Kalau ngomongin hijab, rasanya modelnya sekarang semakin banyak.
Ada hijab segi empat, pashmina, bergo, khimar, jilbab panjang, niqab, turban, hijab instan, sampai berbagai model lilit yang terus berganti mengikuti tren.
Belum lagi istilahnya.
Ada yang menyebut semuanya hijab, padahal sebenarnya ada perbedaan istilah antara hijab, jilbab, khimar, dan niqab.
Lalu muncul pertanyaan:
“Sebenarnya hijab yang benar itu yang seperti apa?”
Haruskah memakai model tertentu?
Haruskah selalu memakai khimar?
Apakah pashmina boleh?
Kalau cuma memakai hijab yang menutup kepala dan leher, tetapi tidak sampai dada, bagaimana?
Kalau ingin berpakaian syar'i tetapi belum mampu membeli pakaian yang mahal, bagaimana?
Dan kalau model hijab terus berubah mengikuti zaman, apakah berarti model-model baru tersebut otomatis tidak Islami?
Menurutku, justru kita perlu kembali melihat apa yang sebenarnya diperintahkan dalam syariat.
Karena jangan sampai kita terlalu sibuk memperdebatkan modelnya, tetapi lupa memahami batasannya.
Hijab, Jilbab, Khimar, dan Niqab Itu Apa?
Sebelum membahas model, kita perlu mengenal istilahnya terlebih dahulu.
Hijab secara bahasa berkaitan dengan makna penutup atau penghalang. Dalam penggunaan sehari-hari sekarang, kata hijab sering digunakan sebagai istilah umum untuk penutup kepala perempuan Muslim.
Khimar adalah penutup kepala. Al-Qur'an menggunakan kata khumur dalam QS. An-Nur ayat 31 ketika Allah memerintahkan perempuan beriman untuk menutupkan kerudung mereka sampai ke bagian dada.
Jilbab disebut dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 dengan kata jalābīb, bentuk jamak dari jilbāb. Ayat tersebut memerintahkan perempuan beriman untuk mengulurkan pakaian luar mereka.
Sedangkan niqab adalah penutup wajah. Mengenai hukum menutup wajah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu, tidak tepat jika seseorang langsung dianggap tidak berhijab hanya karena tidak memakai niqab.
Sementara pashmina, segi empat, bergo, dan berbagai model hijab lainnya lebih berkaitan dengan bentuk atau jenis pakaian yang digunakan.
Artinya, sejak awal kita sudah bisa melihat bahwa bentuk pakaian bisa bermacam-macam.
Lalu, apa yang perlu diperhatikan?
Jadi, Apa Saja Batasannya?
Kalau kita ingin membahas hijab dengan lebih adil, menurutku lebih tepat melihatnya melalui beberapa prinsip berikut.
1. Menutup Aurat
Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 26:
“Wahai anak cucu Adam! Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan...”
Dari ayat ini terlihat bahwa pakaian memiliki fungsi untuk menutup aurat, sekaligus boleh menjadi perhiasan.
Jadi Islam tidak mengatakan bahwa perempuan harus berpakaian jelek, tidak boleh rapi, atau tidak boleh tampil cantik.
Pakaian boleh bagus.
Boleh punya warna yang disukai.
Boleh mengikuti perkembangan fashion.
Boleh memiliki model yang berbeda-beda.
Tetapi tetap ada batas yang harus dijaga.
Karena fungsi pakaian bukan sekadar mempercantik penampilan, tetapi juga menutup bagian tubuh yang harus ditutup.
2. Menutup Dada
Ini salah satu hal yang secara jelas disebutkan dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31:
“...dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...”
Ayat tersebut menggunakan kata khumur, yaitu bentuk jamak dari khimar, yang berkaitan dengan penutup kepala.
Jadi, ketika memakai kerudung, persoalannya bukan sekadar:
“Rambut sudah tertutup belum?”
Tetapi juga perlu memperhatikan leher dan dada.
Karena itulah cara memakai hijab juga penting.
Sebuah kain mungkin secara nama disebut hijab, tetapi kalau cara memakainya membuat leher atau dada masih terbuka, tentu perlu diperbaiki.
Dan ini juga menunjukkan bahwa model hijab tidak harus selalu sama.
Pashmina bisa menutup dada.
Hijab segi empat bisa menutup dada.
Bergo bisa menutup dada.
Khimar juga bisa.
Yang penting adalah bagaimana pakaian tersebut digunakan.
3. Tidak Transparan atau Menerawang
Pakaian yang digunakan untuk menutup aurat hendaknya merupakan pakaian yang benar-benar menutup, bukan sekadar ada kainnya tetapi masih memperlihatkan kulit atau bagian tubuh yang seharusnya tertutup.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tentang perempuan yang kasiyāt ‘āriyāt, yaitu perempuan yang “berpakaian tetapi telanjang.”
