An-Nur ayat 31, ada pula perintah mengenai jilbab dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.

Allah berfirman:

Arab:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Latin:

Yā ayyuhan-nabiyyu qul li-azwājika wa banātika wa nisā’il-mu’minīna yudnīna ‘alaihinna min jalābībihinna. Dzālika adnā ay yu‘rafna fa lā yu’dzaina. Wa kānallāhu ghafūr ar-raḥīmā.

Terjemahan:

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan perempuan-perempuan mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Al-Ahzab: 59)

Ayat ini kembali menunjukkan bahwa pembahasan pakaian muslimah bukan sekadar mengenai ada atau tidaknya kain di kepala.

Ada ketentuan mengenai bagaimana pakaian tersebut dikenakan dan bagaimana tubuh ditutup.

Jadi, ketika kita mengatakan:

“Aku berhijab karena ingin taat kepada Allah,”

maka rasanya wajar jika kita juga berusaha memahami:

“Seperti apa hijab yang Allah perintahkan?”

Hijab, Khimar, dan Jilbab Itu Sama?

Nah, di sinilah terkadang pembahasan menjadi membingungkan.

Ada istilah hijab, kerudung, khimar, jilbab, turban, dan berbagai istilah fashion lainnya.

Dalam percakapan sehari-hari, semuanya sering digunakan secara bergantian untuk menyebut penutup kepala.

Padahal secara istilah, penggunaannya bisa berbeda.

Hijab secara umum memiliki makna yang lebih luas sebagai penghalang atau penutup, dan dalam pembahasan pakaian muslimah sering digunakan untuk menyebut kewajiban berpakaian yang menutup aurat.

Khimar berasal dari kata khimār, yaitu kain penutup kepala. QS. An-Nur ayat 31 secara khusus menyebut khumur dan memerintahkan agar kain tersebut dijulurkan menutupi bagian dada.

Sedangkan jilbab dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 merujuk pada pakaian luar yang dikenakan untuk menutup tubuh.

Sementara turban pada dasarnya adalah model lilitan kain di kepala. Jadi, apakah sebuah turban memenuhi ketentuan hijab atau tidak, tidak cukup dinilai dari namanya.

Yang perlu dilihat adalah:

Apa saja yang tertutup? Bagaimana bentuk pakaiannya? Apakah memenuhi ketentuan syariat?

Karena syariat tidak menilai pakaian hanya berdasarkan nama modelnya.

Jadi, Apakah Harus Memakai Model Tertentu?

Menurutku, ini juga penting untuk diluruskan.

Berpakaian sesuai syariat tidak selalu berarti harus memakai satu model pakaian tertentu yang seragam.

Islam tidak mengharuskan semua muslimah terlihat seperti mengenakan pakaian dengan desain yang sama.

Model, warna, bahan, motif, dan gaya bisa berbeda.

Yang penting adalah prinsip syariatnya terpenuhi.

Jadi, pakaian syar'i tidak harus mahal.

Tidak harus selalu merek tertentu.

Tidak harus selalu gamis.

Dan tidak harus mengikuti tren tertentu yang diberi label syar'i.

Yang jauh lebih penting adalah pakaian tersebut memenuhi ketentuan yang memang diperintahkan.

Karena jangan sampai kita justru menganggap “syar'i = mahal.”

Padahal seorang perempuan yang memiliki keterbatasan ekonomi tetap bisa berusaha menjalankan syariat dengan apa yang dia miliki.

Bagaimana Kalau Belum Mampu?

Ini bagian yang menurutku tidak kalah penting.

Ada perempuan yang ingin berpakaian lebih syar'i, tetapi kondisi ekonominya belum memungkinkan.

Harga pakaian yang longgar dan panjang terkadang memang tidak murah.

Khimar yang lebih besar bisa terasa mahal.

Gamis juga belum tentu terjangkau.

Belum lagi kebutuhan lainnya.

Lalu bagaimana?

Menurutku, jangan sampai hal tersebut membuat seseorang berpikir:

“Kalau belum mampu membeli pakaian syar'i, berarti aku tidak perlu mencoba sama sekali.”

Tidak.

Kita bisa mulai dari apa yang ada.

Tidak harus mengganti seluruh isi lemari dalam satu hari.

Pakaian yang sudah dimiliki bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Bisa dipadukan dengan outer yang lebih panjang. Kerudung yang sudah ada bisa dikenakan dengan cara yang lebih menutup. Bisa membeli sedikit demi sedikit ketika memang memiliki rezeki.

Ketaatan tidak harus dimulai dengan kemampuan finansial yang sempurna.

Yang penting adalah ada usaha.

Ada kemauan untuk belajar.

Ada keinginan untuk memperbaiki.

Dan ada kesadaran bahwa kita sedang berusaha menaati Allah.

Karena Allah juga tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban.

Justru menjadi pengingat bahwa dalam menjalankan kewajiban pun kita tetap perlu memahami kemampuan dan kondisi masing-masing.

Jangan Menunggu Sempurna untuk Mulai Taat

Kadang kita berpikir:

“Nanti saja kalau sudah punya pakaian yang benar-benar syar'i.”

Atau:

“Nanti saja kalau sudah bisa konsisten.”

Atau bahkan:

“Aku belum pantas berhijab karena masih banyak dosa.”

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kita akan menjadi manusia yang benar-benar sempurna.

Kalau menunggu sempurna, mungkin kita tidak akan pernah mulai.

Hijab bukan tanda bahwa seseorang sudah menjadi manusia tanpa dosa.

Hijab adalah salah satu bentuk ketaatan dari seorang manusia yang masih terus belajar dan memperbaiki diri.

Seseorang bisa saja masih banyak kekurangan, tetapi tetap berusaha menutup aurat.

Masih sering lalai, tetapi tetap berusaha memperbaiki pakaiannya.

Masih jatuh-bangun dalam ketaatan, tetapi tetap kembali kepada Allah.

Bukankah manusia memang seperti itu?

Hijab Bukan Tentang Menjadi yang Paling Syar'i

Dan mungkin ini yang paling penting.

Hijab tidak seharusnya membuat kita merasa lebih tinggi daripada perempuan lain.

Ketika kita sudah mengenakan pakaian yang lebih tertutup, bukan berarti kita otomatis lebih baik daripada mereka yang masih belajar.

Karena yang mengetahui kadar ketakwaan seseorang hanyalah Allah.

Hijab seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa kita sedang menjalankan perintah-Nya, bukan menjadi alasan untuk menghakimi orang lain.

Kalau kita sudah memahami sesuatu, maka kita bisa saling mengingatkan dengan cara yang baik.

Kalau ada yang masih belajar, kita bisa memberikan ruang untuk belajar.

Kalau ada yang belum mampu secara finansial, kita tidak perlu menjadikan harga pakaian sebagai ukuran kesalehan.

Dan kalau kita sendiri masih belum sempurna, kita pun tidak perlu menyerah.

Hijab sebagai Pengingat Setiap Hari

Pada akhirnya, mungkin hijab bukan hanya tentang bagaimana orang lain melihat kita.

Hijab juga tentang bagaimana kita mengingat Allah melalui sesuatu yang kita kenakan setiap hari.

Setiap kali mengambil kerudung, mungkin ada pengingat kecil:

“Aku memakai ini karena Allah.”

Setiap kali memilih pakaian yang lebih longgar, mungkin ada bentuk pengorbanan kecil:

“Aku memilih yang lebih sesuai dengan perintah-Nya.”

Dan setiap kali menyadari bahwa cara berpakaian kita masih belum sempurna, kita bisa belajar lagi.

Memperbaiki lagi.

Mencoba lagi.

Karena menjadi taat bukan berarti kita langsung sempurna sejak hari pertama.

Hijab adalah Perjalanan Ketaatan

Jadi, mungkin sudah waktunya kita melihat hijab lebih dari sekadar “kewajiban menutup aurat.”

Hijab memang kewajiban.

Tetapi hijab juga merupakan salah satu bentuk ketaatan seorang perempuan kepada Allah.

Dan kalau kita mengenakannya karena ingin taat, maka kita pun perlu berusaha memahami bagaimana Allah memerintahkan kita untuk berpakaian.

Bukan sekadar mengikuti tren.

Bukan sekadar mengikuti apa yang sedang populer.

Bukan pula sekadar mencari model yang terlihat paling syar'i.

Tetapi belajar memahami syariat, kemudian menjalankannya sesuai kemampuan kita.

Dari yang awalnya hanya tahu bahwa rambut harus ditutup, kita belajar tentang aurat.

Dari sekadar memakai kerudung, kita belajar tentang khimar.

Dari sekadar memilih pakaian yang terlihat sopan, kita belajar tentang jilbab dan ketentuan berpakaian.

Dan dari sana, mungkin kita akhirnya memahami bahwa hijab bukan sekadar kain yang kita kenakan.

Hijab adalah salah satu bentuk kecil dari sebuah kalimat yang sangat besar:

“Ya Allah, aku ingin taat kepada-Mu.”

Karena pada akhirnya, hijab bukan tentang menjadi perempuan yang terlihat paling syar'i.

Hijab adalah tentang menjadi seorang hamba yang sedang berusaha menaati Rabb-nya.

~Hyull 💙

Tidak ada komentar:

Posting Komentar