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:
“...dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga...”
(HR. Muslim no. 2128)
Maka, pakaian yang tipis atau menerawang hingga memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup tentu tidak sesuai dengan tujuan menutup aurat.
Jadi, bukan sekadar “pakai kain”, tetapi benar-benar menutup.
4. Tidak Menonjolkan Bentuk Tubuh
Menutup tubuh juga bukan hanya tentang apakah kulit terlihat atau tidak.
Pakaian yang sangat ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuh tentu berbeda dengan pakaian yang longgar dan jatuh menutupi tubuh.
Karena itu, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pakaian adalah tidak membuat bentuk tubuh menjadi sesuatu yang ditonjolkan.
Dengan begitu, tujuan menutup aurat bukan sekadar “kulit tidak kelihatan”, tetapi juga menjaga kesopanan dan kehormatan dalam berpakaian.
5. Tidak Membuat Bentuk Kepala seperti “Punuk Unta”
Ada pula ketentuan mengenai bentuk kepala yang dibuat tinggi sehingga menyerupai punuk unta.
Hal ini disebutkan Rasulullah ﷺ dalam hadis:
“...kepala mereka seperti punuk unta yang miring...”
(HR. Muslim no. 2128)
Jadi, ketika menata rambut atau menggunakan hijab, bukan berarti kita tidak boleh berkreasi sama sekali.
Tetapi tetap ada batasan agar bentuknya tidak dibuat dengan cara yang termasuk dalam gambaran yang diperingatkan dalam hadis tersebut.
6. Tidak Sengaja Menampakkan Perhiasan Secara Berlebihan
Masih dalam QS. An-Nur ayat 31, Allah juga memerintahkan perempuan beriman untuk tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak.
Bahkan ayat tersebut menyebut larangan menghentakkan kaki agar perhiasan yang tersembunyi diketahui.
Ini menarik.
Karena berarti pembahasan pakaian dalam Islam bukan cuma tentang:
“Rambut tertutup atau tidak?”
Tetapi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menampilkan dirinya dan apakah sesuatu yang seharusnya tersembunyi justru sengaja ditonjolkan.
Jadi, lagi-lagi persoalannya bukan hanya model kain.
Ada cara pemakaian, tujuan, dan batasan yang perlu diperhatikan.
7. Mengenakan Pakaian Luar yang Menutup dengan Baik
Selain perintah menutupkan khumur ke dada dalam QS. An-Nur ayat 31, Allah juga menyebut jalābīb dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.
Allah memerintahkan perempuan-perempuan mukmin untuk mengulurkan pakaian luar mereka.
Ayat ini menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai jilbab sebagai pakaian luar.
Karena itu, pembahasan tentang hijab juga tidak berhenti pada kain yang menutup kepala, tetapi mencakup bagaimana keseluruhan pakaian menutup tubuh dengan baik.
Jadi, jangan terlalu cepat mengatakan:
“Kalau bukan model tertentu, berarti bukan jilbab.”
Istilah dan bentuk pakaian bisa berbeda antara satu tempat dan zaman.
Yang lebih penting adalah memahami fungsi dan ketentuan yang terkandung di dalamnya.
Lalu, Haruskah Mengikuti Satu Model Hijab Tertentu?
Nah, setelah melihat poin-poin tersebut, menurutku pertanyaannya jadi berubah.
Bukan:
“Pashmina itu boleh nggak?”
Bukan:
“Hijab segi empat itu Islami nggak?”
Bukan:
“Khimar lebih Islami daripada pashmina?”
Tetapi:
“Apakah cara memakainya sudah memenuhi batasan yang ditetapkan dalam syariat?”
Karena pashmina bisa dipakai dengan baik.
Segi empat juga bisa.
Bergo bisa.
Khimar bisa.
Jilbab panjang bisa.
Model lainnya juga bisa saja memenuhi ketentuan.
Sebaliknya, sebuah produk yang diberi label “hijab syar'i” juga tidak otomatis membuat semua cara pemakaiannya menjadi benar.
Kalau ternyata transparan, terlalu ketat, atau bagian yang seharusnya tertutup masih terbuka, tetap perlu diperhatikan.
Jadi, nama produknya bukan jaminan.
Begitu juga model yang sedang tren tidak otomatis salah hanya karena modelnya baru.
Bagaimana Kalau Ingin Syar'i tetapi Tidak Punya Banyak Uang?
Ini juga menurutku penting banget dibicarakan.
Karena kadang pembahasan hijab syar'i terasa seperti:
“Kalau mau syar'i, harus punya khimar sekian meter.”
“Harus punya gamis.”
“Harus punya banyak set pakaian.”
“Harus beli hijab yang harganya puluhan sampai ratusan ribu.”
Padahal kemampuan ekonomi setiap orang berbeda.
Ada yang bisa membeli pakaian baru setiap bulan.
Ada yang hanya bisa membeli satu ketika memang sudah sangat membutuhkan.
Ada yang memakai pakaian lama yang masih layak.
Ada yang harus menyesuaikan semuanya dengan uang yang tersedia.
Dan menurutku, jangan sampai orang yang sedang belajar menutup aurat justru merasa:
“Kalau aku belum mampu membeli pakaian syar'i yang mahal, berarti aku tidak bisa mulai.”
Tidak begitu.
Kalau ada yang mampu membeli pakaian baru, silakan.
Kalau ada yang mampu membeli khimar, silakan.
Kalau adanya hanya pashmina yang sudah dimiliki, ya gunakan dengan sebaik mungkin.
Kalau punya pakaian lama yang masih layak dan bisa dipadukan agar lebih menutup, ya manfaatkan.
Karena berusaha taat tidak harus menunggu punya uang banyak.
Jadi, Mau Pakai Model Hijab Apa?
Nah, kalau begitu...
Ya gapapa. Gas aja. 😂
Mau pakai pashmina?
Gas.
Mau pakai segi empat?
Gas.
Mau pakai bergo?
Gas.
Mau pakai khimar?
Gas.
Mau pakai jilbab panjang?
Gas.
Mau pakai niqab?
Silakan, bagi yang memilihnya.
Yang penting, jangan berhenti pada nama modelnya.
Perhatikan apakah sudah:
- Menutup aurat.
- Menutup dada, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 31.
- Tidak transparan atau menerawang.
- Tidak terlalu ketat hingga memperlihatkan bentuk tubuh secara berlebihan.
- Tidak membuat bentuk kepala seperti "punuk unta" yang disebut dalam hadis.
- Tidak sengaja menampakkan perhiasan secara berlebihan.
- Memperhatikan ketentuan pakaian luar sebagaimana dibahas dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.
Dan tentu masih ada pembahasan lain dalam adab berpakaian Islam, tetapi poin-poin di atas sudah cukup untuk memahami inti pembahasan kita.
Hijab Bukan Kompetisi Fashion
Pada akhirnya, tren hijab akan terus berubah.
Hari ini pashmina sedang populer.
Besok mungkin model lain.
Hari ini orang ramai memakai model tertentu.
Beberapa tahun kemudian mungkin sudah dianggap kuno.
Fashion memang seperti itu.
Tetapi batasan syariat tidak berubah hanya karena tren fashion berubah.
Jadi, daripada sibuk mencari:
“Model hijab mana yang paling Islami?”
mungkin lebih baik kita bertanya:
“Apa yang sebenarnya Allah perintahkan, lalu bagaimana aku menerapkannya dengan kemampuan yang aku punya?”
Karena model adalah sarana. Ketaatanlah yang menjadi tujuan.
Dan menurutku, kita juga tidak perlu menjadikan hijab sebagai ajang untuk saling mengukur kesalehan.
Ada orang yang baru mulai belajar.
Ada yang sudah lama berhijab tetapi masih terus memperbaiki cara berpakaian.
Ada yang mampu membeli pakaian syar'i.
Ada yang harus berhemat.
Ada yang memilih pashmina.
Ada yang nyaman dengan khimar.
Ada yang memilih niqab.
Selama kita sedang berusaha menjalankan syariat, rasanya tidak perlu saling menjatuhkan hanya karena model kain yang berbeda.
Karena pada akhirnya, Allah-lah yang mengetahui usaha masing-masing.
Jadi...
Mau pashmina? Gas.
Mau segi empat? Gas.
Mau khimar? Gas.
Mau bergo? Gas.
Mau jilbab panjang? Gas.
Model boleh berkembang.
Fashion boleh berubah.
Cara orang memadupadankan pakaian juga boleh berbeda.
Tapi ada batas yang tetap perlu dijaga.
Karena yang perlu kita kejar bukan:
“Bagaimana supaya kelihatan paling syar'i?”
Melainkan:
“Bagaimana supaya aku bisa terus belajar taat kepada Allah dengan kemampuan yang aku punya?”
Sebab hijab bukan sekadar soal model kain yang ada di kepala.
Hijab adalah bagian dari perjalanan seseorang untuk belajar menjalankan ketaatan. Sedikit demi sedikit, sesuai ilmu dan kemampuannya.
~Hyull 💙

Tidak ada komentar:
Posting Komentar